Shadow

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 27 December 2015

Libur panjang telah tiba. Aku membuka jendela kamarku lebar-lebar dan menikmati aroma pagi yang kesegarannya merasuk ke seluruh tubuhku. Aku merebahkan tubuhku ke kasur seraya menikmati cahaya mentari yang masuk ke kamarku. Panasnya mulai menghangatkan tubuhku dan membuatku ingin terlelap kembali. Tiba-tiba ponselku bergetar. Getaran itu membuat mataku terbuka lebar. Aku baru teringat bahwa hari ini aku mempunyai janji dengan teman-temanku. Aku membuka pesan di ponselku.

Seperti dugaanku, mereka sudah menunggu di tempat kami biasanya berkumpul. Setelah membaca pesan yang tertera di ponsel, aku langsung berlari ke kamar mandi. Aku mengendarai mobilku selama lebih kurang 10 menit dan akhirnya aku sampai di sebuah kafe yang banyak digemari anak muda zaman sekarang. Aku mendorong pintu kafe tersebut dan kedua mataku mulai mencari ke setiap sudut ruangan. Dari ujung terlihat seseorang sedang melambaikan tangannya ke arahku.

“Reina.” terdengar suara seseorang memanggilku dari kejauhan. Aku membalasnya denagn lambaian kecil. Aku pun menuju ke arah sumber suara tersebut.
“Hei Reina. Apakah kau tahu jam berapa sekarang? Kami di sini sudah setengah jam menunggumu..” Kata Eri sambil menunjukkan jam tangan yang ada di tangannya ke arahku.
“Maaf.” kataku sambil menarik kursi terakhir yang ada di meja itu, “aku tidak ingat kalau hari ini kita akan pergi..”
“Apa saja yang ada di pikaranmu itu? Kenapa kau bisa lupa janji kita di hari pertama liburan?” Tanya Mariko dengan wajah kesal yang jelas sekali tergambar di wajahnya.
“Entahlah..” Jawabku singkat dan mulai memilih-milih menu. Sedangkan Yuna hanya geleng-geleng kecil melihatku.

Setelah menghabiskan semua makanan yang kami pesan, aku menyerahkan kunci mobilku ke Yuna. Seperti biasanya, Yuna yang akan menyetir ketika kami akan bepergian. Kami pun berjalan ke luar kafe dan masuk ke dalam mobilku yang terparkir di samping bangunan kafe. Kami menjadi suka relawan di panti asuhan tempat Eri diasuh waktu kecil. Dia ingin membalas budi kepada orang yang pernah merawat dia dari kecil. Eri mengajak kami bertiga untuk menemaninya. Tanpa berpikir panjang aku pun langsung menerima ajakannya.

Selama di perjalanan, mataku selalu menatap ke luar jendela mobil. Dengan sengaja aku memperhatikan bayangan-bayangan yang sudah biasa terlihat oleh mataku. Bayangan-bayangan yang selalu berbaur dengan manusia. Mereka bukan manusia. Mereka adalah sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh manusia. Ya, mereka adalah jiwa-jiwa yang tertinggal. Jiwa-jiwa yang masih terikat dengan dunia manusia. Mereka tidak akan pergi sebelum mereka diikhlaskan untuk pergi. Mereka selalu mengawasi dan memperhatikan orang yang mereka sayangi, yaitu orang yang belum mengikhlaskan kepergian mereka.

Dari mana aku mengetahuinya? Tentu saja aku tahu karena aku dapat berkomunikasi dengan mereka. Aku sampai dikatakan gila karena orang di sekitarku sering melihatku berbicara dengan angin. Bicara dengan angin? Yang benar saja! Aku sedang berkomunikasi dengan jiwa-jiwa itu. Mereka meminta bantuan kepadaku untuk menyampaikan pesan mereka untuk orang yang mereka sayangi. Manusia-manusia itu saja yang tidak bisa mengerti apa yang aku lihat. Mereka tidak pernah percaya bahwa aku dapat melihat jiwa-jiwa itu. Dan sekarang aku tidak pernah mencoba untuk berkomunikasi lagi dengan mereka.

Dan tidak ada dari teman-temanku yang mengetahui kelebihanku ini. Aku takut jika mereka mengetahuinya, mereka juga akan menganggapku gila. Mobilku terus melaju ke arah panti. Mataku masih tetap memperhatikan bayangan-bayangan itu. Tiba-tiba mataku menangkap sebuah bayangan yang sangat aku kenal. Bayangan itu adalah seorang pria tinggi yang sedang berdiri tepat di bawah pohon maple yang ada di pinggiran trotoar. Dia menatap lurus ke arah mobilku. Tidak. Lebih tepatnya dia menatapku dengan tatapan yang dingin.

“Berhenti.” Aku berteriak kepada Yuna. Yuna pun mengerem mobil dengan tiba-tiba dan langsung menoleh ke belakang. Mariko dan Eri juga langsung menatapku.
“Kenapa kau berteriak tiba-tiba?” Tanya Yuna kepadaku.
Aku tidak mempedulikannya. Mataku masih sibuk mencari sosok yang aku lihat tadi. Namun sosok tersebut sudah tidak ada di pohon maple itu atau pun di pohon maple lainnya. Aku bertanya di dalam hati, ke mana hilangnya sosok tadi?
“Ada apa?” Tanya Eri yang sedang duduk di sampingku.
“Tidak ada apa-apa.” jawabku sambil menatapnya balik.

Aku menyandarkan tubuhku dengan lemas. Sedangkan teman-temanku ikut melihat apa yang aku lihat tadi dan mereka mamandangku dengan ekspresi yang bingung dan terlihat di wajah mereka bahwa mereka ingin mendapatkan jawaban dariku. Aku hanya memberi isyarat untuk melanjutkan perjalanan. Mereka pun kembali ke posisi semula dengan pasrah. Yuna pun mulai menyetir kembali. Sesampainya di panti, kami disambut hangat oleh anak-anak yang ada di panti tersebut. Mereka sangat bahagia dengan kedatangan kami. Hal itu terlihat jelas di wajah mereka. Mereka berlarian ke arah kami. Aku mengulurkan tanganku dan mereka menyalami tanganku satu persatu. Mereka pun menarik tanganku untuk masuk ke dalam panti.

Ketika kami sedang bermain dengan anak panti, tidak sengaja aku melihat ke arah taman yang ada di panti itu. Aku terdiam. Tatapanku tertuju pada pohon yang ada di taman itu. Tidak. Tatapanku bukan ke pohon yang ada di sana. Tatapanku tertuju pada pria yang ada di sana. Dia menyandarkan tubuh tingginya ke batang pohon itu dan menatap ke arahku seraya tersenyum manis ke arahku. Aku hanya diam membisu. Pelan-pelan kakiku mulai melangkah ke arah taman itu. Aku mengabaikan semua anak-anak yang sedang bermain. Tanpa aku sadari air mataku mulai mengalir. Aku tidak bisa berkata-kata. Air mataku pun semakin deras mengalirnya. Sudah lama aku menunggu kedatangannya. Orang yang sangat aku cintai yang telah lama pergi dari dunia ini.

Sesampainya di sana aku hanya mengeluarkan suara tangisanku sambil mengatup erat mulutku.
“Kenapa Reina menangis?” tanyanya dengan suara khasnya yang sangat aku rindukan. “Apakah Reina tidak senang melihat Ayah kembali?” tanyanya sekali lagi.
Aku menggelengkan kepalaku. “Kenapa Ayah baru datang sekarang? Aku sudah lama menunggu Ayah. Ke mana saja Ayah pergi?” ucapku lirih.
“Ayah selalu berada di sampingmu. Reina saja yang tidak pernah menyadarinya.” jawabnya seraya tertawa kecil.

Aku hanya diam mendengar jawabannya. Ya. Pria itu adalah ayahku yang sudah lama meninggalkan aku. Ayahku meninggal karena penyakit yang dideritanya selama bertahun-tahun. Aku tidak sempat melihat ayahku untuk terakhir kalinya. Ayah pergi tanpa mengatakan kata-kata terakhirnya untukku. Perasaan bahagiaku bercampur dengan sedih. Aku bahagia karena aku dapat melihat ayahku lagi. Aku ingin memeluknya. Tapi aku tidak bisa menyentuhnya. Jika aku menyentuhnya, hanya angin yang ada di sana. Ayahku hanyalah sebuah bayangan sekarang. Dia tidak nyata. Kulitnya putih pucat.

Cahaya matahari tidak mempan untuk menyinarinya. Tatapannya dingin. Tapi tatapan itu terasa hangat bagiku. Dan aku sedih karena sebentar lagi aku tidak akan pernah melihat ayah lagi. Tiba-tiba ayah mengangkat tangannya dan meletakkan telapak tangannya ke kepalaku. Ayah tahu bahwa dia tidak bisa menyentuhku. Tapi ayah tetap mencoba untuk menyentuh kepalaku. Aku tidak merasakan. Hanya hawa dingin yang terasa menyentuh kepalaku.

“Reina, Ayah harus pergi. Ayah tidak bisa melihatmu lebih lama lagi..” Ucapnya kepadaku.
“Ayah maafkan aku tidak mengikhlaskan kepergianmu. Itu semua karena aku ingin melihatmu sekali lagi..” Kataku sambil menahan tangisku.
“Ayah tahu. Karena itu Ayah mengunjungimu hari ini. Kau harus bisa menjalani hidupmu tanpa Ayah nak..” Kata ayahku sambil menunjukkan senyumnya.

Aku hanya mengangguk pelan. Meskipun sebenarnya aku belum bisa untuk mengikhlaskan kepergiannya, tapi aku harus melepaskannya. Aku tidak ingin ayah terikat lebih lama lagi dengan dunia ini. “Baiklah yah. Aku akan melepaskanmu dan memulai hidupku tanpa Ayah..” Kataku sambil menunjukkan senyumku kepada ayah.

Ayah membalasku dengan senyumannya. Perlahan tubuhnya yang berlapiskan dengan kulitnya yang pucat mulai memudar. Semakin lama ayah menghilang. Aku hanya menatap ke arah batang pohon tempat di mana ayah berdiri sebelumnya. Semoga kau tenang di sana ayah. Kataku dalam hati. Ketika aku membalikkan tubuhku, teman-temanku sudah ada di depanku. Mereka melihatku dengan tatapan yang penuh dengan tanda tanya. Aku hanya membalasnya dengan senyuman dan mengajak mereka kembali ke tempat anak-anak yang sedang bermain.

SELESAI

Cerpen Karangan: Mutia Chi
Blog: http://chibi-chaan.blogspot.co.id

Cerpen Shadow merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Samaria (Dua Ksatria Dari Bumi)

Oleh:
Langkah kami berdua makin cepat, burung yang kami incar tepat di atas bunker tua peninggalan belanda di hadapan kami, dengan senjata ketapel di tangan dan amunisi krikil yang sudah

Payung Merah (Part 1)

Oleh:
Kamis sore disambut dengan rintik hujan yang cukup deras. Awan gelap bergulung-gulung dengan petir yang sekali-kali menyambar lemah. Jutaan rintik-rintik air mengguyur daerah kecamatan, termasuk tempat sekolahku. Rintik-rintik air

Istana Kue Putri Brownies

Oleh:
Pada suatu hari ada seorang anak perempuan yang mengumpulkan kayu bakar. Ia bernama Lila. Ia hanya tinggal bersama neneknya yang sakit di rumah. Karena neneknya tak bisa bekerja maka,

Pahlawan Game

Oleh:
Namaku adalah Ruyichi Kurt. Aku adalah siswa SMA berumur 17 yang tinggal sendirian. Hari ini adalah hari minggu. Jadi aku memutuskan untuk bermain game seharian. Segera aku pun bermain

Tumbal

Oleh:
Aku seorang pelajar SMA, aku mengambil jurusan IPS karena aku memang suka ilmu sosial aku juga suka ilmu psikologi. Aku adalah anak dari keluarga yang berbahagia. Sore itu aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Shadow”

  1. ayu yuniar says:

    sedihh,tp ga trlalu serem ka,slalu semangat yaa^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *