The Photograph

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 8 July 2018

Klik!
Aku mengarahkan kamera pada seseorang yang terbujur kaku dengan keadaan mengenaskan. Tubuh orang itu hancur, tidak berbentuk. Kepalanya hampir pecah, tulang kakinya patah, bahkan salah satu jarinya hilang. Polisi menduga bahwa orang ini telah melakukan aksi bunuh diri dengan cara melompat dari lantai 15 gedung apartement. Diduga, jari orang ini patah setelah menghantam aspal dan terlempar jauh. Polisi saat ini masih mengevakuasi TKP (Tempat Kejadian Perkara) untuk mencari potongan jari yang hilang. Bohong jika kukatakan aku tidak mengenal orang ini. Dia adalah Alvin, seorang pria yang bekerja sebagai staff administrasi di perusahaan garment. Aku mengenalnya dua hari yang lalu di sebuah supermarket saat kehilangan dompet. Di tengah kebingungan memikirkan bagaimana cara membayar belanjaan, Alvin datang membawakan dompetku yang jatuh di depan pintu masuk supermarket.

Sebagai rasa terima kasih, aku mengajaknya pergi ke kedai kopi terdekat untuk kutraktir kopi sambil berbincang. Awalnya dia menolak, namun saat kukatakan ini sebagai wujud persahabatan dan penghargaan karena di dunia ini masih ada orang yang jujur seperti dirinya, akhirnya dia bersedia.

“Kau dengar tentang kasus pembunuhan yang terjadi akhir-akhir ini?” Ucapnya saat kami tengah menikmati kopi hangat arrabicca dan beberapa batang rokok. Sebuah asap putih mengepul dari asbak di hadapanku.

“Pembunuhan tragis dengan salah satu anggota tubuh yang hilang?” Dia mengangguk. Tangannya meraih sebatang rokok milikku dan menempelkannya pada rokok miliknya yang terselip di bibir. Tidak lama, sebuah asap putih mulai mengepul dari bibirnya.

“Aku tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh pembunuh itu.”

“Bagian mana yang tidak kau mengerti? Bukankah itu hal wajar mengingat betapa kerasnya hidup. Orang akan menghalalkan segala cara untuk bertahan, belum lagi segala kebutuhan tidak terjangkau karena harganya melambung tinggi. Bayangkan saja, para ibu rumah tangga banyak mengeluh akibat harga cabai yang terus melambung sedangkan pemasukan tidak bertambah sedikitpun.” Aku kembali menghisap rokokku kemudian menghembuskan asap putih melalui bibir.

“Wajar bukan, mengingat jaman sekarang hidup begitu keras. Seperti hukum rimba, siapa yang kuat dia yang menang.” Lanjutku. Alvin menautkan alisnya, menghisap rokoknya lagi kemudian terkekeh. Mungkin dia baru sadar akan perkataanku.

“Haha bertahan hidup? Maksudmu bertahan hidup dengan merebut kekuasaan? Atau bertahan hidup dengan menjatuhkan seseorang untuk mendapat kekuasaan?” Tanyanya.

“Ya salah satunya itu.”

“Jaman memang benar-benar sudah gila.” Ucapnya. Kami berdua bungkam, dia menikmati rokoknya sedangkan aku kembali menyeruput kopi.

“Orang memang selalu gelap mata jika berhubungan dengan harta, tahta dan wanita.” Lanjutnya lagi.

“Jangan lupakan satu hal lagi.” Dia menatapku dengan alis tertaut. Seperti menyadari maksudku, dia memicingkan matanya.

“Dan hutang.” Ucap kami bersamaan. Kami pun tertawa di tengah kebisingan ibukota dan dinginnya malam. Membicarakan apapun yang terlintas dalam pikiran masing-masing. Sampai waktu menunjukan pukul 22.00, kami memutuskan untuk pulang. Kuantar dia sampai di depan apartemetnnya. Sekali lagi aku berterima kasih atas kebaikannya sebelum menjalankan motor menuju kediamanku. Ironis memang, jika mengingat hari itu adalah pertama sekaligus terakhir kalinya kami berbincang. Ironis ketika orang sebaik dirinya harus mengalami nasib tragis.

Aku terus mengarahkan kamera pada tubuh Alvin sampai jasadnya dimasukan ke dalam kantong jenazah. Tidak lama, jasad itu pergi dengan ambulance. Aku masih berdiri di tempat sambil mengamati hasil bidikan, senyum puas tersungging di wajah ketika melihat hasilnya memuaskan. Sempurna.

Aku adalah seorang fotografer handal dengan bidang khusus. Jika fotografer lain lebih suka memotret model cantik dan seksi atau panorama alam, lain halnya denganku. Aku lebih suka memotret objek manusia bertubuh kaku, bersuhu dingin, berwajah pucat dan bersimbah darah. Entahlah, ini merupakan keuntungan bagiku. Belum lagi akhir-akhir ini banyak sekali kasus pembunuhan dan bunuh diri yang terjadi di kota ini. Kebanyakan dari mereka mati dengan tubuh mengenaskan dan kehilangan salah satu anggota tubuhnya.

Menurut kabar burung, dalam kasus pembunuhan si pelaku berinisial R. Hal ini diketahui polisi dari gantungan kunci yang terdapat di lokasi kejadian salah satu pembunuhan. Polisi sangat yakin jika gantungan kunci itu adalah milik si pelaku mengingat tidak ditemukannya sidik jadi korban. Dalam kasus pembunuhan berikutnya, polisi selalu menemukan gantungan kunci yang sama ada di dekat korban. Entah ini disengaja atau tidak, yang jelas polisi berpendapat jika pelaku pembunuhan adalah orang yang sama. Belum lagi waktu pembunuhan yang selalu sama, menambah kuat dugaan polisi tersebut.

Untuk kasus bunuh diri, polisi juga menemukan hal yang janggal. Bagaimana tidak janggal tidak setiap kasus pembunuhan selalu ada bagian tubuh yang hilang dengan cara tidak wajar. Seperti kasus yang terjadi beberapa minggu yang lalu saat seorang anggota DPR yang kebetulan anak dari teman ayahku tewas gantung diri pada trails jendela rumahnya. Telinga kanan orang itu hilang, seperti bekas terpotong atau tergunting. Sangat janggal mengingat bagaimana bisa orang yang bunuh diri masih sempat memotong telinganya. Namun, polisi bodoh itu bersikeras menetapkan kasus tersebut sebagai kasus bunuh diri. Ah mungkin kota ini butuh seorang detektif untuk mengusut berbagai kasus yang terjadi akhir-akhir ini. Aku sangat yakin jika ini bukan sekedar kasus bunuh diri, ada faktor kesengajaan. Ada orang yang memanipulasi sehingga dengan mudahnya polisi menduga bahwa korban telah melakukan aksi bunuh diri padahal korban telah dibunuh. Hebat sekali.

Namun, ada satu hal yang mengusikku. Sungguh aneh, dalam beberapa kasus bunuh diri, terkadang aku melihat gantungan kunci itu di dekat korban. Gantungan kunci itu disimpan tersembunyi hingga hanya aku yang dapat melihatnya. Si pelaku seperti sengaja menaruh gantungan kunci itu agar hanya aku yang dapat melihatnya. Tapi aku tidak mau memikirkannya terlalu dalam, aku yakin ini hanya kebetulan, atau ulah orang iseng.

Walaupun banyak kasus pembunuhan dan bunuh diri, aku tetap merasa beruntung. Tentu saja dengan kejadian ini banyak pundi rupiah yang masuk ke dalam dompetku. Tidak sedikit wartawan majalah kriminal datang dan membeli foto hasil bidikanku. Mereka rela mengeluarkan uang banyak agar mendapat foto bidikanku. Sedikit tidak adil memang, tapi inilah hidup. Terkadang kita harus memanfaatkan keadaan apapun untuk bisa bertahan hidup, bukan? Ya. Memang begitulah hidup.

Aku bergegas saat dirasa langit sudah mulai mendung. Kumasukan kamera pada tas dan kukalungkan di leher. Saat hendak pergi, mataku menatap sosok anak muda yang tengah memandangku tepat di samping motor milikku. Aku tau dia. Dia adalah seorang tukang rongsokan di kota ini, umurnya sekitar 19 tahun. Jika tidak salah namanya adalah Ridwan. Aku menatapnya kemudian tersenyum seraya menghampiri motorku. Diluar dugaan, Ridwan membalas tatapanku tajam.

“Setiap keburukan yang tersembunyi, lambat laun pasti terurai.” Ujarnya kemudian pergi. Aku memandangnya sampai hilang dalam tikungan. Mencoba memikirkan perkataannya namun tidak kutemukan maksudnya.

“Dasar, manusia aneh!” Gumamku. Tidak memikirkan lebih lanjut, aku naik ke atas motor kemudian mengendarainya menuju rumah.

Kubuka pintu dan mendapati keadaan rumah sepi seperti biasa. Aku menjatuhkan tubuh pada sofa panjang di ruang tengah. Tubuhku terasa pegal dan remuk. Akhir-akhir ini aku memang bekerja sangat keras. Kucoba memejamkan mata, mengusir rasa lelah.

Satu menit….
Dua menit….
Lima menit…

Tidak ada hal aneh yang kulalui. Suasana di sini begitu hening, tenang dan damai. Aku masih menikmati keheninganku sampai dirasanya ini mulai janggal. Terlalu hening untuk sebuah rumah kecil di tengah pemukiman warga. Aku membuka mata, namun yang kulihat adalah hal yang paling tidak ingin kulihat. Bayangan itu kembali hadir dalam benakku, nyata. Sebuah mimpi buruk yang terus menghantuiku beberapa tahun. Masih jelas dalam mataku, seorang anak laki-laki menyaksikan pembunuhan kedua orang tuanya oleh teman ayahnya demi uang. Tubuh anak itu terikat. Di hadapannya terlihat sang ayah tengah rapuh, tidak mampu lagi menyangga tubuh dengan kedua kakinya. Di sebelah kanan, ibunya tergeletak dengan mulut terbuka dan tubuh bersimbah darah.

Suara gelegak tawa menggema atas pembantaian sadis yang mereka lakukan. Anak itu menatap mereka satu persatu-persatu, orang yang telah membunuh ayah dan ibunya. Mereka masih terbahak diselingi alkohol dan rokok. Aku mencoba untuk bergerak, menghentikan apa yang akan mereka lakukan saat salah satu dari mereka mulai menembakkan peluru kedalam tempurung kepala ayahnya. Berusaha membuka ikatan anak itu, usahaku sia-sia. Aku tidak dapat berbuat apa-apa. Hanya bisa menyaksikan dan mendengar gelegak tawa mereka.

“Ayaaaaaaaaah!!!” Dan teriakan itu membangunkanku dari tidur kilat. Aku terbangun dengan peluh membasahi tubuh. Kuusap wajahku, kemudian menyingkirkan tas kamera yang tersimpan di atas dada.

Kusimpan tas kamera di meja, aku beranjak ke dapur untuk membuat kopi, berharap kopi dapat menghilangkan mimpi burukku untuk kesekian kalinya. Rumah ini merupakan kontrakan kecil sederhana. Hanya ada ruang tamu yang merangkap sebagai ruang tengah, dapur yang berdampingan dengan kamar mandi dan dua kamar di sini, satu kamar kujadikan kamar tidur dan satunya lagi adalah ruang cetak, tempat mencetak hasil bidikanku.

Kembali ke ruang tengah untuk mengambil tas kamera, berjalan ke dalam ruang cetak. Ruangan berukuran 3×4 meter dengan lampu seadanya. Sengaja aku tidak memasang lampu terang, aku lebih menyukai keremangan dan kegelapan, sama seperti kehidupanku. Sebagian foto hasil bidikan tergantung pada tempat yang disediakan, sebagian lagi menempel pada tembok di samping komputer. Aku melepaskan jaket setelah menyimpan kopi dan kamera di atas meja. Kuhempaskan tubuh di kursi, mulai mengeluarkan kamera dan memasang kabel USB. Kuperhatikan foto itu satu persatu. Terlihat foto seorang pria bernama Alam dengan 18 tusukan di tubuhnya, dia terbujur kaku dengan tubuh bersimbah darah, yang lebih mengerikan telinga dari pria itu hilang. Jelas ini merupakan kasus pembunuhan. Polisi menduga sang pembunuh adalah rekan kerja korban yang bernama Radit. Keningku berkerut saat mendengar namanya.

Radit?

Masuk akal, jika dihubungkan dengan gantungan kunci si pelaku yang tertinggal. Namun, sesaat kemudian aku menggeleng, tidak mungkin, lagi pula bukti yang dimiliki polisi tentangnya hanya sedikit, belum cukup membuktikan jika Radit seorang pembunuh, sangat tidak masuk akal jika Radit adalah tersangkanya. Kualihkan kursor untuk melihat foto selanjutnya, terlihat wajah seorang wanita dengan tubuh berlumur darah, wanita itu bernama Wanda, dia mati karena terlindas oleh truk, keadaannya tak kalah mengenaskan, tubuhnya terbujur kaku, tulang rahangnya hampir patah dan salah satu bola matanya hilang. Polisi menduga dia tidak tertabrak, melainkan dengan sengaja menabrakan diri di tengah jalan. Haha polisi bodoh! Jelas-jelas wanita itu sengaja didorong oleh seseorang sebelum truk mendekat dan melindas tubunya. Aku masih terus memperhatikan hasil bidikan sampai akhirnya mataku terpaku pada sosok anak muda yang sedang menghadap kamera. Anak itu, anak yang sama dengan yang kutemui tadi. Ridwan.

Kuperhatikan foto-foto yang lain. Ridwan lagi, ini tidak mungkin, dalam semua foto Ridwan selalu tertangkap oleh lensa. Artinya anak itu selalu ada di lokasi kejadian saat proses evakuasi. Ini aneh sekali, mungkinkah anak itu….

Ridwan?

Selalu berada di lokasi kejadian?

Aku mencoba mengklik beberapa kali tanda plus di layar. Mencoba menzoom foto Ridwan. Aku menangkap sesuatu yang luput dari mata, tangan kanannya menggenggam sesuatu. Aku yakin, itu adalah gantungan kunci yang akhir-akhir ini selalu menjadi perhatian polisi. Tidak salah lagi, itu gantungan kunci yang selalu berada di lokasi kejadian.

Sialan tidak diragukan lagi, pasti anak itu…!!!

Aku segera berdiri, bersiap untuk meninggalkan tempat ini dan menemui Ridwan. Langkahku terhenti saat terdengar suara ponsel berdering. Kutatap layarnya kemudian menggeser tombol hijau.

“Hallo, Randy? Ini aku, Okta. Hari ini jadi bertemu? Aku sudah sampai di depan rumahmu. Cepatlah keluar, aku sudah pegal menunggumu.” Ucap Okta di seberang dengan suara yang terdengar ceria. Aku tersenyum miring mendengarnya.
“Oke.” Jawabku singkat. Aku mengambil jaket untuk dipakai, sampai tiba-tiba sesuatu terjatuh dari sakunya. Aku mengambilnya kemudian tersenyum.

“Jari telunjuk.” Gumamku. Sebuah bayangan kembali hadir dalam benak. Kejadian itu kembali memenuhi rongga kepalaku sampai membuatnya sakit. Bayangan ketika anak berumur tujuh tahun harus menyaksikan pembantaian keluargannya. Dengan jelas melihat dua mayat bersimbah darah dengan luka tusukan dan tembakan. Semuanya terasa jelas saat aku mengingat orang-orang yang melakukannya. Pembunuhan ini belum apa-apa mengingat keluarga mereka harus membayar mahal atas perbuatan yang mereka lakukan terhadap keluargaku. Ini harus dibayar tuntas, tidak usah membalas dendam pada para pelaku, cukup membalaskan dendam kepada anak-anak mereka dan itu cukup memuaskan. Aku tersenyum miring, membayangkan satu orang lagi akan jatuh ke dalam tanganku. Pelahan, aku menaruh jari itu ke dalam toples yang berjejer dengan toples lain. Kulihat toples yang berisi potongan telinga.

“Sebentar lagi kau akan kedatangan teman baru.” Gumamku.
“Dan kau…” Kulihat foto Ridwan yang berada dalam layar komputer.
“Aku menyesal harus melakukan ini….”
“Tapi ini harga yang harus kau bayar karena telah mencampuri urusanku.” Menatap tajam foto Ridwan, aku mengepalkan kelima jariku.
“Kau pikir dapat membodohiku dan memberitau polisi dengan cara menduplikatkan gantungan kunciku yang yang tertinggal hm?”
“haha sayang sekali, kau masih perlu banyak belajar.” Tanganku bergerak cepat meraih pisau lipat dan menyelipkannya ke dalam tangan yang tertutup jaket.

“Tunggu sebentar lagi, setelah ini pasti giliranmu.” Ku elus bola matanya di layar komputer. Aku tersenyum lagi sambil melihat jejeran toples berisi organ tubuh manusia di samping komputer kemudian pergi ke ruang tengah, membukakan pintu untuk tamuku.

END

Cerpen Karangan: Tina Wiarsih
Blog: sangatbencicacing.blogspot.com
Tina Wiarsih seorang mahasiswa tingkat akhir Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah di UPI Bandung. Lahir di Bandung tanggal 29 Juni 1994. Hobi menulis dan membaca novel sejak duduk di bangku SMP. Perempuan yg saat ini aktif menulis di wattpad, bisa di temui di akun littlestaars.

Cerpen The Photograph merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Siska Si Anak Misterius

Oleh:
Aku, Fina, isma dan Rina pulang bersama sambil membicarakan murid baru bernama Siska. “eh, murid baru itu ngeselin tau! Diajak ngomong gak mau, diajak jajan bareng gak mau, maunya

Kayu Cemara

Oleh:
“Bram, Kita tinggal di dunia dimensi tiga, Aku, kamu, binatang, tumbuhan dan masih banyak lagi. Alam semesta kita terdiri dari berbagai macam dimensi. Empat, lima atau enam, entahlah..” Aku

Motor Hijau Kusam

Oleh:
“Bip, bip… bip, bip,” ku layangkan tanganku tepat di atas alarm yang berisik itu. “Oke, aku bangun,” kataku pada alarm itu seolah-olah alarm itu hidup. Saat ku lihat jam

Sudut Depan Lab Tik

Oleh:
Hari yang sangat cerah. Hampir semua siswa-sisiwi sedang beristirahat, dengan membeli makanan ke kantin. Berbeda dengan diriku, aku tidak membeli makan seperti yang lain. Aku hanya duduk di pinggir

Alter Ego

Oleh:
“Please save me.” hanya itu kata yang mampu aku ucapkan setiap kali aku dibuang dan disisihkan ‘lagi’ oleh manusia. Aku adalah seekor kucing berwarna jingga dengan bulu tebal dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “The Photograph”

  1. Jinchu says:

    Tulisan yang cukup rapi, penggambaran yang memikat, membuat pembaca seolah terhanyut dengan ceritanya. plus ada plot twistnya.
    satu karya yang cukup kaya.
    mantaps..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *