Sosok Misterius di Ruang Laboratorium

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 31 May 2017

Namaku Ryan. Aku seorang mahasiswa jurusan teknik di sebuah institut terkenal di kota Bandung. Saat ini aku sedang menyelesaikan tugas akhir dan biasanya, seperti mahasiswa tingkat akhir lainnya aktivitas ini membuatku harus sering menginap di kampus, khususnya di lab jurusan, untuk menyelesaikan beberapa simulasi dan penelitian.

Saat itu senja hari di akhir pekan yang gerimis. Aku berjalan menyusuri koridor-koridor panjang yang suram menuju lab jurusanku. Entah mengapa, tak seperti biasanya, aku berencana menghabiskan malam akhir pekanku menginap di sana. Padahal aku tahu, aku tak perlu lagi sering-sering menginap di kampus disebabkan penelitianku kini mulai menemukan titik terang dan beberapa simulasiku cocok dengan teori. Lagipula, seharusnya aku menerima ajakan cewekku yang ingin sekali pergi kencan denganku di akhir pekan ini. Tapi ya, entahlah, aku menolak ajakannya dengan alasan tugas akhirku belum selesai dan deadlinenya sudah makin dekat.

Aku sempat menengadah dan kulihat langit tampak lebih gelap dari seharusnya, seolah dunia akan kelam untuk waktu yang sangat lama. Memang, sudah beberapa hari ini hujan turun terus. Terang sebentar, kemudian mendung dan selanjutnya pasti hujan lagi. Tentu saja udara jadi terasa dingin sekali. Dan ini membuat suasana kampus berubah drastis. Semua basah dan tampak beku. Tapi lebih dari itu, kampus jadi terlihat seperti zona mati tak berpenghuni. Aku bahkan tak melihat seorang pun mahasiswa berjalan-jalan di sepanjang koridor kampus, yang biasanya ramai sekali. Suasana ini membuatku merasa agak asing.

Aku sampai di depan lab jurusan. Ketika kubuka pintu, hawa dingin tiba-tiba menerpaku. Pasti AC-nya hidup semua, pikirku. Setiba di dalam, aku melayangkan pandanganku ke seluruh ruangan. Sepi sekali hari ini, kataku dalam hati. Ratusan komputer layar datar terhampar berbaris-baris hingga sampai ke belakang. Semua tampak jelas dan sangat terang. Mungkin karena lantai keramik yang putih mengkilap memberikan efek terang jadi dua kali lipat. Di ujung paling belakang, di komputer bernomor 333, aku melihat seseorang sedang duduk di sana. Sepertinya dia serius sekali dan nyaris tidak bergerak. Tubuhnya tidak terlihat olehku karena terutup CPU dan monitor. Hanya puncak kepalanya saja terlihat menyembul. Tapi sepertinya dia laki-laki, karena kupikir, tak mungkin cewek berani sendiri pada saat seperti ini. Ah, mungkin mahasiswa angkatan di bawahku, karena tampaknya tidak terlalu familiar. Tapi mengapa dia memilih komputer paling belakang? Apa dia benar-benar melakukan penelitian atau sedang melihat sesuatu yang tak ingin diketahui orang lain? Ah, itu urusannya. Apa peduliku!

Aku memilih komputer paling depan, paling dekat pintu. Aku memang lebih nyaman duduk di sana. Setelah memasukkan username dan password, aku mulai membuka file-file penelitianku. Dalam beberapa menit saja aku sudah tenggelam dengan simulasi-simulasiku. Semua program kujalankan dan sambil menunggu hasilnya, seperti biasa, aku membuka jejaring sosial, melihat apa-apa saja hal terbaru dari teman-teman. Tapi akhirnya aku agak terganggu dengan ikon chatting room di pojok kanan bawah monitor yang terus berkedip-kedip menandakan ada seseorang yang mengirimiku pesan. Komputer ini terhubung ke semua komputer di ruangan ini bahkan ke semua komputer di kampus ini dan chatting room itu adalah fasilitas untuk pengguna komputer agar bisa berkomunikasi lewat pesan ke seluruh pengguna komputer lainnya yang sedang online.

Aku meng-klik ikon itu dan sebuah windows berisikan pesan terbuka. Di sini dingin sekali… Begitu pesan itu tertulis. Aku langsung melihat siapa pengirimnya. Ben. Dari komputer bernomor 333! Aku menoleh ke belakang, memastikan siapa sebenarnya Ben, karena setahuku, aku tidak punya teman atau kenalan bernama Ben. Tapi yang kulihat, mahasiswa yang duduk paling belakang itu tak menunjukkan tanda-tanda bahwa dia sudah mengirimiku pesan. Dia tetap diam seperti pertama kali aku melihatnya ketika masuk tadi seolah dia tak peduli dengan kehadiranku. Walau pun terang, anehnya, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tapi, entah karena perasaanku saja, tampaknya mahasiswa yang duduk di ujung paling belakang itu seolah tak mau memperlihatkan wajahnya. Ketika aku berdiri dan mengangkat tumit supaya bisa lebih tinggi untuk melihat wajahnya, mahasiswa itu malah semakin merundukkan kepalanya sampai sepenuhnya tersembunyi di balik monitor.

”Kamu Ben? Angkatan berapa?” tanyaku penasaran.
Tak ada jawaban. Satu-satunya suara yang kudengar dari ruangan itu adalah suara dengung lemah yang berasal dari CPU komputer yang sedang hidup.
”Halo? Kamu bisa mendengarku?” tanyaku lagi. Lama kutunggu tapi tetap tak ada jawaban. Ah, sudahlah. Barangkali dia sedang memakai headset, pikirku.
Aku kembali duduk menghadap komputerku dan mengetik sesuatu untuk membalas pesan tersebut. Ya, dingin sekali. Kurasa kau bisa mematikan salah satu AC-nya. Remote AC ada di dekatmu, kan?
Setelah itu, aku mengecek programku yang sedang running. Tumben kali ini agak lama, kataku dalam hati. Sambil menunggu lagi aku mengetikkan beberapa kata yang kupikir cukup penting pada skripsiku dan melanjutkan meng-update status jejaring sosialku dengan mengetikkan ’orang asing mengirimiku pesan kalau hari ini dingin sekali…’. Tapi tak lama kemudian, ikon chatting room yang sudah kututup tadi berkedip-kedip lagi. Ah, orang ini iseng banget, rutukku dalam hati. Aku mengabaikannya dan tetap melanjutkan pekerjaanku.

Selang beberapa menit, saat aku dipusingkan dengan hasil simulasiku yang ternyata beda dengan kemarin, ikon itu berkedip-kedip lagi. Aku mengklik ikon tersebut dan beberapa pesan langsung terbuka.
Aku ingin keluar.
Di sini gelap. Dingin sekali.
Tolong aku!
Tolong keluarkan aku!
Apa-apaan orang ini. Dasar gila! Kecamku dalam hati. Dengan kesal, aku mengetikkan beberapa pesan yang menurutku akan membuatnya sakit hati.
Kalau mau sinetron jangan di sini, Mas. Saya sedang tidak mood main drama hari ini.

Simulasiku hari ini tampaknya tak berjalan baik. Semakin kuulang semakin banyak kutemukan kejanggalan dan aku dihantui prasangka kalau simulasiku mulai berujung kegagalan. Kemungkinan buruk untuk mengulang kembali dari awal mulai melintas di benakku dan aku mulai diselimuti rasa cemas. Aku tak lagi mempedulikan komentar teman-teman di jejaring sosialku tentang status yang baru saja kutulis. Perhatianku kini tersita pada setiap baris program yang kutulis. Aku terus mencari di mana letak kesalahannya. Aku telah sampai di baris terakhir program tapi sejauh ini aku belum menemukan apa tepatnya kesalahanku. Ini membuatku benar-benar frustasi. Dan yang lebih parahnya, ikon chatting room itu berkedip-kedip lagi. Kali ini lebih sering dari sebelumnya. Awalnya tak kuindahkan. Tapi lama-lama mengganggu juga. Dengan jengkel kubuka juga pesan itu.

Aku sudah seminggu lebih di ruangan ini. Tanpa makan dan minum. Pakaianku basah semua. Dan aku sangat kedinginan. Di sini juga tak ada lampu. Sekelilingku gelap gulita. Mungkin aku akan mati di sini. Tubuhku sudah mati rasa. Oh, aku sudah tak tahan lagi. Tolonglah aku!

Apa-apaan orang ini! Aku benar-benar kesal. Simulasiku tak berjalan lancar. Dia malah mengirimiku pesan-pesan aneh. Ini sungguh menyebalkan. Aku berdiri dan berbalik sambil mendengus marah. Kursiku sampai terhempas keras ke belakang.
”Hei, aku sedang tidak main-main,” kataku dengan nada kasar. ”Asal tahu saja, ini sangat mengganggu. Kau tahu, aku harus mencek ulang programku gara-gara ini!”

Orang yang duduk di ujung belakang itu tetap diam. Dia sama sekali tak bereaksi dengan kata-kataku seolah dia tak mendengar apapun. Aku masih tak bisa melihat wajahnya. Kepalanya nyaris tersembunyi di balik layar monitor. Kesal diabaikan, aku menggebrak meja, bermaksud menggertaknya dan membuat nyalilnya ciut. Tapi tidak. Dia tetap diam seperti sebelumnya. Tak bereaksi sedikitpun. Kurang ajar sekali orang ini, hinaku dalam hati.

”Sekali lagi kau kirimi aku pesan,” kataku dengan nada mengancam, ”aku akan menghampirimu dan kita bisa buat perhitungan!”

Aku kembali duduk dalam keadaan marah. Oh, sialan! Hatiku terus mengutuk. Aku benar-benar emosi dan ini membuatku tak bisa berkonsentrasi lagi. Siapa sih orang aneh itu? Rasanya aku tidak pernah mengenalnya, dan kurang ajar sekali dia berani-beraninya mengirimiku pesan-pesan aneh seolah aku ini mudah saja percaya dan ketakutan dengan ceritanya.

Aku kembali menghadap layar monitorku dan setengah kecewa harus memulai dari awal lagi memeriksa ulang programku yang cukup panjang. Tapi baru saja aku memulai, ikon sialan itu berkedip-kedip lagi. Aargh!! Anj***!!! Aku memuntahkan semua sumpah serapah dan memukul meja di depanku. Dalam hitungan detik aku bangkit berdiri dan sudah separo jalan menuju sudut ruangan dimana komputer bernomor 333 itu berada. Nafasku cepat dan mataku terasa panas. Karena sangat marah, pelipisku terasa berkedut kencang karena semua darah terpacu deras ke kepalaku.

Sekarang aku hanya berjarak beberapa meter dari komputer 333 sialan itu, dan orang aneh itu tetap bersembunyi di balik layar monitornya.
”Aku sudah bi–,” aku terhenti mendadak ketika aku sudah berjarak satu langkah dengan komputer 333 itu. Tak ada orang duduk di sana. Tak ada puncak kepala yang tersembul sebagian dari balik layar monitor. Tempat duduk itu kosong seperti lainnya. Ini tak mungkin. Tak mungkin dia pergi begitu saja tanpa melewatiku karena satu-satunya pintu keluar ada di depan ruangan, dekat komputerku. Tapi anehnya, komputer 333 itu hidup, layarnya terang. Ketika aku melihat tempat duduknya, ada bekas cekungan di situ. Jelas sekali bekas orang duduk di sana dan baru saja pergi meninggalkannya. Aku melayangkan pandangan ke seluruh ruangan, berharap orang itu berdiri di suatu tempat di ruangan ini, maka dengan begitu aku bisa mengejarnya dan memberinya sedikit pelajaran, atau mungkin semacam gebukan. Tapi tidak. Semua tampak serba putih seperti biasa. Cahaya lampu begitu terang dan mustahil menyembunyikan apapun dalam bayangan gelap. Dan semuannya dapat terlihat jelas. Tidak ada seorang pun di ruangan ini.

Aku kembali melihat layar monitor komputer 333 itu. Ada windows yang sedang terbuka, menampilkan sebuah tulisan panjang. Tanpa sadar, aku membacanya dan larut ke dalam ceritanya.

Aku Ben. Mereka sering mengejekku banci. Aku sering dilecehkan. Kadang mereka melempariku dengan kerikil. Kadang dengan air kotor. Bahkan mereka cukup sering menonjok perutku. Tak ada seorang pun yang peduli. Ketika aku diejek dan disakiti, semua orang hanya diam. Malah dalam diam mereka, ada yang tampak tersenyum samar, seolah aku layak diperlakukan begitu.
Entah mengapa aku tak punya teman. Tak ada seorangpun yang mau berteman denganku. Selentingan kudengar kabar kalau aku najis bagi mereka. Aku adalah kotoran yang harus disingkirkan. Aku adalah manusia gagal. Tapi mengapa? Apa salahku?

Hari demi hari kulalui seperti di neraka. Semua tatapan orang seolah menyudutkanku untuk segera menyingkir. Semua mengejekku dengan tawa yang memuakkan. Dan suara-suara terkutuk itu mulai mengepung kepalaku. Menyuruhku untuk segera lenyap, menghilang untuk selamanya. Aku ingin teriak. Berteriak sekencang-kencangnya. Tapi tubuhku, entah mengapa terasa sakit dan lemah. Aku bahkan tak bisa berjalan.

Aku terbangun pada suatu senja suram yang diguyur hujan dan kudapati diriku berada di sebuah ruangan gelap. Aku tidak tahu di mana aku. Aku tak tahu ini ruangan apa. Pikiranku berkecamuk dan bayangan-bayangan orang yang mengejekku bermunculan seperti barisan wajah-wajah dengan tawa yang memuakkan. Aku…

Aku tidak meneruskan membacanya. Ini jelas ditulis seseorang yang hobi menulis, karena kisah ini pasti bukan diari seseorang. Tak mungkin cerita ini pernah terjadi di sini. Mustahil, batinku!

Aku meninggalkan komputer 333 itu dan berjalan kembali menuju komputerku. Apa peduliku dengan cerita itu. Siapapun bisa saja pernah menulisnya dan menyimpan filenya di komputer itu. Dan kebetulan, aku membacanya. Tapi, baru saja aku sampai di tengah ruangan, aku mendengar sebuah kursi diseret pelan di belakangku. Aku berbalik cepat dan tak mendapati apa-apa. Semua tampak sama seperti sebelumnya. Apa mungkin dia sedang mempermainkanku?

Aku membungkukkan badan. Barangkali saja dia bersembunyi di bawah meja komputer. Aku terus merendahkan kepalaku dan menyelidiki setiap kolong meja. Semula tak ada apa-apa. Semua kolong tampak seperti biasanya, dipenuhi kabel-kabel yang berkelindan. Tapi detik berikutnya, aku menangkap ada gerakan samar di balik kolong meja di salah satu sudut ruangan. Aku melihat ada bagian tubuh yang tak tertutupi sepenuhnya. Ketika aku menggeser tubuhku untuk bisa melihat siapa orang yang sedang bersembunyi itu, aku melihat sesuatu yang benar-benar menakutkan! Apapun itu, yang jelas bukan manusia. Terlihat sedang jongkok, wajahnya yang keriput terlihat sangat pucat dengan kedua bola mata putih besar melotot. Dan dia, dia menyeringai padaku! Memperlihatkan deratan giginya yang kecil-kecil tajam seperti mata gergaji.

Cerpen Karangan: Seprianus
Facebook: Seprianus Cecep Rian Kevin

Cerpen Sosok Misterius di Ruang Laboratorium merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri Tangisan Malam

Oleh:
Romy membuka pintu rumah dengan lelah. Ransel yang ia gendong seolah terasa ingin menelannya. Berat sekali. Ketika Romy hendak berjalan, ia tercengang kaget hampir menabrak seseorang. Gadis itu langsung

Anak Misterius yang Baik Hati

Oleh:
“Audreyyy..!!”, terdengar suara seorang gadis berteriak memanggil nama temannya. Namanya adalah Licia. “Apa..?”, jawab temannya yang bernama Audrey Angelica. “Ih, sombong banget sih, kamu..?!”, “Ya ampun Cia, aku mau

Misteri Elang dan Panji Legiun

Oleh:
Hari ini adalah hari yang istimewa bagi John, sebab Ayahnya baru pulang dari Jerman dan membawa hadiah baginya. “Selamat datang Papa, bawa hadiah nggak?” ujar John. Ayahnya menjawab, “bawa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Sosok Misterius di Ruang Laboratorium”

  1. Nurjanah says:

    Serem banget ceritanya dan menurutku ceritanya sangat bagus

  2. absar says:

    sip, seremnya dapet

  3. Sugeng cipto dwi nugroho says:

    seremnya kurang greget , tapi gaya penulisannya bagus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *