The Day When She Dies (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 21 April 2018

Debur ombak. Matahari kekuningan-kuningan pelan pelan menuju sarangnya. Luas. Begitu bebas.

Aku ingin ke laut. Memori itu entah mengapa begitu kuat. Sungguh, amat sangat ingin ke luar sana, menghirup udara dan merasakan angin sepoi-sepoi menyentuh kulitku. Lalu mengapa aku di sini? Keramaian ini hampir membuatku linglung atau barangkali aku memang sudah hilang akal.

Tempat ini yang kau sebut Mal. Gedung berlantai marmer dan bertembok kaca. Tempat khusus barang mahal dan orang-orang berpoles berada. Lama-lama di dalam dapat menyebabkan lupa waktu dan kantong amblas. Sekali lagi, lalu mengapa aku di sini? Aku merasa tak seharusnya mangkal di sini. Tetapi masalahnya, aku tak bisa pulang.

Entah sudah berapa lama aku termenung di kursi ini. Hari, bulan, tahun. Menatapi kaki-kaki yang lalu-lalang. Sekarang, biasanya adalah waktu orang-orang menuntut balas dengan cara menjejali hasrat mereka setelah seminggu berkutat melawan godaan.

Seorang lelaki melewati pintu toko perhiasan. Wajahnya cukup matang. Auranya terasa damai dengan senyum tipis manis menghiasi bibirnya yang merah marun bagai buah delima. Ahh.. sungguh. Aku sebagai kaum hawa dibuat tiba-tiba tak tentu arah dan tanpa sadar telah mengikuti gerak-geriknya sedari tadi. Naluriku beranjak lantas membelakanginya.

“Mba, kalau yang ini?” lelaki itu menuding ke arah kalung berkelip menggoda dari balik kaca etalase itu.
“Oh, kalau ini edisi khusus, Anda jeli sekali memilih yang paling cantik!” si penjual dengan mata berkaca-kaca menerangkan harga dan kenapa kostumer harus membelinya. Aku sampai bosan dengannya yang selalu mengulang-ulang jurus andalannya itu. Wanita ini cukup mahir dan terbilang kawakan. Di Mal ini. Jauh sebelum aku. Dia salah satu orang yang mengabaikanku ketika dulu dalam panik, ingin pulang, aku bertanya keputus-asaan padanya. Dia mengabaikanku. Begitu juga yang lainnya.

“Maaf, kalau boleh tahu ini untuk pacar atau istri Bapak?” ahh.. lagi, kelewat akrab.
Aku menoleh ke raut wajah lelaki rupawan itu.

“Istrinya.” suara di sampingku menyahut bersamaan dengan jawaban lelaki itu, “Istri saya.” Reflek, aku menoleh. Rambutnya panjang, warna putih. Gaun sampai lutut. Corak bunga-bunga. Cantik? Imut.

“Untuk istri tercintaku.” kembali menengok ke lelaki itu. Ya, jelas-jelas raut insan yang dimabuk asmara.

“Sayang sekali bukan, dia sudah punya kekasih.” sambung gadis remaja berambut putih… lalu mengerucutkan bibirnya.
“Eh?”
“Aku Desi,” ia mengulurkan tangan.
“tenang… aku sama seperti kamu. Kita bisa salaman. See, buktinya aku ngobrol sama kamu. So, panggilanmu?”
“Rene…”
Lalu berjabat tangan persis seperti rekan bisnis. Desi tergelak. Kurasa dia pun berpikir begitu.

“Terima kasih atas kunjungan Anda.”
Lelaki itu mengangguk, tersenyum lantas menuju pintu keluar.
Kurasa inilah akhirnya. Perpisahan. Dia pulang, mungkin suatu saat datang lagi bahkan tak akan pernah. Kemungkinan besar kita tak akan bertemu lagi. Hatiku mencelos.

“Kenapa pasang muka sedih gitu?” tanya Desi.
“… gimana kalau kamu ikut kami?” lanjutnya.
“Eh?” apa katanya?
“Ayo pulang bareng kita!”
“… Eeeehhhh!!? yang benar!”
“Ha ha… gak usah kaget gitu kali. Kebetulan aku kenal pria itu. Kita bisa ikut sama dia. Keluar dari tempat ini. Tapi ada syaratnya. Kamu setuju?”
“Ha, ah, ap.. bagaimana?” jantungku berdebar-debar.
“Kamu tak bisa pulang. Tak ada jalan keluar, terperangkap di sini, iya apa iya?”
“Ba-bagaimana kamu tahu?”
“Tentu saja aku tahu. Jelas-jelas ada pita merah mengikat pergelangan Kakimu begitu,” tudingnya di kaki kiriku.
“tandanya itu, kamu penghuni sini. Berakhir di sini. Iya apa iya… ?”
“A… aku nggak tahu,” suaraku tenggelam.
“… dulu… tiba-tiba saja aku terbangun di tengah kerumunan. Ketika melihat ke atas… lantai bertingkat, lampu kelewat terang dan toko-toko aku pikir ahh.. pasti ketiduran? Tapi ternyata tidak. Semua orang tak melihatku. Mereka tak mendengarkan. Aku diabaikan seperti udara. Menuju jalan keluar selalu berakhir di tempat semula bangun. Begitu terus berulang-ulang sampai akhirnya aku lelah, menyerah, dan menatap waktu tanpa tahu sampai kapan ujungnya.” tuturku merasa tak berdaya.

Hening.

“… Ahh… begitu rupanya. Aku pernah dengar kasus seperti kamu. Katanya, itu mungkin karena kamu meninggal dengan keadaan hilang ingatan atau bisa jadi kepalamu terbentur sebelum jiwamu lepas.”

Deg!

“A-aku sudah mati??”

Sebenarnya aku tahu itu. Tidak. Aku tidak tahu! Atau tidak mau tahu.

Ini pertama kali seseorang mengatakan kalau aku sudah…

“Ahh… belum nerima rupanya?” gumam Desi. Suaranya terdengar prihatin.
“a…aa…”
“Jangan dipaksa aku ngerti, kok.”
Aku tertunduk. Sesuatu terasa mengganjal di tenggorokan.

“Jadi gimana kamu mau ikut pulang?”

Deg!

Tentu saja.
Selama ini aku mencoba memungkiri kenyataan itu. Kenyataan kalau tubuhku sudah tak lagi tampak oleh kasat mata. Kenyataan kalau memori semasa hidupku terputar jelas, kecuali pada saat terakhir. Bagaimana aku meninggal? Kenapa? Bukankah masih cukup muda? Usiaku saja masih 20 tahun. Dan yang paling penting, mengapa harus di Mal? Bukankah aneh? Meninggal di dalam Mal. Sedang apa aku saat itu?

Beribu pertanyaan berseliweran tanpa jawaban. Mobil berkelok mengikuti jalan. Kadang berhenti di lampu merah. Desi di sampingku. Di jok belakang. Desi dengan mudahnya melepaskan pita merah di kakiku, dan sekali jalan kami berhasil keluar Mal. Lalu membuntuti lelaki rupawan itu.

Gadis remaja itu menggumamkan sebuah nada. Aku tak habis pikir kenapa ia tampak begitu tenang. Bahagia malah. Bukankah hidupnya telah berakhir? Atau mungkin karena ia meninggal di usia belia makanya… tunggu dulu! lantas mengapa Desi tidak pergi ke alam jiwa? Adakah…?

“Rene, wajahmu..,” tegur Desi. Menuding ke arahku.
“Eh?” tanganku melesat cepat. Mengusap-usap pipiku.
“Becanda deng… Hahahaha.”
Anak ini! Ugh.

“kamu bisa tanya apapun, You know?” lanjutnya. Tiba-tiba terdengar serius.
“Aku…”
“… aku hanya… apa kita akan selamanya seperti ini?”
“Oh, maksudmu.. kamu penasaran apa ada alam setelah kematian begitu?”
Aku mengangguk meski sangsi.
“Tentu saja ada! Hahahaha…”
Tawanya nyaring nyaris memekakan gendang telinga. Kurasa pertanyaanku terdengar konyol.

Lalu suasana tiba-tiba senyap. Mobil berkelok melewati pagar besar. Beranda rumah terlihat tak biasa. Sama sekali hunian lelaki ini bukan bangunan biasa. Megah. Indah dengan taman dan air mancur sebagai sambutan.

“selama ini aku berusaha untuk pergi ke sana.” kata Desi. Menatap ke langit.

Aku menoleh ke arahnya. Masih bicara topik sebelumnya atau kini ia ingin pergi ke…? ke mana?

Kemudian Desi menoleh cepat ke arahku.

“Syarat pertama,” kata Desi, “kamu harus membantuku pergi ke alam jiwa.”
“Caranya?”
“Nanti aku kasih tahu di sana,” ia menuding ke arah rumah super mewah itu.

Bersambung

Cerpen Karangan: Mella Amelia
Facebook: Ma Mumei

Cerpen The Day When She Dies (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Si Siro Anak Musik Rock

Oleh:
Ada kisah seorang anak. Anak ini berusia kurang lebih 17 tahun. Anak ini seorang laki-laki kira-kira mempunyai tinggi 170 cm, dan bersekolah di SMA perkutut. Anak ini menyukai musik

My Twins

Oleh:
Hari ini shania tampak tidak bersemangat pergi ke sekolah, dia berjalan di koridor dengan langkah gontai. Di luar langit tampak mendung disertai hujan gerimis tampaknya pagi ini cuaca sedang

Saat Misteri Terungkapkan

Oleh:
Untuk kesekian kalinya, lagu berjudul “Waktu” karya Bondan Prakoso itu terdengar khas tepat di sebelah kamar kos ku. Entah apa yang membuat yudi, begitu panggilan pemilik kamar sebelah sangat

Cincin Emas Ajaib Feronnica

Oleh:
Pada saat aku sedang pergi ke taman aku menemukan… “Apaan tuh?” tanyaku kepada diriku sendiri. Aku pun berlari dan mengambil benda itu ternyata itu adalah cincin emas “Wawww… cantik

Teman Lama Misterius

Oleh:
Budi merupakan seorang karyawan swasta. Suatu saat dia mendapatkan pesan misterius dari seseorang yang mengaku teman SD-nya. Orang itu mengaku bernama Fahra, seorang gadis yang tiba-tiba menghubungi Budi. Fahra

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

7 responses to “The Day When She Dies (Part 1)”

  1. Malika Sekar R. says:

    Udah ada part ke 2 nya? Makasih

  2. Mey Ameida says:

    Part 2nya mana ya?

  3. Wiwit ay says:

    Kak mella, punya akun wattpad gk?

  4. Fulan says:

    Ada rencana buat part 2 nya ngga kak?

  5. Muhammad Aldino says:

    Aku barusan ngeklik profil kamu, terus aku liat-liat cerpen buatan kamu yang sebelumnya. Aku baru sadar kalau aku itu penggemar tulisan kamu dari tahun 2015. Aku waktu itu baca cerpen buatan kamu yang judulnya “Unconcious” cerpen itu yang ngerubah pandangan aku tentang orang gila. Aku sekarang lebih respect sama care ke mereka. Makasih ya Mel, kamu udah menginspirasi aku. Aku harap kamu jadi penulis sungguhan dan terbitin buku pertama kamu secepatnya. Bye Mel, btw Fulan yang diatas itu aku

    • Mella says:

      Helo Muhammad Aldino, makasih kembali. Dukunganmu berarti banget buat aku. Saya senang bisa menjadi bagian inspirasimu, meskipun saya sendiri bahkan belum merasa pantas disebut penulis amatir pun.
      Btw, ya cerpen diatas bakal dilanjut. Dan tentunya, dinanti selalu komen dan saran2nya buat tulisan2 ku ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *