Ternyata

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 5 December 2017

Aku berjalan menelusuri rumah tua tersebut. Aku memandangi foto foto besar yang ada di dinding rumah berwarna putih tersebut. Dinding putih yang catnya sudah berkelupasan. Di antara foto foto besar yang semuanya berwarna hitam putih tersebut pandanganku tertuju ke salah satu foto seorang pria tua. Pria tersebut memiliki kumis yang tebal, dengan menggunakan jas hitam dan berdasi kupu kupu. Pria itu terlihat keren dengan rambut yang klimis dan disisir ke arah kiri. Di bagian dada dari jas pria tersebut terlihat warna yang memudar karena terkena air hujan yang menetes dari atap rumah yang sudah bocor mengenai foto tersebut.

Rumah tersebut terlihat sangat mewah. Akan tetapi sangat terlihat kotor. Banyak daun dan helaian rambut yang berserakan di lantai rumah tersebut.

“ganteng yang neng?”
Tiba tiba aku dikejutkan oleh suara pria tua yang menggema di rumah besar tersebut dan memecahkan keheningan malam itu.
“iya pak ganteng” Sahutku sambil menolehkan wajah ke arah bapak tadi yang berada tepat di belakangku.
“itu foto bapak waktu muda”
“oh iya pak”
“iya neng. Ngomong ngomong ke sini mau ngapain?”
“oh iya pak saya mau mencari ibu. Ibu ada?”
“oh ibu, ada itu di halaman belakang”
“oh iya pak makasih ya”

Aku menelusuri rumah tersebut dan berjalan ke arah halaman belakang. Aku menapaki kaki di keramik putih yang sudah buram karena tertutup banyak tanah, daun kering dan helaian rambut.

Ketika sampai di halaman belakang aku melihat seorang wanita tua dengan rambut yang sudah putih yang menggunakan baju selayar ala pengantin sedang duduk di sebuah kursi goyang dan menghadap ke sebuah kolam yang kosong. Aku berjalan mendekati wanita tersebut dan menyapanya lalu mencium tangannya.

“bu aku datang”
“oh iya, tau dari mana ibu ada di halaman belakang?”
“bapak tadi yang bilang kalau ibu ada di sini. Bapak itu siapa bu?”
“oh itu almarhum suami ibu.”
Hal tersebut sontak membuatku kaget. Karena tadi aku baru saja berbicara kepada orang yang sudah mati.
“udah gak apa apa. Hal itu memang sering terjadi di sini”
Kata ibu tersebut menenangkanku. Mendengar ucapan tersebut aku pun mulai tenang.

Aku mencoba mengalihkan pikiran takutku dengan melihat lihat isi sekeliling halaman belakang rumah tersebut. Ketika melihat sekeliling rumah tersebut pandanganku tertuju ke sebuah batu yang berada tepat di bawah sebatang pohon rimbun yang bagian batangnya tertutupi oleh akar yang berasal dari ranting pohon tersebut.

“bu itu batu apa?”
“sana lihat la batu apa itu?”

Karena penasaran aku mendekati batu tersebut. Lalu ketika aku sudah mendekati batu tersebut ternyata itu adalah sebuah batu nisan. Sontak aku kaget dan bulu kudukku berdiri.
“bu kok di sini ada batu nisan? Teriakku ke arah ibu”
Namun tak ada jawaban.
“bu kok ada batu nisan?”
Namun tak ada juga jawaban.

Ketika aku menolehkan wajah dari batu tersebut dan melihat ke arah ibu tua tersebut, ibu tersebut sudah hilang. Hanya ada kursi goyang yang sedang begoyang. Lalu aku kembali melihat batu tersebut dan membaca namanya. Dan di batu nisan tersebut ternyata adalah namaku.

Cerpen Karangan: DTM. Sandi
Blog: dtmsandi.blogspot.com

Cerpen Ternyata merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri Gelang Kaki (Part 2)

Oleh:
Esok harinya kami melanjutkan pencarian kotak Ungu. Dan kali ini kami berhasil. Ternyata kotak itu tak jauh dari posisi kami berdiri kemaren. Dan sepertinya tempat ini adalah tempat dimana

Rumah Nenek

Oleh:
Hari ini, Shasya menginap di rumah neneknya. Ia menginap bersama ayah dan ibunya. Malam ini, shasya tidur di kamar neneknya seorang diri. Shasya sebenarnya tidak menyukai kamar neneknya, dikarenakan,

Terungkapnya Di Bawah Kolong Ranjang

Oleh:
Kriing… Kriingg!! Suara jam weker membubarkan mimpi indahku dari lelap tidurku. “Sayang udah bangun? Cepat kemas barang-barang kamu, Pak Paijo udah menunggu di depan..” Ucap mama sambil mengangkat barang-barang

Dendam Gitar Lusuh

Oleh:
Malam itu Daniel yang pulang sempoyongan karena pengaruh minuman keras di tengah jalan kota dengan resleting yang masih terbuka tak ia hiraukan dan tak ia sesali apa yang telah

Kisah Sebuah Saung Tua

Oleh:
Di sebuah lapangan yang luas di Desa Asri, tampak pemandangan yang tak asing lagi bagi warga sekitar. Apalagi kalau bukan anak-anak yang bermain dengan riang di saat sore hari?

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Ternyata”

  1. Malya Emily says:

    ceritanya bagus & keren.Suka banget

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *