Tangis Mu Merayu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 12 November 2015

Suara burung hantu dan lolongan anjing di atas bukit mengusik sepi yang hampir abadi malam ini. Sesaat suara mereka bersahutan. Entah anjing atau serigala, tapi lolongannya kian melengking memenuhi udara, bercengkrama dengan kabut kegelapan. Lolongan pajang itu terdengar seperti rintihan kesakitan mendalam yang tidak bisa didefinisikan dengan apapun. Sungguh tiada lagi salain itu yang tidak bisa dijelaskan. Mungkin hanya kesunyian malam yang tahu dan mengerti.

Sebuah tangis seorang wanita yang miris bagai belati pengiris hati, terdengar samar-samar di kegelapan malam. Saat tangis itu mulai terdengar, entah kenapa lolongan binatang itu seperti lenyap bersama gemanya. Mungkin ia telah lari terbirit-biri dan mendekam ketakutan di sarangannya.

Sembari tadi aku di sini, di tempat ini, di sebuah gardu pos ronda yang bersebelahan dengan tempat pemakaman dan mungkin juga itu menjadi alasan kenapa aku di sini sendirian. Setiap malam giliranku, pasti akan menjadi malam yang panjang dan penuh dengan perasaan was-was akan keadaan sekitar. Ya, namanya juga ronda. Sebenarnya ada lima orang yang hari ini mendapat giliran meronda, tapi mereka berempat enggan berjaga di sini dan lebih memilih berkeliling mengintari desa, lantaran takut dimakan hantu kuburan kata mereka. Mana ada hantu makan manusia, yang ada itu hantu makan menyan, iya nggak? Ada-ada saja mereka.

Tangisan itu samar-samar masih ku dengar sejak lolongan binatang pengecut itu tak lagi melengking memenuhi telingaku. Sampai seperti itukah ketakutannya? Aku sendiri tak tahu, tapi aku bisa memperkirakannya. Seberapa takut binatang itu dengan arwah tak tenang yang bergentayangan. Mereka takut karena mata mereka bisa melihat apa yang tak dilihat oleh mataku. Ku lihat jam yang menempel di dinding gardu ini. Sudah hampir pukul satu pagi, tapi kenapa tangis itu belum juga berhenti. Apakah malam ini menjadi pengakhiran kesedihannya, sehingga ia menangis sepuasnya malam ini.

Aku penasaran, arwah siapa yang tangisnya setiap malam terdengar samar-samar memilukan seperti ini, tapi aneh juga. Di saat semua warga desa tengah bergidik ketakutan di atas ranjangnya, justru aku semakin penasaran. Aku bangkit dan beranjak melangkah, berniat untuk mencari tahu asal tangis itu dengan bermodal cahaya senter yang redup dan segenap keberanian yang tersisa, mungkin sebentar lagi pudar melayang bersama kabut malam. Ku beranikan diri demi dahaga jiwa yang tak tertahankan ini. Aku ingin menjadi bagian malam, agar ku tahu semua tentang wanita dan tangisnya yang kini kian pilu.

Akan ku ceritakan lagi kejadian malam itu saat aku dirasuki rasa takut yang hampir membuat jiwaku terganggu, tapi aku bersyukur, karena telah mendapat seorang sahabat baru. Ku tuliskan cerita ini agar siapa saja yang membacanya percaya bahwa aku bukanlah pembual belaka. Tangis pilu itu semakin terdengar jelas saat aku berada di jalan setampak yang menuju puncak bukit. Banyak tumbuhan tinggi di sana, bahkan hampir seluruh tanahnya ditumbuhi pohon-pohon seperti jati, akasia dan cemara. Para warga desaku menyebut bukit itu adalah hutan penyesalan. Ya, seperti itulah.

Konon katanya hutan itu sangat angker dan ada penunggunya. Aku tahu kenapa bukit itu disebut hutan penyesalan. Dinamakan seperti itu karena konon katanya juga, siapa saja yang masuk ke dalam hutan itu tidak akan pernah bisa kembali lagi. Ya, itu sih bualan para warga desa saja dan sebenarnya aku tak percaya sepenuhnya dengan hal-hal seperti itu, karena semua cerita yang mereka dongengkan pada kami para kaum mudah hanyalah urband legend. Sebuah dongeng klasik agar kami tak berani ke luar rumah pada malam hari.

Aku melihat beberapa cahaya senter dari arah jalan masuk ke desa. Ku hentikan langkahku dan ku balas sorotan senter mereka.
“Man, mau ke mana kamu?” teriak salah satu dari mereka yang tak lain hanyalah teman-temanku meronda malam ini.
“Cari jangkrik! Mau ikut nggak kalian?” aku menyahut. Wajah ketakutan mereka dapat terlihat jelas dengan cahaya senterku yang mulai redup.
“Lukman, mau ke mana kamu. Mau cari jangkrik di hutan penyesalan? Kalau cuma jangkrik sih, di sawah sebelah rumahku banyak Man. Ngapain juga ke sana?” cerocos Tejo, salah satu dari mereka.
“Aku mau naik ke atas bukit untuk menikmati pagi yang pasti berbeda.” jawabku mendusta.
“Jangan!” ujar Jalu.
“He-em! Di hutan ada yang gelap-gelap loh Man. Kamu nggak takut sama wanita yang setiap malam menangis seperti ini?” aku tertawa mendengar perkataan Aji. Yah, merekalah teman-temanku, tapi hanya aku yang tertawa. Mereka memandangku dengan tatapan aneh, huh, masa bodoh! Percuma memasang berbagai ekspresi di muka, aku tak peduli.

Lama juga kami mendebatkan masalahku yang ingin naik ke puncak bukit dan dongeng menyebalkan yang tetap saja mereka percaya, tapi akhirnya mereka mengalah, membiarkanku pergi. Sebenarnya aku tak tega melihat wajah-wajah khawatir mereka, tapi kini diriku sudah terlanjur penasaran dengan tangisan wanita yang hampir setengah tahun menyelimuti malam-malam di desaku.
“Hati-hati Man!” teriak Jalu.
“Kalau jangkriknya di sana lebih banyak dibanding jangkrik di sawah sebelah rumahku. Sms ya Man, nanti aku nyusul.” ujar Tejo tak mau kalah.
“Hati-hati Man, malem-malem begini biasanya di hutan gelap banget loh. Ingat juga, tangis wanita itu tak akan pernah berhenti!” ujar Aji ikut-ikutan.

Aku hanya tersenyum melihat mereka mulai berjalan memasuki desa lagi, meninggalkanku sendiri bersama gelapnya malam. Yah, ini senter juga habis lagi baterainya. Sekarang hanya tinggal cahaya senter yang kian redup seperti hatiku yang kian menciut. Mendatangkan rasa takut di setiap detiknya. Biar, tak ku pedulikan apa yang mereka dongengkan dan biarlah rasa takut ini menyelimutiku agar aku bisa bertahan malam ini. Biar malam membunuhku, asalkan tangis memilukan itu ia sudahi. Aku kasihan kepadanya, tangis itu benar-benar mengiris hati yang keras ini. Tolong berhentilah menangis untuk selamanya. Aku mohon.

Semakin jauh aku melangkah menuju puncak bukit, semakin jelas pula isak tangis itu. Setelah sekian lama aku berjalan dan mendaki, akhirnya sampai juga di puncak. Aku yakin wanita itu sudah sangat dekat denganku, sebab tangis yang kini ku dengar bukan hanya gemanya, melainkan suara aslinya. Aku terdiam memaku sesaat, mencoba meresapi tangis yang ternyata sangat memilukan. Entah sejak kapan air mataku mengalir begitu saja mengikuti rintihan tangis yang mengingatkanku pada semua kepedihan yang selama ini menyelimuti hidupku. Sungguh kini hatiku begitu sakit, entah karena apa. Mungkin tangisnya.

“Aku mengerti, sudahlah. Jangan kau menangis lagi. Aku mengerti perasaanmu. Aku mohon!” pintaku seraya mencari sosok wanita yang menangis terlalu memilukan ini.
“Aku mohon berhentilah menangis. Aku benar-benar sudah tak sanggup lagi mendengarnya.”

Aku melihatnya. Ya, benar! Tak salah lagi bahwa dialah yang selama ini menangis pilu bersama keabadian malam. Mungkin hanya malam yang setia menemaninya saat air mata selalu tak bisa berhenti mengalir, karena air mata pun tak cukup baginya. Maka seperti inilah. Setiap malam ia tumpahkan demi melampiaskan semua kepedihannya. Dari kejauhan ku lihat seorang wanita berambut panjang mengenakan baju tidur berwarna pink dengan corak bunga, walau hanya terlihat samar lantaran cahaya senterku yang kian redup, tapi aku yakin bahwa dialah wanita yang tangisnya selama ini menyelimuti malam-malam di desaku. Tangis pilu yang mengingatkan siapa saja akan semua kepedihan dalam hidup ini.

Perlahan ku langkahkan kakiku mendekatinya. Badanku bergetar hebat, entah karena apa, tapi tiba-tiba saja sekujur tubuhku diselimuti hawa dingin yang menggigit. Semakin dekat aku dengannya semakin berat pula kakiku untuk melangkah dan air mata ini. Aku tak tahu kenapa tak bisa berhenti mengalir, mungkin air mataku akan habis malam ini juga. Angin pun berhembus pelan bersama dingin yang membuatku kian menggigil.

Aku tak bisa memendamnya sendiri tentang semua perasaan takut dan ngeri saat perlahan tanganku mencoba meraih pundaknya. Aku ingin kau tahu jika waktu terasa seperti berhenti saat aku berhasil menyentuhnya. Dingin. Dingin sekali tubuhnya. Terasa seperti bongkahan es batu. Sangat dingin, hingga membuat tanganku seperti membeku dan tak bisa digerakkan sedikit pun, begitu juga tubuh ini. Aku seperti patung yang bernyawa. Bisa melihat tapi tak bisa bergerak sedikit pun. Suaraku pun ikut lenyap. Tak ada sepatah kata atau pun sedikit suara saja yang ke luar dari tenggorokanku. Lidahku kelu, entah karena apa. Aku tak tahu.

“Ke… Kenapa ka… Kamu menangis setiap malam?” ucapku saat suaraku kembali. Aku belum bisa melihat wajahnya yang pasti sangat sembab karena setiap malam ia menangis.
“Kau tak akan pernah tahu, karena dunia kita telah berbeda.” jawabnya sesenggukkan dengan suara berat dan serak.
“Aku ingin tahu.”
“Kau siapa? Aku tak bisa!”
“Kalau memang tak bisa, tak apa, tapi setidaknya berhentilah menangis.”
“Aku tak bisa!” sahutnya seraya memutar badannya menghadap ke arahku.

Ternyata dia lebih muda dariku. Dia sungguh cantik, walau ku tahu ia hanyalah arwah, tapi aku tak bisa berbohong bahwa pesonanya membuatku terdiam tanpa kata dengan mata yang enggan berkedip saat menatapnya. Aku bisa melihat sosoknya dengan jelas, walau cahaya senterku hampir padam. Wajahnya yang oval, dagu yang sempurna untuk wanita, bibir mungil yang menggemaskan, dan mata indah yang menatap lembut ke arahku, walau berlinang air mata. Andai dia masih hidup. Seuntai harapan mimpi dalam mimpi yang mustahil terjadi.
“Kenapa tak bisa?” tanyaku seraya meraih genggaman tangan dinginnya, walau ku tahu ia hanyalah arwah, tapi ia begitu nyata untukku. Aku dapat menyentuhnya.
“Karena aku sudah kehilangan segalanya.” jawabnya tertunduk dengan rinaian air mata yang terus mengalir tanpa henti.

Perlahan ku raih wajahnya yang sembab penuh air mata dan ku hapus semua air matanya, tapi percuma. Air matanya terus mengalir deras, aku tak tahu cara untuk membuatnya berhenti menangis. Yang aku bisa hanya menatap matanya dengan penuh kasih sayang. Dia tersenyum sendu, mungkin dia mengerti tatapanku ini.
“Kau pemuda yang baik.” ujarnya.
“Sudahilah tangisanmu, jika kau tak punya alasan untuk melakukannya. Jadikanlah saja aku sebagai alasanmu dan berhentilah menangis untukku.” sahutku. Ia mengangguk pelan.
“Terima kasih, karena kau baik. Akan ku ceritakan sedikit mengapa aku setiap malam menangis seperti ini.”
“Silahkan, aku akan menjadi pendengar setia.”

“Sebenarnya aku ini belum mati, tapi aku ingin mati. Hidupku selalu saja dipenuhi kepedihan yang membuatku mempunyai niat untuk mengakhiri hidup agar semua selesai, sehingga tiada lagi kepedihan yang ku rasa. Tapi rencanaku gagal, walau aku sudah menikam perutku dengan belati. Nyawaku tergantung antar hidup dan mati selama enam bulan, tubuhku koma di rumah sakit, namun arwahku melayang dan bersinggah di sini untuk menumpahkan semua yang ku rasa. Ah, percuma ku ceritakan semua ini padamu, karena kau tak akan pernah mengerti apa pun tentangku.” jelasnya. Aku tak percaya jika ia benar masih hidup atau lebih tepatnya di antara hidup dan mati.

“Kau masih hidup?” tanyaku masih tak percaya.
“Di antara hidup dan mati. Entah nantinya aku akan sadar atau mati, tapi aku ingin mati saja, karena itu aku tak pernah melihat tubuhku sendiri di rumah sakit.” jawabnya.
“Aku ingin kau berhenti menangis dan sadar, agar aku bisa melihatmu tersenyum kepadaku nantinya.”

Ku habiskan malam yang tersisa di antara fajar yang mulai mengikis kesunyian. Aku masih di tempat ini. Di atas bukit penyesalan, duduk berdua dengannya menghadap ufuk timur di mana mentari sebentar lagi bergerak perlahan memperlihatkan dirinya dengan malu-malu dan terkadang ia akan memanfaatkan cahaya silaunya agar tiada seorang pun yang melihatnya malu saat ia perlahan menampakkan diri. Sayangnya wanita itu kini telah hilang bersama datangnya fajar yang indah. Sayang sekali ia tak bisa menikmati ini semua bersamaku.
“Semoga aku bisa bertemu denganmu lagi.” doaku seraya memejamkan mata agar silaunya mentari tak menyakiti mataku.

Mentari semakin indah dengan gerakan perlahannya yang kian meninggi. Para burung nampaknya sudah terbangun dari sarangnya dan kini mulai berkicau merdu di ranting-ranting pohon. Udara segar pagi hari memanjakan pernapasanku, ku nikmati tarikan dan hembusan napasku yang kini sangat nikmat. Ku pejamkan mataku lagi agar aku bisa lebih menikmati suasana ini di setiap detiknya. Anganku pun mulai melayang jauh bersama hembusan rayuan angin yang menghantarkan gigil. Terbayang lagi akan wajah wanita itu. Ada sebuah gejolak di hati ini saat bayang-bayangnya menyapa dengan sebesit senyum. Andai saja ia tersadar dari tidur panjangnya, aku pasti akan mengajaknya ke tempat ini. Di tepi lereng bukit yang mempunyai fajar terindah. Seuntai harapku padamu Dhea Putri.

Sebulan sudah waktu berlalu dengan cepat, tapi seperti diperlambat oleh kerinduan ini. Aku senang satu bulan ini tak mendengar lagi tangis pilunya, tapi di manakah dia sekarang. Tahukah kau, jika aku sangat merindukanmu Dhea.
“Man, Lukman!” panggil seseorang dari teras rumahku. Aku yang sedang melamun seketika sadar dan menuju teras.
“Oh, Aji, ada apa Ji?” tanyaku.
“Ada yang mencarimu. Gadis cantik dari kota loh man.” jawab Aji dengan mata dan nada bicara yang menggoda.
“Siapa?” tanyaku acuh tak acuh.
“Itu orangnya di dalam mobil. Ya udah, aku pamit dulu ya. Sukses loh!” ujar Aji sambil melangkah pergi.
“Makasih loh Ji. Kamu nggak mau minum kopi dulu?” sahutku menawarkan.
“Iya, sama-sama. Lain kali saja Man!”
“Oke!”

Aku benar-benar tak percaya jika yang ke luar dari mobil mewah itu adalah dia. Wanita yang selama ini ku rindukan. Dengan anggun ia menghampiriku dan aku hanya bisa terdiam membisu. Aku bisa melihat senyum manisnya bercampur dengan rona wajah memerah karena malu. Kini aku bisa melihatnya secara nyata, tanpa air mata yang mengalir dari mata indahnya.
“Kamu masih ingat aku?”
“Aku selalu mengingatmu dan kau harus tahu jika aku juga merindukanmu.”
“Sungguh?”
“Percayalah!” tiba-tiba ia merengkuh tubuhku dengan lembut. Terasa hangat dan nyaman, tak seperti saat malam itu yang hanya ada dingin di tubuhnya. Ku balas rangkulannya.

Badanya sedikit bergetar dan samar-samar ku dengar isak tangisnya. Dia terus membenamkan wajahnya di dadaku hingga air mata keharuan kami menetes bersamaan.
“Terima kasih Lukman, kau yang telah membuatku bangun dari mimpi burukku. Aku mohon bantulah diriku untuk memperbaiki hati dan diri yang selama ini seperti tak berguna untuk apapun.” katanya seraya melepaskan rangkulannya.
“Suatu kehormatan bagi saya pribadi. Aku akan mengatakan ‘iya’ jika kamu mau menikmati segelas kopi bersamaku di sini. Di teras rumahku.” jawabku dengan tawa renyah yang kemudian di sambut tawa kecilnya.

Ku hapus air mataku dan kemudian ku tawarkan sapu tanganku padanya. Ia menerimanya dan tersenyum begitu manis. Aku sangat bahagia melihatmu seperti ini Dhea.
“Okelah, tak masalah!”
“Beruntungnya aku!” ujarku yang membuatnya tertawa kecil lagi. Kami berdua menikmati kopi hangat sembari bercanda dan berbagi cerita bersama.

Di suatu pagi yang masih gelap, ku genggam tangannya saat kami berjalan menuju puncak bukit penyesalan untuk menikmati fajar yang begitu indah. Saat itu juga aku tak lagi melihat mata sendunya yang memancarkan beribu kepedihan seperti malam itu, dan kini matanya telah berbinar menatap pasti ke depan. Dhea Putri. Aku mencintaimu.

Cerpen Karangan: Garin Afranddi
Facebook: Garin Afranddi
Penulis: Garin Afranddi
Email: garinafranddi[-at-]gmail.com
Facebook: Garin Afranddi
Twitter: @GarinAfranddi
Alamat : Jiworagan, Kalangan, Pedan, Klaten, Jawa Tengah, Indonesia

Cerpen Tangis Mu Merayu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hujanku Matahariku

Oleh:
Satu, dua, kuhitung tetes demi tetes air dari langit yang mulai berjatuhan.. Lama, semakin lama, semakin banyak, hingga kusadari bahwa sebenarnya aku tidak bisa menghitung banyaknya air yang turun

Semua Karena Cinta

Oleh:
Bagiku cinta hanyalah sebuah skenario yang diatur. Sebentar pacaran, dan tak lama kemudian putus. Itulah mengapa aku sampai sekarang masih jomblo. Lebih baik aku menulis sebuah buku. Itu lebih

Melati

Oleh:
Dinginnya udara malam ini, hanya bertemakan hujan dan kesunyian, apa hujan tak kashian pada orang-orang yang sedang berada di luar? Yang sedang pulang kerja, yang sudah melakukan aktivitasnya? Apa

Ketika Hidayah Melambaikan Cinta

Oleh:
Kicau burung merpati mulai terdengar ditelingaku. Tak sedikitpun aku bergerak dari tempatku berbaring. Tubuhku bagaikan terpaku di atas tempat tidurku. Namun suara adzan yang berkumandang membuatku terpaksa bangun. Walaupun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Tangis Mu Merayu”

  1. faridha istiqomah says:

    cerpen.a bagus banget, serem n so sweet, keren, cerpenis ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *