The Midnight Man (Manusia Tengah Malam)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 17 October 2017

Hari ini adalah perayaan Halloween di seluruh dunia. Semua orang terutama anak-anak kecil sangat antusias merayakannya. Bagaimana tidak, mereka akan menghabiskan malam mereka dengan berdandan dan mengenakan pakaian seram, menghiasi rumah mereka dengan berbagai hiasan khas Halloween dan tentunya anak-anak kecil akan berkeliling dari rumah ke rumah seraya mengatakan Trick or Treat yang berarti beri kami permen atau kami jahili.

Aku dan keluargaku tentunya sudah sangat siap untuk merayakan Halloween. Kami pergi berbelanja ke sebuah toko yang memang khusus menjual semua perlengkapan Halloween. Sesampainya di sana, kami segera mencari barang-barang yang dibutuhkan. Setelah itu kami pulang ke rumah dan segera menyiapkan semuanya.

Aku dan Alzelvin (saudara kembar laki-lakiku) sangat antusias membantu kedua orangtua kami menghias rumah. Ayah dan ibu menghias bagian ruang tamu dan ruang keluarga, sedangkan kami berdua menghias bagian ruang makan dan kamar. Saat sedang asik menghias rumah, tiba-tiba handphoneku berbunyi dan terteralah nama sahabatku Daisy di sana. Tanpa menunggu lama, aku segera mengangkat telepon darinya.

“Hallo Aldercy,” sapa Daisy di seberang sana.
“Iya hallo Daisy, ada apa?”
“Dercy kamu di rumah kan malam ini?”
“Ya tentu, kami sedang sibuk menghias rumah untuk Halloween nanti malam”
“Wow, bagaimana kalau nanti malam aku datang ke rumahmu, boleh?” tanya Daisy dengan sangat antusias.
“Tentu saja, kita akan merayakan Halloween bersama” jawabku dengan tidak kalah antusiasnya.
“Ide yang bagus, baiklah aku akan memberi tahu kedua orangtuaku dan meminta izin kepada mereka”
“Baiklah, akan aku tunggu kabar darimu honey”
“Daah, sampai jumpa nanti malam”
“Daah” kataku mengakhiri percakapan itu.

“Apa katanya?” tanya Zelvin.
“Dia bilang dia akan menghabiskan malam Halloween di sini”
“Ide yang bagus, kita akan pergi ke alun-alun kota untuk merayakan malam Halloween bersama para remaja lain di sana, dan aku akan segera menemukan wanita cantikku, ahahaha”
“Dasar genit, bagaimana kau tahu kalau wanita itu cantik? semua orang akan berdandan layaknya hantu, huh aneh sekali kau ini Zelvin” kataku sedikit kesal. Dia mulai lagi dengan sikap genitnya.
“Oh iyaa, kau benar juga ya Dercy, dasar bodoh, bagaimana aku bisa mengetahuinya, ahahaha”
Aku hanya menggelengkan kepalaku melihat sikap saudara laki-lakiku yang lebih tua 5 menit saja dariku itu.

Setelah selesai menghias rumah, kami semua merasa penat dan kami berkumpul di ruang keluarga untuk beristirahat sambil menonton sebuah acara keluarga spesial Halloween di TV. Tiba-tiba handphone ibuku berbunyi. Ibu langsung mengangkat teleponnya dan kami semua tetap asik menonton TV. Setelah selesai menerima telepon, ibu bilang bahwa malam ini kita akan pergi ke San Diego dan merayakan Halloween di sana bersama semua anggota keluarga. Oh tidak, bagaimana bisa aku pergi ke sana sementara sahabatku akan datang ke sini.

“Tidak, aku tidak akan ikut bersama kalian ke sana. Aku akan tetap di sini, di San Francisco” gerutuku kesal.
“Dercy, bagaimana mungkin kau tidak ikut bersama kami, ayolah kita rayakan Halloween kali ini di rumah nenek. Hey, semua keluarga akan ada di sana Dercy” bujuk ibu.
“Ayolah Dercy, para remaja di sana lebih tampan dan cantik, di sana akan lebih menyenangkan Dercy, ayolah” rayu kembaranku yang genit itu.
“Tidak bu, Daisy akan datang ke sini, bagaimana mungkin aku pergi ke sana”
“Ah Dercy kau ini bagaimana, suruh Daisy segera datang ke sini dan kita akan pergi ke sana bersama”
“Sudahlah, dia tidak mau ikut, kita tidak boleh memaksanya. Dercy, kau akan tetap di sini bersama Daisy dan kami akan pergi ke San Diego” lerai ayah dengan sangat adil.
“Ya, ayah benar, terimakasih ayah” kataku dengan sangat senang.
“Sama-sama putriku. Baiklah kalau begitu kita harus bersiap sekarang dan segera pergi ke bandara, tunggu apalagi, ayo” kata ayah dengan semangat.
“Baiklah” jawab ibu dan Alzevin dengan kompak. Mereka berdua memang selalu kompak.

Setelah 20 menit bersiap, mereka semua pamit dan berangkat ke bandara. Aku melambaikan tangan kepada mereka dan segera menutup pintu rumah. Aku pergi ke ruang keluarga dan melanjutkan menonton acara TV. Tiba tiba, kriiiiiiiing kriiiiiiiing, uh berisik sekali telepon rumah itu. Aku berdiri dan melihat jam menunjukkan sudah pukul 5 sore. Oh tidak, aku sudah tertidur selama 5 jam. Aku berlari dan segera mengangkat telepon rumah yang dari tadi terus saja berbunyi.

“Hallo sayang, kami dari tadi mencoba menghubungi nomormu, tapi tidak aktif, kamu baik-baik saja kan sayang?” tanya ibu khawatir.
“Hooaam, iya ibu aku baik-baik saja, aku tertidur tadi. Apakah ibu sudah sampai di San Diego?” tanyaku yang masih saja mengantuk.
“Syukurlah, iya kami sudah sampai di San Diego, sekarang kami sedang dalam perjalanan ke rumah nenekmu. Baiklah kalau begitu ibu matikan teleponnya ya, sampai jumpa dan jaga dirimu baik-baik nak” jawab ibu lega.
“Baiklah ibu, kalian semua hati-hati yaa, sampai jumpa”

Karena hari sudah pukul 5 sore, aku segera naik ke lantai atas dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai mandi aku pun berpakaian dan berdandan ala The Bloody Mary. Tepat pukul 6 sore aku sudah selesai merias diri. Setelah itu aku mengambil handphoneku, membuka kuncinya, mencari instagram dan klik. Hanya dengan satu sentuhan saja fotoku yang bergaya ala The Bloody Mary sudah tersebar di beranda followersku.

Aku segera turun ke ruang keluarga dan bersiap pergi ke alun-alun kota untuk merayakan Halloween bersama para remaja di kota ini. Sebelumnya, aku mengirimkan pesan kepada Daisy bahwa aku akan menunggunya di alun-alun kota. Aku pergi ke garasi dan langsung menyalakan mesin mobil. Tanpa menunggu lama, aku mengendarai mobil ke tempat tujuanku dan hanya 30 menit aku sudah sampai di sana.

Wah, di sini sudah sangat ramai. Semua remaja berdandan dan berpakaian seperti hantu. Ada yang seperti zombie, vampire, drakula, mummy, lady in white, the bloody mary sepertiku dan bahkan ada yang berpakaian seperti valak. Ada sekelompok orang yang menarikan lagu Thriller dari mendiang Michael Jackson. Wow, mereka semua sangat kreatif sekali. Sambil menunggu Daisy datang, aku membeli minuman.

Di sini semuanya serba menakutkan. Saat aku membeli minuman, penjualnya mengagetkanku dengan kostumnya dan minuman yang dijualnya pun merah dan kental seperti darah. Tapi tetap saja rasanya manis dan segar. Saat aku membeli coklat, coklat itu dibentuk seperti tengkorak. Tetapi lagi-lagi, walaupun bentuknya menyeramkan, rasanya tetap enak.

Setelah membeli minuman dan coklat, ada rumah hantu yang mengalihkan pandanganku. Kurasa Daisy masih dalam perjalanan, jadi aku sempatkan diri untuk masuk ke rumah hantu itu. Setelah aku keluar dari rumah hantu aku memutuskan untuk duduk di salah satu bangku yang ada. Sambil menunggu Daisy, banyak anak-anak yang datang kepadaku dan mereka semua mengatakan trick or treat. Tentu saja adik-adik manis. Aku sudah menyiapkan dua kantung besar yang berisikan permen beraneka rasa. Aku sangat senang membagikan permen-permen ini kepada mereka.

Sudah satu jam aku di sini, tapi kenapa Daisy belum juga datang. Tiba-tiba handphoneku berbunyi dan nama Daisy tertera di layarnya.
“Hallo Daisy kau di mana? sudah satu jam aku menunggumu” tanyaku sedikit kesal.
“Aldercy kumohon jangan marah padaku, tapi baru saja bibiku menelepon bahwa Erel sepupuku ingin sekali menghabiskan malam Halloweennya bersamaku. Jadi sekarang aku harus pergi ke Los Angeles secepatnya dan sekarang aku sudah dalam perjalanan menuju bandara. Kumohon Dercy jangan marah kepadaku” jelas Daisy yang terburu-buru sekali.
“Huh, anak kecil terkadang memang menyebalkan, ya sudah, pergilah ke sana dan ucapkan selamat hari Halloween dariku kepada sepupumu itu yaa, hati-hati di jalan”
“Baiklah Aldercy, terimakasih dan maaf telah membuatmu menunggu, daah sampai jumpa”
“Iya tidak masalah, sampai jumpa juga” kataku dan setelah itu langsung memutuskan telepon.
Karena hari masih jam 7 malam, aku memutuskan untuk tidak pulang dulu ke rumah. Aku akan di sini sampai satu jam kedepan.

Tak terasa satu jam telah berlalu. Aku segera mencari mobilku dan segara melajukannya ke rumah. Sesampainya di rumah, aku meletakkan dua kantung permen yang tadi kubawa. Setelah itu aku pergi ke dapur karena aku sangat lapar. Walaupun tadi sudah memberi beberapa cemilan, tapi tetap saja itu tidak bisa mengganjal rasa laparku.

Tapi, belum sempat aku menginjakkan kaki di dapur, bel rumahku berbunyi. Itu pasti anak-anak yang meminta permen. Tapi tunggu dulu, kali ini aku tidak akan hanya memberi anak-anak tetanggaku itu permen. Aku juga akan memberikan mereka masing-masing satu buah pie berbentuk labu, mereka pasti sangat menyukainya.

“Tunggu adik-adik manis, aku akan datang” kataku sambil sedikit berlari.
“Trick or treat” kata mereka dengan kompak. Mereka lucu sekali. Mereka tidak terlihat menakutkan walaupun mengenakan pakaian hantu. Mereka sangat menggemaskan.
“Ini dia, satu untukmu, satu untukmu, ini untukmu, ini juga untukmu, yang ini untukmu, yang satu ini untukmu dan ini untuk kalian si kembar yang sangat menggemaskan, terimalah” kataku dengan sangat senang. Mereka juga terlihat sangat senang.
“Terimakasih kakak cantik” kata mereka melompat kegirangan.
“Waah, sama-sama adik-adik manis yang menggemaskan, selamat berburu permen, daah” kataku sambil melambaikan tangan pada mereka.
“Daah” balas mereka.
Hal itu terus saja terjadi sampai waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Setelah itu sudah jarang anak-anak yang berkeliling kompleks untuk meminta permen. Hmmmm, aku sudah mulai bosan dan mengantuk. Kalau tahu bahwa Daisy akan pergi ke Los Angeles, aku akan memutuskan untuk ikut pergi ke San Diego tadi.
Tapi biarlah, meskipun sendirian aku juga tetap senang. Walaupun aku sudah mengantuk, tapi aku tidak ingin pergi tidur dulu. Aku mencari cara agar tidak tertidur.

Akhirnya aku menemukan sebuah ide yang cemerlang dan sangat menakutkan. Ya, aku akan bermain The Midnight Man. Memang permainan itu sangat menakutkan, tapi aku sangat penasaran dan apa salahnya jika aku mencoba. Aku langsung bergegas menyiapkan semua peralatan yang dibutuhkan. Tidak banyak, aku hanya butuh pensil, secarik kertas, silet, korek api, lilin dan garam. Setelah semuanya siap aku hanya tinggal menunggu sampai jam menunjukkan pukul 11.55 malam.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11.55 malam. Aku pun bersiap untuk memulai permainan yang akan menguji nyaliku ini. Tapi belum apa-apa saja jantungku sudah berdetak kencang dan keringatku mulai bercucuran. Dengan langkah takut aku berjalan ke pintu depan. Kemudian aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Sebenarnya aku sangat takut, tapi semua rasa takutku itu terkalahkan oleh rasa penasaranku. Akhirnya aku berani untuk mencobanya.
Aku menuliskan nama lengkapku di kertas yang sudah aku siapkan tadi. Lalu aku menyilet jariku dan aw, itu sedikit sakit. Tanpa menunggu lama, aku langsung meneteskan darahku di atas kertas tadi. Setelah itu aku mematikan semua lampu yang ada di rumahku dan sekarang aku sudah berada tepat di depan pintu rumahku. Uw, aku semakin takut memulainya, tapi aku harus cepat sebelum jam 12 malam.

Aku langsung menaruh kertas tadi di depan pintu, lalu menyalakan dan meletakkan lilin tepat di atasnya. Cepat-cepat aku mengetuk pintu rumahku sebanyak 22 kali sebelum lewat tengah malam. Setelah itu aku membuka pintu dan meniup lilinnya. Aku tutup lagi pintunya dan dengan cepat menyalakan lilinnya. Tepat sekali, sekarang sudah tengah malam dan aku baru saja mengundang The Midnight Man ke rumahku. Dasar Aldercy bodoh, mengapa kau lakukan semua ini. Tapi aku tidak bisa mengakhiri ini begitu saja, permainan ini baru akan bisa berakhir nanti pukul 03.33 pagi. Uuh, ayah, ibu, Zelvin tolonglah, aku takut.

Dengan langkah yang sangat ketakutan, aku memberanikan diri untuk mengelilingi semua ruangan yang ada di rumahku. Ya, aku tidak boleh hanya berdiam diri di satu tempat saja, karena hal itu akan membuat The Midnight Man dengan mudah menemukanku. Aku tetap berjalan ke sekeliling rumah. Aku berharap Midnight Man berada jauh dariku. Aku terus berjalan, entah di mana aku sekarang. Aku rasa sudah lama aku berjalan dan aku mulai mengantuk. Tapi tiba-tiba aku merinding, lilinku meredup dan kemudian padam. Uuh, aku sangat takut, dingin sekali di sini. Sebelum sepuluh detik aku harus menyalakan lilinnya lagi, kalau tidak nanti Midnight Man akan menemukanku.

Huft, untung saja aku berhasil menyalakannya sebelum sepuluh detik. Terimakasih Tuhan. Aku tetap melanjutkan permainan ini. Aku terus saja berjalan. Tapi tunggu, bayangan apa itu? Adakah bayangan yang bisa terlihat di tengah kegelapan seperti ini? Aku semakin takut. Aku rasa aku tidak bisa melanjutkan permainan ini. Tapi tidak, aku sudah memulainya, berarti aku juga yang harus mengakhirinya. Aku harus berani meskipun takut. Harus.

Aku melihat jam di tanganku dan itu menunjukkan pukul 2 malam. Oh Tuhan, terimakasih. Aku hanya perlu menunggu 1 jam 33 menit lagi. Ya, aku harus bertahan untuk bisa mengakhirinya. Aku terus berjalan, terus berjalan. Tapi tiba tiba,
“Siapa itu? tolong jangan ganggu aku, kumohon” Seketika ruangan gelap gulita. Lilinku padam. Tidak, kali ini aku kehabisan korek api. Midnight Man akan segera menangkapku. Udara di sini semakin dingin, tapi keringatku bercucuran. Jantungku hampir copot karena berdetak sangat kencang. Bisikan itu terdengar lagi. Bisikan itu semakin jelas. Aku harus apa? Aku sangat takut. Aku tidak kuat lagi. Tapi aku tidak mau Midnight Man menangkapku.
“Garam. Ya, aku masih punya garam” dengan cepat aku membuat lingkaran dari garam itu. Itu adalah pelindungku yang terakhir. Ya, aku harus cepat sebelum Midnight Man menemukanku.

Akhirnya aku selesai membuat lingkaran garam itu. Aku terduduk lemas di dalam lingkaran itu. Aku menangis. Andai aku punya mesin waktu, akan aku balikan waktu. Tuhan tolong aku.

Setelah sekian lama, keadaan mulai membaik. Aku sudah tidak mendengar bisikan itu lagi. Bayangan itu tidak ada. Suhu udara normal. Apakah ini sudah lewat dari jam 03.33 pagi? Apakah aku berhasil memenangkan permainan ini? Entahlah.

“Aldercy, Aldercy bangun sayang”
Aku menutup mata dengan tanganku. Silau.
“Ibu. Aku di mana?” tanyaku bingung.
“Kamu di rumah sayang, garam apa ini nak? Kenapa kamu tidur di sini sayang?” tanya ibu heran
“Iya sayang, apa yang kamu lakukan?” tanya ayah juga.
“Hey Dercy, apa kau baik-baik saja?” tanya anak menyebalkan itu.
“Ibu ayah, aku pusing, bisa tolong bawa aku ke kamar? Aku sangat lemas, aku butuh istirahat. Aku janji, setelah itu aku akan menceritakan semuanya pada kalian”
“Baiklah sayang, mari ibu dan ayah bantu” jawab ayah yang langsung menggendongku.
“Terimakasih ayah ibu. Aku janji nanti akan aku ceritakan”
“Iya sayang, tenang dan beristirahatlah, daah” kata ibu dan langsung pergi bersama ayah.

Setelah cukup beristirahat, aku membersihkan diri dan makan malam bersama keluargaku. Aku menceritakan semua kepada mereka tentang apa yang aku alami semalam. Setelah itu mereka tidak membolehkanku untuk melakukan apapun yang berbau dengan hal-hal gaib, karena itu hanya akan membuatku celaka. Ya, mereka benar dan aku tidak akan melakukannya lagi. Tidak akan.

Cerpen Karangan: Elvira Yulia Safitri
Facebook: Elvira Safitri

Cerpen The Midnight Man (Manusia Tengah Malam) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rumah Nenek

Oleh:
Hari ini, Shasya menginap di rumah neneknya. Ia menginap bersama ayah dan ibunya. Malam ini, shasya tidur di kamar neneknya seorang diri. Shasya sebenarnya tidak menyukai kamar neneknya, dikarenakan,

Sahabat Dari Tuhan

Oleh:
“Huh..” aku merebahkan diri di tempat tidurku yang beralaskan seprai berwarna putih. “Reva!” teriak mama tiba-tiba. “sepertinya mama berada di ruang tamu” gumamku dalam hati. Aku pun langsung beranjak

Dimana-mana Ada Hantu

Oleh:
Cerita gue waktu masih SD, gue paling takut sama yang namanya hantu. Di fikiran gue hantu itu suka ngejutin alias surprise. wah berarti hantu romantis dong, bukan bukan! Hantu

Renny Si Anak Indigo

Oleh:
Pagi ini aku sangat terburu-buru. Harus terus berlari cepat sebelum terlambat. Sekarang sudah pukul 08.00 pagi dan aku baru berangkat sekolah. Setiba di kelas, aku memang benar-benar sudah terlambat.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *