The Shadow

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 5 January 2016

Tetes air ke sepuluh. Aku melenguh. Menepi dari guyuran hujan. Hujan di bulan November ini membuatku cukup menggigil dan sial aku lupa membawa mantel. Tak ada pilihan lain selain menunggu hingga hujan reda. Sudah seminggu belakangan ini aku harus pulang larut. Mengerjakan tugas organisasi yang menumpuk dan beberapa tugas kelas. Walaupun jarak rumah dan kampus yang tak begitu jauh, tapi tetap saja jalanan tak seramai jalan protokol yang ada di pusat kota.

Di sini sepi. Nyaris tak ada kendaraan yang melintas di atas pukul 9 malam. Dan kepulanganku kali ini memaksaku terjebak dalam hujan yang berkepanjangan dan menunggunya sendiri di sebuah kios tua yang sudah tutup. Lampu temaram di sudut jalanlah yang masih setia menaungi jalan sepi ini. Aku tak bisa membayangkan jika lampu itu rusak atau mati, betapa mengerikannya jalan ini. Dengan sisi-sisi jalan dikelilingi semak belukar tanpa ada rumah penduduk sekali pun. Terlebih di tikungan tajam tempat lampu itu berdiri, memecah kesunyian sepi. Membagi penerangan menjadi dua sisi sama besar. Sebelum tikungan dan sesudah tikungan.

“Sial..” umpatku dalam hati tatkala melihat waktu telah menunjukkan pukul 11 malam, sementara hujan masih ingin terus menari.

Sudah berkali-kali aku menghubungi orang rumah untuk menjemputku. Namun nihil. Tak ada siapa pun yang mengangkat panggilan dariku. Sepertinya mereka semua sibuk dengan mimpi indah masing-masing. Tak ada cara lain, aku harus menembus hujan malam ini. Aku memutuskan untuk meninggalkan kios tua itu. Menyusuri jalanan sepi. Memecah hujan tanpa alat peneduh apa pun. Hanya lampu redup itu satu-satunya peneranganku saat ini.

Dengan tangan menggigil dan gigi yang bergemeletuk aku melawan dinginnya hujan. Sepatuku mulai terasa berat dengan air hujan yang mulai menyelinap masuk. Aku berhenti sejenak. Memeriksanya. Benar, sepatuku sudah terisi penuh dengan air hujan. Lengkap sudah. Aku tak mungkin melepas sepatu dan berjalan tanpa sepatu di aspal yang ku rasa sudah sedingin es ini. Tak ada pilihan lain selain berjalan dengan sepatu penuh air.

Glep glep..

“Jangan mati dulu.. jangan mati dulu..” kataku kepada kekosongan udara malam. Lampu redup di sudut jalan sudah memperlihatkan gerak-gerik untuk mati. Beberapa kali terlihat mati suri.

Mati menyala mati menyala. Aku mempercepat pergerakanku, tapi sepatu ini membebaniku. Darahku berdesir. Jantungku bergemuruh. Buluku seketika itu bangun dari tidur sesaatnya. Napasku menghambur kasar di udara. Tanganku semakin hebat bergetar. Kakiku tak bergerak sedikit pun. Bibirku terkatup rapat. Dan otakku mampat untuk memikirkan apa pun lagi. Jalanan kini gelap total. Lampu redup itu benar-benar mati. Dan aku tak punya alat penerangan apa pun. Mungkin hanya aku seorang yang berdiri di tengah jalan dengan ketakutan yang menggila. Napasku menderu. Nyaliku teradu. Telingaku mendadak berubah sangat sensitif.

Mendengar setiap pergerakan sekecil apa pun, suara sepelan apa pun. Bahkan desah angin yang ganjil pun menimbulkan curiga di batinku. Keringat dingin sudah tak terlihat lagi karena bercampur dengan hujan. Dan air mataku mulai meleleh. Cahaya temaram tiba-tiba muncul. Menjalar. Menerangi jalanan. Lampu di sudut kembali menyala. Tapi.. tak mengubah ketakutanku. Justru ketakutanku semakin menjadi. Napasku kembali beradu. Detak jantungku tak karuan, seperti genderang yang sedang ditabuh. Bulu-buluku semuanya berdiri tegak dan akhirnya layu kembali ketika melihat sesosok bayangan di seberang tikungan.

“Apakah ada orang?” tanyaku berharap ada seseorang yang datang.
Tak ada jawaban. Oke, mungkin dia tidak mendengar suaraku. Aku mengulanginya sekali lagi. “Apakah ada orang di sana?”

Nihil. Hanya suara titik-titik hujan yang terdengar. Ketakutanku mulai tak keruan. Bayangan di seberang tikungan itu masih berdiri di sana. Terpaku. Seolah dia sedang mengintaiku. Dan aku mulai tersudut. Bergerak maju berarti berhadapan dengan sosok itu. Sosok yang bahkan aku tak tahu wujudnya. Atau mundur tapi entah menuju ke mana. Situasi ini benar-benar sulit, dan sial.. otakku mampat untuk memikirkan penyelamatan diri karena rasa takutku melihat sosok itu.

Tak ada cara lain lagi, aku mulai mundur perlahan. Namun, sosok itu terlihat lebih mengerikan. Dia mengangkat tangan. Tangan kanannya seperti tengah memegang sesuatu. Seperti kapak. Dan ya Tuhan.. dia mendekat ke arahku. Aku tak mampu lagi mengungkapkan bagaimana bergetarnya tubuhku saat itu. Antara mengigil karena kedinginan dan ketakutan karena melihat sosok itu. Batinku terasa terguncang. Napasku mulai satu-satu. Darahku berdesir, dan nadiku berpacu sangat cepat. Aku menggengam satu-satunya alat yang mungkin dapat melindungiku dari kemungkinan sosok tersebut. Aku hanya membawa tas jinjing. Mungkin bisa ku lemparkan kepadanya nanti. Entahlah, siapa dia? Manusia?

Jantungku bertabuh sangat cepat. Tak dapat ku gambarkan bagaimana jalanan sunyi itu hanya berisi aku dan dia di bawah naungan cahaya temaram lampu jalan dan dihiasi semak belukar yang selalu bergerak tertiup angin. Bahkan aku tak tahu ada apa di balik semak belukar tebal nan tinggi di samping kanan dan kiri jalan. Aku terus mundur dengan was-was. Mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang masih ada. Namun, semakin aku menjauhinya, bayangan itu semakin mendekatiku.

Tak tampak ada seorang pun pemilik bayangan itu. Hanya bayangan. Ya, bayangan hitam kelam di bawah naungan lampu jalanan yang temaram. Lagi-lagi ketakutanku mulai menggila. Sepertinya jarak kami mulai dekat. Dan aku sudah tak tahu harus mundur lagi atau menghadapinya dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Mungkin saja, dia akan membunuhku dengan kapak di genggamannya. Atau mungkin saja, dia akan membawaku ke alam lain. Menyanderaku.

Dia terus mendekatiku. Kini dia berdiri tepat di bawah lampu. Tak ada seorang pun di sana. Dan oh Tuhan.. dia memang hanya sebuah bayangan tanpa wujud sama sekali. Mungkinkah dia bukan manusia? Mendadak darahku kembali berdesir. Napasku mulai terasa berat. Hujan mulai reda. Menambah kesunyian malam ini. Refleks, aku mundur dan mengangkat tanganku. Berteriak sekencang-kencangnya. “Tolooooonggg!! selamatkan aku!!” kataku sembari memejamkan mata, tidak ingin melihat bagaimana sosok itu akan mencincangku nanti.

Bruk!

Sepertinya aku menabrak seseorang. Aku membuka mataku. Bayangan itu tak lagi memiliki jarak denganku. Bayangan itu tepat berada di depanku, di bawahku, ketika aku berada cukup jauh dari lampu di sudut jalan. Dan aku membalikkan badan. Melihat seseorang yang ku tabrak. Apakah dia manusia? Atau pemilik bayangan itu?

Cerpen Karangan: Rizka Ayu Damayanti
Blog: http://rizkaayud.blogspot.co.id
Gadis kelahiran Rembang, 5 September 1997. Sekarang sedang sibuk menganalisis data dan menghitung angka, berusaha menjadi seorang statistisi yang gemar menulis.

Cerpen The Shadow merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lisa

Oleh:
Berat rasanya tubuh ini bangun di pagi hari kerena aktivitas yang melelahkan yang kulakukan di sekolah. Aku bergegas mandi dan berkemas untuk melanjutkan aktivitasku yang biasanya. Sampai di sekolah

Pria Berjubah Hitam

Oleh:
Pagi itu, ku rasa aku adalah orang yang pertama datang ke sekolah. Dan ku rasa tiada siapa-siapa yang ada di situ selain satpam. Ku Tanya satapam itu. “pak, kok

Midnight Clown (Part 2)

Oleh:
Mengapa aku tidak bisa melihat masa lalu dan masa depanku sendiri, lantas buat apa Tuhan memberikanku suatu kelebihan, jika aku tidak bisa menolong diriku sendiri, pikiranku pun masih terbang

Shadow

Oleh:
Libur panjang telah tiba. Aku membuka jendela kamarku lebar-lebar dan menikmati aroma pagi yang kesegarannya merasuk ke seluruh tubuhku. Aku merebahkan tubuhku ke kasur seraya menikmati cahaya mentari yang

Mimpi

Oleh:
Jum’at pagi, aku pergi. Sekedar berjalan-jalan iseng menghampiri bengkel milikmu, dan mengantar sarapan untuk sekedar alasan menemuimu. Bengkel kecil yang katanya laris dan terletak di pojok perumahan ini. Aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *