Tak Bisa Dibayangkan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 21 August 2016

Malam ini, aku baru saja pulang sekolah. Rutinitas di sekolahku yang sangat padat inilah yang membuatku harus pulang sekolah pada pukul hampir sebelas malam. Bayangkan saja, sesudah kegiatan mengajar di kelas langsung dilanjutkan kegiatan eskul yang sangat panjang tidak seperti pada hari-hari biasanya. Menyebalkan sekali, bukan?

Kali ini, aku berjalan kaki ke rumah melewati gang yang biasa kulewati agar dapat mempercepat waktuku ke rumah. Aku sempat merasakan hawa aneh saat melewati gang ini. Tapi, aku mencoba untuk tak mengidahkannnya. Lagipula, hari ini sudah sangat malam dan pastinya orang-orang di sekitar sini sudah pergi menuju alam mimpinya, kan? Tidak tega juga jika aku berteriak ketakutan dan membangunkan orang tanpa kesalahan itu. Apalagi jika dia baru melewati jembatan menuju alam mimpi. Hii~

Langkahku terhenti. Pandanganku tertuju pada sebuah lampu jalan yang bersinar terang benderang. Sorot mataku menangkap seorang gadis yang tengah menekuk lututnya sambil terisak. Aku memperjelas penglihatanku dan benar saja, penglihatanku tidak salah. Itu benar-benar manusia.

“Kenapa ada seseorang yang menangis disini?” Gumamku penasaran. Aku berupaya untuk mencoba mendekati gadis itu. Tapi, belum satu langkah, aku sudah memberhentikan langkahku. Pikiran aneh-aneh muncul di benakku.

“Bagaimana jika dia hantu?”
“Atau orang jahat?”
“Tolong dia atau tidak, ya?”
Itulah yang ada di benakku. Aku cepat-cepat menggelengkan kepalaku dan mencoba berpikir positif. Aku meremas erat ujung rokku dan berjalan dengan hati-hati kearah perempuan itu.

“Ada apa denganmu?” Tanyaku pelan saat sudah mendekati gadis itu. Tidak ada jawaban.
Aku melihat wajahnya yang perlahan-lahan muncul. Kurasa dia cukup cantik dengan wajah putih pucatnya dan mulutnya yang berwarna peach.

Dia menatapku sendu. Mataku tertuju pada iris matanya. Iris matanya yang berwarna coklat yang menurutku juga cantik selain dari kulitnya yang putih.

“Beritahu aku, ada apa denganmu? Siapa tau aku bisa menolongmu” Bujukku sekali lagi. Aku memutuskan jika tidak ada jawaban darinya sekali lagi, dengan berat hati aku akan berlari meninggalkannya. Tentunya, dengan menggunakan kekuatan super.

“Kakiku… kakiku sakit…” Ucapnya pelan. Sangat pelan. Untungnya aku bisa mendengarnya. Aku melihat ke arah kakinya. Mataku membulat sempurna saat melihat keadaan kakinya. Lututnya… kedua lututnya dipenuhi darah!

“Kau baik baik saja?” Ucapku cemas. Aku melihat kiri kanan melihat apotek yang masih buka malam-malam begini. Iris mataku tertuju pada sebuah toko yang masih dipenuhi oleh cahaya lampu.

“Naiklah ke punggungku, aku akan mengobatimu” Perintahku sambil melepaskan tas yang dari tadi aku sandang. Yah, walaupun aku mengikuti eskul vokal, tapi, bukan berarti aku tidak tahu dengan yang namanya p3k.

“Eh, tapi… apa tak apa? Apa aku tak merepotkanmu?” Tanya gadis itu menatapku khawatir. Aku tersenyum ke arahnya.

“Tak apa, aku gadis yang kuat, kok!” Ucapku. Aku berlutut membelakanginya. “Ayo naik” Perintahku meliriknya sambil tersenyum. Ia membalas senyumku dan perlahan-lahan menaiki punggungku sambil mengalungkan kedua lengannya di leherku. Aku kemudian berdiri dan membawanya ke salah satu toko terdekat.

“Kau ringan juga, ya” Ucapku sambil tertawa kikuk untuk menghilangkan kecanggungan. Padahal, sebenarnya agak berat sih.

Akhirnya, kami tiba di sebuah apotek yang menjadi tujuan kami. Aku mendudukannya di salah satu bangku yang tersedia di apotek itu. Aku memasuki apotek itu dan membeli sejumlah handplast dan obat merah.

“Siapa namamu?” Tanyaku sambil fokus mengoleskan obat merah di kedua lututnya yang terluka.
“Alanna” Ucapnya sambil sesekali mengaduh.
“Alanna? Perkenalkan, namaku Tamara. Salam kenal denganmu” Ucapku melihatnya sambil tersenyum. Kemudian, tak lama kemudian aku menutup lukanya dengan handplast.
“Terimakasih, Tamara” Alanna memandang kearahku sambil tersenyum senang. Aku mengangguk dan kemudian membalas senyumannya lebih ramah. Aku kembali menyandangkan tasku dan duduk di sampingnya.
“Apa yang terjadi padamu hingga lututmu terluka?” Tanyaku penasaran sambil memandang ke arahnya.
“Aku kurang hati-hati. Tadi, aku ingin membeli sesuatu dan saat aku ingin kembali, aku tersandung dan lututku tergores” Jelasnya dengan senyuman yang tak pernah pudar dari wajahnya. “Tak apa, aku baik baik saja!” Sambungnya kemudian.

Di dalam benakku berpikir, dia ini gadis yang kuat sekali.

Aku mengangguk mendengar perkataannya dan kemudian berdiri. Aku melihat jam yang melekat di dinding apotek.

“Kau ingin pulang? Ini sudah jam 11 malam” Ucapku memberitahu. Alanna hanya menggelengkan kepalanya pelan.
“Tidak, aku ingin disini sebentar” Ucapnya.
“Apa kau serius? Sini, aku antar. Dimana rumahmu?” Tanyaku memandang kearahnya.
“Ah, tak usah repot-repot, Tamara. Aku bisa pulang sendiri” Ucapnya sambil tersenyum tipis.
“Tapi tidak enak rasanya membiarkan anak lebih kecil dariku pulang sendirian di malam hari begini” Tukasku tetap ngotot ingin mengantarkannya. Yah, dia memang lebih kecil dariku jika kulihat dari segi fisik. Kira-kira… dia masih bocah sekolah menengah pertama, lah.

Aku mengulurkan tanganku berharap dia membalas uluran tanganku. Dan, harapanku terkabul setelah sekian banyak penolakan. Aku tersenyum bangga dan membantunya berjalan. Di sepanjang perjalanan kami berbincang banyak sekali. Kurasa, kami bisa menjadi teman baik.

“Ah, sekian banyaknya pembicaraan aku lupa menanyakan dimana rumahmu, hehe. Jadi, dimana rumahmu, Na?” Tanyaku melirik kearahnya. Alanna memandangku sambil menunjuk tempat yang tak jauh dari rumahku.
“Jadi, kita bertetangga? Haha, ini lucu sekali” Ucapku tertawa walaupun tidak ada hal yang lucu. Alanna hanya tertawa pelan.

Kami terhenti di sebuah rumah yang besar. Alanna berdiri didepan pagar rumahnya sambil melambaikan tangannya kepadaku.

“Sampai jumpa, Tam. Terimakasih sudah mengantarkanku” Ucapnya sambil tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih.
Aku mengangguk dan kemudian membungkuk sopan. Aku kemudian menjauhi rumah itu sambil melambaikan tanganku.

Aku tersenyum senang selama dalam perjalanan ke rumahku. Siapa tau kegiatan sekolah yang membosankan itu dapat membuatku mendapat teman baru yang sempurna? Hah, pokoknya besok aku akan berkunjung ke rumahnya!

Kini, aku berada didepan rumahku. Baru saja aku ingin membuka pagar, Ibuku langsung memelukku dengan erat. Sangat erat. Hampir membuatku tidak bisa bernafas. Aku melepaskan pelukannya sebelum nafasku habis.

“Ada apa sih bu?” Tanyaku heran. Aku memandang ibuku sambil mengerutkan dahiku.
“Kau.. kau tadi lewat gang yang biasa kau lewati?” Tanya Ibuku dengan nada khawatir. Aku mengangguk tanpa ada pikiran yang negatif.
“Hah, syukurlah, nak. Kau masih diberi kesempatan hidup” Ucap Ibu mengelus dadanya lega. Ia kemudian memelukku kembali. Aku melihat ke arah ibuku.
“Memangnya.. ada apa bu?” Tanyaku penasaran. Ibuku melepaskan pelukannya dan memandangku.
“Kudengar, ada seorang anak gadis sekolah menengah tingkat pertama telah terbunuh di gang itu. Kudengar, dia dihadang oleh gangster dan mencoba melawannya. Tapi, karena perlawanannya, si gangster itu tidak terima dan malah menikam gadis itu hingga kehabisan darah”

Glek! Aku meneguk salivaku gugup. J-jadi… Alanna itu… H-hantu?!

“Tapi, untungnya kau selamat” Ucap Ibuku sambil menatapku dengan matanya yang berkaca-kaca. Aku yang dari tadi merasa terkejut pun berusaha menyunggingkan sebuah senyuman agar tidak menimbulkan curiga. Wajahku pasti sudah pucat pasi sekarang.

Aku merasakan ada seseorang yang tengah mengawasiku dari arah belakang. Aku memutarkan badanku dan melihat siapa yang mengawasiku. Alangkah terkejutnya aku saat melihat siapa yang mengawasiku. Alanna, ya, dia Alanna. Dia sedang tengah tersenyum manis kearahku.

“Terimakasih, Tam. Sekarang kau sudah tahu kan? Kau sungguh orang yang baik” Ucapnya pelan namun entah kenapa terdengar ke indra pendengaranku. Aku terkejut dan melangkah mundur perlahan. Mulutku bungkam dan tak bisa berkata apa-apa. Aku segera membalikkan badanku dan cepat-cepat masuk ke dalam rumah.

“Hei, nak! Ada apa?” Tanya ibuku penasaran. Aku tak menjawabnya. Yang ada di pikiranku sekarang hanyalah kejadian tadi. Kejadian aku terlalu baik kepada Hantu. Aku mengintip dari jendela saat melihat banyak mobil polisi dan ambulan berpacu melewati rumah kami menuju gang itu. Aku menutup telingaku tidak ingin mendengar sirine dari kedua mobil itu. Aku cepat-cepat menjauhi jendela itu.

Aku hanya berharap, waktu diputar kembali agar aku mengetahui gang itu sedang mengalami masa kelam dan aku tidak akan melewati gang itu jika aku mengetahuinya. Ini.. benar-benar tak bisa dibayangkan.

Cerpen Karangan: Jihan Dyah Arliza
Facebook: Jihan Dyah Arliza
Hanya seseorang yang baru belajar menulis, menekuni klub sastra namun tidak ada hasilnya, dan seseorang yang memimpikan bekerja diudara walaupun tidak ada yang menyetujuinya.

Cerpen Tak Bisa Dibayangkan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sang Penolong (Part 3)

Oleh:
Matahari bergerak semakin turun, mengubah langit jingga menjadi gelap, para orang tua menarik lengan anak mereka agar memasuki rumah dan sekarang menyisakan jalanan yang begitu sepi. Adzan berkumandan, bergema

Novel Berdarah

Oleh:
Aku sedang duduk santai di teras rumah setelah menyelesaikan tugas bersih-bersih rumah yang diberikan orangtuaku sebelum pergi ke rumah Paman Wiko. Bibi Nur datang sambil membawa secangkir kopi panas

Gadis Tepi Mulut Sumur

Oleh:
Kami membisu di antara sebuah sekat. Sekat berupa benang merah tipis. Di balik sekat itu, ada kau yang terdiam seribu bahasa menjemput senja yang menyelimuti desa itu. Langkahmu tak

Marie

Oleh:
Pria itu memandangku tanpa berkedip. Wajahnya yang tirus terlihat pucat dan sedikit tidak berdaya. Tangannya yang keras dengan jari-jarinya yang panjang dan kurus memegang serangkaian bunga yang masih segar.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *