Siapa Yang Akan Selamat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 7 December 2015

Siang ini pemakaman telah usai, langkah kakiku terasa berat meninggalkan tempat ini, mungkin karena duka yang mendalam. Ku telusuri jalan setapak itu dengan langkah kecil setengah berlari. “Apakah kau ingin pulang sekarang?” teriak Ayah dari dalam mobil.
“Tidak Ayah, Ayah pulang duluan saja. Aku ingin mampir sebentar.” Jawabku menengok ke arah Ayah.
“Jangan terlalu lama yah.. kami tunggu sebelum makan malam.” kata Ayah.
“Iya Ayah, aku mengerti.”

Ketika sampai di sebuah rumah di kaki gunung. Udara dingin langsung menusuk tulangku sampai ke ubun-ubun. Ketika semakin mendekat di rumah tua itu, aku melihat sesosok makhluk besar, tepatnya seperti raksasa, berambut panjang menutupi sekujur tubuhnya. Napasnya terengah-engah. Liur menjijikkan itu terus menetes membuat rambut gondrongnya itu agak basah, kental. Aku tercengang sesaat, lantas ku berlari hendak masuk ke rumah itu. “Cuci tangan dulu Geri!” teriak Nenek berusaha menghentikanku untuk masuk.

Aku langsung berlari ke arah Nenek di dekat sumur yang tak jauh dari rumah Nenek. “Sepulang dari pemakaman, harus cuci tangan terlebih dahulu” kata Nenek menasihati.
“Maaf nek, karena tadi tergesa-gesa aku sampai lupa.” kataku sambil mencuci tangan.
“Nek, tadi aku melihat makhluk seperti raksasa yang mengerikan, berambut putih dan tampaknya sangat buas nek.” aduku pada beliau.
“Apa? apa benar yang kau katakan itu? Ya Tuhan.. mana mungkin dia masih ada di sini. Cepatlah masuk dan kunci semua pintu dan jendela!” perintah Nenek.

Udara di sini sangat dingin, untungnya ada pembakaran untuk sekedar menghangatkan diri. “Nek..” sapaku melihat Nenek datang membawa secangkir cokelat panas.
“Minum ini” pinta Nenek. “Untung saja dia tak mengejarmu Geri” keluh beliau.
“Memangnya ada apa dengan makhluk itu nek? apa yang Nenek ketahui darinya?” tanyaku penasaran.
“Dulu, di zaman Nenek seumuran denganmu, ada legenda tentang makhluk penunggu gunung di belakang sana. Siapa pun yang bertemu dengannya pasti tidak akan selamat.” jelas Nenek.

“Lalu, pernahkah Nenek bertemu dengannya?” tanyaku makin penasaran.
“Dulu, Nenek dan dua orang teman pergi mencari kayu bakar di gunung itu. Tiba-tiba kami melihat sosok makhluk seram itu di mulut gua. Dan tentu saja kami tidak tinggal diam, kami berlari menuruni bukit-bukit terjal di kaki gunung. Dua teman Nenek tertangkap. Tapi Nenek berlari sekencang-kencangnya tanpa menengok ke belakang. Mungkin, Nenek satu-satunya orang yang pernah selamat dari kejaran makhluk itu. Sementara teman-teman Nenek…” kenang beliau, sambil menahan air mata yang penuh duka mendalam itu. Nenek menghentikan ceritanya. “Sekarang, kau istirahat dulu. Nenek akan meneruskan sulaman jaket Nenek.”

Tak terasa sudah berjam-jam aku tertidur pulas di atas karet dekat pembakaran. Ternyata, saat ku tengok ke luar, hari sudah hampir gelap. Aku teringat janjiku pada Ayah untuk pulang sebelum makan malam. Ku lihat Nenek sedang duduk terdiam di kursi malasnya. “Nek.. jam berapa sekarang?” tanyaku.
“Jam 6.” Jawab Nenek dengan suara lirih bernada datar, sikap yang dingin. Aneh. Tak biasanya, tapi, ah sudahlah.. mungkin Nenek sedang lelah atau mengantuk.

Ketika ku lirik ke arah kalender yang dipajang di dinding tua tanpa dekorasi lapuk tersebut. Aku terkejut, organ tubuhku seakan memaksa ke luar dari tubuh yang penuh maksiat dan dosa ini. Aku melihat dengan jelas bahwa hari ini adalah tanggal 8 Agustus. Astaga.. 8 Agustus adalah hari pemakaman tadi siang. Dan yang dimakamkan adalah Nenek! Ah, lalu siapa yang tadi menyuruhku mencuci tangan? siapa yang membuatkanku cokelat panas? siapa yang bercerita tadi? lalu siapa yang duduk di belakangku? Bulu kudukku mulai naik dan tegak kokoh, seluruh pori-poriku timbul ke luar.

Pikiranku berkecamuk. Apakah ini mimpi? ku coba menampar pipiku, menyubit tanganku. Setelah aku sadar bahwa aku tengah sadar, keringat membasahi sekujur tubuh, seiring dengan air seni yang turut membasahi celana jeansku. Ketika ku beranikan diri melirik ke belakang, sosok Nenek tak ku jumpai di tempat itu. Tiba-tiba semua lampu padam, suasana malam itu yang gelap gempita seakan mencekikku, membuat tangisanku menjadi-jadi, tak peduli berapa usiaku. Tiba-tiba, semuanya kembali terang. Aku seperti merasakan perpindahan tempat dan waktu dengan beberapa detik saja. Ku tengok sekelilingku, di mana aku? tempat apa ini? Ini adalah sebuah gua yang lembab, busuk menyengat hidungku, perutku seakan ingin memuntahkan isinya. Mual.

Tiba-tiba sosok yang ku lihat tadi siang di dekat rumah Nenek berjalan ke arahku. Tatapannya tajam, buas. Seperti kawanan singa yang berhasil mengepung seekor rusa malang. Ketika ku hendak meraba-raba mencari sesuatu untuk ku lemparkan. Aku tersadar bahwa seluruh jari tanganku lenyap tergigit. Tanganku bersimbah darah. Sosok itu semakin mendekat. Tiba-tiba aku merasakan gigitan di tenggorokanku. Darahku memancar ke luar. Ku lihat dengan samar dia merobek kulit leherku. Ku rasakan sebuah cakaran hebat yang memutus tembus saluran napasku. Kini napasku seakan memaksa ke luar dari raga malang ini.

Sosok itu mencakar dadaku, menguliti setiap lapisan kulit tubuhku. Kemudian melahapnya puas. Kini aku terbujur kaku di atas genangan darahku sendiri. Dan ketika dia menggenggam dadaku, mematahkan setiap aspek tulang rusukku. Entah penderitaan konyol apa yang tengah ku alami sekarang. Tapi setelah dia berhasil mencabut semua kuku kakiku. Lantas merampas benda lunak berdenyat-denyut. Dia mulai mencungkil jantungku. Pandanganku makin kabur perlahan, di tengah 1/3 hembusan napasku. Aku melihat sosok Nenek berdiri menungguku di sebuah titik sudut berujung yang terang benderang.

Pintu yang penuh kehidupan, tapi bukan kehidupan duniawi penghancur akal harkat dan martabat. Aku seakan dipaksa berjalan ke arah Nenek. Nenek tersenyum dan bersiap mendekapku erat. Dan ketika Nenek mendekapku, saat itulah ku hembuskan napas terakhirku. Petang ini, ragaku tertinggal di genggaman sesosok makhluk yang melahapnya, sosok yang memenangkan ragaku. Raga seorang pendosa cilik.

Cerpen Karangan: Meylan Tancaro
Facebook: https://facebook.com/meland.chyntiapwbchumchumm
Penulis bernama lengkap Meylan Chintia Dewi Tancaro. Berasal dari Manado, Sulawesi Utara. Berumur 16 tahun. Tengah menempuh pendidikan di semester 5 di SMA Kr.Syaloom Manado.

Cerpen Siapa Yang Akan Selamat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hantu Jalan Mawar

Oleh:
Malam hari Ayu, Irma, Alex dan Aldy pergi ke jalan Mawar mereka bermakhsud untuk mengetaui keberadaan pocong di jalan Mawar yang menjadi omongan banyak orang. Setibanya disana mereka menelusuri

Two Friends Suicide

Oleh:
Namaku Niall. Sejak aku datang ke sini, aku disambut dengan baik oleh murid-murid di sini. Salah satunya adalah Aloin. Ia temanku dari kecil. Dan aku juga sekamar dengan anak

Missing (Part 2)

Oleh:
Di sebuah cafe, aku mengajak beberapa teman bertemu. Bayu, Davi, Mia, Anty, dan Shiva datang bersamaku. Aku ingin mengajak mereka merundingkan kembali rencana gila yang Mia ajukan dan mereka

Gadis Bermata Merah

Oleh:
Hai namaku Alejandro Sisiana Averange. Tapi aku perempuan loh kalian pasti bingung iya kan?. Panggil aja aku Ave. “Hmmmm, enaknya bakso ini” ucapku sambil menghabiskan baksoku yang tinggal sedikit.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

0 responses to “Siapa Yang Akan Selamat”

  1. salsabilla yuri says:

    hmm, kayaknya pernah baca di line : webtoon.

    atau cma perasaan saja ?

    • Meylan Tancaro says:

      mungkin sebuah kesamaan ide. soal.y cerpen ini dibuat sendiri, tp ide cerpen.y terinspirasi dari sebuah cerita yang pernah saya dgar sekilas, d kmbangkan tp dengan alur yg beda, dr setiap aspek sudut pandang penulis ^_^ trimakasih sudah membaca.

  2. Raihanur says:

    Keren

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *