Ternyata Tidak Ada Hantunya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 15 August 2016

“Haha, bilang saja kau tidak berani.” ledek Ardi pada Dimas.
“Ti-tidak kok! Aku hanya tidak ingin membuang waktuku sia-sia!” sanggah Dimas.
“Oh begitu.. Lalu, Deni? Kau mau tidak?” ujar Ardi lagi.
“Aku sih ikut-ikut saja.” ucap Deni.

Oke, disini perlu diluruskan sedikit. Ardi mengajak Dimas dan Deni, yang notabene sahabatnya, untuk uji nyali di rumah lamanya. Rumah lamanya tidak terlalu jauh dari rumah Pak RT. Jadi kalau seandainya ada apa-apa, mereka langsung saja melapor pada pemimpin desa itu. Lagipula mereka ini bertiga. Laki-laki semua. Begini saja kenapa harus takut? Tapi mereka melupakan satu fakta yang besar. Bahwa mereka ini tetap saja bocah kelas 4 SD!

“Ya sudah kalau Dimas tidak mau ikut. Aku dan Deni saja kalau begitu.” ucap Ardi yang lalu menyesap jus dinginnya. Well, cuaca panas seperti ini memang pas sekali jika yang dingin-dingin menyiram tenggorokan.
“Iya Di. Kita berdua saja tidak apa. Lagipula rumah lamamu itu tidak terlalu seram.” sahut Deni yang ikut-ikutan meminum jus yang disediakan oleh ibunda Ardi.
“E-eh? Ka-kalau begitu.. Aku ikut!” ujar Dimas tiba-tiba. Dia hanya takut, setelah ini dia tidak akan ditemani oleh Ardi dan Deni. Hei, persahabatan macam apa itu, yang jika satu berkata tidak, akan ditinggal?
“Haha, bener ya Mas?” tanya Ardi memastikan.
“I-iya.” jawab Dimas ragu-ragu.
“Oke, kalau begitu, nanti jam 8 malam kita berkumpul di sini ya? Lalu setelah itu baru pergi bersama-sama untuk menuju rumah lamaku.” ucap Ardi dengan semangat yang menggebu-gebu.

Jika dibandingkan dengan kedua temannya, Ardi ini memang lebih berani dan lebih percaya diri. Dia juga tidak percaya dengan adanya hantu. Jadi ya dia berani-berani saja untuk uji nyali.
Hal ini berbanding terbalik dengan Dimas. Dimas ini sangat penakut. Baru ada angin saja, bulu kuduknya langsung meremang. Kulitnya jadi berkeringat dingin. Kalau dia tidak punya malu, dia pasti akan mengompol!
Kalau Deni.. Dia netral. Dia juga terkadang bertindak sebagai penengah di antara Ardi dan Dimas.

“Okelah Di. Kalau begitu, aku pamit pulang ya.” ucap Deni yang lalu berdiri dan bersiap untuk pergi.
“Aku juga deh!” sahut Dimas yang ikut-ikutan mau pulang.
“Oh.. Iya. Jangan lupa nanti malam.” kata Ardi yang merespon perkataan teman-temannya.
“Assalamu’alaikum.” ucap Dimas dan Deni berbarengan.
“Wa’alaikumsalam.” jawab Ardi.
Dan setelah kedua sejolinya itu pergi, dia membereskan gelas-gelas yang tadi dipakai sebagai wadah jus.

“Kita masuk sekarang ya? Kita harus bergandengan tangan, agar kita bisa saling menjaga. Oke?” ujar Ardi saat mereka sudah tiba di depan rumah tua itu.
“Oke!” sahut Dimas dan Deni.

Lalu mereka bertiga memasuki rumah tua itu dengan bergandengan satu sama lain. Karena engsel pintu yang sudah rusak, mereka dapat masuk dengan bebas. Namun baru saja mereka masuk, bau debu langsung menyergap hidung mereka. Tunggu! Sejak kapan debu mempunyai bau? Ah, terserah. Yang jelas, saluran pernapasan mereka seakan tersumbat oleh sampah. Tapi well, mereka masih tetap melanjutkan langkah mereka untuk mengelilingi ruangan demi ruangan.

Sampai pun mereka selesai. Mereka ke luar dengan selamat. Walaupun baju mereka basah karena keringat, tapi mereka tetap sehat sejahtera. Tak dapat dipungkiri juga, kondisi di dalam sangat menakutkan. Namun untungnya mereka tidak bertemu dengan apa yang disebut “hantu”.

“Ternyata benar. Tidak ada hantunya di rumah ini.” kata Ardi dengan bangga.
“Ah, iya, kau benar. Aku tidak melihat mereka. Tapi aku ingin ke kamar mandi! Sudah tidak tahan. Aku takut mengompol!”
“Aku juga tidak melihat apapun selain perkakas yang lapuk.”
“Apalagi aku. Aku tidak bisa melihat apa-apa.”

Dan akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Ternyata kegiatan seperti ini cukup menguras energi. Namun tanpa mereka sadari, sebenarnya mereka ke luar dari rumah itu berempat. Ditambah satu sosok pucat pasi yang kedua rongga matanya kosong tanpa isi!

Selesai

Cerpen Karangan: Natasya Salsabiila
Facebook: Natasya Salsabiila

Cerpen Ternyata Tidak Ada Hantunya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gadis Pembunuh

Oleh:
“Tukk.. tukk..” terdengar seseorang sedang mengetuk pintu. “Ada apa?” tanyaku sambil membuka pintu. Tampak seseorang menggunakan jepit rambut bergambar kepala mickey mouse, baju terusan berwarna merah dan sepatu merah

Terimakasih Sahabatku

Oleh:
Halo! Namaku Eryka. Aku adalah anak yang termasuk pintar. Tapi aku nggak jago melukis. Padahal, aku pingin banget ikut lomba melukis. “Son, kamu enak ya, jago melukis.” Kataku kepada

Hampa (Part 2)

Oleh:
Matahari pun sudah terbenam dan jam menunjukkan pukul 20.00. Ayu dan Nathalie baru saja datang, sedangkan Rheagan dan Oscar sudah sampai terlebih dahulu. “Tepat sekali. Mari masuk.” Rheagan menyambut

Kenangan Pahit

Oleh:
“Jangan main sama dia!” kata-kata itu masih terngiang di telingaku. Namaku Zahra, aku akan menceritakan tentang pengalaman pahitku. Pagi itu pagi yang cerah, tapi sayang aku tak bisa bermain

Bertemu Opa dan Oma Tersayang

Oleh:
“Loya… sini sayang” panggil bunda. “ya bun… ada apa?” tanyaku mendekat. “gini besok kita akan pergi ke rumah oma di bandung” jawab bunda. “horee…” sorakku. “sekarang.. Loya beres beres

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Ternyata Tidak Ada Hantunya”

  1. Kanzerou says:

    Waah.. Keren ceritanya d=>o<=b

  2. Asyary Raihan says:

    Cuman copas idenya dari riddle doang nih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *