The My House

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 3 June 2017

Namaku Albert, aku berumur 16 tahun, Aku seorang indigo, aku mempunyai Indra ke enam dari lahir. Rumahku terletak di puncak gunung di dekat hutan, rumahku besar seperti Villa tua. Dulu tempat itu adalah peninggalan kakekku, konon katanya rumah itu peninggalan penjajah Jepang.

Aku tinggal bersama ibu dan adikku. Kini, rumah ini menjadi sunyi semenjak kepergian ayah dan adikku. 6 tahun yang lalu ayah dan adikku meninggalkan keluarga kecil ini. Semua berawal dari tragedi teror. Keluargaku selalu diteror oleh seseorang yang tak kukenal.

Ayah dan adikku meninggal dengan tragis. Malam itu, hujan sangat deras dan lebat.
“Glarr.. glarrr..” suara petir yang menyambar dan berisik di atas rumahku, saat itu aku sedang berada di kamar, sedangkan ayah dan ibuku berada di ruang tamu dan dua adikku berada di kamarnya. Waktu itu tiba-tiba lampu padam seketika, gelap sunyi dan tak terlihat apapun.
Ku teriak. “Yah.. ayah!”
“Iya nak, bentar!” jawab ayah ku.
Ayahku melangkah ke arah kamarku sambil membawa lilin, kulihat cahaya lilin itu dari lorong pintu kamarku.
“Ini lilinnya” ucap ayahku.

Setelah itu ayahku pergi dari kamarku, tapi tak lama ayahku pergi, aku melihat bayangan seseorang yang berjalan menuju kamar adikku, kuikuti bayangan itu, sampai ku di batas pintu kamarku, kutengok hanya gelap yang ada.
“Yah!” panggilku yang mengira bayangan itu yang tak lain ayahku.
Tak ada jawaban, kucoba datangi kamar adikku. Kudengar suara berisik mereka yang sedang bermain cahaya lilin di tembok, sesampainya di depan pintu, tiba-tiba kulihat bayangan seseorang lelaki berbadan besar yang sedang mengangkat kapak, yang kelihatannya seperti ingin membelah kayu. Mataku terbelalak dengan rasa takut, keringatku menetes yang mulai membasahi wajahku. Bayangan itu mulai menjatuhkan kapaknya, hatiku berdetak kencang. “Dug, Dug, Dug!”
“CRUAK” bunyi kapak itu.
Teriak adikku, “Ayah!”
Mataku berbinar binar dan juga sesekali meneteskan air mata.

Kulihat bayangan itu hilang begitu saja dan lilinnya mati, kucoba masuk ke kamar adikku dengan seluruh tubuhku yang gemetar.
Aku mendengar suara tangisan dari pojok kamar, “Dik, apa itu kau?” tanyaku dengan nada pelan. Tiba-tiba adikku berlari dari sudut kamar dan memelukku, dia menangis dan terus menangis.
“Kau tidak papa?” tanyaku.
“Arka, Kak?” jawab adik ku.
“apa?” tanyaku dengan detak jantungku yang semakin kencang, dan raut wajahku yang semakin ketakutan.
“Berarti..! nggak nggak dik..!”

Lampu menyala, dan kulihat Arka di hadapanku, tubuhnya terpotong dan darah di mana mana, ku tak bisa meyakini hal ini.
“Arkaaaa..!” teriakku dengan kencang.
Adikku yang ketakutan bersembunyi di balikku.

Tiba ayahku di kamar adikku.
“Apa yang terjadi?” teriak ayah ku.
“Ayah.. lihatlah bawah!” pintaku dengan tangisan.
“haaa..!! Arka” teriaknya dengan nada takut, ia berjalan mundur dengan menggelengkan kepalanya.
Kemudian ayahku jatuh dan duduk bersandar pada pintu kamar, sambil memegang kepalanya.
Kuhampiri ayah ku, “Yah, Arka yah!” kataku dengan tangisan.

Lampu rumahku padam lagi dan terdengar suara ibuku yang berada di ruang tamu, “Aaaaa!” jerit ibuku. Ayahku mengangkat kepalanya dan bergegas menghampiri ibuku.
Kulihat bayangan itu lagi di tembok dapurku menuju ruang tamu, kebetulan lilin itu masih menyala dari tadi. Kuikuti dengan adikku, Aku melihat bayangan itu tampak memegang pistol, kulihat arah pistol itu, dan tepat mengarah dimana ayahku berdiri.

“Ayah?” ucapku dengan pelan.
“Ayah awas!!” aku teriak sambil berlari.
“Duarrrr” suara pistol itu.
Ayahku tak sadar dan berbalik ke belakang, karena mendengar suaraku.
Pistol itu mengarah ke kepala ayahku, aku hanya diam dan menatap dengan wajah pucat. Pistol itu mengenai kepala ayahku
“Aa-aaa-yah..!” ucapku dengan nada gagap.
Kuhampiri. “Ayah..!! jangan yah.. jangan! ayah gak boleh pergi.”

Darah ayah di mana mana, tanganku penuh dengan darah, kepalanya penuh darah, aku menangis di dadanya. Tangisku berhenti ketika aku mengingat ibuku.
“Ibuu..! ibuu..!” panggilku, tak ada jawaban darinya. Aku berdiri, kulihat bayangan besar di tembok depanku, aku gemetar ketakutan, kubalikan badanku, dan kulihat, ternyata tak ada apa-apa.
“Siapa kau? siapa? mengapa kau ganggu keluargaku!” tanyaku dengan nada ketakutan.
Tiba-tiba terdengar suara besar dan berat.
“AKU INGIN BALAS DENDAM!”
“Mengapa kau ingin balas dendam, apa salahku dan keluargaku?”
“Hahahaha..” tawanya.
Aku mundur dengan perlahan, sampai ku di tembok, dengan nafas terengah-engah.
“Pergi kau! Pergiiiii..!”
“Hahaha.”
Bayangan itu makin jelas di hadapanku, sambil menunjuk arah kanannya. Kulihat apa yang ditunjukan.
“Ibu.! Adik.!” teriakku.
Ibu dan adikku disekap oleh bayangan itu. Bayangan itu menodongkan senjatanya ke arah mereka berdua.
“Heii.! lihat dia! Hahaha.”
“Jangan, tolong kau hentikan permainan bodohmu ini!” ujarku.

Lilin itu mati, bayangan itu menghilang, matahari mulai terbit menyinari setiap sisi kegelapan yang menakutkan.
Kulihat darah di mana-mana, ibuku dan adikku telah selamat dalam kejadian ini. Rumahku penuh dengan Polisi, ibuku yang memanggilnya. Aku dipanggil untuk dijadikan saksi, kucoba jelaskan apa yang terjadi, dan polisi menduga kejadian ini adalah sebuah teror terhadap keluargaku. Polisi meminta untuk mengosongkan rumah itu sementara.

Setelah beberapa hari dari kejadian itu aku kembali ke rumahku, ketika aku sampai di halaman depan, kulihat arwah Arka yang melihatku dari jendela kamarnya tepat di lantai dua.
Aku tersenyum menatapnya, tapi wajah Arka berubah menjadi pucat putih dengan darah, aku meneteskan air mataku.
“TIDAK!!!”

Sejak itu aku menjadi merenung sendiri, Sering mengunci diri di kamar, dan sering juga melamun.
Aku sering didatangi oleh arwah adik dan ayahku, aku bermain dengannya di kamar sendiri, aneh kelihatannya tapi cuma aku di antara ibu dan adikku yang bisa melihatnya.

Cerpen Karangan: Yovanda Willy
Facebook: Yovanda Willy

Cerpen The My House merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sekolahku Angker

Oleh:
Nama ku ana, aku bersekolah di salah satu sekolah menengah pertama negeri yang ada di jakarta. Semenjak aku masuk ke sekolah itu aku tidak tahu letak dan gedung sekolahnya

Tak Bisa Dibayangkan

Oleh:
Malam ini, aku baru saja pulang sekolah. Rutinitas di sekolahku yang sangat padat inilah yang membuatku harus pulang sekolah pada pukul hampir sebelas malam. Bayangkan saja, sesudah kegiatan mengajar

Wanita Pelukis Pasir

Oleh:
Kufokuskan pandanganku ke depan. Jam telah menandakan pukul 2 dini hari. Aku memang begadang untuk menonton siaran televisi favoritku. Blep! Seketika listrik mati. Bertepatan dengan itu, terdengarlah suara gesekan

Si Kaya dan Si Miskin

Oleh:
Kejadian semalam membuat neta menjadi sangat terpukul. Bagaimana tidak? Orangtua yang dicintainya harus meregang nyawa di depan matanya. Malam itu.. Rumah kediamannya terlihat sangat sepi. Beberapa orang masuk dengan

Beling

Oleh:
Jono masih setia berbasah-basah di sungai kecil itu. Sambil sesekali mengaduh karena anak duri di pinggir kali yang menusuk lengannya. Kedua lengannya yang kekar berisi nampak bergerak-gerak dalam air.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *