Ternyata Bang Solikin!

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Islami (Religi), Cerpen Lucu (Humor)
Lolos moderasi pada: 19 April 2013

Air yang ada di ember perlahan mulai berkurang. Alirannya yang semula memancar deras dari lubang samping bawah ember itupun sudah berangsur menghilang. Tepat sebelum air dalam ember itu berhenti mengalir, aku sudah selesai membasuh kedua kakiku. Dengan begitu aku telah selesai menunaikan rukun wudhu yang terakhir.

Hawa dingin menusuk dalam tubuhku, sedalam telingaku mendengarkan bacaan Ayat-ayat Al-Qur’an yang diputar lewat radio oleh penjaga masjid di desaku. Aku melangkah pelan dalam menelusuri rumahku. Tak ingin kedua orang tuaku terusik oleh kebisingan yang timbul dari suara langkah kakiku. Segera aku ambil seperangkat pakaian shalat yang aku letakkan di dalam lemari kecil tepat di pojok kamarku yang sederhana. Segera setelah itu, aku menuju garasi tempat dimana sepeda biru tungganganku berada dan bersiap meluncur menuju masjid yang tak jauh dari rumahku.

Mencekam, hanya itu gambaran jalan yang aku lewati menuju masjid. Tak aku jumpai sepasang bola mata pun yang melintas di jalan itu. Sungguh benar-benar sepi, sunyi bahkan bagi yang tak terbiasa dengan jalan itu pasti akan langsung ketakutan dan tak akan berani melintasi jalan itu sendirian lagi. Tapi aku tetap mengayuh sepeda biruku dengan santai dan tenang. Bacaan Ayat-ayat Al-Qur’an yang masih menggema di speaker, seolah menjadi “bodyguard” bagi hati dari rasa takut akan hal-hal ghaib yang sering dibicarakan masyarakat dan dipamerkan di televisi.

“Siapa itu?” Kataku ketika melihat sesosok raga berpakaian putih yang berjalan agak jauh di depanku. Aku berhenti sejenak sambil terus memantau sosok tersebut. Suasana menjadi semakin misterius dan membuatku merinding ketika sosok yang ada di depanku tadi berhenti melangkahkan kakinya. Melihat hal itu, aku langsung melompat dari sepeda biruku dan mencari tempat persembunyian. Beruntung tak jauh dariku ada tumpukkan kayu di pinggir sungai yang cocok untuk tempat bersembunyi. Akupun langsung mengambil posisi di balik tumpukan kayu tersebut.
“Astaghfirullah.. Apa yang tadi itu hantu?” Aku bergumam sendiri. Aliran keringat menjadi sangat deras mengalir dari dahiku. Perasaan takut yang amat mendera membuat sebagian imanku untuk pergi ke masjid luntur. Namun, jarak rumahku yang sudah jauh serta membuat diriku bimbang.

“Aduhh… Gimana ini? Seumur-umur aku belum pernah melihat hal aneh di jalan ini.” Gerutuku dalam hati. “Apa aku harus kembali pulang? Tapi gak mungkin bisa-bisa aku dimarahi sama Ayah. Lagipula kalau aku jelaskan alasannya karena ini pasti kedua orang tuaku gak bakalan percaya!”. Sungguh aku tak kuasa menahan rasa takut gara-gara sosok raga putih yang ada di depanku.

Dalam kebingungan aku berharap ada bola lampu yang menyala di otakku untuk memutuskan langkah yang harus aku ambil saat ini. Aku mencoba mengintip dari balik tumpukan kayu sosok raga putih itu, dalam hati aku terus berdo’a agar sosok itu segera pergi. Namun do’aku tidak manjur kali ini, sosok itu masih berdiri di sana dan tidak melangkahkan kakinya walau selangkahpun ke depan.

Pandanganku hampir seratus persen tertuju kepada sosok raga putih itu. Aku sudah tak menghiraukan lagi keadaan sekitar tempat persembunyianku. Semua konsentrasiku hanya berpusat untuk mengidentifikasi siapa sosok raga putih itu.
“Adek Andi.” Aku sangat kaget dan meloncat seketika ke dalam sungai ketika suara itu muncul dari belakangku.
“Byyuuurrrr…” Gejolak suara riak air ketika aku tiba di permukaan air sungai. Akupun menjadi basah kuyup apalagi disertai sedikit tersedak gara-gara meminim air sungai.
“Lho.. kenapa adek Andi malah melompat ke air..?” Kata sosok orang tua yang bediri di tepi sungai.
Aku coba memerhatikan orang tersebut dari dalam sungai. Ternyata orang itu adalah Mbah Parji, tetangga sebelah rumahku.
“Astaghfirullah.. Mbah Parji? Bikin saya kaget setengah mati aja?” Kataku yang masih berkubang dalam genangan air sungai.
“Sini tanganmu. Mbah bantu naik.” Suruh Mbah Parji.

Beberapa saat kemudian, aku sudah berada di daratan tepi sungai dengan ditemani Mbah Parji. Ku perhatikan pakaian Mbah Parji sama sepertiku yakni, memakai seperangkat alat shalat lengkap. Pertanda Beliau juga ingin pegi ke masjid.
“Kenapa adek bersembunyi di balik tumpukan kayu itu?” Tanya Mbah Parji sambil sedikit tertawa melihat aku basah kuyup.
“Hmm.. Tadi saya melihat sosok raga berpakaian putih yang sedang berjalan Mbah. Saya kira itu hantu, jadi saya ngumpet di balik tumpukan kayu itu.” Jelasku pada Beliau.
“Sosok putih yang disana itu ta?” Tanya Beliau lagi.
“I… iya. Itu Mbah.” Jawabku singkat karena masih ketakutan.
“Hahaha… Adek Andi, Adek Andi. Memang anak muda sekarang terlalu penakut.” Ledek mbah Parji Kepadaku.
“Huuhhh… Kalau bukan hantu, terus siapa itu?” Tanyaku yang masih diselimuti rasa penasaran.
“Itu bukan hantu, melainkan Bang Solikin. Dia memang Mbah suruh untuk menunggu Mbah disana. Supaya kita bisa berangkat ke masjid bersama.” Terang Mbak Parji.
“Ohh… Bang Solikin? Dasar Bang Solikin bikin takut aja.” Aku kembali menggerutu.
“Makanya adek Andi jangan terlalu percaya sama hal yang begituan. Telitilah dulu jika melihat sesuatu, jangan asal membuat keputusan.” Saran Mbah Parji kepadaku.
“Iya deh Mbah.. Makasih Sarannya.” Jawabku dengan nada kesal.
“Siipp, Kalau ayo kita bareng pergi ke masjid, Bentar lagi Adzan.” Ajak Mbah Parji.
“Lha.., Baju saya aja basah begini, kotor pula. Pulang aja deh.” Kataku sambil menunjukkan bagian bajuku yang kotor.
“Yaudah terserah adek aja. Tapi tetep harus shalat di rumah nanti.” Kata Mbah Parji mengingatkan.
“Iya Mbah. Saya Pamit pulang dulu Mbah. Assalamualaikum.” Kataku.
“Wa’alaikum salam” Jawab Mbah Parji.
Setelah itu aku berjalan menuju sepeda biruku dan ku kayuh perlahan untuk perjalanan pulang. Tak lupa aku menengok sejenak ke belakang dan kulihat memang benar sosok raga berpakaian putih itu adalah Bang Solikin. Mbah Parji dan Bang Solikin meneruskan langkah mereka meuju masjid, sementara aku sudah tiba di rumah sesaat sebelum Adzan Shubuh dikumandangkan.

Cerpen Karangan: Al Hanif
Facebook: Ainnul Rofi Al Hanif

Hello Friends,
Ini Karaya Cerpenku Yang Kedua. Baru Merintis Jalan Menjadi Seorang Cerpenist. 😀
Semoga Kalian Suka. Untuk Lebih Mengenal Saya Kunjungi Akun Saya Di:
Facebook: Ainnul Rofi Al Hanif
Twitter : @Alhanif63

Terimah Kasih.

Cerpen Ternyata Bang Solikin! merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bidadari Dalam Mimpi (Part 2)

Oleh:
Benar-benar hari yang melelahkan pikirku. Setelah seharian aku berjuang demi proposal ku tersayang. Selepas shalat isya’ aku membaringkan tubuh ku yang sudah sangat lelah, tapi kali ini aku sudah

Akibat Mengantuk

Oleh:
Suasana kelas yang tenang, angin yang menghembus lewat jendela membuat aku telah serius untuk mendengarkan pelajaran yang akan disampaikan oleh Pak Joko. Pelajaran matematika memang menjadi ‘_momok_’ yang menakutkan

Hidayah Allah

Oleh:
Dua orang sahabat bernama risa dan rifa mereka murid dari salah satu SMA terfavorit di bandar lampung SMAN 8 Bandar Lampung. Senin pagi risa dan rifa terlambat datang ke

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “Ternyata Bang Solikin!”

  1. Izar says:

    Hahaha…
    Lucu.. bikin ngakak..

  2. Julyanniza Anindya says:

    Lucu deh seneng aku bacanya ^^

  3. anjeli gebina says:

    kok gak serem sih? Malah lucu!

  4. yuli says:

    ceritanya g horor
    tpi lmyan terhibur krn klucuannya^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *