Time Ghost (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 19 November 2016

Darahku terasa memanas. Bulu kudukku berdiri. Tengkukku merinding dingin. Dalam lembar buku itu tertulis bahwa sekolah ini dulunya bukanlah sekolah manusia, melainkan asrama para setan. Dan memang benar apa kata Helmi, setan-setan itu tidak suka ada suara detik jam. Jika sampai ada suara detik jam maka mereka akan ke luar dan berusaha menghilangkan bunyi detik itu dari dalam gedung ini. Namun dikisahkan bahwa para setan tidak mampu merusak segala bentuk jam. Sebagai gantinya, mereka akan menyembunyikan jam-jam itu di tempat tertutup agar tak ada yang bisa mendengar suara detik.
Jadi benar yang mengambil jam-jam kami bukan Helmi, tapi para setan itu. Dadaku memanas menahan buncahan amarah pada diriku sendiri yang tidak mau mempercayainya sejak awal.
“Kalian harus baca buku ini!” seruku mantap sembari menyerahkan buku kuno itu kepada teman-teman. Dengan antusias, mereka berebut membaca seperti semut-semut yang berebut gula.
“Kamu juga harus membaca ini” kata Tika.
Aku menoleh padanya. Selembar kertas, seperti surat. Mungkin dari Helmi. Dengan perasaan yang masih tak karuan aku membuka perlahan surat itu.

“Ada yang melihat Helmi?!” tanyaku dengan volume suara yang sengaja kuperkuat. Berharap ada yang menjawab ‘ya’, ‘Helmi baik-baik saja’. Tapi nyatanya, semua temanku menggeleng tak tahu.
Aku merogoh saku celanaku, mengambil handphone. Pukul 00.37, ini sudah lebih tengah malam! Mendadak dadaku kembali terasa panas dan sesak.
“Kita harus mencari Helmi! Sekarang!” seruku lantang.
“Apa yang dia katakan di surat itu?” tanya pak Joko.
Tanpa banyak bicara kuserahkan surat dari Helmi. Pak Joko spontan dikerumuni anak-anak yang lain. Mereka berebut membaca surat Helmi.
Selesai membaca, tampak mimik muka beberapa anak berubah penuh rasa bersalah. Wajah mereka yang sejak tadi pagi penuh kebencian, perlahan melembut.
“Sepertinya bapak tahu dimana tempat tersembunyi yang dimaksud Helmi” Pak Joko memecah keheningan. Aku segera menaruh harapan besar. Dengan sigap, Pak Joko berjalan ke luar ruang kelas IXA diikuti aku, Tika, lalu teman-teman yang lainnya. Suasana menjadi panas. Kami segerombolan manusia, berdesak-desakan, berusaha berjalan tepat di belakang Pak Joko. Kami berjalan cepat, Pak Joko membawa kami ke halaman belakang sekolah.
“Itu tempat yang misterius dan tersembunyi yang bapak tahu” kata Pak Joko sambil menunjuk ke arah rumah gubuk kecil di sebelah pohon mangga.
Aku mengernyit heran. Memang benar misterius, tapi… Apa disana ya…
“Ambil kunci inggris di gudang!” perintahnya.
Beberapa anak saling menyuruh. Lalu 3 anak laki-laki berlari menuju gudang. Tak berapa lama, mereka kembali dengan benda yang diminta Pak Joko.

Pak guru kami itu kembali beraksi. Dia berusaha mencongkel pintu. Satu kali, dua kali, tiga kali, gagal. Congkelan ke-empat, pintu berhasil terbuka. Pak Joko membukanya kasar.

~ KOSONG ~

Sial! Bukan ini tempatnya. Tak ada apapun disini. Mungkin ruang ini hanya semacam gudang yang terlupakan dan tidak terpakai lagi. Di dasar lantai, ada beberapa genangan air. Pak Joko menyenteri sudut-sudut ruangan. Banyak sarang laba-laba dan barang-barang disini tampak amat sangat kotor.
“Bagaimana ini??” Tika panik. Ada sebersit rasa cemburu menyelinap dalam dadaku, entah mengapa. Padahal aku tahu bahwa selama ini Tika dan Helmi memang cukup akrab. Akh! Bukan saatnya berfikir konyol. Ini saat genting, aku harus menyelamatkan Helmi.

Tiba-tiba ingatanku terlempar pada masa dimana aku dan Helmi masih menjadi murid kelas satu. Saat itu aku menganggap Helmi agak aneh karena dia suka bercerita tentang hantu-hantu di sekolah ini. Helmi tahu banyak, katanya kakek Helmi dulunya adalah penjaga sekolah. Sehingga dia sering mendengar cerita hantu di sekolah ini dari kakeknya.
Aku teringat ucapan Helmi tentang sebuah ruang misterius di sekolah ini.
“Ada sebuah ruangan yang belum pernah kakek masuki. Ruang itu memang ditutup, digembok, dan dirantai sejak dulu. Tak ada yang berani membuka. Bahkan kakek yang terkenal pemberani itu juga nggak berani, loh!”

“Kamar mandi guru!” kataku spontan.
Pak Joko menatapku heran. Matanya menyipit, tampak berpikir.
“Aku ingat kata Helmi ada sebuah kamar mandi guru yang digembok dan dirantai besi karena tak ada yang boleh membukanya”
Pak Joko mengangguk. “Tapi kamar mandi itu memang sangat dilarang untuk dibuka”
“Demi Helmi!” seruku tidak sabar.
“Tapi_”
“Ini demi sebuah nyawa manusia, Pak! Kita harus kesana!” tambah Tika.
“Kalau Helmi sudah kesana, berarti tempat itu sudah terbuka” kataku. Pak Joko, Tika, dan yang lain mengangguk setuju.
“Cerdas!” Pak Joko mengacak rambut di kepalaku pelan. Lalu dia barlari kembali ke gedung sekolah. Aku dan yang lainnya mengekor di belakang beliau.

Ruang guru kami memiliki ruang khusus yang luas, hampir seperti aula. Jarang sekali ada murid yang masuk ke ruang guru. Ini saja baru kali ke-tiga aku masuk ruang guru, selama masa sekolahku yang sudah 3 tahun lamanya.
“Kesini!” komando Pak Joko. Kami berbelok kekanan, menuju sebuah lorong berlampu remang-remang. Di kanan-kiri lorong ada banyak pintu bertuliskan ‘TOILET’. Pak Joko terus berjalan menuju ujung lorong. Benar saja, disana ada sebuah pintu bercat putih yang terlihat tua dan pudar warnanya. Pegangan pintu itu terantai dengan gembok besar. Sama sekali belum terbuka dan tidak ada tanda-tanda seseorang pernah mencoba membukanya.
“Helmi belum kesini, dia tidak kesini” kata Pak Joko melihat semuanya masih rapi.
“Kita cari ke tempat lain” pak Joko berbalik. Tapi naluriku mengatakan Helmi ada di dalam sana.
“Tunggu, Pak!” cegahku. “Setan, hantu, dedemit, atau apalah namanya. Bukannya mereka memiliki kekuatan ghaib? Bisa saja, setelah Helmi masuk mereka menggembok pintu ini seperti semula”
Pak Joko berpikir sebentar, kemudian mengangguk. “Ya, benar juga” katanya. Guru kami itu menatap sekitar seratus orang muridnya yang menunggu tak sabar. Yang rela berdesakan demi mencari orang yang telah mereka fitnah dengan begitu kejamnya, Helmi.
“Siapa yang mau mengambil kapak di sebelah ruang kepala sekolah?” tanya Pak Joko.
Hening. Tak ada satu pun yang tampak berminat. Gudang di sebelah ruang kepala sekolah memang terkenal angker. Apalagi ini sudah lewat tengah malam.
“Biar aku saja!” aku memutuskan. Tak ada waktu untuk takut dan jadi pengecut lagi.
“Kamu sendiri?”
“Aku mau menemani” sahut Tika. Aku menoleh dan tersenyum. Tika menepuk bahuku. “Kita bersama”
Aku mengangguk. “Ayo!”

Aku dan Tika menembus gerombolan teman-teman yang menatap kami. Dengan langkah cepat kami ke luar dari ruang guru. menuju gedung depan, tempat ruang kepala sekolah berada. Sekolah terlihat sangat gelap. Beberapa kali aku dan Tika tidak sengaja menabrak pot-pot dan guci bunga yang berjejer menghias ruang demi ruang. Kami tak peduli, tekad kami sudah bulat.
“Gelap, aku enggak bisa melihat dimana kapaknya!” kataku bingung sambil meraba-raba ruang kecil yang dimaksud Pak Joko.
“Kita cari bersama” usul Tika.
Aku terus meraba-raba dalam kegelapan. Tika juga melakukan hal yang sama. Ada banyak perkakas di tempat ini. Buku-buku tebal, dan alat-alat lainnya. Tanganku juga merasakan adanya kotoran dan debu. Sendok, piring, sepatu berdebu, kursi, almari besi, dan akhirnya…
“Aghkk!” teriakku spontan, perih. Mungkin aku terlalu kasar mencari. Sebuah benda tajam melukai pergelangan tangan kananku.
“Anggit! Kenapa kamu??” suara Tika terdengar panik.
“Aku menemukan kapaknya”
“Oke, bagus! Ayo ke luar” Tika berlari ke arah pintu yang sedikit lebih terang daripada ruang pengap ini.
Aku membawa kapak dengan tangan kiri. Berat juga, kapak ini besar. Aku melirik tangan kananku yang mengucurkan darah dalam kegelapan. Benar-benar perih rasanya, tapi aku harus bertahan. Tika tidak tahu keadaan tanganku yang sebenarnya.
Kami kembali meraba-raba, berharap bisa melangkah lebih cepat tapi keterbatasan cahaya menghalangi langkah kami. Aku tahu, mungkin besok pagi saat semua kembali terang akan ada banyak darah berceceran di lantai dan menempel mengotori tembok.

Setelah berjalan beberapa lama dalam kegelapan akhirnya kami sampai ke ruang guru yang terang. Tanpa di komando aku dan Tika kompak berlari cepat. Begitu melihat kami, teman-teman membuka jalan. Kudengar, anak-anak perempuan menjerit histeris melihat darah menetes dari tangan kananku.
“Ini kapaknya!” aku menyerahkan kapak kepada Pak Joko dengan tangan kiri. Pak Joko terlihat heran juga. Dia memiringkan badan dan kepalanya berusaha melihat tangan kananku yang kusembunyikan di belakang punggung. Aku menatap Pak Joko dan berjalan mundur selangkah sembari berkata “tak ada apa-apa”.
Pak Joko diam, dia sepertinya percaya karena setelah itu Pak Joko meraih kapaknya dan dengan sigap mengayunkan kapak itu ke arah gembok yang membelenggu pintu toilet.
PRAAKK…! Gembok terbuka, terjatuh di lantai.
PRAKK! Suara rantai yang terkena kapak. PRAKK! PRAAKK! Rantai besi yang besar itu jatuh berantakan di lantai.
Pak Joko melempar kapak ke pojok tembok lalu memutar gagang pintu cepat. Spontan, aku berjalan mendekat berusaha melihat ke dalam. Pak Joko segera menyenteri ruang toilet yang sudah lama tidak dibuka itu.
“ASTAGA! Helmi…!”
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaa!!”
Beberapa anak perempuan yang melihat ke dalam toilet menjerit histeris. Mereka secara reflek menutup mata dan wajah mereka dengan telapak tangan dan berjalan mundur tak sanggup melihat.
Aku hanya bisa diam membeku, rasanya kepalaku berputar. Aku berpegangan pada lengan Pak Joko. Tak kupedulikan lagi darah yang terus mengalir mengotori baju guruku itu. Kulihat, Tika sudah menangis di balik punggung Pak Joko.

Semuanya sudah terungkap. Semua jam tangan ada di sini. Ada puluhan atau bahkan mungkin ratusan! Semuanya menumpuk, berserakan. Ada yang menggantung di langit-langit tolilet, menempel di dinding, tergeletak di lantai, memenuhi bak mandi dan WC. Bermacam-macam dan penuh warna. Jam dinding, jam tangan, jam weker, jam lonceng, banyak sekali. Dan semua jam itu berdetik bersamaan. Paduan suaranya memekakkan telinga. Terdengar begitu kompak namun berisik.
Di antara semua jam yang berserakan, di antara detik-detik jam yang bagaikan irama kematian itu, sesosok manusia yang amat sangat kukenali tergantung di atap. Entah bagaimana, kepala Helmi bisa terlilit jam tangan dengan karet gelang yang panjang. Jam itu menempel di langit-langit seperti ada lem yang merekatkannya begitu kuat. Helmi tergantung tak berdaya disana. Keadaannya benar-benar mengenaskan. Matanya melotot sampai bola mata itu kupikir akan bisa menggelinding jatuh. Terpancar ketakutan yang amat sangat dari sorot mata itu. Tangannya terkulai lemah dengan jari-jari yang mengejang seperti seseorang yang terkena stroke. Tidak ada tanda-tanda kekerasan, tapi darah segar masih terus keluar dari sudut mulut Helmi. Yang paling menakutkan, tubuh Helmi tidak diam layaknya mayat. Tubuhnya terus bergerak, ke-kanan dan ke-kiri. Mengikuti suara detik demi detik jam di sekeklilingnya. Ya… Tubuh Helmi bergerak mengikuti suara detik. Seperti lonceng jam besar di gereja, benar-benar bergerak sendiri. Padahal kami sangat yakin bahwa Helmi sudah kehilangan nyawanya, dia sudah tidak ada.

Aku tak sanggup lagi, kepalaku benar-benar pusing sekarang. Pemandangan mengerikan itu membuat mentalku jatuh. Aku merasa amat sangat bersalah. Aku menoleh melihat Pak Joko, ingin sekali kusandarkan tubuhku ke dada Pak Joko yang tampaknya masih saja tertegun melihat semua kenyataan ini.
“Pak… Rasanya aku ingin pingsan…” lirihku. Pak Joko tidak menggubris. Aku mengalihkan pandangan pada tangan kananku yang berdarah. Aku belum sempat memperhatikannya sama sekali sejak tadi.
DEEGH!!
Kali ini aku sudah tidak sanggup lagi berdiri, kekuatanku lenyap sudah. Kulihat tangan kananku hampir putus. Tulangku terlihat jelas, putih. Darahku banyak mengotori baju Pak Joko, di lantai juga banyak sekali darah. Aku tidak menyadari hal ini sejak tadi. Akhirnya aku jatuh terduduk, mataku berkunang-kunang.
“Seharusnya saya tidak terlibat semua ini” terdengar suara Pak Joko.
Dengan sisa kekuatan yang ada. Aku mendongak. Pak Joko masih berdiri sambil menatapku jijik. Oh Tuhan… Beginikah rasanya dibenci dan dikhianati. Sakit sekali melihat Pak Joko dan Tika, mereka memandangku dengan tatapan ngeri dan jijik. Tidak ada tanda-tanda mereka akan bergerak menolongku.

Setelah melihat mereka, aku ambruk. Kepalaku rasanya jatuh tepat pada genangan darahku sendiri. Aku sempat melihat ke arah Helmi yang terus bergerak mengikuti nada dari detik-detik jam. Maafkan aku Helmi, mungkin ini memang balasan yang tepat untukku. Pengkhianat… Aku pengkhianat yang pantas dikhianati. Maafkan aku Helmi… Maaf…
Perlahan-lahan semuanya berubah gelap. Kepalaku pening. Ah… Aku bisa melihat, ada cahaya terang. Disana ada Helmi. Seseorang berjubah hitam memaku lehernya ke tengah jam besar. Helmi dijadikannya sebagai jarum jam penunjuk detik jam besar itu. Bergerak dan terus bergerak. Suara detik itu… Aku benci suara detik…! BENCI!!

“Bencilah detik jam yang menyiksa itu… Jadilah bagian dari kami, setan-setan pengkhianat yang memusnahkan semua benda penghasil suara ‘tik-tik-tik’”.

Cerpen Karangan: Islaa Ed
Facebook: Islaa Edogawa

Cerpen Time Ghost (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sudahkah Aku Terbangun

Oleh:
Belum pernah rasanya kelabu sepekat ini menaungi kami. Sudah beberapa hari matahari selalu menyembunyikan sinar hangatnya yang biasa menyapa kota yang mendadak sepi ini. Yang tampak sekarang hanya jalanan

Shadow

Oleh:
Libur panjang telah tiba. Aku membuka jendela kamarku lebar-lebar dan menikmati aroma pagi yang kesegarannya merasuk ke seluruh tubuhku. Aku merebahkan tubuhku ke kasur seraya menikmati cahaya mentari yang

Sahabat Bisa Jadi Cinta

Oleh:
Hai nama aku Dita. Aku kenalin sahabat aku nih, Echa, Pita, Meme dan Evan. Kita sudah temenan dari kelas 1 SD sampai sekarang SMA kelas 2. Kita selalu sekolah

The Story of Hospital

Oleh:
Namaku Yuzi Daniel Argata, aku biasa dipanggil Zidan. “Zidan, papa beli makanan dulu ya nak! kamu jaga adik dulu ya!” kata papa, adikku kini sedang dirawat di rumah sakit,

Sahabat Baru Azila

Oleh:
Di sore hari yang indah “Mamaaaa.” teriak seorang gadis. “Ada apa sih azila kok teriak teriak?” tanya mamamnya. ya, gadis itu bernama Azila nama panjangnya azilaaaa nama lengkapnya azila

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *