Teman Ghaib Ku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 4 March 2016

Hari ini aku pulang dengan santai, karena hari ini di cafe sangat rame, akhirnya cafe tutup lebih cepat. Nama aku Lasno, tapi lebih sering dipanggil Hery. Aku kerja di cafe wild coffe cafe. Ya di sinilah aku mencari nafkah untuk kebutuhanku sehari-hari. Setiap aku pulang pasti bersama dengan sahabat sekaligus teman kerjaku Arif. Setiap pulang kami selalu lewat jalan yang sama. Ya mungkin karena udah biasa, tapi kali ini kami mencoba lewat jalan lain. Sebenarnya sama sih jaraknya, tapi gak tahu kenapa aku pengen lewat jalan lain, udah bosen paling ya.

“Rif, lewat sini aja yuk,” kataku sambil menunjukkan jalan.
“Itu kan jaraknya sama aja Her,” katanya kebingungan.
“Ya sambil nyoba suasana baru Rif, masak lewat situ mulu, emang gak bosen?” timpaku dengan nada sedikit sinis.
“Iya-iya, aku nurut aja,” katanya sedikit malas. Akhirnya kami pun sepakat untuk lewat jalan itu. Seperti biasa saat pulang pasti kami mengobrol tiada henti, meskipun itu gak penting.

Saat kami asyik ngobrol, tiba-tiba pandangan mataku tertuju pada seorang gadis yang memakai baju hem rapi di dekat pohon sendiri.
“Rif, lihat ada cewek sendirian tuh, samperin yuk,” kataku sambil menunjuk ke arah pohon besar itu.
“Mana, mana?” Katanya sambil melihat di sekliling.
“It..” belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, ternyata gadis itu sudah tiada.
“Mana Her? Mana?” katanya kebingungan.
“Nggak kok Rif, aku cuma bercanda kok,” kataku agak tenang.
“Kirain beneran, ya udah ayo, lagian mana ada cewek jam segini,” katanya sambil jalan.
“Iya juga ya, ini kan udah jam sepuluh lebih, mana ada cewek jam segini, sendirian lagi.” kataku dalam hati.

Seperti biasa, setiap kami pulang kerja pasti mampir di pos kamling tempat kami nongkrong dan juga jaga keamanan hehehe. Tapi kali ini berbeda, karena cape di cafe tadi aku langsung berpamitan ke temanku yang lain. Saat pulang aku kembali melihat gadis itu di pertigaan dekat rumahku.
“Loh, itu kan cewek yang tadi? Kok udah sampe situ?” Batinku yang sedikit heran. Akhirnya aku mendekati dia.
“Hey.” sapaku, dia hanya tersenyum manis.
“Kamu sedang apa di sini sendiri?” kataku heran.
“Sedang menunggumu,” jawabnya singkat.

“Menungguku? Emang ada apa kamu menungguku? sepertinya aku juga tak pernah melihatmu?” Tanyaku lebih heran lagi.
“Untuk berkenalan denganmu,” jawabnya tersenyum sambil mengulurkan tangannya.
“Oh.. Kok kamu tahu kalau aku pulang lewat sini?” kataku makin bingung.
“Tapi kan biasanya kan aku selalu nongkrong di pos kamling dulu,” batinku.
“Oke, aku Hery,” aku memperkenalkan diri.
“Aku Sinta.” jawabnya singkat. Saat aku berjabat tangan dengannya tangannya sangat dingin dan wajahnya juga agak pucat.

“Kamu gak apa-apa? Apa kamu sakit?” tanyaku agak cemas.
“Gak, aku gak apa-apa kok,” jawabnya yang membuatku agak membaik dan memikirkan ucapan Arif tadi.
Saat aku sedang berpikir, aku dikagetkan oleh suara gertakan yang mebuatku kaget setengah mati.
“Huuuaaaaa..” yang ternyata tidak lain dan tidak bukan itu adalah Arif.
“Eh kamu Rif, buat jantungku copot aja,” kataku agak marah.
“Lagian kamu kenalan sama cewek gak ngajak-ngajak,” katanya sambil tertawa.
“Kenalan aja sendiri.” ketusku.

“Udah gak usah ribut-ribut, udah malem,” kata Sinta tenang.
“Kenalin aku Arif, dipanggil Agus juga gak apa-apa,” kata Arif sambil menjulurkan tangan.
“Agus dari hongkong,” ketusku lagi.
“Maksudku, Aku Galau Untukmu Sinta. Hehehe,” rayunya kepada Sinta sambil cengengesan.
“Dasar tukang gombal,” gumamku.
“Aku Sinta,” jawabnya singkat.
Akhirnya kami pun pulang dan ngbrol layaknya teman lama yang lagi reunian di jalan.
“Ya udah aku udah sampe, aku duluan ya. Kapan-kapan mampir,” kata Arif sambil membuka kunci rumah.
“Oke.” jawab kami berdua kompak.

Saat sampai di depan rumah aku mengajak Sinta untuk mampir dulu, tapi dia menolaknya.
“Oh iya aku lupa rumah kamu di mana Sin?” tanyaku tiba-tiba.
“Di desa sebelah Her, Maaf ya aku dulu sering perhatiin kamu saat kerja,” katanya sambil minta maaf.
“Iya gak apa-apa Sin, aku seneng kok diperhatiin,” candaku.
“Ya udah aku pulang dulu ya Her,” jawabnya sambil berjalan.
“Besok ketemu di tempat tadi ya habis isya, besok kamu libur kan,” tambahnya.
“Oke, siap tuan putri.” jawabku senang.

Akhirnya kami pulang ke rumah masing-masing. Saat aku di kamar aku baru merasakan ada yang aneh, “kenapa aku merasa pernah kenal dengan dia, tapi di mana dan kapan ya?” kataku di dalam hati. Akhirnya aku pun tidur dan di dalam tidurku aku bermimpi bertemu dengan Sinta yang sedang berjalan di jalan yang ada pohon besar tadi, di dalam mimpiku dia sedang dibunuh oleh sekomplotan orang-orang asing, dan kemudian dibuang di dekat pohon besar tersebut, lalu aku mendengar suara. “Tolong bebaskan dia, dia dulu adalah teman kecilmu.” bisiknya di telingaku yang sangat jelas, dan saat aku hendak bertanya siapa orang-orang itu. Tiba-tiba pandanganku menjadi kabur, dan di seklilingku tak terlihat apa pun. Lalu aku mendengar suara yang membuat aku terbangun dari tidurku.

“Kring.. Kring.. Kring..”
“Kring.. Kring.. Kring..”

Jam weker pun berbunyi, menandakan sudah waktunya untukku salat subuh, setelah salat subuh aku masih memikirkan soal mimpi semalam, itu semua seperti nyata bagiku. Setelah mandi dan sarapan aku memutuskan untuk jogging. Aku pulang dan memikirkan hal itu kembali, akhirnya aku memutuskan untuk menemui Arif. Dan ternyata Arif juga memimpikan hal yang sama denganku.

“Rif, apa mungkin yang kita temui semalam itu adalah hantu?” tanyaku bingung.
“Mana aku tahu, kan kamu yang bertemu dengan dia duluan,” berbalik tanya padaku.
“Sebenernya aku ngelihat dia waktu kita lewat jalan yang semalem, yang aku bilang ada cewek di deket pohon itu,” jawabku agak ragu. “Oh.. Jadi kamu semalem bener-bener ngelihat Her?” katanya ketakutan.
“Iya tapi saat aku mau ngasih tahu kamu, dia nggak ada Rif,” jawabku lagi biasa.
“Kalau gitu entar malem aku gak jadilah ketemu sama hantu itu Her,” jawabnya.
“Jangan. Mungkin dia arwah yang gentayangan, dia mungkin butuh bantuan kita Rif,” kataku menolak.
“Iya ya, kalau gak kita bantu kita bisa dihantui terus sama dia, kita jadi sama-sama gak tenang entar,” jawabnya ragu bercampur was-was.

“Lagian dia kan udah percaya sama kita, dan kayaknya dia itu mirip kayak temen kecilku Rif,” kataku meyakinkannya. “Jadi temanmu hantu Her, dan kamu baru tahu itu?” tanyanya penasaran.
“Nggak mungkin dia itu temen kecilku yang sekarang udah tiada Rif,” jelasku ke Arif.
“Oh.. Jadi gitu ceritanya, oke entar malem kita jadi ketemu sama dia kan?” tanyanya lagi.
“Iya jadi Rif, semoga nanti kita bisa membantunya,” jawabku dingin. Akhirnya setelah isya kami pun menemui Sinta di tempat semalam dan Sinta pun menjelaskannya secara panjang lebar. Ternyata yang membunuh Sinta tidak lain dan tidak bukan adalah orang orang suruhan ayahnya sendiri, yang seorang koruptor. Ayahnya takut Sinta akan melaporkannya ke polisi.

“Kalian gak usah takut, aku gak akan ngapa-ngapain kalian kok,” katanya tenang.
“Jadi apa yang harus kami lakukan?” tanyaku padanya.
“Kalian cukup menguburkan jasadku secara layak saja biar aku bisa tenang Her,” ucapnya.
“Tapi kalian harus hati-hati karena Ayahku tahu tentang ini dan ada orang-orangnya di sana,”
“Baiklah.” jawab kami berdua.

Kami pun langsung ke tempat kejadian dan mencari jasad Sinta, saat kami sampai di sana ada dua orang pesuruh ayah Sinta. Kami pun mengendap-endap layaknya seorang maling ayam. Tapi usaha kami gagal dan akhirnya kami ketahuan, kami hendak berantem dengan mereka tapi untunglah saat mereka melihat Sinta mereka ketakutan dan meninggalkan kami. Saat kami menemukan jasad Sinta kami melihat ayah Sinta di sana, ayahnya yang menghampiri kami dengan membawa pisau pun menusuk jantung Arif. “Aaaghh.” kata-kata Arif yang terakhir ku dengar. Aku pun berlari sekencang-kencangnya dan berteriak layaknya orang gila.

Aku pun terjatuh dan tak sadarkan diri setelah aku bangun aku ada di dalam rumah sakit. Kata suster aku pingsan selama 2 hari. Setelah itu aku bangun dan langsung menuju jasad-jasad mereka berdua dengan sekuat tenaga aku menguburkan jasad mereka di dekat pohon besar itu. Semenjak kejadian itu semua menjadi normal kembali, ayah Sinta sudah masuk penjara. Dan setiap aku pulang dari cafe aku selalu menuju pohon itu dan bercerita sendiri berharap mereka berdua mendengarkanku. Meskipun aku sekarang sendirian tapi aku merasa mereka selalu ada di sampingku setiap saat. Dan terkadang masuk dalam mimpi indahku yang sedang tertawa bercanda bersama mereka. Kini mereka telah tenang begitu juga denganku.

Cerpen Karangan: Ucill
Facebook: Ucill Ae
Sekian dulu ya sob. Mavv kalau ada salah kata dan bahasa, maklum baru bikin cerpen, jadi masih agak bingung. Hehehe. Tapi alhamdulillah aku bisa membuat cerpen diusiaku yang dibilang udah hampir dewasa ini. Dan semga bisa untukku belajar nanti.

Cerpen Teman Ghaib Ku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tak Tergapai (Part 2)

Oleh:
Mataku menggerjap, “aww” ngilu di kepalaku seakan langsung membawaku ke kenyataan. Aku berusaha untuk duduk, aku melihat sekelilingku, dan aku menyadarinya. Ini bukan apartemenku! Kamar ini besar dan aku

Zombie

Oleh:
Nama saya Willi, anak pertama dari tiga bersaudara. Sekarang saya duduk di bangku kuliah, tahun ini semester empat. Kedua adikku Beny dan Joe masih di sekolah menengah atas kelas

Misteri HM

Oleh:
Kau tahu hal yang paling ingin kulakukan adalah bertemu denganmu Tara, sekali lagi dan mengatakan aku mencintaimu. Seketika itu pula wajah gadis itu berlinang air mata saat membaca sepotong

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *