Sepatah Kata Seribu Bencana

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 4 August 2016

Gemerlap kelap-kelip cahaya pasukan bintang di angkasa raya, suguhan panoramanya begitu indah tak boleh dipandang sebelah mata. Akan tetapi, bertolak belakang dengan keadaan di sepanjang jalan Pangeran kornel ini. Lampu-lampu jalanan raya bersinar redup, lebih tepatnya ke remang-remang. Tak ada satu pun pejalan kaki ataupun pengendara bermotor, berkeliaran di jalan ini, hanya satu atau dua kendaraan yang berani lewat, itu pun kendaraan umum seperti angkot ataupun bus mini. Suasananya sangat mencekam, apalagi sekarang adalah jam tengah malam. Waktunya para arwah dan hantu penasaran bergentayangan.

Aku baru saja pulang bekerja. Entah kebetulan atau nasib belaka, aku diturunkan paksa oleh kondektur bus.
“Cepat turun!”
“Ta-pi mang…”
Belum saja melanjutkan perkataanku, benda ini pun berhenti dan aku didorong ke luar pintunya.
“kihhh.. Sial..” pekikku
Aku kesal karena tas yang berisi pakaianku masih di bus itu, hanya pakaian yang kukenakan, dan dompet serta handphone masih tersisa.

Brungg…!
Seketika, bus itu dipacu dengan kecepatan tinggi.
“Dasar sopir sama kondektur gak punya otak, udah nurunin aku seenaknya, sekarang kabur cepet-cepet. Tabrakan, baru tau rasa!” Aku menggerutu sambil merapikan pakaian yang kusut ini, karena ditarik paksa tadi. Dan lalu berjalan perlahan ke arah wetan.

Tak lama kemudian, terdengar suara kempisan rem bus di arah belakang yang disusul dengan suara tabrakan.
Psshhhh.. Brakkk!

Aku pun kaget, karena ucapanku tadi menjadi kenyataan. Bukannya melihat peristiwa itu di tempat kejadian, aku malah berlari ketakutan, aku tak kuasa menahan detak jantung yang semakin menjadi-jadi, hela napasku semakin tidak beraturan.

Akhirnya aku menemukan halte di pinggir jalan, rasanya aku terselamatkan. Aku pun duduk di salah satu bangku, untuk menenangkan diri.
“huh.. huh.. huh… Alhamdulillah!”
“Untung saja ada halte, mana jalanan dari tadi gelap amat. Kalau terang gini kan gak bakalan takut sama hantu. Ada hantu, paling hantu gak ada kerjaan, hihi.” lanjutku dalam hati.

Tak satu menit aku duduk di sana, tiba-tiba lampu halte itu mati-menyala tak beraturan, seperti dipermainkan.
“Astaga.. Apa lagi ini..” celotehku dalam hati.

Ada sesuatu yang menarik kaki ku, tangan ku, ya.. dan juga baju belakangku. Aku pun mencoba memberanikan diri untuk melirik ke arah belakang kursi yang aku duduki.
Terlihat samar bayang-bayang hitam dari balik tubuhku, wajahnya terlihat horor, kedua bola matanya meleleh ke luar dari kelopak mata. Dia seperti orang yang gosong akibat tersengat listrik, pikirku dalam hati.

Aku berusaha bangkit dan berdiri, tapi rasanya badanku telah kaku dan mati. Tak ada satu kata pun terlontar dari bibirku, sampai-sampai aku tak mengingat ayat ayat suci Al-Qur’an akibat ketakutan.

Aku mencoba memejamkan mata sambil menenangkan diri, tatkala itu, lampu halte itu pun kembali menyala. Namun, tubuhku terasa didorong oleh seseorang dari belakang. Dan Makhluk tadi pun menghilang.

Bugghh..!
Kepalaku terluka, mengenai tiang halte yang ada di depan. Darah segar menetes dari pelipis ku.

Aku bangkit dibantu dengan memegang tiang yang kutabrak tadi, tak sengaja sebuah kabel putus yang masih beraliran listrik di tiang itu aku pegang.
“Aaaaaaaa….” teriakku
Masih sempat saja aku berpikir, meski dalam keadaan tersengat listrik bertegangan tinggi. “Apa aku akan mati…?” Itulah yang terus aku pikirkan saat itu.

Mulai, mataku terasa berat dan semakin terasa akan ke luar dari kelopak matanya. Badanku terasa lemas, detak jantungku mulai enggan berdetak lagi.

Mati..!!

“Bangun fan.. Ini udah siang, apa kamu gak masuk kerja?” teriak seseorang yang tak lain adalah ibuku.
Aku membuka mata dan bangkit dari ranjang, namun ada hal yang ganjal. Aku merasa pelipisku sakit, segera aku pun merabanya dengan tangan kananku.
Benar saja, ada bekas luka dan darah yang mengucur dari pelipis ku.
“What The F*ck.. Apa sebenarnya ini?” tanyaku dalam hati.

TAMAT

Cerpen Karangan: Irfan Saepudin
Facebook: www.facebook.com/sasori.kun.547
Tempat/Tanggal lahir: Sumedang, 10 juli 1998

Cerpen Sepatah Kata Seribu Bencana merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kutunggu di Pintu Akhirat (Part 2)

Oleh:
Saat itu, dasar curug begitu dipadati pengunjung. Beberapa anak kecil riang bermain air yang jernih, sedang para orangtua di belakang mengawasi. Sejumlah muda-mudi asyik mengabadikan foto, beberapa yang lain

Tsuji Ura

Oleh:
Ditengah hari yang panas. Ada dua orang sahabat bernama Rika dan Yukki. Mereka sangat menyukai hal hal yang berbau horror. “Rik! Kamu mau main satu permainan ini tidak?”. Tanya

Rumah Nenek

Oleh:
Aku melihat temanku Rito yang sedang kegirangan, sehingga aku tanya dia. “Hey Suzuro, aku dengar ada anak baru loh.” kata Rito dengan nada gembira. Dari ekspresi dan nada bicaranya

Xeo Kedua

Oleh:
Sinar mentari begitu terik hari ini. Keringat panas bercucuran dari kening jenong Xeo. Seperti biasa hari ini ia bergembala bebek miliknya sendiri di lapangan depan kampungnya. Ia begembala ratusan

Pria Berjubah Hitam

Oleh:
Pagi itu, ku rasa aku adalah orang yang pertama datang ke sekolah. Dan ku rasa tiada siapa-siapa yang ada di situ selain satpam. Ku Tanya satapam itu. “pak, kok

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *