Tak Diduga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 16 May 2016

amaku Sony, aku bertempat tinggal di aceh. Di sini aku punya empat sahabat selamanya atau best friend forever. Mereka adalah Zane, Dion, Amel, Rani. Zane seorang yang pemberani sedangkan Dion mata duitan, Amel orangnya nggak percaya diri, sedangkan Rani percaya sama mitos atau hal-hal yang mistis.

“Eh pulang kuliah kita kumpul ya,” kataku mengajak.
“Ngapain bagi-bagi uang ya?” tanya Dion dengan muka penasaran.
“Udah ngumpul aja,” sahut aku lagi.
“Ok,” jawab sahabatku yang lain. Setelah pulang kuliah kami berkumpul di taman belakang sekolah.
“Mau ngomong apa?” tanya Amel.
“Aku ada rencana mau cari suasana horor saat liburan rencananya besok mau berangkat kalian mau ikut gak?” aku menjelaskan.
“Mau cari di google Son?” tanya Zane.
“Gak lah aku mau yang real, di dekat pulau papua katanya ada pulau tak bernama yang angker,”

“Hah, jauh amat dari aceh ke papua gak gempor tuh kaki,” kata Amel.
“Iya bener tuh mau berapa hari jalan?” sahut Rani.
“Siapa yang mau jalan? Kita naik pesawatlah,”
“Ohh, boleh tuh aku ikut deh,” jawab Zane setuju.
“Yang lain gimana?” tamyaku memastikan.
“Setuju,” jawab yang lain kecuali Amel.
“Aku gak yakin nih,” kata Amel.
“Udah ikut aja kita kan best friend masa kamu gak ikut gak seru dong.”
“Ok deh, aku ikut,” Amel akhirnya setuju.
“Ok deh besok pagi kita kumpul di rumahku jam 05.30, jangan telat yaa,”
Dan mereka menjawab, “Ok,”

Keesokan harinya kami berkumpul di rumahku namun Rani dan Amel belum datang juga padahal jam sudah menunjukkan pukul 05.30.
“Mana nih Amel sama Rani, kok belum datang?” tanyaku dan Zane menjawab.
“Tahu nih, udah kita samperin aja ke rumahnya,”
“Ya udah ayo kita ke rumah Amel dulu,” sahut Dion setelah sampai di rumah Amel ternyata pintunya terbuka dan ada Rani di sana kami melihat mereka sedang membereskan barangnya yang banyak di ruang tamu terlihat ada tiga koper besar milik Amel dan dua koper besar milik Rani.

“Eh kok lama sih, udah gitu barangnya banyak banget kalian bawa apa aja sih?” tanyaku.
Rani menjawab, “Biasalah urusan wanita,”
“Iya ini juga udah dikurang-kurangin kok,” sahut Amel.
“Urusan sih urusan tapi nanti siapa yang mau bawa, emang tangan kalian ada tiga?” kata Dion.
“Udah kalian tenang aja kita cuma bawa make up doang sama pakaian terus sama alat mandi,” jawab Amel.
“Ya udahlah terserah ayo jalan nanti ketinggalan pesawat,” kataku.

Setelah kami sampai di pulau papua kami harus menempuh perjalanan 3 jam untuk ke dermaga tersebut kami naik bus setelah itu kami harus menyeberang dengan kapal yang membutuhkan waktu kira-kira 2 jam namun karena kita sampai di tempat penyeberangan sore hari hanya tinggal satu kapal nelayan yang masih beroperasi.

“Mas bisa antar kita ke pulau tak bernama yang ada di sebelah timur?” tanya Zane.
“Hmm, gimana ya sepertinya gak bisa,” kata si nelayan menolak.
“Memangnya kenapa?” kataku meminta penjelasan.
“Kata orang orang semua yang menginjak pulau itu bahkan melihat pulau itu dijamin tidak selamat dan itu terbukti memang semua orang yang ke sana itu tidak pernah balik kembali,” si nelayan menjelaskan.

“Tuh kan Son aku bilang apa udah kita balik aja,” kata Amel.
“Jangan balik dong Mel pamali tahu kalau udah jalan terus balik di tengah jalan,” kata si Rani.
“Iya tuh bener Mel kita ke sini mau cari suasana horor masa gitu aja takut udah gitu kan kita bareng jadi kalau satu hilang yang lain bisa cari bantuan,” kataku.
“Ya udah gimana caranya kita ke sana kan gak ada transportasinya?” tanya Dion.
“Gini aja deh saya sewain perahu saya gimana?” kata si nelayan menawarkan.
“Boleh tuh tawaran yang good,” kataku.
“Tapi harus ada jaminannya,” kata si nelayan.

“Gimana kalau handphone ini yang jadi jaminannya sama ini 500.000,- uang sewanya buat dua hari?” tanyaku.
“Ok sip setuju,” kata si nelayan setuju.
“Ya udah kita langsung jalan aja yaa takut keburu malam mumpung masih jam 17.30,” kata Zane.
“Ya udah ayo,” kata Dion.

Akhirnya kita semua sampai di pulau tersebut jam 19.30 dan kami langsung membuat tenda dan mencari kayu bakar kami berbagi tugas untuk itu. Amel, aku dan Rani membuat tenda sedangkan Zane dan Dion pergi mencari kayu bakar. Tak lama setelah tenda siap ada suara dari semak-semak kami pun terkejut dan langsung menjauh dari semak-semak tersebut karena takut itu adalah binatang buas seperti singa atau serigala yang berkeliaran.

“Mel, cari senter atau semacamnya gitu cepat,” kataku.
“Nih pake handphone-ku aja ada aplikasi flashlight,” kata Amel.
“Bukain dong pake passwordnya segala sih,” kataku.
“Nih udah,” sahut Amel aku pun langsung mengarahkan senter ke arah semak semak dan ternyata itu adalah Dion dan Zane.
“Hampir aja kita kena cakarannya,” kata Dion sambil menghela napas.
“Emangnya ada apaan sih,” kata si Amel.
“Tadi ada hewan entahlah hewan apa itu tubuhnya aneh kayak gak berbentuk gitu,” kata Zane menjelaskan.
“Jangan-jangan itu hewan jadi-jadian,” kata si Rani.

“Udah ah jangan percaya gitu-gituan mungkin itu serigala yang berkeliaran mana kayu bakarnya?” kataku.
“Nih kayu bakarnya gak terlalu banyak soalnya keburu dikejar hewan itu,” kata si Dion menjelaskan.
“Ya udah gak apa-apa,” kata si aku sambil menyalakan korek apinya setelah jam menunjukkan pukul 12.00 kami bermain gitar sambil menyanyi di sekitar api unggun namun tiba-tiba angin dingin mengenai tubuh kami dan tiba-tiba api unggun mati begitu saja suasana menjadi kacau karena teriakan Amel dengan cepat Rani langsung menyalakan senter akhirnya Amel diam.

“Kamu kenapa Mel?” tanya Rani.
“Entahlah tiba-tiba mulutku teriak dengan sendirinya aku tak bisa mengendalikannya,” kata Amel.
“Jangan-jangan kau kesurupan,” dan tiba-tiba Rani tertawa dengan kencang tanpa ada napas. “Hahaha…”
“Kau kenapa Ran?” tanyaku namun pertanyaan dihiraukan dan Dion langsung membacakan doa-doa ketika dibacakan doa-doa Rani menangis. Seakan kepanasan. Matanya yang melotot membuat kami ketakutan. Dion terus membacakan doa-doa sambil memegang kepala si Rani tangisan Rani semakin kencang suasana gelap yang disertai tangisan kencang membuat semua menjadi kacau.

“Zane! Nyalakan api unggun di tasku ada korek api,” saat Zane mencari korek api di tas aku, ia melihat tulisan bercak darah di tisu tulisan itu ada di tas aku di sana tertulis, “Pergilah dari pulau ini sebelum ada yang mati di tanganku,” Zane terkejut dan suara tangisan Rani tak terdengar lagi dan aku memanggil Zane.
“Zane…. Ada gak koreknya?” dan Zane menjawab.
“Ada sebentar,” dan akhirnya Zane ke luar namun Zane tidak menceritakan kejadian ini kepada teman-temannya karena ia takut mereka malah ketakutan dan akhirnya pulang. Keesokan harinya aku melihat Zane sendirian di dekat api unggun.

“Zane kenapa wajahmu bingung?” tamyaku.
“Gak, gak apa-apa,” jawab Zane dengan gugup.
“Ada yang mau ikut gak?” tanya Dion dan dijawab dengan pertanyaan olehku.
“Ke mana?”
“Cari buah buahan sama kayu bakar soalnya kalau cari malam nanti malah kayak kejadian semalam,” jawab Dion menjelaskan.
“Gak ah males jalan mau di sini aja main gitar sama Zane coba ajak cewek-cewek,” kataku.
“Mereka gak mau ikut lagi pada selfie-selfie di belakang tenda, ya udah aku sendiri aja,” akhirnya Dion berangkat sendiri ke hutan. Setelah beberapa jam ia pulang dengan kayu bakarnya namun mukanya pucat.
“Kamu kenapa Dion? Kok mukamu pucat.” Namun Dion tak menjawab pertanyaanku ia kaku bagaikan robot tapi gak apa-apa deh mungkin dia lelah.

Saat jam menunjukkan pukul 15.00 kami berpindah tempat kami ingin suasana yang lebih horor dan saat kami berjalan kami melihat sebuah rumah yang sudah tua dan kami pun memberanikan diri ke sana kami masuk kerumah tua itu di sana sangat banyak sarang laba-laba dan ada sebuah tiang kayu yang berlumur darah kami pun semakin penasaran siapa pemilik rumah di hutan seperti ini, ternyata di kayu tersebut terdapat nama-nama dan tak diduga nama Dion pun ada di sana dalam sekejap pintu pun tertutup dengan sangat kencang yang mengagetkan kami dan di saat seperti ini Dion menghilang di saat itu pula bau busuk tercium dari salah satu ruangan dalam rumah itu. Kami pun mencari asal-usul bau busuk itu ternyata itu dari ruangan belakang di sana banyak tali yang berlumur darah tergantung di sana.

“Son, tempat apa ini?” tanya Amel.
“Entahlah, aku juga gak tahu kayanya ada yang habis bunuh diri soalnya banyak tali buat bunuh diri gitu,” jawabku.
“Jangan-jangan tempat jin buang anak,” sahut Rani.
“Ada-ada aja kamu Ran, masa iya anak dibuang mubazir tahu,” sahut Zane juga.
“Jangan-jangan orang yang ke sini itu gak balik karena terjebak di rumah ini lalu bunuh diri,” kataku menebak.
“Bisa aja sih mereka putus asa mencari jalan keluar terus bunuh diri di ruangan ini,” kata Zane.
“Udah yuk aku gak mau bernasib kayak mereka mending kita cari jalan keluar,” kata Amel ketakutan.
“Ayo cepat kayanya ada pintu lain selain pintu depan,” sahut Zane. Kami pun terus mencari jalan keluar dan akhirnya aku menemukan pintu namun digembok di saat itu juga Dion datang dan di lehernya ada kunci yang terikat di kalungnya.

“Dion kamu dari mana aja?” tanya Amel cemas.
“Mel sepertinya dia kesurupan deh mukanya aja pucat terus badannya kaku,” kataku sambil berbisik dan tiba-tiba ada seseorang yang berbicara namun tak nampak wujudnya.
“Teman kalian ini sudah tiada yang kalian lihat hanyalah jasad yang dikendalikan olehku, aku telah memperingatkan kalian namun kalian tidak pergi juga maka inilah balasannya,” kata makhluk yang tak nampak itu.

“Son sebenarnya waktu itu aku nemu tisu yang bertuliskan kita harus pergi atau salah satu teman kita ada yang mati tapi aku tak beritahu kalian karena aku takut kalian malah takut dan akhirnya pulang aku gak mau itu terjadi,” Zane menjelaskan dengan panjang sambil berbisik.
“Siapa kau?” tamyaku pada makhluk itu.
“Aku adalah gabungan para arwah orang-orang yang mati di pulau ini kami para arwah telah membuat kesepakatan semua yang datang ke pulau ini harus mati jika mereka datang ke sini dengan ramai maka hanya satu oranglah yang bisa ke luar dengan selamat yaitu kau,” kata makhluk itu.

Tiba tiba teman-temanku berteriak sangat keras dan menjadi pucat juga kaku sama seperti Dion. “Pergilahhh!!! Sebelum kau juga matiii,” dan tiba-tiba pintu terbuka dengan keras sambil menangis aku berlari ke arah pantai sebenarnya aku tak tega meninggalkan teman-temanku namun apalah daya semua ini salahku dan aku berjanji akan melarang semua orang yang ingin datang ke pulau itu agar kejadian ini tak terjadi pada orang lain cukup mereka yang telah terjebak yang merasakan.

Selesai

Cerpen Karangan: Davies Syawalludin Yusuf
Facebook: davies_sawalludinyusufp[-at-]yahoo.com

Cerpen Tak Diduga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Catatan Viola

Oleh:
Hadiah terakhir untukku dari ayah hanya sebuah rumah tua yang hampir mirip sebuah gubuk, tapi itu sudah sebuah keajaiban ayah masih bisa meninggalkan sedikit hartanya untukku, hartanya sudah terkuras

Selamat Jalan Anakku

Oleh:
Aku sejak SMP di kenal sebagai anak yang tomboy, tak jarang sering bertengkar dengan laki laki. Saat SMP aku tak pernah sekalipun membuka hati pada siapapun hingga saat ku

Maria Anakku

Oleh:
Saat itu ada sebuah keluarga tak harmonis karna sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada seorang gadis kecil berambut pirang berumur 7 tahun bernama Maria Salsabila yang sering ditinggal sendirian di

The Flower Cold

Oleh:
Aku tidak percaya dia melakukan ini. yang benar saja.. dia mati karena seorang laki-laki ya. memangnya di dunia ini hanya dia satu-satunya laki-laki! Dasar.. Dibutakan cinta! Aku merebahkan tubuhku

Selembar Puisi Kematian

Oleh:
Namaku riza matsui aku ini merupakan seorang bertipe melankolis.. Yang selalu mengungkapkan perasaan dan suasana hatiku dalam puisi, sampai aku berteman dengan seseorang laki laki yang bodoh dan pemalas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Tak Diduga”

  1. putri amelia says:

    bagus 🙂 , cuma penggunaan tanda koma nya diperhatikan ya, takut salah baca.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *