Sesosok Makhluk

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 3 February 2016

Matanya yang merah, bulat, melotot, menatap tajam ke arahku. Perawakannya yang besar tinggi dengan rambut yang terurai panjang, lebat andaikan perempuan pada layaknya.

Musim liburan telah datang. Hal ini adalah masa dimana anak sekolah menantinya. Tapi tidak begitu bagiku. Karena ku tahu, pasti aku tak kan berlibur. Nasib. Hiks hiks. Asal readers tahu, setiap musim liburan datang, sekali pun aku tak pernah merasakan yang namanya liburan. Paling mentok ya ke rumah nenek atau sekedar mancing sama kakak tersayang. Ya… Seperti liburan kali ini. Memancing bersama kakak. Hehehe.

Pagi hari sekitar pukul 07:00 aku berangkat memancing bersama kakak dan alat memancing yang lumayan kumplit, dan tak lupa ku bawa earphone supaya nggak boring. Dengan berjalan kaki, 15 menit kemudian sampailah di tempat tujuan. Tepatnya di sungai perbatasan antar desa. Dan memancing pun dimulai. Jeng, jeng, jeng. Sekitar 3 jam berlalu, tak satu pun ikan kami dapat. Hoah! Aku mulai bosan. “Kak, pulang aja yuk! Kayaknya nggak ada ikan yang hidup di sini deh.” Ucapku. “Sabar dong. Kamu kan perempuan, seharusnya kamu bisa lebih sabar dari Kakak. Gimana sih kamu ini. Tunggu aja bentar, Dek.” Sambungnya. “Iya deh iya.” Ujarku.

Pagi menjelang siang telah tiba. Kini waktu menunjukkan sekitar pukul 11:00 lebih sedikit. “Dek, dek, lihat. Tuh kan umpan Kakak dimakan ikan juga. Apa kata Kakak?” kata kakakku seraya mengangkat gagang pancingnya. “Haha iya juga ya Kak.” ujarku. Dan setelah berjam-jam akhirnya kami mendapatkan ikan pertama. Sejak saat itu aku mulai merasa aneh. Seperti ada hal yang janggal sekaligus ganjil. Dari yang awalnya nggak ada ikan sama sekali, tiba-tiba banyak ikan yang kami dapat.

Sampai-sampai banyak yang terlihat sampai ke permukaan air sungai yang keruh. “Kak, kok aku ngerasa aneh ya, tiba-tiba banyak ikan gitu.” kataku keheranan. “Itu namanya buah kesabaran, Dek. Nggak usah berpikiran yang aneh-aneh deh. Mendingan kamu kumpulin ikannya aja yang banyak. Cepat!” jawabnya seraya menempatkan ikan yang didapatnya ke ember kecil yang sengaja kami bawa dari rumah.

Siang bolong di tengah teriknya matahari. Bagaikan memanggang tubuhku. Kami berdua sibuk menempatkan ikan hasil dapatan kami ke wadahnya. Hampir satu ember penuh hasil ikan yang kami dapatkan. Aku yang mulai lelah beristirahat sejenak tepat di belakang kakakku. Ku pasang earphoneku dan ku putar lagu kesukaanku. Ku amati sekeliling sungai sambil menikmati alunan nada. Ku sapu semua yang ada di sekitar sungai dengan penglihatanku. Ku dapati sesosok makhluk. Entah manusia atau bukan. Yang pasti ia nyata adanya. Ia berada di bibir sungai. Berseberangan dengan tempatku berdiri saat ini.

“Orang itu ngapain ya? siang bolong begini kok sendirian di pinggir sungai.” gumamku seraya mengangguk-angguk mengikuti suara alunan musik yang ke luar dari earphoneku. Sambil ku amati sesosok makhluk itu. Ku amati ia sedang mengelus rambut panjangnya yang merah menyala bagai api panas yang berkobar. Dan sekian lama ku memperhatikannya ternyata ia sedang memakan sesuatu. “Loh, makan kok di pinggir sungai. Apa yang dimakan sih?” gumamku seraya rasa penasaran itu datang padaku. Ku lepas earphone dari telingaku. Aku yang penasaran mulai mendekatinya. Semakin dekat, semakin dekat dan semakin dekat. Oh… Ternyata…

Aku tepaku, lidahku kelu, tak bisa berkata. Aku hanya bisa berdiri seraya menatap sesosok makhluk itu, ku amati detil satu per satu bagian tubuhnya. Ternyata ia memakan ikan yang diambilnya langsung dari sungai. Ikan mentah. Ya, itu adalah ikan yang mentah. Lama ku memperhatikannya. Aku terkaget. Tiba-tiba secara spontan ia balik menatapku dengan mata yang merah menyala. Lalu pergi menghilang entah ke mana dengan sekejap bagai kilatan.

“Aaaa! Hantu!” teriakku seraya berlari menuju tempat di mana kakakku berada.

“Hahaha. Siang bolong begini mana ada hantu. Dasar aneh!” ujar kakakku diselingi gelak tawanya.
“Iya Kak, beneran. Tadi ada di sana.” kataku yang masih ketakutan seraya menunjuk ke arah tempat makhluk tadi berada. “Mungkin kamu halusinasi, Dek. Ya udah pulang aja yuk. Lagian ikannya udah banyak nih, nggak biasanya Kakak dapet ikan sebanyak ini. Mungkin karena Kakak bawa kamu. Hehehe.” ujarnya. Lalu aku pulang menyusuri jalan setapak menuju rumah dengan membawa rasa takut dan penasaran yang teramat sangat.

Sesampainya di rumah, ku ceritakan semuanya pada kakakku. Dan ternyata sesosok makhluk itu bernama Banaspati. “Nama yang aneh.” gumamku dalam hati. Konon katanya, Banaspati adalah sesosok makhluk ghaib yang berwujud api. Yang membuatku penasaran adalah apa jenis kelaminnya. Aku bingung. Jika ia lelaki kenapa ia memiliki rambut yang panjang dan indah? Jika ia perempuan kenapa perawakannya tinggi dan besar? Entahlah. Aku tak akan mempersoalkannya. Tapi anehnya lagi, namanya kenapa harus Banaspati? Kenapa nggak PanasApi aja. Kan wujudnya serba api yang merah menyala-nyala. Hehehe. Sejak saat itu, aku jadi trauma untuk memancing. Apalagi di tempat yang sama. Hiii.. Sereeemm! Jadi hati-hati ya. Buat yang suka mancing. Hehe.

Cerpen Karangan: Windi Setyani
Facebook: Windhy Setyani

Cerpen Sesosok Makhluk merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rahasia Nenek

Oleh:
Sekujur tubuhku kaku. Seperti ada lima karung beras terisi penuh yang menimpa ragaku. Mata dan mulutku juga tak dapat kubuka, laksana ada lem yang merekatnya. Tapi aku masih bisa

The Flower Cold

Oleh:
Aku tidak percaya dia melakukan ini. yang benar saja.. dia mati karena seorang laki-laki ya. memangnya di dunia ini hanya dia satu-satunya laki-laki! Dasar.. Dibutakan cinta! Aku merebahkan tubuhku

AHS

Oleh:
Ctik, ctik, ctik… Seseorang di depan komputer itu mengetikkan sederet huruf pada keyboardnya, fokus tatapannya tanpa suatu niat untuk teralihkan. Log in Klik. Setelah memasukkan email dan passwordnya, dia

Perempuan Kehujanan

Oleh:
Pada hari itu aku bertemu dengannya. Aku ingat, waktu itu pukul 11:00 malam saat aku tak sengaja bertemu dengannya di depan toko buku tua yang sudah tutup. Hujan yang

Halusinasi

Oleh:
Hari ini pertama kalinya aku bekerja. Di sebuah pabrik kertas yang letaknya di perbatasan kota. Aku merasa sangat beruntung. Karena selang dua minggu sejak kelulusanku dari sebuah universitas, HRD

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *