The Forest

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 23 October 2017

“Yohio!” Panggil seorang laki-laki berjaket biru tua sambil melambaikan tangannya membuat seorang laki-laki berambut hitam yang sedang merangkul tas menghentikan langkahnya.
“Hm? Ada apanya.” Tanya Yohio, laki-laki berambut hitam dengan tatapan datar.
“Bukumu, ketinggalan.” Jawab laki-laki berjaket biru yang sering dipanggil Leon oleh teman-temannya.
“Eh? Terima kasih.”
“Hehe, ceritamu cukup bagus. Maaf ya tadi aku membuka bukumu dan membaca isinya.” Ucap Leon sambil tersenyum serta menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal.
“Oh, tak apa-apa.” Balas Yohio lalu kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Leon.
“Oi! Jangan pergi dulu. Aku mau kau mendengar ceritaku juga.” Ucap Leon sambil menepuk pundak Yohio. “Kisah ini buatanku dimana aku memberinya judul The Forest.” Sambung Leon yang langsung memulai ceritanya.

The Story Begins
“Ah… Ayame, lagi-lagi kamu baca cerita seram, ya?” Ucap seorang gadis muda sambil menatap Ayame.
“Boleh saja, kan. Aku juga suka, kok!” Balas Ayame sambil tersenyum. “Untuk tugas liburan musim panas, aku mau mencari cerita seram dari daerah sini!” Tambahnya lagi sambil menatap temannya.
“Eh, Serius?” Ucap temannya yang tak percaya apa yang dikatakan Ayame.
“Iya, cerita-cerita yang ada di buku kurang greget. Kurang seram.” Ucap Ayame sambil menutup sebuah buku yang ia belikan tadi.

Namun tiba-tiba datanglah seorang laki-laki bertopi pandora hitam menghampiri kedua gadis muda itu.
“Permisi. Apakah jalan ini menuju desa Hotaka?” Tanya laki-laki bertopi pandora hitam ini yang memiliki nama Leon.
Sontak saja kedua gadis muda ini langsung menoleh dan menatap Leon dengan tatapan aneh.
“I-iya, sih.” Jawab Ayame terbata-bata sambil menatap aneh Leon. “Kenapa orang ini pakai baju seperti itu di musim panas…?” Gumam Ayame sekaligus bertanya pada dirinya sendiri.
“Ah, saya bukan orang mencurigakan, kok.” Ucap Leon sambil tersenyum. “Sebenarnya saya seorang peneliti legenda dan kisah-kisah misterius. Saya dengar ada tradisi aneh yang disebut HUTAN KEMATIAN di desa ini.” Tambah Leon dengan wajah yang tiba-tiba berubah serius.
“EH, ITU BAGAIMANA CERITANYA?” Tanya Ayame dengan wajah tak percaya kalau di desa tempat ia tinggal ada tradisi seperti itu.
“Konon, ketika seorang anak lahir dengan KONDISI TERTENTU, dia akan dianggap sebagai pembawa bencana dan disebut ANAK TERKUTUK. Dia akan dibuang atau tepatnya tinggal di dalam hutan itu seumur hidupnya, tanpa makan dan minum. Kira-kira seperti itu.” Jelas Leon sambil menatap serius Ayame.
“KONDISI TERTENTU?” Ucap Ayame yang sepertinya belum mengerti apa maksud dari ucapan yang keluar dari dalam mulut Leon.
“Soal itu…”

ZRAAK!
“Aku dapat cerita yang hebat! Pasti bakal jadi seru banget!” Ucap Ayame dengan nafas yang terengah-engah serta membuka pintu dengan kerasnya. “Baiklah! Malam ini aku harus ke hutan itu.” Ucap Ayame dengan nada serius sambil tersenyum lebar.

MALAMNYA …
Akhirnya malam pun tiba, waktu yang Ayame tunggu-tunggu telah tiba.
“Oke! Semua telah siap!” Ucap Ayame yang langsung memasukkan alat-alat yang ia butuhkan ke dalam tas kecuali senter.

Perlahan ia keluar dari rumahnya menuju ke sebuah hutan yang diceritakan Leon tadi siang.
“Ini pasti akan seru banget!” Ucap Ayame yang sepertinya sangat senang namun mungkin ia tak tahu apa yang menunggunya di sana.

WUZZ!
Malam itu cuaca begitu dingin hingga menusuk ke kulit dan terasa sampai ketulang. Namun Ayame masih saja belum menyerah ia terus saja melangkahkan kakinya menuju hutan itu.

15 menit berlalu, akhirnya ia sampai di depan sebuah hutan yang disebut-sebut sebagai hutan kematian. Segeralah ia menyalakan senter dan kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam hutan itu.
“Eh? Kenapa semua orang takut ya? Padahal hutan ini cukup indah.” Ucap Ayame sambil menyorotkan lampu senternya ke sudut-sudut hutan.

Dingin, gelap, sunyi. Itu yang sekarang Ayame rasakan waktu telah masuk ke dalam hutan.
“Eh? Hujan?” Ucapnya terkejut saat merasakan ada yang menetes di dahinya. “Mungkin.” Sambungnya tanpa berpikir lebih jauh lagi.
Pohon-pohon rindang namun sangat lebat menutupi cahaya bulan pada malam itu, apalagi di tambah goa-goa alami yang terbentuk dari bebatuan yang menambah suasana mencekam. Belum lama Ayame melangkah kini ia menabrak sesuatu.
“Pohon? Atau batu? Namun, kenapa lembab dan sedikit lembut?” Gumamnya lagi namun lagi-lagi tanpa pikir panjang ia langsung kembali melangkahkan kakinya yang sempat terhenti. “Mungkin pohon atau batunya berlumut.” Gumamnya lagi tanpa menyorotkan lampu senter ke benda yang ia tabrak tadi.

“KOAAKKK!!! KOAKKK!!!”
Burung gagak pun mengeluarkan suara khas miliknya disaat ia melihat Ayame yang terus melangkahkan kakinya masuk lebih dalam ke hutan itu.

SRAAK! BRUKK!
Tanpa sengaja kaki kanan Ayame menginjak dataran tanah yang lumayan licin hingga membuatnya hampir terjatuh namun sepertinya ia tertolong karena menabrak sesuatu di hadapannya.

“Apa kau tidak apa-apa nona?” Ucap seseorang yang ia tabrak yang sepertinya seorang wanita.
“I-iya, aku baik-baik saja.” Ucap Ayame sambil mencari-cari senter yang tak sengaja ia jatuhkan. “M-maaf, aku tak sengaja.” Tambah Ayame yang masih mencari senter yang tak sengaja ia jatuhkan.
“Tidak apa-apa.” Balas wanita ini, suaranya begitu lembut.
“Maaf sebelumnya, nona siapa ya?” Tanya Ayame yang sepertinya telah berhasil menemukan senter miliknya namun masih dalam keadaan mati.
“Aku Fuu.” Jawab wanita dengan suara yang sangat lembut.
“L-lalu, apa yang nona lakukan di sini?” Tanya Ayame lagi karena kaget bertemu dengan seorang wanita di dalam hutan yang konon katanya terkutuk ini.
“Aku tinggal di sini.” Jawab wanita ini sambil menatap Ayame.
“T-tinggal di sini?!” Ucap Ayame yang terkejut yang kini langsung menyorotkan lampu senter yang telah menyala ke arah wanita itu.
“Iya! Bukannya kau juga ingin bergabung!” Ucap wanita ini yang tiba-tiba suaranya berubah serak.

Wanita itu memiliki kulit begitu pucat, wajah yang ditutupi oleh rambut hitamnya yang panjang, serta bagian kakinya yang hanya sampai lutut bagian bawahnya terlihat menghilang seperti membaur dengan udara. Melihat hal itu jantung Ayame berdegup kencang, tanpa berpikir lagi ia pun langsung melarikan diri dari tempat itu.

Dan kini ia dapat melihat begitu jelas, bahwa yang menetes di dahinya bukan hujan melainkan darah dari orang-orang yang tak tahan akan hidup di hutan ini, dan juga apa yang ia tabrak tadi bukanlah pohon maupun batu yang berlumut melainkan jasad tubuh seseorang yang membusuk.

Perlahan pandangannya buram dikarenakan air mata yang tiba-tiba menggenang, kini ia menyesal telah masuk ke dalam hutan terkutuk ini. Ia tak mau mati mengenaskan seperti orang-orang itu.

“Selamat tinggal!” Ucap suara wanita yang ia temukan tadi, suara itu begitu dekat bahkan seperti membisik di telinganya. Karena merasa penasaran Ayame pun menoleh ke belakang dan ia dapat melihat wanita itu tersenyum ke arahnya.

BRAKK!
Kaki Ayame tersandung oleh sesuatu yang cukup keras, kemungkinan akar pohon yang keluar dari dalam tanah.

CRAASSHHH!
“Hiks… Hiks… Hiks…” Air matanya pun langsung keluar, saat ia menyadari perutnya telah tertancap oleh ranting pohon yang tajam dan cukup besar, sebesar paha orang dewasa.

Darah segar pun keluar dari mulutnya, matanya pun mulai menatap sayu pemandangan sekitar perlahan demi perlahan akhirnya matanya pun tertutup rapat dan jantungnya berhenti bekerja.

Keesokan harinya mayat Ayame telah ditemukan tak bernyawa di dalam hutan, ia ditemukan oleh para orang-orang yang memang telah ditugaskan untuk setiap bulannya masuk ke dalam hutan itu untuk membawa mayat orang-orang yang telah tewas ke rumah sakit atau pun ke kantor polisi terdekat.

“Apakah sebuah tradisi lahir dari sebuah bencana? Ataukah tradisi yang memanggil bencana? Entah mana yang benar.” Ucap Leon sambil menutup bukunya yang bersampul hitam itu dan segera berjalan pergi meninggalkan desa itu.

The Story Ends

“Bagaimana?” Tanya Leon sambil menatap Yohio.
“Lumayan, boleh juga jika ceritamu itu kutambahkan di bukuku.” Jawab Yohio sambil tersenyum tipis dan menatap Leon sekilas.
“Hehe, sebenarnya ceritaku masih banyak. Apa kau mau dengar lagi?” Tanya Leon sekali lagi sambil tersenyum.
“Mungkin lain kali, karena kita sudah sampai.” Jawab Yohio yang langsung mengambil jalan berbeda untuk menuju pulang ke rumahnya.
“Baiklah!” Ucap Leon dengan semangat sambil melambai-lambaikan tangannya. “Sampai jumpa besok di sekolah.” Sambung Leon sambil tersenyum.

THE END

Cerpen Karangan: Leon Lockhart
Facebook: Leon Lockhart

Cerpen The Forest merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rumah Pengungsian

Oleh:
Singkat ceritanya ketika desa kami dilanda bencana. Pergeseran, amblasan dan retakan tanah terjadi dimana-mana. Itu terjadi karena tanah yang menopang desa kami adalah tanah lempung nan rapuh, dan semakin

Sepatah Kata Seribu Bencana

Oleh:
Gemerlap kelap-kelip cahaya pasukan bintang di angkasa raya, suguhan panoramanya begitu indah tak boleh dipandang sebelah mata. Akan tetapi, bertolak belakang dengan keadaan di sepanjang jalan Pangeran kornel ini.

AHS

Oleh:
Ctik, ctik, ctik… Seseorang di depan komputer itu mengetikkan sederet huruf pada keyboardnya, fokus tatapannya tanpa suatu niat untuk teralihkan. Log in Klik. Setelah memasukkan email dan passwordnya, dia

Last Firework’s Festival

Oleh:
Sehari sebelum festival kembang api, aku dan pacarku, Arata, sibuk memilih Yukata yang serasi untuk kami. Festival kembang api tahun ini adalah yang terbaik. Aku sangat mengharapkan momen seperti

Is It The Ghost Class

Oleh:
A True Story… Aku nyaris terjengkang dari tempat dudukku kala mendengar suara yang awalnya hanya samar-samar itu lagi. Iya lagi. Lagi dan Lagi. Suara yang tak asing lagi, namun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *