Telefon Misterius

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 21 January 2013

Aku berjalan menapaki lorong gang yang gelap tanpa cahaya. Rintik hujan masih berjatuhan menemani langkahku yang semakin melemah. Dingin. Sepi. Dan pengap. Sampah menggunung di kanan dan kiri jalan ini. Aroma busuk menyengat hidungku dan sukses membuatku mual hendak muntah. Ku percepat langkah. Sejurus kemudian aku pun keluar dari gang menjijikan di kota ini. Kulirik arloji. 23:12 Wib. Rupanya sudah larut malam dan suasana di jalan ini pun entah mengapa tidak seperti biasanya, sepi dan lengang. Hanya ada beberapa kendaraan yang melintas membuat suasana jalan sedikit tidak menakutkan. Rintik hujan yang manja semakin menderu bumi. Angin malam serasa membuat tulangku membeku. Aku kedingingan. Hampir dua puluh menit aku menunggu Taxi di trotoar ini, namun belum juga menunjukkan hasil. Mengurangi waktu, aku pun memutuskan untuk berjalan beberapa langkah dan berharap ada Taxi di depan sana. Ya, semoga saja.

Deng…ting…ting…deng…ting..ting. Terdengar nada satu pesan menderit dari ponsel di tasku. Ku buka reseleting tas, ku keluarkan HP dan ku baca pesan itu.

“ Kamu dimana, sayang…?” Pengirim Ferdi. Aku tidak membalas, hanya memasukkan HP itu kembali ke dalam selimutnya. Selang beberapa saat kembali terdengar HP ku menderit. Masih pesan dari Ferdi. Entah mengapa, air mata ini jatuh dengan sendirinya. Tidak mungkin lagi aku menghubunginya. Sama saja aku akan menyakiti perasaan sahabatku nanti, Maya. Biarlah aku yang mengalah, asal Ferdi bahagia. Lagi pula, Maya memang lebih pantas untuknya. Tuhan, aku tidak bisa melihat sahabatku hatinya terluka, aku ingin membahagiakan dia di saat ia sedang mengalami kepedihan karena kehilangan kedua orang tuannya. Maya, aku merelakan Ferdi untukmu. Semoga kalian bahagia.

Telefon Misterius

Di kamar. Aku duduk menatap jendela kaca yang mengembun. Menikmati secangkir cokelat panas dengan hati tersayat lalu air mata menderai sebagai pelengkapnya. Jujur, aku belum bisa melihat kenyataan. Semua seperti mimpi. Ketika Maya datang padaku, menangis dan berbicara kalau dia sangat mencintai Ferdi dan ingin memilikinya, betapa hancur hatiku. Betapa remuk jantungku.

‘ Rin, aku mencintai Ferdi. Hanya dia yang mengerti aku saat ini. Apa menurutmu itu wajar? Aku butuh nasehatmu, Rin. Aku sangat mencintainya…?’ desis Maya sambil menangis dan mengadukan semua keluh kesahnya padaku. Sontak aku juga menangis. Bersedih karena Maya tidak atau mungkin belum tahu, kalau aku dan Ferdi sebenarnya sudah resmi berpacaran sebulan yang lalu. Dan rencanya, akhir Januari 2013 nanti kami akan membicarakan masalah hubungan ini kepada kedua belak pihak keluarga, lebih jauh lagi. Tapi dia, maksudku Maya tidak mungkin harus tahu semuanya. Pasti hatinya akan hancur berkeping-keping. Selama ini dia memang sangat mencintai Ferdi, tapi Ferdi bilang dia lebih mencintaiku. Lalu, aku harus bagaimana? Berbicara jujur pada Maya dan melihatnya kembali masuk rumah sakit. Atau mendiamkan semuanya, lalu aku yang akan sakit?

Aku pusing. Kembali ku teguk sruput demi sruput cokelat panas ini. Mataku mengawang menatap langit yang gelap. Lampu mercury di seberang jalan jelas menunjukkan riangnya titik-titik gerimis turun dari langit. Suasana syahdu terasa hambar di mataku. Aku pilu. Tanpa sengaja, aku melihat kamar ini meredup dan gelap. Entah aku yang kalap. Bau amis seketika datang memenuhi ruangan ini. Rintihan dan tengisan terdengar sesekali membahana di kamarku. Sontak aku terperanjat. Aku takut. Aku keluar kamar mencari ayah dan ibu. Juga adikku, Hasan. Tapi, mereka tidak ada. Kemana perginya? Bukankah aku pulang Ayah yang membukakan pintu? Dan cokelat panas ini buatan Ibu? Serta Hasan tadi meminjam buku kuliahku? Tapi, kemana mereka saat ini? Aneh.

***

Tulililililit. Telefon di ruang tamu berdering. Aku melangkah mendekati. Siapa tahu Ayah, atau Ibu atau juga Hasan. Ku angkat.

“Halo..?” sapaku lebih dulu.

“…. “

“Halo, ini dengan siapa ya..?”

Hening.

“Halooo…?!” kedua alisku pun menyatu. Aneh. Siapa yang malam-malam begini iseng ngerjain orang. Setelah ku letakkan telefon, aku melangkah hendak kembali ke dalam kamar. Melanjutkan meratapi diri.

Tulililililit. Untuk kedua kalinya, telefon di ruang tamu berdering. Ku urungkan niatku melangkah, ku angkat telefon sialan itu.

“ Halo… ini siapa?” lirihku mencoba bersabar.

Masih diam.

“ Maaf, ini dengan siapa? Dan ada perlu apa?” tanyaku lagi.

“ …. “

“ Ini kalian yah – pikiranku adalah Ayah, Ibu dan Hasan mengerjaiku – yang iseng?”

Hanya suara deru angin di sebuah ruangan.

“ Nggak lucu. Aku nggak takut. Terus saja menggangguku, sampai kalian puas!” tutupku lalu melangkah ke dalam kamar. Aku berbaring di atas kasur. Mataku terpejam melekat. Dan entah sejak kapan, leher ini rasanya sakit. Nyeri sekali. Saat aku pegang, ada darah di tanganku. Astaga?! Kenapa dengan leherku?

***

Di ruang keluarga, aku mengambil kota P3K. Ku oles leher yang ku duga di gigit serangga dengan obat merah dan minyak angin aroma therapy. Setelah itu aku istirahat di depan TV. Berbaring menunggu mereka datang. Agaknya Ayah, Ibu dan Hasan keluar tanpa ada pamit padaku.

Tulilililit. Mataku terbuka setelah sesaat mendengar suara telefon itu. Aku tidak memperdulikannya. Aku yakin, mereka yang mengerjaiku. Aku tidak sedang tidak mau di ganggu. Ku rasakan leher ini semakin sakit.

Tulilililit.

“ Dih! Awas saja kalau itu memang mereka…” aku mendekati telefon itu.

“ Halooo, ini dengan siapa? Kenapa dari tadi nggak bicara? Haloooo?” lirihku menyerah. Suasana di seberang sana, diam dan hening. Tidak ada yang menyahut. Aku menggelengkan kepala.

“ Maaf ya, kalau nggak mau bicara jangan telefon. Mengganggu!”

Praaakkk.

Ku hempas telefon itu, lalu kembali berbaring di atas sofa.

Tulilililit. Aku melirik sesaat. Kemudian memejamkan mata. Tidak peduli.

Tulilililit. Telingaku seolah melebar mendengar suara itu. Lagi-lagi aku tidak peduli.

Tulilililit. Suara telefon itu terdengar memaksa. Mataku terpejam tapi telingaku seakan di rajam. Penging, berdenging dan sakit menusuk gendang telinga. Telefon setan!

“Halo! Eh, kalau mau telefon ya bicara, jangan seperti ini. Ada perlu apa? Dan mau bicara dengan siapa? Jangan diam aja. Setan!” aku kalap. Lepas kendali. Emosi ini menderu bercampur luka di hati. Di saat hatiku kecewa, seakan ada orang yang ingin menambah luka. Sayup terdengar suara lirih di seberang sana. Perlahan suara itu semakin jelas terdengar. Aku terperanjat. Ku amati baik-baik suara itu. Ya, seorang wanita menangis dengan rintihan penuh penyesalan. Si-siapa dia?

“Halooo…? ini siapa? ke-kenapa menangis?” ucapku lirih.

“Huhuuuu…to-tooolooonnng….”

“Tolong?! Tolong apa?” meski tidak tahu siapa orang itu. Aku mencoba berempati atau sekedar berbasa-basi.

“Aku menyesal…” isaknya menangis.

“Menyesal? Kenapa…? Apa yang telah kamu perbuat..?”

“Huhuhuuuuu….to-toloooong. Saaakiiiiiit…..”

Mendengar suara itu, aku seketika terkesiap seolah turut merasakan kepedihan yang wanita itu alami. Dia sangat menderita sekali sepertinya. Tapi kenapa dia? Siapa? Di mana?

“Maaf, ini sudah malam. Aku tidak bisa keluar, jadi, aku tidak bisa membantu..”

“Aku ada di kamarmu. Sekarang…!”

Praaaanggg!

Sontak aku terkejut. Terdengar suara gaduh di kamarku. Segera aku berlari kelantai dua. Membuka pintu kamarku perlahan. Dari balik pintu, sebelumnya aku mendengar suara wanita menjerit kesakitan. Hatiku berdegup kencang. Nadiku seakan putus. Darah ini mengalir deras.

Kreeeekk. Pintu ini pun terbuka.

“Astagahh?!” sontak aku menjerit. Seorang wanita kejang-kejang menahan sakit karena lehernya tergantung di atas plapon kamar. Darah bercecer dimana-mana. Bau amis menyengat. Dari tangan kirinya, aku melihat pergelangan itu nyaris terputus. Dan yang lebih membuatku terkejut adalah. Ternyata, wanita itu adalah diriku.

Cerpen Karangan: Jibril
Facebook: Jibril Al Muchliesh Zhien
Twitter: @jibril 1990

Cerpen Telefon Misterius merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kematian di Atas Dendam

Oleh:
Setelah sang Dosen mengakhiri perkuliahan di hari Rabu siang ini, puluhan mahasiswa dan mahasiswi pun bergegas meninggalkan ruangan dengan deret-deret kursi yang berada di dalamnya. “Diandra! Tunggu!!!,” suara Bima

13 Desember

Oleh:
Malam ini, seorang wanita berambut gelombang tengah berjalan dengan tergesa-gesa melewati jalanan yang begitu sepi. Terang saja, karena jam sudah menunjukan 11.45. wanita tersebut memakai pakaian khas winter, kedua

Horrible Monthsary

Oleh:
Aku Naura Annisa Zakiyyah. Kalian bisa memanggilku Naura. Di sekolah aku selalu didekati oleh teman sekelasku yang bernama Ricky. Ia selalu mendatangi tempat dudukku dan mengobrol denganku. Karena ia

Hampir Diculik Hantu

Oleh:
Malam yang dingin, aku keluar rumah dan berlari, perasaanku gundah bercampur sedih membuatku menangis tak menentu, kakiku terus berlari namun tiba-tiba kakiku kesakitan, kakiku tertancap paku, membuatku tak bisa

Dibalik Tawa

Oleh:
“Rantih kamu anakya udah cantik, manis, pintar, kaya, siapa sih yang gak mau sama kamu” kata-kata itu yang sering kudengar dari orang-orang yang dekat denganku, namun sebenarnya semua dugaan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

14 responses to “Telefon Misterius”

  1. Hestika says:

    waw…. sungguh merinding aku baca ni cerpen,,,,
    beneran, ni cerpen bagus banget. Salut buat pengarangnya

  2. lany angellina says:

    huhhh,,, menegangkan

  3. nicaanis says:

    tegang nih jadinya 🙂

  4. Adelia Eka says:

    lumayan ya cerpennya,, menegangkan..

  5. yuni says:

    Mantap bgt 😉 TOP dah 😀

  6. Annie says:

    maksudnya gmn ya? yg telefon siapa? si rin udh mati gt ceritanya? aku g ngerti ._.

  7. Yanti Afganisme says:

    waw,, baguss..
    pembawaan alurnya kereenn, aku aja bingung awalnya. tpi udh pham sekarang.
    semangat terus ya…

  8. alfian says:

    cerpennya bagus,serem,misterius kak
    sorry ya kalau manggilnya ketuaan/kemudaan umurku baru 15 tahun

  9. Agak kurang ngerti saya, sama jalan ceritanya… Tapi tetep bagus sih..

  10. Febrinda Galuh Kirana says:

    Wahh… Bagus banget… Bikin novel deh, tentang ini, pasti sukses banget 🙂
    Itu gambarnya juga bagus untuk dijadikan cover.. TOP bgt dehhh

  11. risma says:

    keren bangetz
    sukses y buat penulis…(^_^

  12. Maksudnya dia itu bunuh diri? Lalu itu arwahnya? Dia menyesal bunuh diri?

  13. Zidan Fauzan says:

    hiii…… serem……. sampe merinding gw.

  14. dhiyya says:

    keren, tp masalahnya berarti dia mati tp kok bisa nyalain tv , ngambil obat buat nyembuhin luka dan ngangkat telepon. biasanya hantu itu nembus gak bisa nyentuh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *