Teror Makhluk Halus di Rumahku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 10 September 2018

Hai … namaku Tino. Ya, aku ini masih SMP kelas 1, dan aku hidup sederhana. Bisa dibilang aku ini anak yang sederhana dari teman-temanku di sekolah. Teman-temanku hidup mewah, beberapa dari mereka ada yang kalem, baik, tapi juga ada yang suka jahil. Oke … Kembali ke kehidupanku. Aku mempunyai 2 adik. Namanya Andi dan Ando.

Suatu malam, ayah dan ibu berencana untuk makan malam bersama di kota. Jarak dari desaku dengan kota kurang lebih 15 km jauhnya. Kira-kira dengan naik motor, kita akan sampai selama 45 menit. Kebetulan desaku ini memiliki penerangan yang kurang. Hanya beberapa rumah yang memiliki lampu yang cukup terang, salah satunya rumahku.

“Tono, jaga adik-adikmu dan dirimu ya, Nak. Ayah dan Ibu akan kembali ke rumah kira-kira jam 2 subuh. Hati – hati di rumah ya …!” Kata Ayahku kepadaku sebelum mereka berangkat. Aku memberi salam kepada Ayah dan Ibu, lalu mereka pergi menjauh dengan motor. Jadi … kami bertiga (aku, Andi, Ando) mendiami rumah ini sekarang. Rumah kami bertingkat 2. Bisa dibilang cukup besar. Tetapi di sekitar rumahku terdapat sedikit rumah-rumah penduduk, sehingga suasana di sini sepi, sunyi, dan hening.

Desaku ini berumur cukup lama, sehingga banyak pohon, gubuk, gudang, dan peralatan yang tua. Ditambah udara yang dingin dan penerangan yang kurang di desaku ini, suasana di sini bisa dibilang cukup angker. Well … Back to story, okay. Seperti biasa, aku langsung merebahkan diriku di kasur kamarku dan menyalakan HP. Ya … kalian sendiri tahu, apa yang akan para remaja dan anak-anak lakukan dengan HP-nya. BBM, LINE, Whats App, Facebook, Instagram, Internetan, Main Game, dan segala macam. Setelah membalas berpuluh-puluh chat dari temanku, aku memasang earphone dan memutar musik kesukaanku sambil bermain Game.

Hari semakin malam, jarum jam menunjukkan pukul 21.00 WIB (9 malam). Kedua adikku, Andi dan Ando yang kebetulan satu kamar di sebelah kamarku, mereka sudah tidur. Sementara aku? Ya … Bergadang aja lah. Hahaha, aku tetap mainkan HP-ku yang baterainya awet (lama habis baterainya).

Aduh … Kenapa udaranya dingin gini ya? Tanyaku dalam hati. Tidak seperti biasanya, udara pada malam ini dingin. Karena tak tahan, kumatikan AC, kututup jendela, dan kupakai pakaian berlengan panjang, kubungkus diriku dengan selimut tebal. Masih tidak tahan, kupakai sweaterku. Kalo aku kedinginan, pasti aku ribet ini itu. Ah, lupakan, pokoknya aku ini sudah merasa hangat.

Tiba-tiba, petir menggelegar, hujan rintik-rintik pun turun, dan … ooops! Mati lampu guys! Buset ini, lagi enak-enakan di kamar, yehhh, malah mati lampu. Apa-apaan ini?!
Yah … Aku kesel. Rumahku yang terang benderang kini jadi gelap gulita. Jujur, aku agak takut gelap. TV yang menyala menemaniku kini mati pula. Arggghhhh! Sebel. Tak terasa jam menunjukkan pukul setengah 12 malam saat itu. Baterai HP-ku tersisa 18%. Kini akumerasa haus, dan dapur rumahku terletak di bawah. Hadehhh … ke bawah lagi … Udah gelap, astaga. Keluhku dalam hati.

Rumah ini terasa hampa, seperti tidak ada orang, padahal kedua adikku ada di rumah. Kucoba bangunkan Andi dan Ando. Kuketuk pintu kamar mereka, tapi … Sepertinya mereka masih tidur, sudahlah, aku tak ingin mengganggu mereka. Jadi terpaksa aku turun ke dapur yang gelap itu sendiri. SENDIRIAN DALAM KEGELAPAN!

Setelah beberapa detik, akhirnya aku sampai juga. Tapi di sini benar-benar gelap. Beneran … kalau kalian ke sini, kalian gak akan bisa lihat apa-apa! Kebetulan aku membawa HP, jadi kunyalakan saja senter (flashlight) yang ada di HP. Ah … Ini senter juga gak terlalu terang! Ujarku dalam hati. Kusorotkan cahaya di sekitar dapur. Kucari gelas di dapur itu. “Arghhh, mana sih gelasnya? Lama-lama takut nih” kataku dalam hati. Beneran, saat itu suasanannya seram. Bayangkan kalau kalian tinggal di rumah yang besar sendirian, dan saat itu gelap, hujan, udara dingin, dan sedikit penerangan.

Akhirnya ketemu juga. Aku mencari dispenser. Tanpa sengaja aku salah mengambil air. Yang harusnya air hangat, aku malah mengambil air panas. Refleks, aku langsung menjatuhkan gelas karena lidahku kepanasan. Sial! Kenapa sih harus mati lampu?! Sekarang jadinya aku harus membersihkan pecahan gelas ini. Sapu dan pengki ada di pojok ruangan tamu, dekat kamar mandi. Kuberjalan ke sana, kuambil sapu dan pengki, langsung kubersihkan pecahan gelas tersebut.

Arghhh, ini tong sampahnya ada di sebalah mana sih? Karena aku malas mencari, aku buang saja serpihan gelas kaca tersebut di gudang yang tak jauh dari situ. Oke, saatnya kembali ke kamar guys! Beneran, gak tahan lama-lama di sini. So … Let’s go!!!
Kuberlari terus, dan mendadak sesuatu seperti bayangan putih melintas di depanku dengan cepat. “Astaga! Apa itu?!” Teriakku kaget setengah mati. Hampir saja aku terjatuh oleh karenanya. Kusorotkan senterku, tapi tidak ada apa-apa di sana. Kubalikkan badanku ke depan, ke arah tangga.

Betapa terkejutnya aku! Seketika sekujur badanku terasa kaku dan bulu kudukku berdiri. Kulihat jejak darah di lantai tangga dan tembok tangga tersebut. “Ya Tuhan! Ada apa ini?” tanya diriku. Sekarang pun mau menggerakkan badan rasanya susah. “Ya Tuhan! Aku takut! Lindungilah aku, Ya Tuhan!” Ucapku dalam batin. Belum sampai situ, mendadak suara langkah orang berlari pun terdengar jelas, hingga suara kaca pecah pun terdengar. Arghhh! Aku ingin kabur dari sini! Akhirnya aku bisa berlari menaiki tangga. Untuk ke kamarku, aku harus melewati lorong gelap. Arghhh! Kenapa sih harus gini?

Lanjut! Kuberlari, terus dan menerus. Tapi rasanya kamarku itu jauh sekali dari tangga. Tiba-tiba pintu dari sebuah kamar jebol dan menimpa diriku. Arghhh! Sakit sekali rasanya. Seperti ditimpa lemari yang jatuh. Kepalaku ikut membentur pot dan berdarah. Seketika kudengar suara seseorang. “Kau! Beraninya kau! Dasar anak gak tau diri!”. Seperti itu suaranya. Uh oh! Gawat! Siapa itu? Dan kenapa kedengarannya dia marah?

Kuberanikan diri merangkak keluar dari pintu itu dan seketika sebuah tangan menyakar mukaku. Dia kemudian menggenggam tanganku dan menyeretku ke gudang. Aku tak sempat melihat mukanya. Karena aku menutupi mukaku yang berdarah. Dia kemudian mencekik aku. Demi Tuhan! Mukanya menyeramkan! Banyak luka goresan, luka benturan, dan luka sayatan di tubuhnya! Serpihan kaca, pisau, dan banyak benda tajam menancam di tubuhnya. Makhluk apakah ini??

Aku ketakutan setengah mati. Aku ingin menangis, tapi tidak bisa rasanya. Lalu dia berkata “Kurang ajar, apa yang kau letakkan di sini?”. Dia menunjuk serpihan gelas yang aku jatuhkan tadi. Aku tak berdaya, badanku lemas, sehingga aku tak sanggup bicara. Aku sendiri bingung, ada apa dengan serpihan kaca itu? Dia mendorong badanku ke rak buku tua yang ada di situ. Demi Tuhan! Hidungku membentur rak tersebut dan langsung mengeluarkan darah! Mulutku pun terluka karena membentur rak itu. Kulihat makhluk itu mengambil vas kaca dan melemparkannya ke dekatku. Vas itu pecah dan serpihannya mengenai kaki dan badanku. Aku pun kesakitan, dan benar-benar lemah tak berdaya. Mataku tertutup perlahan-lahan. Hingga aku tak sadarkan diri.

Hey, di mana aku? Semuanya gelap! Oh tidak! Makhluk itu lagi! Dia berdiri agak jauh dariku. Astaga! Aku terikat di sebuah batang pohon, kaki dan tanganku benar-benar tak bisa digerakkan. Ya Tuhan! Mengapa ini bisa terjadi? Makhluk itu memegang benda seperti cambuk. Ya … Dan di cambuk itu terdapat banyak serpihan kaca. Ah tidak! Apakah dia akan mencambukku? Semoga itu tidak terjadi! Dia berjalan mendekatiku, darah menetes dari badannya. Giginya yang tajam dan rambuntya yang gondrong, Astaga! Setan macam apa ini?!

Dia mengangkat tangannya dan cambuk itu menyambar badanku. Pukulan yang sakit ditambah serpihan yang menancap di badanku, lalu ditarik begitu saja. Kulitku robek dan pastinya berdarah. Ya Tuhan! Aku tak sanggup lagi menahan siksaan ini! Ampunilah aku ya Tuhan! Makhluk itu terus tertawa. Dia menendang aku, menampar, menempelkan benda panas pada dadaku. Aku benar-benar pasrah! Aku mau mati saja! Aku pingsan kembali.

Kudengar suara yang kedengarannya tak asing bagiku. Ya … Itu suara ayah dan ibuku. Tunggu dulu, aku di mana sekarang. Di dalam ruangan dan di atas kasur beroda. Hey, apakah ini rumah sakit? Kulihat diriku di cermin. Luka di badanku cukup banyak. “Apa yang terjadi, Bu, Yah?” Tanyaku pada ibu dan ayah. “Kamu pingsan di gudang rumah kita dan kamu pingsan selama 3 hari, Nak.” Jawab Ibu masih menangis. Ayah pun bertanya, “Apa yang terjadi, Nak?”. Kuceritakan semuanya yang masih aku ingat.

Ayahku mengerti dan segera membawaku pulang dengan persetujuan dari dokter rumah sakit itu. Jujur, aku masih merasa takut akan kejadian malam itu. Trauma, itu istilahnya! Aku berbaring di kamarku, aku mengisi kembali baterai HPku yang habis. Kutengok ke arah tangga. Makhluk itu berdiri di sana, dia menatapku tajam. Lalu dia pergi dan lenyap dari hadapanku. Pertanyaanku adalah: Makhluk apakah itu?

Hai teman-teman! Ini adalah cerpen pertamaku yang aku buat. Mungkin cerpen yang ini masih ada yang kurang bagus atau kurang menarik. Tapi, setidaknya aku sudah mencoba memberikan cerita terbaik untuk teman-teman Cerpenmu.com

Cerpen Karangan: Vannes Theo S
Namaku Vannes Theo Sudarsono, aku akan masuk ke kelas 9 pada tahun ajaran 2017/2018. Umur : 14 tahun.
Facebook: Vannes Theo S
LINE: vatheno7d27
BBM: 277BE0DD
No. Telepon: 0813 2073 7318
See you later at part 2 of this story guys … G.B.U. All 😀

Cerpen Teror Makhluk Halus di Rumahku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kepergian Mu

Oleh:
Hujan deras membasahi bumi berikut dengan petir yang menyambar kemana-mana. Tak ketinggalan pula angin kencang yang menerpa pepohonan depan rumahnya. Rita masih membiarkan tubuhnya diterpa angin malam. Satu detik,

Darah Keabadian

Oleh:
Aku sungguh tidak mengerti apa yang terjadi padaku, terkadang aku menangis dan terkadang aku tertawa. Hahahahahhaa.. Konyol memang.. Banyak orang mengatakan aku gila. Ya.. Tentu.. Aku memang gila. Gila

Misteri Kematian Salma (Part 2)

Oleh:
Malam ini aku kembali mengalami mimpi yang buruk, aku bermimpi dibunuh dan diperk*sa oleh seorang pria yaitu guru olahragaku di sekolah pak Toni. Aku sangat tidak mengerti dengan mimpi

Yang Mengetik Tengah Malam

Oleh:
Angin kencang menyapu sebuah komplek warga perkebunan teh. Menambah dingin suhu yang memang sudah dingin. Seusai Magrib tak ada manusia yang mau menembus cuaca pegunungan. Yang bisa membuat tulang

Haunted Doll

Oleh:
Hari itu, Kumiko dan ayahnya pergi ke Mikomall untuk membeli boneka baru. Ayah Kumiko akan memberikan boneka itu sebagai hadiah ulang tahun. “Wah.. Cantik sekali boneka ini!” Kumiko tertegun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *