Teh Hijau (Bagian 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 15 November 2021

Dara berjalan menuju dapur rumah ini. Mengambil segelas air dan meneguknya sambil duduk. Kebiasaan paginya di rumah ini. Bangun tidur, mandi, salat subuh, pemanasan ringan guna meregangkan otot-ototnya. Kemudian turun ke dapur mencari sarapan paginya dan menyesap teh hijau. Terus berulang dalam 3 bulan terakhir.

Dara tahu cerita lengkap Kang Asep dan Mira. Peristiwa itu. Hingga saat ini masih sama keadaannya dari 12 tahun yang lalu. Jose semakin mendesaknya untuk bicara, mengungkap kasus ini. Dara tak peduli toh ini bukan kapasitasnya untuk ikut campur. Tapi Jose tak menyerah seolah tahu kalau Dara punya sisi baiknya tersendiri. Fakta lainnya Kang Asep masih punya nenek yang tinggal bersamanya. Wanita renta yang pernah ia temui sekali ketika menjemput Kang Asep untuk ikut bersamanya ke kota. Sikap ramah wanita tua itu tak menutupi rasa sangsinya karena dirinya tahu sisi lain wanita tua itu. Nini tak merestui Kang Asep dan Mira. Rumornya tak ada alasan pasti song Nini menolak merestui mereka. Jose pun enggan memberitahu karena Dara sendiri masih menolak membantunya, Kang Asep dan cintanya, Mira.

Bicara soal Baron, si bajingan menurut Jose. Dara sering bertemu dengannya. Si juragan empang yang umurnya sedikit lebih muda dari Kang Asep. Sekali lihat saja dirinya tahu Baron si lelaki menyebalkan. Sering bertandang untuk sekadar mengajaknya makan atau berkeliling. Lama-lama dirinya jengah, memutuskan untuk memblokir semua akses agar Baron tak memasuki lingkungannya. Pada akhirnya Baron menjadi musuh pertamanya di sini.

“Kenapa, Mang Din?” tanyanya ketika pria tua itu masuk dapur terburu-buru.
“Itu Non, Kang Asep sama Baron adu mulut di halaman depan.”
“Lah kok bisa sih, Mang?” dirinya bangkit meninggalkan sarapan paginya.
“Non Dara nggak usah ikutan liat nanti Non kenapa-kenapa.”
“Enggak, Mbok. Saya bisa jaga diri.”

Dara diikuti Mang Din menuju halaman depan.

“Kang Asep teh tidak usah ikut-ikutan. Saya tidak punya urusan sama Kang Asep. Nah ini dia Neng Dara yang saya cari.”
“Jaga jarak. Kamu tidak boleh berdekatan dengan Non Dara.”
“Kenapa? Kang Asep mah jadi jagoan? Tidak usah ikut campur urusan saya sama Neng Dara deh, Kang.”
“Urusan Non Dara urusan saya juga.”
“Wuohhh emang Kang Asep teh siapanya Neng Dara? Jadi kacungnya aja belagu kamu, Kang.”

Bugh!
Pukulan tepat di wajah Baron hadiah dari Kang Asep.

“Ya Allah, Kang!” Mang Din berteriak sedangkan Dara menahan napasnya gusar.
“Baron lepasin Kang Asep! Baron! Ayo kita bicara.”
“Non Dara nggak perlu bicara sama dia.”
“Saya tidak tahu Neng kenapa Kang Asep ngotot halang-halangi saya untuk ketemu Neng Dara,” dirinya ngos-ngosan dengan wajah lebam.
Kang Asep meludahkan darah, sudut bibirnya robek sedikit.
“Ayo bicara nanti sore di sini. Sekarang pulang sana.”
“Muka saya lebam loh, Neng. Tidak mau obati muka saya dulu, Neng?”
“Heh! Pulang nggak kamu! Atau mau saya tambahin biar remuk sekalian tuh muka?”
“Duhhh iya iya saya pulang, Neng. Urusan saya sama Kang Asep belum selesai ya, Kang.”
“Minggat sana!”
Baron berlari tertatih setelah melihat Dara bersiap melemparnya dengan sandal miliknya.

“Ayo Kang masuk dulu biar Mamang obati di dalam.”
“Sebentar nanti Mbok ambilkan air untuk kompres.”

Dara menatapnya datar ketika dipapah Mang Din masuk ke rumah.
Mbok Mi dan Mang Din sibuk mengompres luka di wajah Kang Asep. Dara duduk bersedekap di sofa seberang mereka.

“Aawww…”
“Duh maaf ya, Kang. Ini Mbok udah coba pelan-pelan.”
“Biar nanti sama Mamang kalau saja kalau Non Dara mau temui si Baron itu.”
“Nggak usah, Mang. Saya bisa sendiri.”
“Non!” terdengar seperti membentak saat dirinya memanggil Dara bersamaan dengan perih lukanya muncul saat tak sengaja ditekan.
Dara reflek menoleh. Kang Asep meringis pelan.

“Duhhh maaf-maaf atuh, Kang. Mbok nggak sengaja.”
“Non Dara nggak perlu bertemu Baron. Saya melarang Non Dara bertemu dengan dia.”
“Kenapa?”
“Non Dara tanggung jawab saya. Kalau ada apa-apa sama Non Dara, saya yang pertama ditanyai Bapak nantinya.”
Kang Asep bersusah payah menyelesaikan kalimatnya.

“Udah deh, Kang. Saya bukan anak kecil. Saya bisa jaga diri saya sendiri.”
“Kamu nggak tahu gimana Baron itu,” lirihnya tajam.
“Saya tahu dengan siapa saya berhadapan.”
Setelah melontarkan kalimat itu Dara memilih naik ke lantai atas. Mereka hanya saling memandang kepergian nona muda itu.

Seharian Dara mengurung diri di kamar. Sedangkan Kang Asep ditahan Mbok Mi agar tetap di sana.

“Non, mending ikuti aja kata Kang Asep. Mbok khawatir sama Non Dara nanti diapa-apain sama Baron.”
“Saya bakal baik-baik aja, Mbok.”
Wanita tua itu berwajah sendu, suaminya sedang ke pabrik menemui Mang Juki. Sedangkan Kang Asep sedang tertidur pulas dan ia segan membangunkannya.

Mereka berbicara di tengah jalan kebun teh. Langit mulai menguning, mentari mulai bergerak ke ufuk barat.

“Saya minta sama kamu jangan ganggu saya lagi. Jauhi saya dan lingkungan saya.”
“Kenapa? Neng Dara teh kenapa tidak mau dekat-dekat sama saya?”
“Stop! Nggak usah deket-deket saya. Berani kamu maju selangkah saya sayat kamu!”
Dara mengeluarkan pisau lipat dari kantong celana kargonya. Ia mengikuti instingnya membawa benda itu untuk jaga-jaga.

“Wow wow wow sabar atuh Neng. Saya kan tidak mau menyakiti Neng Dara. Jadi pisaunya disimpan saja ya?”
“Nggak ada jaminan kalau kamu nggak akan nyakitin saya. Stop!”
Dara semakin mundur dengan tangan mengacungkan pisau.

“Saya teh orang baik, Neng.”
“Nggak ada orang baik yang tega nyakitin perempuan yang ia kenal sebagai tunangan sepupunya sendiri. Terlebih kamu masih bebas berkeliaran di sini.”
“Maksudnya Neng Dara teh apa?”
“Kebun teh, malam hari, dan Mira. Kamu pasti ingat peristiwa itu.”
Baron bergeming. Matanya menyorot nyalang ke Dara.

“Tahu dari mana kamu?”
Auranya meredup gelap selaras dengan langit yang kian menggelap.
“Saya tahu dari mana? Hahahaha… Coba tebak?”
Baron bernapas risau.

“Nggak susah untuk mencari kebusukan kamu, Baron. Orang sepertimu ini nggak pantas hidup bebas sedangkan mereka tersiksa karena kelakuan bejat kamu!”
Baron menggeram marah, “Dara!”
Dirinya mengejar perempuan muda itu dengan beringas. Dara berlari terus mengikuti jalan berbatu di antara luasnya kebun teh. Suasana gelap mengaburkan penglihatannya.

“Mbok, Non Dara mana?”
“Itu Kang… Lagi disusulin sama Mang Din ke kebun.”
“Ngapain dia di kebun, Mbok?” Dirinya bertanya dengan nada panik.
“Bicara sama Baron, Kang. Eh Kang Asep istirahat aja dulu Mang Din udah… Kang!”
Dirinya tak mempedulikan panggilan Mbok Mi yang menyuruhnya tetap tinggal sedangkan ia khawatir setengah mati akan kondisi perempuan itu.

“Aarrghhhh lepas!” Dara bergulat dengan Baron. Tubuhnya terhempas ke tanah dan Baron berusaha mendudukinya. Pisau ia arahkan ke wajah Baron namun ditahan oleh tangan pria itu. Lama mereka bergulat seperti itu, akhirnya Dara menggigit tangan Baron semampunya. Hal itu efektif, Baron terlepas dan ia berusaha bangkit untuk berlari menjauh.

Di antara kebun teh dirinya berlari terseok-seok dengan sisa tenaga yang minim. Baron masih mengejar di belakangnya.

“Aaa!!!”
“Dapat hahaha.”
Tawanya menyakitkan telinga.
Dirinya terperangkap di tanah oleh tubuh Baron.

“Neng Dara mau berakhir seperti Mira juga?”
“Lepas!”
Dara berusaha melepas pergelangan tangannya yang dikunci. Pisau berpindah tangan kini mengacung beberapa centimeter dari matanya.

“Orang jahat sepertimu nggak akan tenang.”
“Neng Dara salah. Lihat 12 tahun terakhir saya baik-baik aja tuh. Makanya kamu jangan sok tahu dan sok jagoan.”
“Arghhh!”
“Hahahaha… Siapa yang mau nolongin kamu di tengah kebun teh begini?”
“Mau nasib Neng Dara sama kayak Mira? Iya?”
Dirinya mulai lelah. Berlari, terjatuh beberapa kali, dan kini tenaganya habis untuk melawan Baron.
Satu cara terakhir yang terpikirkan olehnya. Namun entah berhasil atau tidak.

“JOSEPH!”

Setelahnya Baron semakin menekan tangan perempuan itu ke lehernya sendiri. Dara semakin lemah. Ia pasrah.
Angin berhembus membawa hawa dingin. Masih bisa Dara rasakan cekikan di lehernya mengendur.

“Mira?”
Dara mendengar suara lirih Baron. Pria itu menatap ke depan. Dara sedikit menolehkan kepalanya. Di sana sosok Mira mendekati mereka. Baron berdiri mundur ke belakang.

“Mi… Mira?”
Dara melihat sosok Mira mengejar Baron yang berlari ke semak-semak kebun teh. Tak lama jeritan kesakitan terdengar.
Dara berupaya bangkit dengan sisa tenaga yang ia punya. Pisau lipat ia pegang di kanan. Berjaga-jaga kalau ada ular atau apapun yang melintas di sekitarnya.

“JOSEPH!”
Dara tak melihat sosok bule itu muncul. Dirinya sedikit kecewa disaat ia berusaha membantu tapi malah sial yang ia dapatkan.

Kakinya benar-benar lemas. Dirinya pasrah jikalau pun ia pingsan dan mati digigit ular ia pasrah. Tenaganya benar-benar habis. Dan ia pun terjatuh membentur tanah.

“DARA!”

Badannya seperti remuk. Jam di ponsel menunjukkan pukul tujuh lewat. Tertatih menuju toilet kamarnya. Setelahnya memakai pashmina dan turun ke dapur.

“Mbok?”
Keenam pasang mata itu menatapnya kaget.

“Mbok, tolong buatin saya teh hijau ya. Antar ke kamar saya sekalian. Makasih, Mbok.”
“Non…”
Dara melenggang kembali kamarnya. Sementara orang-orang yang menunggu cemas di meja makan itu terbengong.

Dara menaikkan kakinya ke bangku kayu yang ia duduki. Memeluk lututnya sambil mengamati halaman depan dari jendela kamarnya. Ia berusaha mengosongkan pikiran.

“Tehnya.”
Dara mendapati Kang Asep meletakkan secangkir teh hijau di meja riasnya. Pria itu bersandar pada jendela berdiri tepat di depannya.

“Jenazahnya sudah dibawa ke rumah sakit.”
“Dia mati,” Dara berujar pelan.
Mereka diam tak saling menatap.

“Saya lihat Mira tersenyum semalam.”

Dara menatap Kang Asep, “Gimana Kang Asep nemuin saya?”
“Kamu teriak manggil nama saya dua kali.”
“Saya nggak… Coba lihat ini.”
Dara menunjukkan lukisan pria berwajah bule.

“Dia Joseph yang saya panggil semalam.”
Kang Asep mengernyitkan dahi.
“Kamu tahu kakek saya?”
Dara menggeleng dan menarik kesimpulan, “Wajar aja saya sedikit kaget pas lihat Kang Asep cukur habis jenggot dan kumis waktu itu. Wajah Kang Asep terlihat familiar. Saya teringat Joseph ini.”
“Nama asli saya Joseph juga, Dara.”
“Semua masuk akal. Teh Mira adalah cucu dari perempuan yang Joseph ini cintai. Nini nggak mau Kang Asep terlibat sama Teh Mira. Makanya beliau nggak merestui kalian. Dan Jose minta bantuan saya untuk mengusut peristiwa yang membuat Teh Mira depresi. Baron pelakunya.”
“Saya tahu. Tapi saya nggak punya bukti dan Mira takut melaporkan hal itu.”

Dara mengelus lukisan bergambar perempuan cantik berambut kepang menyamping.
“Tugas saya selesai di sini, Kang. Saya sudah memenuhi janji kakek saya untuk membantu kakeknya Kang Asep.”
Mereka saling tatap, “Kang Asep bisa bawa dua lukisan ini. Dibuang juga nggak apa-apa.”

Dara mengambil cangkir dan menyesap teh hijaunya.
“Soal Baron?” tanyanya sembari mengelus pinggiran cangkir.
“Ada banyak saksi yang melihat kalau kamu bukan pelakunya.”
“Mereka lihat Teh Mira juga?”
Kang Asep mengangguk.

“Saya mau cari Joseph.”
“Dara!”
Ia keluar kamar dengan tergesa. Keluar rumah dan mulai berteriak.
“Joseph! Joseph keluar kamu!”
“Non Dara teh nyari Kang Asep? Ini Kang Asep-nya, Non.” Mang Cecep berujar.
“JOSEPH!” teriaknya makin keras.

“Non Dara, mau ke mana? Ini Kang Asep-nya teh ada di sini, Non.” Kang Adang juga mulai merasa khawatir.
“Non Dara!” teriak mereka hampir bersamaan ketika Dara berlari keluar pagar rumah.
“Biar saya sendiri aja yang kejar dia.”
“Hati-hati, Kang.”
“Adang kamu tidak usah ikut-ikutan mereka.” Mang Juki menahan Adang.
“Saya juga khawatir atuh Mang sama Non Dara.”
“Biarkan Kang Asep yang ngurus,” Mang Din menepuk pundak Adang.

Dara mengikuti sekelebat bayangan Joseph yang mengarah ke kebun teh.

“Terima kasih, Dara. Kamu memang orang baik. Maaf membahayakan dirimu semalam.”
“Jose!” teriaknya karena hanya mendengar suara dan tak mendapati sosoknya. Dirinya menjelajahi sekitar kebun.
“Saya ingin kamu menjaga cucu saya, Joseph. Sudah waktunya dia melepas belenggu ini.”
“Bukan kewajiban saya buat jagain cucu kamu. Saya nggak mau. Jose keluar!” Dara berteriak frustasi.
Dara putus asa. Jose tak menampakkan dirinya.

Joseph meninggal ketika menyelamatkan cinta pertamanya, tak lama berselang wanita yang merupakan neneknya Mira itu menyusul Joseph.

“Saya hampir celaka karena cucu kamu yang brengsek itu. Sekarang saya juga yang harus jaga cucu kamu satunya lagi? Saya nggak mau,” lirihnya.
Dirinya tertunduk dan mulai terisak.

“Danurdara!”
Kang Asep berjalan dengan ngos-ngosan menghampiri perempuan itu. Dara mengusap jejak tangisnya dan berjalan menuju pria itu.
“Ayo pulang,” ajaknya.
“Balik badan, Kang.”
“Kenapa?” Ia membalik badannya.
Dara menempelkan dahinya di punggung Kang Asep, “Jalan.”
“Kamu kenapa seperti ini?”
“Jalan aja, Kang.”

Mereka berjalan beriringan dengan Dara yang masih berusaha tak terisak lagi. Tangannya meremas pelan ujung kaos Kang Asep.

Di jalan utama perkebunan mereka berpasangan dengan beberapa pekerja.
“Siapa atuh Kang Asep itu di belakangnya?”
“Non Dara, Bu. Lagi pusing katanya.”
Dara memang tidak menegakkan kepalanya.
“Owhh iya. Permisi atuh Kang, Non.”
“Mari, Bu.”

Sampai di halaman rumah Dara menegakkan kepalanya. Menuju bangku kayu di taman dekat mobilnya terparkir.

“Tolong buatkan saya teh hijau, Kang.”

Dirinya menempelkan pipi di meja. Memejamkan mata dengan napas teratur. Suara benda diletakkan di meja membuatnya terbangun.
“Makasih, Kang.”
Perlahan ia menyeruput tehnya. Menghela napas dan menatap pria yang tiga bulan terakhir ini telah membantunya.

“Lusa saya pulang, Kang.”
Dia diam menatap datar perempuan di hadapannya.
“Biar saya antar sampai kota.”
Dara menggeleng, “Tetap kasih laporan tiap minggu ke saya sampai ada instruksi dari Kakek. Nanti saya sendiri yang bicara sama beliau.”
“Tidak ada rencana untuk menetap di sini?”
“Kang Asep bercanda?”
Yang ditanya diam menatap lurus Dara.

“Masih ada prioritas lain yang harus saya tuju. Singgah di sini pun bukan prioritas saya sebenarnya. Kalau bukan iming-iming Kakek untuk memuluskan rencana saya, mungkin saya nggak mau disuruh datang kemari dan memenuhi janji beliau.”
“Yang saya lihat kamu menikmati suasana di sini.”
“Iya betul. Tinggal di perkebunan yang hijau. Suasana asri, udara segar adalah hal terakhir yang saya inginkan.”
“Kamu nggak bisa menjadikan hal terakhir ini sebagai prioritas bagi kamu?”
“Nggak ada alasan kuat untuk mengubah daftar prioritas saya, Kang.”
“Ada, saya?”
Dara tertawa sumbang sedangkan Kang Asep menatapnya dengan penuh keyakinan.

“Libatkan saya dalam hal apapun yang ingin kamu raih. Saya akan dukung kamu bagaimana pun caranya.”
“Dengan membiarkan saya pergi, bisa?”
Dirinya terdiam dan mengalihkan pandangan. Dara menikmati tiap tegukan teh yang ia sesap.

“Saya akan menemui Kakek dan membuat penawaran baru tentang perkebunan ini.”
“Melibatkan saya juga?”
Dara menatap pria yang duduk di depannya dengan tenang. Ia mengangguk mantap.

Dara menumpukan lengannya di pintu mobil. Menikmati udara pagi perkebunan yang menyejukkan. Pria yang duduk di bangku supir tersenyum tipis.

“Saya bakal kangen suasana di sini, Kang.”
“Tapi saya bakal menyesal kalau cita-cita saya nggak kesampaian.”
“Tidak bisa dipersingkat waktunya?”
Dara menggeleng, “Satu tahun mungkin nggak cukup bagi saya untuk menjelajah tempat-tempat impian saya. Tapi saya bakal usahakan waktu setahun akan saya manfaatkan dengan baik.”
“Saya selalu tunggu kamu di sini.”
“Makasih, Kang.”

Kang Asep melebarkan senyumnya. Mengemudi dengan sangat hati-hati di jalan utama kebun teh. Perasaanya sedikit membaik meski ia harus melepas kepergian perempuan ini untuk setahun ke depan.

Dara memejamkan matanya menikmati semilir angin pagi yang sejuk kala membelai wajahnya. Kebun teh, teh hijau, dan Kang Asep perpaduan yang tidak terlalu buruk juga. Dirinya tak sabar untuk kembali lagi ke tempat ini.

Cerpen Karangan: Galiot Sastra

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 15 November 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Teh Hijau (Bagian 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kuil Tua Pembawa Jiwa

Oleh:
“Andai pada waktu itu, aku berhasil menghalang mereka… Aku tak akan dikejar rasa bersalah seperti ini”. Ucap seorang remaja wanita bernama alejandra. Yang termenung di bawah rembulan malam. 2

Lega

Oleh:
Perasaan tidak enak langsung menyelimutiku ketika pintu apartemen terbuka. Hampir seluruh ruangan dipenuhi cipratan cairan kental berwarna merah kehitaman. Dari pandangan pertama aku sudah tahu kalau itu adalah darah.

Grup Detektif VAR

Oleh:
Namaku Muhammad Vito Pratama sebenarnya aku tidak tertarik dengan dunia detektif sampai suatu ketika aku ditawari temanku. Seperti biasa aku menghabiskan waktu untuk membaca buku, lalu selang beberapa menit

Biola Anya

Oleh:
‘Ngiiiiik…’ suara biola felis terdengar sangat melengking, membuat semua yang mendengarkannya ingin tutup telinga. Oh iya, namanya Felis dia adalah seorang gadis berumur 13 tahun yang sangat ingin belajar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Teh Hijau (Bagian 2)”

  1. moderator says:

    Pas dara mutusin buat ngehadapi sendiri baron di tempat sepi, di bagian itu rasanya agak gimana gitu… secara dia cewe kan, dia tau juga tentunya baron itu seorang pembunuh dan bisa aja berbuat nekat. Kalau saya jadi dara saya sebagai cewe bakal tetap minta ditemani, kalaupun perlu berbicara 4 mata, saya bakal minta orang yang nemani saya ambil jarak di posisi kita yang masih dapat terlihat, jadi kalau si baron mulai melakukan tindakan yang berpotensi membahayakan, akan ada orang yang siap sedia membantu… terlepas dari itu saya cuma bisa bilang, ini salah satu cerita terbaik yang saya baca bulan ini… terimakasih Gal, udah bersedia membagikan cerita istimewa ini di cerpenmu… ^_^

    ~ Mod N

    • Galiot Sastra says:

      Sikap impulsif Dara tercipta dari pemikiran saya yang amatir. Terlalu berfokus pada penyelesaian cerita berdasarkan imajinasi yang mengalir. Sampai saya lupa menyadari imajinasi saya kadang irasional. Terima kasih Mod N telah membagikan respons baikmu. ^_^

      -Gal

      • moderator says:

        Dibilang irasional juga engga kok, sikap impulsif Dara ini juga kan yang mengalirkan cerita menuju klimaks yang menggigit… ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *