Siapakah Dia?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 19 September 2017

Vina adalah teman baikku, walau kami berbeda negara, hubungan persahabatan kami sangat erat dan takkan terpisahkan oleh apapun. Vina adalah orang asli negara China, dia bisa menguasai 2 bahasa sekaligus, bahasa Indonesia dan bahasa China. Asal muasal dia bisa berbahasa Indonesia adalah karena ayahnya pernah memasukkannya ke les privat bahasa dan satra di kota Medan 2 tahun silam. Aku Hani, aku dan Vina satu sekolah. Sewaktu kami masih SMP, keluarga Vina tinggal di Bandung. Dikarenakan keluarganya mendapat sebuah wasiat dari almahrum kakeknya, untuk menempati rumah yang ditinggalkan kakeknya itu.

Hubungan persahabatan kami dimulai sejak kami berada di kantin samping sekolah, saat itu Vina tak sengaja menjatuhkan tumpukkan majalah yang sedang dibawanya. Dengan mata kepalaku sendiri aku melihatnya memunguti majalah majalah yang dijatuhkannya itu. Perasaan iba dalam diriku timbul, ketika dia memunguti benda berbahan kertas itu. Tanpa berpikir panjang, aku segera menolongnya membawakan separuh dari majalah yang dibawanya.

Tujuan ke mana majalah majalah itu harus diletakkan adalah di perpustakaan. Setelah sampai di perpustakaan, aku segera meletakkan majalah yang kubawa sekarang ke atas meja berwarna kuning tua di pojok ruangan. Setelah kuletakkan, tiba tiba Vina menepuk pundakku dan berkata
“Terimakasih ya, eeee… Nama kamu siapa?” tanya Vina yang belum tahu siapa diriku.
“Namaku Hani, ya sama sama. Sesama manusia kan kita harus saling tolong menolong, oh ya nama kamu siapa?” jawabku sambil menodongkan tanganku untuk berkenalan.
“Perkenalkan namaku Vina, aku murid baru di sekolahan ini. Keluargaku baru saja pindah ke Bandung untuk memenuhi wasiat dari almahrum kakekku. Aku tinggal tidak jauh dari kampung Reja, hanya berjarak 3 KM dari kampung itu” ungkap Vina membalas todonganku.
“Salam kenal ya Vin. Kamu mau kan jadi temanku?” tanyaku.
“Dengan senang hati Han.” jawabnya sambil tersenyum lebar.

Dan sampai sekarang kami menjadi sahabat. Pertemuan pertamaku dengan Vina sangat membuat aku bahagia. Bagaimana tak bahagia, aku bisa mendapat teman sebaik dan seramah Vina. Keluarga Vina juga tahu bahwa kami bersahabat sekarang, begitupun keluargaku.

Suatu hari, rasa bosan melingkupiku. Aku mencoba melenyapkan kebosanan ini dengan bermain games kegemaranku, Alhasil hanya sia sia. Aku mencoba ke luar rumah dan berniat mengunjungi rumah Vina yang telah kuketahui. Kebetulan hari ini hingga 2 minggu ke depan, aku libur semesteran. Siang ini ayah dan ibuku sedang dinas ke luar kota karena kesibukan yang menimpanya, jadi aku bisa bebas kemana pun yang aku mau, tapi itu bukan sifatku. Aku tak seperti remaja remaja yang hanya keluyuran nggak jelas, ngabisin waktu aja. Ketika aku meninggalkan rumah, aku sempat menyelipkan kunci cadangan yang dititipkan ibu di bawah keset depan rumahku.

Ketika aku sampai ke rumah Vina, segera kuketuk pintu yang berbahan dasar rotan itu. Rumahnya bernuansakan Tionghoa bercat merah maroon, maklumlah namanya juga orang Chinese. Akhirnya keluarlah Vina, dia menyambut hangat kedatangku. Setelah itu dia menyuruhku masuk dan selang 5 menit keluarlah ibu Tere, ibunya Vina. Sama seperti sambutan yang Vina tujukan padaku, ibunya pun turut menyambut kedatanganku dengan wajah penuh senyuman.

“Siang bu, saya Hani teman sekolahnya Vina.” sapaku pada ibunya yang sedang tersenyum padaku.
“Oh jadi ini yang namanya Hani. Selamat datang di rumahnya Vina nak Hani.” sambutan kata kata manis dari Bu Tere.
“Lho, ibu sudah tahu nama saya!” heranku pada Bu Tere yang tiba tiba tahu namaku.
“Ya ibu tau dari Vina, dia sudah cerita banyak tentang teman barunya yaitu kamu nak Hani.” ungkap Bu Tere.
“Oh jadi Vina yang ceritakan. Saya jadi tak enak bu. Oh ya, apakah kedatangan saya ke sini mengganggu kalian?” tanyaku.
“Tidak sama sekali kok Han. Malahan kami sangat senang kamu mau jauh jauh datang ke sini untuk ke rumahku.” jelas Vina.
“Oh sampai lupa, kamu mau minum apa Han? biar aku buatkan.” sambung Vina menawarkan minuman padaku.
“Oh tidak perlu repot repot Vin. Kebetulan aku sudah minum tadi di rumah.” tolakku atas tawaran Vina.
“Oh…ya baiklah” jawab Vina.

Tanpa sadar, aku sudah 1 jam berbincang di rumah Vina. Akhirnya aku berpamitan pulang pada Vina dan ibunya, karena jam dinding telah menunjukkan pukul 5 sore. Lagipula aku juga tak enak dengan keluarganya.

Pagi ini aku kembali lagi ke sekolah untuk menuntut ilmu setinggi langit, bersama Vina sahabat baruku. Ketika sampai di kelas, aku heran dalam pikirku berkata “Tumben, dia berangkat sepagi ini.”
“Selamat pagi Han!” sapanya lesu seperti orang yang terbebani masalah.
“Pagi juga Vin!” jawabku membalas sapanya.

Aku merasakan ada yang aneh dengan Vina pagi ini. Aku mencoba menyembunyikan pikiran heran itu dari Vina. Ketika pikiranku mulai memikirkan keadaan Vina, tiba tiba tok… tok… tok, suara sepatu berhak 5 centi yang dimiliki guruku, Pak Doni. Dia datang untuk mengajar pelajaran jam pertama yaitu Matematika. Setelah 3 jam pelajaran berlangsung, akhirnya bel istirahat pun terdengar di telingaku. Aku dan semua teman sekelasku termasuk Vina, berlonjak kegirangan karena pelajaran yang membuat kami pusing 7 keliling (sebutan unik khusus mapel Matematika) akhirnya kelar juga. Suara perutku tak bisa ditahan karena lapar. Aku mengajak Vina ke kantin untuk menemaniku makan, walau aku tak tau dia lapar atau tidak. Masih seperti awal jam pertama pagi tadi, wajahnya lesu tak bertenaga seperti orang sakit saja, pikirku.

Aku mencoba menanyakan apa sebabnya, dia lesu begitu.
“Hei Vin, kamu kenapa. Dari tadi aku lihat kamu sangat lesu sekali, apa kamu sedang punya masalah?” tanyaku membuat Vina bagai terpaku oleh kata kata yang kuucapkan.
“Ti tidak apa apa Han. Kau lanjutkan saja makanmu, jangan pikirkan aku.” jawabnya terbata bata.
“Ya sudah kalau kamu tak apa apa.” kataku sambil melanjutkan makanku yang sempat terhenti.

Waktu telah menunjukkan pukul 1 siang, seluruh siswa pun dipulangkan. Aku dan Vina berpisah di tikungan depan sekolah. Tapi sebelum kami berpisah, aku sempat berkata pada Vina mengenai niatku mengunjungi rumah Vina lagi, untuk belajar kelompok bersama. Belum sempat dia menjawab, supir datang bersama mobil sedan berwarna silver guna menjemputku pulang. Akhirnya aku pulang bersama supir, begitupun dengan Vina.

Setelah berganti pakaian, aku bergegas ke rumah Vina memakai baju berwarna biru toska beserta rok bawahan merah berderai ombak. Sesampainya di sana, aku heran. Kenapa rumah Vina di kunci? Pikiranku makin menjadi jadi. Sesaat kemudian lamunanku buyar ketika seorang pria berkumis tebal menepuk pundakku dan bertanya
“Apa yang neng lakukan di sini?” tanya pria itu padaku.
“Saya bermaksud mengunjungi rumah teman saya di sini pak, tapi saya heran kenapa rumah ini dikunci? Apa bapak tau keberadaan orang yang tinggal di sini?” jawabku dan balik bertanya.
“Teman, teman mana neng? Apa neng tidak tau kalo rumah ini sudah lama kosong, dikarenakan penghuni rumah ini telah meninggal 10 yang lalu.” ungkap serius pria itu.
“Bapak tidak bercanda kan? Pemilik rumah ini ada pak, anggota keluarga Tionghoa yang asalnya dari negri seberang.” tatapanku tajam pada pria itu.
“Sumpah neng saya tidak bohong, semua warga di sini saksinya.” jelas tegas pria berkumis itu.
“Jadi ternyata Vina…”

Ketika aku menolehkan pandanganku ke pria tadi, sontak aku terkejut karena pria tadi tiba tiba lenyap tanpa meninggalkan sedikitpun jejak kaki. Kakiku terasa ingin melesat dari tempat yang kupijak, tanpa berpikir panjang aku berlari sekencang mungkin dan “Braakk!!!” sebuah mobil kijang menabrakku hingga aku tewas tak bernyawa.

Selesai

Cerpen Karangan: Nanda Dwi Irawan
Facebook: Nanda Dwi Irawan

Cerpen Siapakah Dia? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Taplak Meja Persahabatan

Oleh:
“Mulai Senin depan, tepatnya tanggal 21 maret sampai dengan tanggal 26 maret kalian akan melaksanakan Ujian Praktik, persiapkan dengan benar-benar sehingga mendapatkan hasil yang maksimal,” tutur Mr. Smith selaku

Misteri Surat Selia

Oleh:
Hai, namaku Naifa Aqilah. Selia Zarine adalah sahabat karibku. Sejak kecil, kami sudah bersahabat. Belum lama ini, kami berdua bertengkar. Yaah, aku memeng sering memprotesnya, terkadang ia merasa kesal

Bocah Petualang

Oleh:
Disaat raja siang mulai terbit dengan wajah yang ceria terdengar suara gas sepeda motor yang berderu-deru kencang. Apri, Habibi, Aldi adalah seorang pilot sepeda motor yang sungguh-sungguh ahli menguasai

Jejaring Sosial Tempatnya

Oleh:
Di suatu tempat, ada sekelompok pertemanan. Mereka bernama Fitrah, Rama, Jerry, Flow, Fendi, Ilham, Aal, Azis dan Rizkan. Mereka adalah sebuah kelompok sahabat yang sangat-sangat akur, mereka selalu bersama.

Friend

Oleh:
Sudah kesekian kalinya kami harus pindah rumah. Ini karena ibu harus bekerja ke luar kota. Kadang, aku bosan hidup nomaden begini. Maksudku, itu berarti kau harus beradaptasi dengan segala

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *