Taman Magis

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 25 September 2017

Gadis itu masih di sana. Duduk di sudut kamar sambil memeluk lututnya, air mata masih setia membasahi wajah cantiknya, meski berkali-kali diseka dengan kasar, cairan bening itu tetap tak jera mengalir dari sudut matanya. Dia mendesah pelan, kemudian berjalan gontai menuju meja belajar yang terletak tak jauh dari tempatnya duduk. Tangan mungilnya mulai sibuk mengorek-orek isi laci, berharap menemukan sesuatu yang sangat ia butuhkan saat ini.

Tangannya terulur menyentuh kotak musik berbentuk hati dari dalam laci, perlahan diambilnya kotak musik itu dan dibawanya duduk di sudut kamar. Tangannya mulai sibuk menelusuri setiap jengkal kotak musik itu, warnanya biru gelap dengan sedikit perpaduan warna perak. Inisial “ID” yang berarti Indah & Devan, terukir di salah satu sisinya.

Diputarnya kunci yang tertancap pada kotak musik itu perlahan kemudian dilepaskan, instrument musik Beethoven, Violin Romance 2 mengalun memenuhi setiap sudut kamar itu. Perlahan matanya mulai terpejam, terbuai indah nada dari kotak musik itu. Matanya terpejam begitu rapat hingga dia tidak menyadari bahwa lampu kamarnya seperti sedang dimainkan seseorang, sebentar mati, kemudian hidup lagi, dan mati lagi, lalu hidup lagi, begitu terus berulang hingga cukup lama.Tiba-tiba lampu itu mati, tidak ada tanda-tanda akan hidup lagi dalam waktu dekat. Dia merasakan seseorang membelai lembut puncak kepalanya, seolah memberi ketenangan bagi jiwanya yang tengah kacau.

“Indah..”
Gadis itu membuka matanya perlahan, matanya menatap nyalang ke segala penjuru tempat itu untuk mencari seseorang yang tadi menyebut namanya. Dia tengah berada di sebuah tempat, dengan rumput yang menghampar bak permadani hijau di setiap jengkal matanya memandang, di beberapa sisi terdapat sekumpulan bunga mawar putih yang sangat indah, dia tersenyum kecil. Kemudian dia mendongak sedikit keatas, melihat langit yang mulai berwarna kemerahan.

“Indah, kau mau ikut aku atau terus menerus duduk di situ melihat senja?” bisik seseorang tepat di depan telinganya. Indah menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang laki-laki tampan dengan lesung pipi di kedua pipinya tengah tersenyum padanya.
“Entahlah Devan, aku takut melewati batasku.” kata Indah dengan tatapan sendu.
“Aku mencintaimu, aku tidak akan membuatmu melewati batasmu,” bujuk Devan masih dengan senyum manis di bibirnya. Indah mata Devan sebelum akhirnya mengalihkan pandangan dan mengangguk samar. Dia tahu betul apa yang Devan pikirkan meski hanya menatap matanya sekilas.
“Aku tadi melihatmu menangis, kenapa?” tanya Devan saat mereka tengah berjalan menelusuri hamparan permadani hijau itu.
“Aku yakin kau melihat apa yang terjadi padaku sebelum itu, jangan pura-pura tidak tahu Devan, aku tahu kau ada di sana, dasar hantu tukang nguping.” jawab Indah sambil terkekeh pelan.
“aku memang lihat, tapi aku hanya ingin mendengarnya darimu, dan berhenti memanggilku hantu, karena aku bukan hantu.” ancam Devan dengan suara yang di seram-seramkan.
“Lalu apa? roh atau arwah?” goda Indah sukses membuat Devan mencebik kesal.

Tiba-tiba saja Indah menghentikan langkahnya, ia merasakan nyeri menerjang sekujur tubuhnya. Dia berjongkok sambil berteriak kesakitan, tubuhnya seperti dihujani ribuan panah berapi, begitu panas dan perih. Devan hanya menatap Indah dengan nanar, sungguh teriakan kesakitan Indah begitu menyayat hatinya. Ingin rasanya ia bangkit dan membantu Indah, tapi ia tidak bisa. Dia harus menekan rasa sakitnya jika ingin tujuannya berhasil. Tapi tiba-tiba ada cahaya memancar melingkupi tubuh Indah, membawanya menghilang dari hadapan Devan.

Indah mengerjapkan matanya berkali-kali, berusaha menyesuaikan matanya dengan cahaya lampu kamarnya. Diliriknya jam yang ada di atas nakas, setengah tiga pagi. Dia mendesis ketika merasakan pedih di lengan kirinya. Ada sebuah luka di sana, cukup dalam dan hampir menyentuh urat nadinya. Darahnya mengalir mewarnai gaun malam barwarna pink pudar miliknya. Dia mengambil P3K dari dalam laci dan mulai mengobati lukanya sebelum akhirnya membalutnya dengan plester.

Sebuah bayangan muncul di depan Indah, sedikit samar lalu semakin lama semakin jelas.
“Aku tidak akan melakukannya lagi.” kata Indah pada bayangan itu.
“Tapi kenapa?, aku janji akan menjagamu agar tidak melewati batas lagi.” kata bayangan yang ternyata adalah Devan itu sambil menatap sendu pada Indah.
“Omomg kosong Devan, kau ingin membunuhku, akui saja, aku tidak sebodoh itu. Kau ingat kan?, mata orang lain itu seperti buku bagiku.” kata Indah dengan penuh penekanan.
“Aku melakukannya karena aku mencintaimu.” jawab Devan dengan kepala tertunduk.
“Persetan dengan cinta, kau ingin membunuhku. Kau selalu membuatku melewati batasku, mengira tubuhku tidak mampu dan akhirnya mati, iya kan?!” teriak Indah, terlihat selaput bening melapisi matanya, menunggu gilirannya untuk menetes.
“Kau tidak mengerti Indah, betapa sakitnya berada di dekatmu, menatapmu, berbicara padamu tanpa sedikitpun bisa merasakan hangat tubuhmu.”
“Tapi tidak harus dengan membunuhku, kau tahu aku harus tetap hidup untuk membuktikan pada mereka yang mencaciku bahwa aku mampu.” teriak Indah frustasi, air matanya telah sukses membasahi wajah cantiknya, lagi.
“Aku tidak tahu cara lain.” bela Devan. Indah menyeka air matanya dengan kasar, kemudian menatap Devan tajam.
“Dengarkan aku hantu gila. Mulai detik ini, jangan pernah mencoba menampakkan dirimu di hadapanku apalagi mendekatiku, karena aku sangat membencimu.”
“Indah…” bisik Devan dengan suara bergetar.
“Kau tahu Devan, aku benci jadi gadis indigo, semuanya membuatku merasa barbeda dari yang lain, meskipun dengan kelebihan ini aku bisa melihatmu. Aku lebih baik menangisi kepergianmu selama berbulan-bulan daripada harus mati di tanganmu untuk bisa bersamamu, aku mencintaimu, tapi cinta itu mungkin sudah tertutup oleh rasa benci.” kata Indah, tak ada setetespun emosi dalam kalimatnya, semua murni dari dalam hatinya.

“Aku akan melakukannya Indah.” bisik Devan. Tangannya terulur menyentuh jam tangan hitam di atas nakas sebelum akhirnya tubuhnya memudar dan hilang.

Indah berjalan gontai menuju nakas, kakinya masih terasa sakit, mungkin karena ia melampaui batasnya terlalu jauh tadi. Tangannya terulur mengambil jam tangan hitam dari nakas, jam ini hampir tak pernah digunakannya. Hanya dia pajang di kamarnya, yang sebenarnya lebih mirip rumah boneka daripada kamar. Di genggamnya jam tangan itu hingga buku jari tangannya memutih. Dia tahu Devan tidak benar-benar pergi, dia masih di sini.

END

Cerpen Karangan: Lynne Asti
Blog: GiftInMyLlife.blogspot.com

Cerpen Taman Magis merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Love in Popmie

Oleh:
Hari ini dingin sekali karena semalam hujan lebat sampai sekarang belum berhenti. Di bangku paling pojok belakang aku dengan lahap memakan popmie kesukaanku sendirian. Meski aku sering dimarahi oleh

Kekuatanku

Oleh:
Di sekolah, aku adalah orang yang misterius bagi semua temanku. Kata orang pintar, aku mempunyai sixth Sense. Aku bisa melihat makhluk halus. Aku sering dikira gila oleh mereka. “Egi,

Sentuhanmu

Oleh:
Bau semerbak dari parfumnya yang sangat kusukai dulu sekarang tak ada lagi. Ia sudah berubah. Bukan hanya sikap dan penampilannya, merk parfumnya pun sudah berubah. Entah apa dan siapa

Pedang Neraka

Oleh:
Namaku Alex umurku 18 tahun. Aku kecanduan bermain game vain glory. Aku juga sudah termasuk orang yang bisa dibilang “Profesional” dalam bermain vain glory. Aku adalah anak yang nakal

Menunggu Kehadiran Cinta

Oleh:
Bagi orang-orang Menunggu memang adalah hal yang membosankan, tapi bagi satria yang asli minang ini menunggu suatu hal yang biasa bagi dirinya sebab yang di tunggu oleh dirinya adalah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *