Taman Terkutuk

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 10 November 2017

Seorang jurnal paruh waktu baru saja dipecat dari pekerjaannya. Ia terlihat linglung dan bersedih sepanjang langkah kaki keluar gedung. Ia pun merasa tak sanggup untuk menatap pasang mata siapa pun, karena tak ingin membuka percakapan lagi.

Pukul enam sore hari, pria itu datang ke sebuah taman bermain yang katanya “terkutuk” yang dibangun baru beberapa bulan lalu. Banyak yang bilang taman ini meminta tumbal dan sebagainya. Karena alasan dan rumor itulah, taman ini sangat sepi dari pengunjung —kecuali untuk mereka yang tak percaya pada takhayul. Pria itu duduk di bangku taman dan mendengar sms masuk, sepertinya berita kematian yang dikirimkan secara umum. Tapi ia menghiraukannya. Pria itu menghisap udara, menatap ke seberang dengan gusar. Ada dua anak kecil bermain ayunan di sana. Hanya keduanya lah, anak kecil di taman ini.

Esok harinya, pria itu kembali ke taman. Kali ini taman lebih sepi dari kemarin yang sudah sangat sepi. Pria itu datang kemari setelah bolak-balik melamar pekerjaan, dan ia merasa kesal karena merasa diabaikan. Tapi tak ada dua anak kemarin di seberang ayunan. Itulah anggapannya sampai pukul enam, saat dua anak itu kembali ke taman dan bermain dengan posisi semula. Anak pirang yang mengayunkan si anak pemegang boneka yang duduk di ayunan dengan gembiranya. Dalam hatinya pria bertanya, ke mana kedua orangtua anak ini kira-kira.

Hari ketiga. Seseorang menelepon untuk memintai bantuannya. Karena diimingi bayaran, maka si pria setuju. Ia datang ke sebuah kantor kecil tempat pengawasan taman yang dua hari ini selalu dikunjunginya. Ia masuk ke ruang pengawas CCTV tempat temannya bekerja. Baru saja ia masuk ke dalam, tanpa basa-basi temannya itu meninggalkannya.
Hanya dengan berkata “Pekerjaan ini sudah membosankan. Aku harap bisa segera pergi dari sini.”

Temannya biasanya terlalu pendiam dan cuek untuk diajak bicara. Jadi si pria memutuskan untuk menjadi pengawas CCTV meski ia tak terlalu mengerti tentang tombol-tombol di layar komputer dan lainnya. Kemudian, tanpa sengaja ia melakukan sesuatu yang membuka rekaman CCTV dua hari lalu. Tepat di tiang yang mengawasi ayunan dan bangku di seberangnya. Dua hari lalu, pukul enam sore, namun hanya ada satu anak di rekaman. Yakni anak pirang sang pengayun.

Si pria terbelalak ngeri. Tapi ia tak bisa berkata apa-apa lagi, begitu ia menyadari tak ada seorang pun yang duduk di bangku di seberangnya. Di mana seharusnya, dua hari lalu di jam yang sama, ia duduk di sana, mendapatkan sms dan —ia buru buru membuka pesan yang masuk dua hari lalu. Tentang berita kematian yang sempat dihiraukannya.

Bocah pemegang boneka tak lagi datang untuk menemani si pirang. Jadi mulai pukul enam ini, giliran si pria yang duduk di ayunan.

Cerpen Karangan: SkrissCerer

Cerpen Taman Terkutuk merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mobil Pemberian Ayah

Oleh:
Aku bernama Donny. Aku adalah salah satu mahasiswa jurusan Pertambangan di ITB. Bagiku, hidup di Bandung itu adalah sesuatu yang mengasyikan. Disini, aku bisa mendapatkan segala fasilitas dengan mudah,

Tinggalah Lebih Lama

Oleh:
Tempat ini, aku selalu merindukannya sepanjang tahun, setiap liburan seperti ini aku menyempatkan singgah di rumah nenek karena menariknya di belakang Desa ada Hutan pinus yang selalu membius mataku.

Penunggunya Siapa?

Oleh:
Dodi menggigit jarinya gelisah. Bola kesayangannya masuk ke rumah kosong, yang angker. “Aku pulang ya Dod, mau main PS” ujar Tito yang malah kabur pergi ke rumahnya, padahal Tito

First Date

Oleh:
“Ok, kita ketemuan di kedai kopi ya depan SMA 1” Demikian isi pesan singkat terakhir dari adit. Jaraknya sekitar 7 km dari rumahku, membutuhkan waktu sekitar 15 menit jika

Sebuah Misteri Rumah Tua

Oleh:
Langit berwajah suram pertanda hujan akan turun, aku bergegas berlari menyelamatkan diriku dari rintik-rintik hujan yang mulai membasahi tubuhku. Padahal baru saja ku berangkat menuju sekolahku yang tidak jauh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *