The Sad Flower

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 17 June 2017

Setelah selesai aku berziarah di pemakaman orangtuaku, aku melihat 2 orang terus berdiri di depan satu makam yang masih terlihat subur. Satu orang, pria parubaya dan satu lagi adik kecil, kira-kira dia berusia 3 tahun. Dari aku datang sampai selesai ziarah, mereka sama-sama tidak meninggalkan tempat ini. aku tahu perasaan mereka. aku jadi ingat sewaktu orangtuaku dikuburkan dan aku masih berdiri menunggu mereka bangkit dari kubur. Ah.. itu hal yang gila yang pernah aku lakui semasa hidup.

“ayo!! Pergi dari sini. Nei!!” bentak pria itu. Aku tertegun. Aku pikir dia cukup baik jika dikatakan sebagai ayah. Aku rasa pria itu bukan ayahnya. Adik kecil itu berontak tidak mau menuruti pinta pria itu. Dia terus merengek layaknya anak kecil. Aku sedikit kasihan padanya.
“ayo!” bentak pria itu lagi, sebut saja dia Pak jito. Adik kecil itu terus bertahan dalam posisinya. Dia menangis histeris. Aku semakin tidak tahan karena pak jito menarik paksa tangan adik itu. Dia jadi terseret ke tanah. Pak jito memang tidak punya hati ya! dia itu manusia atau iblis sih. Adik itu menggigit tangan pak jito dan berlari ke posisi awal.
“Nei!” ucap pak jito. Adik yang bernama Nei itu mendapat siksaan sengit dari pak jito. Dia mulai memukul anak yang tidak tahu apa-apa. Aku harus melakukan apa sekarang? Aku benar-benar tidak tahu.. oke! Aku harus berani!

“hei pak!!” ketusku
Pak jito dan Nei langsung menoleh ke sumber suara. “bapak siapanya adik ini ya?” tanyaku hati-hati padahal aku sudah menggeram.
“mau apa kamu?!” semprotnya.
Duh! Dia lebih kejam dari seorang nenek lampir. Aku balas dengan ucapan sedikit lembut, “anak kecil jangan diginiin, pak. Kasihan” ucapku.
“nggak usah ikut campur!” katanya lagi sembari menarik Nei dan meninggalkanku. aku menyerah. aku hanya bisa melihat Nei -si adik kecil yang malang- diseret sampai keluar pemakaman. Aku menghela nafas. Kalau aku polisi, akan kupenjarakan dia!

Aku menatap kuburan yang membuat Nei menangis dan tidak meninggalkan tempat itu. Nisan itu tertulis nama “MEYISKA PUTRI” itu pasti kakak Nei. Dia barusan meninggal hari ini. jika dia masih hidup, pasti dia seusia denganku. Aku menaburkan beberapa bunga di atas kuburannya lalu berdoa untuknya.

Aku merebahkan tubuhku di atas kasur. Hari yang melelahkan! Aku membiarkan mataku terpejam sampai akhirnya aku tertidur. Tak berapa lama, aku terbangun. Aku masih hidup kan? Maksudku ini bukan mimpi kan. Aku melihat ada orang yang duduk di sampingku. Tapi siapa? Tante? Tidak mungkin. Dia sedang menonton TV di luar. Lagipun kalau itu tante, untuk apa dia memperhatikan tidurku?
Aku menghela napas. Aku mungkin kelelahan sampai aku berhalusianasi yang tidak-tidak. Aku melanjutkan tidurku. Aku memang sangat lelah!

Di sekolah…
Aku baru teringat kejadian tadi malam. Seseorang yang duduk di sampingku dengan keadaan yang sangat sedih. Aku tidak sempat melihat wajahnya, dia pergi secepat kilat dalam satu kedipan mata. Sumpah! Aku penasaran siapa orang itu. saat aku menceritakan soal ini pada Shera, dia tidak percaya. Katanya aku salah lihat atau belum sadar 100 %. Yah.. mungkin saja.

Aku mengerjakan tugas sekolahku. Mungkin aku benar-benar kelelahan!! Sampai aku mendengar suara isak tangis di kamarku. Saat aku keluar kamar, suara itu tidak terdengar lagi. Benar! Suara itu berasal dari kamarku. Tangisannya begitu sedih sampai aku juga ingin menangis.
“apa kau yang menungguku saat aku bangun?” gumamku. Entahlah.. aku pun tidak tahu aku bicara pada siapa. Tapi.. suara itu berhenti. Wah! Ini tidak beres. Aku mencoba untuk tenang. Kata almarhumah mama, jika kita takut.. sesuatu itu pasti akan tampak! Aku tahu maksud mama.
“apa yang bisa aku bantu? Apa karena adikmu?” ucapku lagi. Aku tidak menyangka aku bisa mengucapkan itu. seseorang timbul dari dinding kamarku. Aku bengong menyaksikan ini. aku pasti akan pingsan sebentar lagi.
“jangan takuut… bantulah aku. kumohon. Aku tak akan tenang di alamku jika keinginanku belum terpenuhi. Ini penting.. kau harus temui pria paruh baya itu. dan bunuh dia! Dia sudah menyiksaku. Dan juga adikku!” katanya sembari menghilang dari dinding kamarku.

Aku sontak terbangun saat seseorang berteriak di telingaku. “shera?” gumamku. Ternyata dia yang membangunkanku.
“kau ini benar-benar kecapekan atau gimana? Kau tahu? Kau itu tidur di kelas, Ann! Untung aja guru sedang rapat” jelasnya.
Astaga.. sejak kapan aku tertidur? Dan.. mimpi itu. apa itu benar-benar mimpi atau memang terjadi? Arghh!! Ya Tuhan.. ada apa dengan aku ini. aku harus apa?
“hei!! Kau tidak mau pulang?” ucap Shera. Aku tercengir kemudian mengemasi buku-bukuku dan meninggalkan kelas. Kalau aku menceritakan ini pada shera, pasti akan sia-sia. Dia tidak akan percaya padaku dan akan mengatakan hal yang sama.
“kumohon..” kata seseorang. Aku menoleh ke Shera.
“kau mengatakan apa barusan?’ tanyaku. Shera justru menggeleng dan tidak menunjukkan kalau dia yang bicara tadi. ‘Halusinasi!’ Batinku.
“kumohon..” suara itu semakin terdengar lirih. Aku yakin bukan Shera yang bicara. Dia bahkan sudah naik bus.. Aku tidak menggubris hal aneh itu.
Sampai di rumah, aku langsung tertidur. Aneh sekali! Aku merasakan kantuk yang luar biasa.

Tlaang!! Aku terbangun seketika saat mendengar sendok jatuh. Ahh! Itu tanteku. aku terkejut melihat sosok itu lagi duduk di sampingku. Jujur! Aku tidak berbohong! Tapi dia menghilang dalam kedipan mata. Aku bangkit dan bersiap-siap menemui pria itu. aku sudah bosan diteror roh yang meminta bantuan padaku. well.. mungkin aku tidak membunuh pria itu.

Entah peta dari mana aku bisa menemukan pria yang kusebut sebagai pak jito itu. dia sedang memukuli Nei -adik kecil malang-.
Astaga! Keterlaluan sekali manusia satu itu! aku langsung menemuinya dan menarik tangan Nei. “hei kau! Mau apa kau di sini?” ketusnya.
Aku mencium gelagat aneh dari mulutnya. Dia ini pemabuk ya? aku meletakkan Nei tepat di belakangku. Akan kuhadapi manusia tidak beradab ini!
“anak kecil, kau mau ikut campur ya?” katanya lagi.
Aku benci dikatakan anak kecil! Aku langsung memukul keras pipinya dan menghantam perutnya dengan kakiku. Aku dan Nei pergi melarikan diri. Aku tahu dia sedang mengejarku. Aku terus berlari menggandeng Nei, Tapi saat di rel kereta api… TRAGIS!!!

Sumpah! Aku tidak membunuhnya! Dia tertabrak!! Aku sendiri tidak menyangka dia bisa tertabrak. Apa karena dia sedang mabuk? Semua orang berbondong-bondong melihat jasadnya. Aku takut. tadi sewaktu aku melihatnya ditabrak, dia terpental dan mengeluarkan banyak darah.
Nafasku terengah-engah. Aku pergi ke panti asuhan untuk menitipkan Nei di sana. Syukurlah.. keadaan sudah lebih baik.

Dari kejadian itu, aku tidak pernah lagi ditunggu Mey. Aku beridiri di pemakaman Mey. Tempatnya terasa sejuk dan damai. Mungkin keinginannya sudah terpenuhi. Aku berharap dia tenang di sana. Aku menaburkan bunga mawar putih di atasnya sebagai simbol perdamaian. Aku akhirnya meninggalkan pemakaman itu.

selesai

Cerpen Karangan: Sanniucha Putri
Facebook: Sanniucha Putri

Cerpen The Sad Flower merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Uniform

Oleh:
Seperti biasanya setiap sampai di sekolah semua mata tertuju padaku. Apa lagi hal yang lebih menarik dibanding seragam sekolahku yang penuh dengan jahitan. Mereka penasaran di bagian mana lagi

Perjalanan Yang Mendebarkan

Oleh:
Aku punya kembaran bernama Dhika. Dhika punya kemampuan melihat hal mistis atau gaib. Menurut kepercayaan mamaku, jikalau ada anak kembar pasti salah satunya pandai dengan hal mistis. Ketika itu,

Sang Pembunuh

Oleh:
“Hal yang paling kutakutkan di dunia ini ketika kematian menjemputku sedangkan aku tak sempat menyambutnya. Kupikir setelah sekian lama aku melupakan perasaan yang pernah menghantuiku telah sirna selamanya. Ternyata

Jejak di Lorong Sekolah

Oleh:
“Boy…” teriak Andi dari depan kelas “Apa, ndi? Kayaknya penting benar manggil gue” jawab Boy curiga “Lo tau nggak kalau nanti malam kita mau ada acara wisata malam sama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “The Sad Flower”

  1. Nindya Tarasari says:

    Lumayan bagus kok…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *