The White Doll

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 3 May 2018

Siang itu tak lagi menyenangkan bagi mila, pasalnya keluarga mila akan pindah ke daerah desa di pinggir kota. Karena perusahaan papanya bangkrut dan mengharuskan mereka menjual rumah. Walau jarak desa dan kota tidak jauh, hanya menempuh jarak tiga jam. Tapi tetap saja mila merasa berat hati untuk pindah. Apalagi di desa yang katanya sepi, tidak ada tempat hang-out, jauh kalau mau berangkat sekolah dan masih banyak lagi hal yang membuat mila bertambah lesu dan murung.

“kamu kenapa sih mila cemberut aja?” tanya mama pada mila. Sembari merangkul mila mamanya menunjuk tasya (adik mila) yang tampak semangat dan ceria sambil berkata
“liat tuh! adik kamu Dia seneng kita pindah. Di desa kaan, udaranya segar sayang.”
Mila hanya terdiam sambil menoleh ke arah lain.

Dalam perjalanan, melihat mobil sudah memasuki daerah pedesaan melewati jalan berbatu dan di sekeliling terlihat pohon-pohon besar. Yang membuat daerah tersebut agak sedikit gelap dan seram. Tak lama setelah melihat pepohonan, dan rumah tiap penduduk yang jaraknya berjauhan. Tibalah mila dan keluarganya di depan sebuah rumah tua dan besar dengan bernuansa kuno seperti peninggalan rumah zaman belanda. Mila menginjakkan kakinya di halaman rumah, yang terlihat begitu seram seperti sarang hantu. Ia melihat sekeliling terdapat sebuah ayunan di halaman depan. Tak jauh dari sana ada air mancur hiasan tua yang berbentuk peri kecil bersayap.

“Mila kamu sedang apa? Ayo masuk.” sahut papa dari dalam.
“Iya pa. Bentar”

Saat ingin melangkahkan kakinya, mila melihat sebuah boneka di atas ayunan. Yang anehnya dari boneka tersebut, semuanya berwarna putih. Dari rambutnya, wajah, tubuh bahkan sampai bola matanya berwarna putih. Melihat boneka itu, bulu kuduk mila merinding dan secepat kilat mila membuang boneka tersebut kesemak-semak.

“Mila, kamar kamu dan tasya ada di atas ya. Rumah ini sangat besar sama seperti rumah kita yang di kota. Jadi kamu dan tasya punya kamar masing-masing.”
“Pah. rumah ini seram banget. Mila sama tasya sekamar aja deh!”
“Gak mau ah!! Tasya pengen tidur sendiri, lagian kak mila kan udah gede. Masa di temenin anak kecil sih boboknya ha..ha..” ledek tasya pada mila.
“Ya udah kalau gak mau, awas ya kamu. Kalau minta temenin sama aku. Huhh..”

Mila berjalan perlahan menaiki tangga menuju kamarnya. Sesampainya di lantai dua tepat di depan pintu kamar yang akan mila tempati ia sedikit ragu untuk membuka pintu kamar tersebut. Tiba-tiba mila mendengar suara anak perempuan tertawa, ia pun melihat sekeliling tetapi tidak ada siapa-siapa. Dengan wajah ketakutan ia langsung masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu.

“Sayang makan malamnya sudah siap. Mila, tasya turun sayang”
“Iya Mama”
“nih. mama masakin makanan kesukaan kamu. biar gak ngambek lagi”

Betapa terkejutnya mila, ternyata makanan yang diberikan mamanya berubah menjadi belatung. Dan saat ia melihat pada papa, mama dan adiknya, ternyata itu bukan lagi sosok keluarganya. melainkan hantu seorang wanita, lelaki paruh baya, dan seorang anak perempuan yang bentuknya sangat menyeramkan.
“Hhaaaah”

“Ya ampun sayang kamu kenapa? Kamu mimpi apa nak? Sampai keringatan begini.”
“Mama? Ini beneran mama kan?”
“Iya ini mama. Memangnya siapa lagi? Kamu kenapa sih mil?
“Enggak. Mila enggak kenapa-kenapa kok ma”

Begitulah semenjak mila tinggal di rumah tersebut banyak kejadian aneh dan menyeramkan. Malam-malam berikutnya pun mila dan keluarganya sering diterror oleh hantu penunggu rumah tersebut.

Suatu pagi, mila melihat adiknya tasya sedang bicara sendiri di ayunan. Karena merasa khawatir mila mendekati tasya. Mila kaget! melihat tasya sedang memegang boneka putih yang ia temukan pada saat pertama kali tiba di rumah itu. Langkah mila pun terhenti seketika, keringatnya bercucuran dan mukanya terlihat pucat. Padahal ia yakin, bahwa boneka itu sudah dibuangnya jauh ke semak-semak. Tapi mengapa sekarang boneka itu ada pada tasya? Itulah pertanyaan yang melayang-layang di kepala mila. Mila akhirya berlari menuju ke tempat tasya dan mengambil boneka itu dengan paksa. Lalu mila pergi ke belakang rumah dan melemparkan boneka itu ke dalam sumur tua.

Siang telah berganti dengan langit malam dengan sedikit cahaya bintang, sinar bulan tidak begitu terang karena terhalang oleh awan. Mila tampak sedikit depresi sebab mengalami kejadian yang diluar nalar logika. Ia mengurung diri di kamar.

Tepat pukul 21.45 pintu lemari mila terbuka dan tertutup sendiri. Mila terbangun sontak berlari keluar dan mengetuk pintu kamar tasya, tetapi tidak ada jawaban. Tanpa berfikir lama mila berlari ke bawah menuju kamar papa dan mamanya. Pintu kamar mereka tidak terkunci malah terbuka lebar, mila langsung masuk tetapi tidak ada siapa-siapa.

“Pa… Ma.. kalian di mana? Jangan becanda dong! Mila takut nih”
“kak main sama aku yuk!” terdengar suara misterius, asalnya dari lorong yang menuju ke arah dapur. Mila keluar dari kamar orangtuanya, ia melihat sosok bayangan putih melintas di ruang tamu. Mila pergi mengecek barangkali itu mama atau papanya. Lagi-lagi tidak ada siapa-siapa. Mila menangis ketakutan dan memanggil-manggil papa dan mamanya.

Tiba-tiba pundak mila seperti ada yang memegang, tangisnya semakin menjadi-jadi dan tidak berani menoleh ke belakang.
“Mila kamu kenapa sayang?”
“Mama.. Papa..” mila langsung memeluk erat mamanya.
“Mila takut ma, rumah ini ada hantunya kita pindah aja dari sini. mila udah gak tahan”
“kamu bicara apa sih mil? Jangan kayak anak kecil deh, itu mungkin perasaan kamu aja”
“Enggak ma. BENERAN!! Tadi siang, mila lihat tasya ngomong sendiri. Terus boneka serem yang udah mila buang bisa balik lagi, dan barusan pintu lemari mila terbuka-tertutup sendiri.”

Mama mengelus kepala mila dengan lembut dan menenangkan mila sambil duduk di sofa ruang tamu. Papa mila langsung menuju ke kamar untuk istirahat.
“Mama dan papa sebenarnya dari mana sih? Mila panik nyariin papa sama mama.”
“Mama sama papa tadi pergi ke kota. Abisnya kamu ngurung diri di kamar terus. Jadi kami pergi saja, tapi mama udah niggalin pesan sama tasya kok! kalau kamu nanyain.”

Keesokan paginya mila tidak melihat seorang pun di rumah, padahal ia sudah berkeliling kesana kemari tetapi tidak melihat papa, mama, dan adiknya. Terpaksa mila harus berangkat sekolah sendiri tanpa diantar papanya. Mila harus berjalan kaki sekitar lima menit untuk sampai ke jalan raya agar bisa menaiki kendaraan umum. Dalam perjalanan ia bertemu kakaek-kakek sedang membopong sebuah karung lusuh yang berisi rumput dan membawa sabit.

“Pagi neng” sapa lelaki tua itu
“ya, pagi kek”
“Eneng yang tinggal di rumah tua yang besar itu ya?”
“Iya. Emangnya kenapa kek?”
“tidak ada apa-apa. Hati-hati aja ya neng”
lelaki tua itu terus berjalan tanpa memberi tahu alasannya. Mila bertambah bingung dan merasa ketakutan, ia mempercepat langkah kakinya.

Sampai di sekolah, ia masih memikirkan kata-kata si kakek tua tadi dan teringat semua kejadian aneh yang ia alami. Mila membulatkan tekadnya untuk meyakinkan papa dan mamanya agar pindah dari tempat itu. Rasanya mila tidak ingin kembali ke tempat yang menyeramkan itu, namun ia teringat dengan papa dan mamanya serta adiknya yang masih kecil.

Mila memberanikan diri untuk kembali ke rumah dengan segala ketakutan yang masih membayang. Dalam perjalanan pulang setelah turun dari bus, mila memasuki jalan kecil yang berbatu menuju rumahnya. Di balik pepohonan, ia melihat seorang wanita dengan wajah pucat menyeramkan dengan baju yang berlumuran darah. Langkah mila terhenti. lalu berpaling dan menutup mata dengan kedua telapak tangannya yang halus. Saat ia melihat kembali ke arah pohon tersebut, sosok itu tidak lagi ada di sana.

Setelah sampai di depan rumah, mila melihat adiknya di balkon lantai dua.
“Tasyaa. kakak pulang”
Mila melambaikan tanganya pada tasya, namun tasya tampak tidak mengacuhkannya. Alangkah terkejutnya mila melihat tasya yang ingin melompat dari balkon, ditambah lagi tasya sedang memegang boneka putih terkutuk itu lagi. Mila berusaha memanggil tasya tapi tetap saja, tasya sepertinya tidak mendegarkan sahutan mila. Mila lari sekencang-kencangnya ke dalam rumah untuk pergi ke lantai dua. Tepat di depan pintu masuk, mamanya berdiri seoalah-olah tidak terjadi apa-apa.

“Ma.. tasya ma”
“Ada apa dengan tasya? jawab sang mama dengan tenang dan dingin”
“Tasya mau melopat dari balkon lantai dua Mah!!”
“Seperti ini.”
Mama mila mengangkat pisau setinggi mungkin, dan menusukkannya ke perutnya sendiri.
“Aaaaaaarrrgghhhh”

Mila kaget dan berteriak, melihat tubuh sang mama telah kaku dan berlumuran darah. Ia langsung teringat pada tasya adiknya. Lalu ia pun berlari menuju lantai dua. Setibanya disana mila tidak melihat adiknya, mila lihat ke bawah juga tidak ada siapapun.

“Tasyaaa.. tass… di mana kamu dek?”
Sambil menangis tersedu-sedu mila memangil adiknya. Tak berapa lama berselang, terlihat mobil papanya datang. Mila langsung berteriak memanggil papanya dan berlari ke bawah. sembari menagis ia tetap berlari. Di pintu, mila tidak melihat jasad mamanya tetapi ia tetap saja berlari dengan perasaan takut, bingung, juga sedih semua campur aduk menjadi satu.

“Papa.. mila takut pa” mila langsung memeluk papanya. Tetapi papanya hanya diam membisu, mila melepaskan pelukannya dan menceritakan apa yang terjadi.
“Tadi, mila melihat tasya mau melompat dari atas, terus waktu mila cari-cari tasya kesana-kemari tasyanya gak ada pa.”

Papanya tetap diam dan dingin. Tatapanya kosong. Mila tetap bercerita dengan panik tanpa celah sedikitpun.
“Dan diwaktu yang sama, mila melihat mama bunuh diri. Tapi jasadnya gak ada juga pa!! semenjak kita pindah ke rumah ini, dan mila menemukan boneka terkutuk itu semuanya jadi kacau.”

“Maksud kamu BONEKA INII” papa mila memperlihatkan boneka putih yang sama persis yang selama ini mila lihat.
“Ppaah.. d..dd dari mana papa dapat boneka itu?” mila bertanya sambil terbata-bata
“INI BONEKA milik kamu. Harus kamu bawa sampai MATI”

Mila kaget dan langsung berlari, tanpa ia sadari tiba-tiba kakinya tersandung sesuatu dan ia terjatuh kesebuah ruang rahasia bawah tanah. Disana sangat gelap dan mila sulit untuk melihat. Ia meraba-raba dan menekan tombol, kemudian lampu yang sedikit redup menyala. Mila berteriak karena melihat sang papa sudah ada di depan mata, dan memegang pisau di tanganya. Lalu pisau itu ditusukkan tepat ke jantung mila dan ditangan mila diletakkan BONEKA PUTIH tersebut. Boneka itu sedang TERSENYUM.

THE END

Cerpen Karangan: Sri Maryati
Facebook: Sri Maryati
cuma seseorang yang baru belajar dan tulisannya bisa bermanfaat buat orang lain

Cerpen The White Doll merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hantu Jembatan

Oleh:
Dulu aku pernah bekerja di sebuah pabrik tekstil. Aku bekerja di sana bersama temanku tapi beda kampung. dulu di pabrik tersebut sangat tersohor keangkerannya hingga seorang mandor di len

Aira’s Curse: Terrors of Shoes

Oleh:
“Bayu tewas!”, ucap Pak Doni menyeka air matanya yang mulai menetes di balik kaca matanya. Intan dan Ramon kaget dan tak percaya akan semua kenyataan ini. Lelaki tambun dan

Deadly Wishing Stairs

Oleh:
Namaku Sheila, dan aku mempunyai sahabat namanya Lian. Sebenarnya kami sudah bersahabat cukup lama sampai SMA kelas 2 sekarang. Namun, sialnya kami menyukai satu cowok yang sama. Aku merahasiakannya

Dark Peak

Oleh:
Kepindahan keluargaku kali ini benar-benar membuatku kesal. Ya. Keluargaku memang seperti manusia goa yang hidup nomaden. Berpindah dari kota satu ke kota lainnya. Tapi kali ini, Dad dan Mom

Cermin Pembawa Petaka

Oleh:
Malam itu Sisi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dan ketika itu ada nenek tua yang menyeberang jalan. Mobil yang Sisi gunakan menyerempet nenek itu dan mobilnya pun berhenti. Sssttt..

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

6 responses to “The White Doll”

  1. Malika Sekar R. says:

    Hiiii serammmmmmm, merinding nih jadinya

  2. Bitha Cute says:

    Banyak bunuh-bunuhnya sih , tapi nice like it keep writing!

  3. Sri M says:

    thanks ya yg udah baca

  4. Seram banget…
    Suka deh jadinya

  5. aathaliee says:

    swerem lur

  6. Fathia Salsabila says:

    Bagus kak cerpen nya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *