Spooky Mountain

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 16 March 2016

Tahun lalu aku bersama teman-temanku merencanakan untuk mendaki gunung untuk merayakan hari kelulusan kami. Kami menentukan mana gunung yang akan kami tuju dan siapa saja yang akan ikut. Baiklah, deal kami memilih Gunung Gede dengan jumlah orang 5 orang. Sebelum perjalanan dimulai kami harus rajin berolah raga terlebih dahulu agar tubuh tidak kaget saat nanti mendaki. Jujur ini pertama kalinya aku mendaki begitu juga teman-temanku yang lain. Hari demi hari berganti dan sampailah pada hari yang ditunggu-tunggu. Ada perasaan senang, semangat dan perasaan lain dan tidak terbesit perasaan takut sedikit pun, dimana perasaan tidak takut ini, yang akan membuat suatu kejadian saat pendakian kami nanti.

Hari pertama perjalanan dimulai, awal mendaki memang terasa sangat sulit karena tubuhku ini belum beradaptasi pada lingkungan. Entah mengapa dari awal perjalanan aku merasa tidak enak, namun aku tetap berusaha tenang dan berusaha mengalihkan pikiranku. Perjalanan awal ini memakan waktu 3 jam, saat sampai di basecamp aku benar-benar merasa lelah, dan memutuskan untuk beristirahat dengan mendirikan tenda. Pada saat malam tiba, aku merasa perasaan tidak enak itu datang kembali, saat kami membuat api unggun, aku merasa seperti ada yang mengawasi pada tenda kami, dan di situ baru aku yang merasakan kejadian seperti itu. Namun aku tidak ingin ambil pusing, aku berpikir positif dengan merasa bahwa aku kelelahan dan beranjak untuk tidur.

Akhirnya kami sepakat untuk tidur dan pada malam itu aku merasa tubuhku sangat berat seperti tertindih seseorang, aku ingin berteriak tapi suaraku terasa terjepit di kerongkongan, tubuhku kaku tidak dapat bergerak, aku mulai panik dan berusaha untuk berdoa semampuku, akhirnya beberapa menit setelah itu tubuhku mulai terasa ringan kembali seperti semula. Pukul 2 pagi, kami melanjutkan perjalanan kami kembali, karena kami tidak ingin melewatkan sunrise di Gunung Gede. Awalnya aku ingin menceritakan apa yang aku alami, namun aku mengurungkan niatku. Ak tidak ingin perjalanan kami terganggu oleh hal seperti itu. Pada pertengahan perjalanan terdengar suara yang sangat jelas suaranya, dan di sini bukan hanya aku yang mendengarnya namun semua temanku, kami mendengar dentingan alunan gamelan dengan jelas dan diikuti bau menyan.

Sontak tubuhku langsung merinding, dan kami berlima langsung merapatkan tubuh, berusaha tenang dan berdoa. Tak lama kemudian suara itu hilang, dan kami melanjutkan kembali perjalanan, kami tidak sendiri banyak rombongan dari kalangan lain yang juga ikut dalam pendakian ini. Saat sampai di pos 3 aku merasakan ada yang aneh dari tempat ini, tempat ini terasa sangat sunyi dan hawanya berbeda dari tempat lain. Tiba-tiba saat aku sedang beristirahat ada salah satu dari rombongan lain yaitu seorang perempuan yang berteriak sangat keras seperti kuntilanak.

Sontak aku langsung kaget dan melihat apa yang terjadi, ternyata ada yang sedang kesurupan. Aku hampir saja ingin menangis melihatnya karena sangat takut, namun aku berusaha untuk tetap tenang. Saat perempuan tersebut berteriak-teriak datanglah seorang seorang bapak-bapak pintar yang mau menyembuhkannya. Saat keadaan mulai tenang, tiba-tiba bapak tadi mendekatiku, berbasa-basi dengan menanyakan namaku, asalku dan pertanyaan umum lainnya. Dan saat beliau akan mengakhiri pembicaraan bersamaku, ia mengatakan bahwa aku sedang diikuti oleh seorang wanita tua, sontak bulu kudukku langsung berdiri dan aku langsung bungkam mulut, tidak tahu mau berkata apa.

Beliau mengatakan bahwa wanita tersebut mengikutiku dari awal perjalanan, di mana ternyata saat perjalanan tadi tanpa ku sadari aku sedang melewati pasar setan yang abstrak wujudnya, hanya orang-orang tertentulah yang mampu melihat. Aku langsung menceritakan hal ini pada teman-temanku, teman-temanku pun juga langsung kaget. Beliau tadi memberi pesan pada kami agar selalu berhati-hati dalam perjalanan karena perjalanan ini termasuk perjalanan yang cukup berbahaya, dan pasti semua gunung juga mempunyai penghuni yang kasat mata.

Beliau berpesan untuk menjaga tutur kata dan perilaku jika ingin selamat, dan jangan pernah berpikiran kosong, harus selalu berdoa dan bersama. Mendengar hal tersebut kami menjadi lebih meningkatkan segalanya, saling tunggu dan saling menasihati. Perjalanan terasa begitu berat dengan segala tekanan fisik dan mental yang kami rasakan. Dan dengan segala upaya dan doa kami berhasil sama di puncak Gunung Gede, dan dapat melihat indahnya sunrise dari Gunung Gede. Puji syukur, atas semua keselamatan yang diberikan Tuhan pada kami. Kami mengawali perjalanan dengan selamat dan mengakhirinya dengan selamat juga.

Tamat

Cerpen Karangan: Sekar Jatiningrum
Blog: sekarjatiningrum.blogspot.com
Seseorang yang baru mencoba menulis.

Cerpen Spooky Mountain merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pertemuan

Oleh:
Jam menunjukkan pukul 9 pagi. Kriiinnnggg. Bunyi telepon terdengar berdering dari ruang tamu. Gita pun buru-buru lari dari kamarnya buat ngangkat telpon itu. Pembantunya lagi ke pasar juga. Maklumlah

Lavender Town (Song Fiction)

Oleh:
‘Selamat datang di dunia orang mati Sekarang aku akan tidur selamanya Jangan bangun, tolong! Jangan tinggalkan aku di sini selamanya’ ‘Kau meninggalkan aku Selamanya.. Sekarang kau jauh dariku.. Bayanganku

Rahasia Pulau Mati

Oleh:
“Wow! Ini pasti sangat mengasyikkan” sorak Finn kegirangan. “Ya, aku tau ini pasti mengasyikkan. Sangat-sangat mengasyikkan” tambahnya sambil berlari-lari kecil seperti anak berusia dibawah 5 tahun yang mendapatkan permen.

Sesingkat Pertemuan

Oleh:
Hari ini aku melihat sosok itu lagi, sosok tinggi, tampan dengan kulitnya yang pucat. Wajahnya yang tampak sayu itu pun masih menyisakan sebuah senyum manis yang terlihat dipaksakan. Baju

Mimpi Buruk Di Penghujung Senja

Oleh:
Kudorong tubuh Dave dari rangkulan tangannya di pinggangku. Aku beranjak menuju toilet kampus. Melewati lorong yang panjang dan sepi. Tersinari cahaya jingga tanpa sedikitpun angin berhembus. Aku menghindar dari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *