Tuts Tua

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 31 May 2016

Alunan nada kembali terdengar dari piano tua itu, tidak, lebih tepatnya tuts tua itu. Ya, tidak salah lagi, Fur Elise. Jangan acuh jika kau tiba-tiba mendengarnya, itu pertanda bahwa Sang Pianis telah datang.

Sebuah piano? Mengapa ada piano di tempat sesempit ini? Hei, aku merasa ada sesuatu yang janggal akan piano ini. Semua bagian terlihat baru, tapi mengapa hanya tuts piano yang terlihat kusam layaknya sudah sangat tua? Seakan-akan semua tuts ini memberikan kesan bahwa ada peristiwa yang menjadikannya saksi bisu, dan tidak aku ketahui sama sekali. Seakan-akan tuts ini ingin memberitahuku sesuatu, tetapi tidak dapat aku pahami sama sekali. Tuts ini memberikan kesan menakutkan untuk piano ini. Tunggu, sepertinya aku mendengar sesuatu, ini seperti. Instrumen Fur Elise! Tidak mungkin!

21 September 1865
“Kau akan menjadi pianis terhebat, Chloe. Gunakan piano ini, berlatihlah, bertemanlah dengannya. Piano ini akan sangat membantumu.”
“Berteman dengannya? Apa maksud Kakek?”
“Berinteraksilah dengan piano ini. Ajak ia mengobrol, sayangi dia, seperti kau menyayangi kucing peliharaanmu itu. Dan jangan lupa merawatnya, terutama di bagian tutsnya.”
Apa maksud Kakek? Apa ia sudah gila? Mengapa aku harus merawat benda mati?

“Oke anak-anak, hari ini kita akan mempelajari sebuah instrumen klasik dan mempunyai sejarah yang belum diketahui secara pasti. Hari ini kita akan mempelajari instrumen Fur Elise karya Beethoven. Tujuan kita mempelajari instrumen ini adalah karena kita akan mengikuti ajang pemilihan pianis terbaik di kota ini. Dan seperti yang kita tahu, instrumen ini mempunyai kesan tersendiri, setiap alunan nadanya dapat menceritakan dengan baik sebuah kisah yang tersirat di dalamnya. Jadi Ibu akan melatih kalian dan memilih satu orang untuk mewakili tempat les kita di ajang pemilihan itu.”

Aku mendengar penjelasan Bu Rika dengan hati-hati. Andai saja aku bisa mewakili tempat les pianoku dan menjadi juara, pasti aku akan sangat bahagia. “Oh iya anak-anak, lomba akan diadakan tanggal 27 November 2025.” Apa? Seminggu lagi? Bagaimana bisa aku mempelajari instrumen klasik dalam waktu seminggu? Tapi itu pun jika aku terpilih untuk mengikuti ajang itu. Huft.

26 November 1875
“Chloe, besok kau harus tampil dalam acara peresmian gedung opera di pusat kota. Kau akan memainkan instrumen Fur Elise. Kau akan tampil di depan banyak orang.”
“Tapi aku sudah tidak menjadi pianis sejak 3 tahun yang lalu, Madam.”
“Tapi aku tahu kau sangat berbakat, aku yakin kau pasti bisa.”
“Baiklah, Madam.”

Bagaimana ini? Aku sudah lupa semua hal tentang piano. Dan sangat konyol jika aku harus memainkan instrumen Fur Elise. Aku ingat! Piano tua dari Kakek! Aku harus mencari piano itu di gudang.

“Kau sudah menyimpanku di gudang selama 3 tahun. Kau mengacuhkanku selama 3 tahun. Jika kau memang membutuhkanku, aku akan membantumu. Teteskan satu tetes darah milikmu ke atas tuts, dan kau akan berhasil besok.” Surat dari siapa ini? Dan kenapa ada di piano ini? Setetes darah milikku? Sudahlah, aku tidak peduli, aku harus tampil dengan luar biasa besok.

Argh!
Tes..

“Nada, kau terpilih menjadi wakil untuk mengikuti ajang pemilihan pianis terbaik. Teruslah berlatih selama seminggu, Ibu yakin kau pasti berhasil.” Bu Rika menyemangatiku. Aku harus berhasil. Tapi bagaimana? Aku tidak memiliki piano. Pianoku yang dulu sudah rusak di bagian tutsnya, bagaimana ini? Aku lebih baik menelepon ibuku. “Bu, aku terpilih mewakili tempat les untuk mengikuti ajang pemilihan pianis terbaik di kota, tapi kan piano milikku sudah rusak di bagian tutsnya. Bisa tolong perbaiki?”

“Baiklah, Ibu akan menelepon seseorang untuk memperbaiki tuts piano milikmu.” ucap ibuku.
“Baiklah Ibu, terima kasih.” balasku sembari memutuskan sambungan telepon. Aku harap piano milikku dapat sesegera mungkin diperbaiki, karena aku ingin segera berlatih untuk ajang bergengsi itu. Huft, cepatlah.

27 November 1875

Prok! Prok!

Hari ini aku sangat bahagia, semua orang memberikan standing applause untuk penampilanku. Ya, ini semua berkat piano pemberian kakek. Walaupun aku sempat aneh, setelah kemarin aku menekan 2 tuts piano, aku kembali mengingat semua tentang piano dan ingat akan instrumen Fur Elise. Dan anehnya lagi ketika aku tampil, aku sangat lancar menekan tuts-tuts piano tanpa ada keraguan dan kesalahan. Kau memang pianis terhebat, Chloe!

27 November 2025
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Aku sangat gugup, banyak sekali lawanku yang sangat berbakat. Dan juga jariku yang terluka, membuatku semakin merasa putus asa, aku merasa aku tidak akan menang. Aku memang sial, 2 hari sebelumnya jariku seperti tertusuk jarum, setetes darahku menetes tepat ke atas tuts piano milikku. Aku panik, sempat aku ingin membersihkan tuts yang terkena tetesan darah, tetapi bekas tetesan itu hilang, lenyap. Aneh. Aku tidak memikirkannya, karena yang terpenting adalah apakah aku bisa menjadi juara dengan keadaanku yang seperti ini? Lawan-lawanku memainkan instrumen yang tergolong sulit, seperti instrumen Dance of the Sugar-Plum Fairy karya Tchaikovsky, instrumen Turkish March karya Mozart, instrumen Swan Lake karya Tchaikovsky, dan masih banyak lagi. Aku semakin pesimis.

Dewi Fortuna berpihak padaku! Aku menang! Aku menjadi juara! Ya, aku adalah pianis terbaik di kota ini. Aku dapat mengalahkan semua lawanku dengan nilai tertinggi. Juri mengatakan bahwa permainanku sangat apik, tidak ada keraguan saat aku menekan tuts-tuts piano dan aku memang layak menjadi juara. Aku sangat bahagia!

4 Desember 1875
Yeah, aku adalah pianis terhebat! Kau memang terbaik, Chloe! Aku sudah sangat terkenal sekarang.

“Chloe, piano milikmu hilang! Seseorang sudah mencurinya!”
“Tidak mungkin, Madam! Bagaimana bisa piano milikku hilang? Jelaskan padaku!!”
“Aku pun tidak tahu, Chloe. Mungkin banyak yang iri denganmu, Chloe, karena sekarang kau sudah terkenal, semua orang mengenalmu.”
“Tidak mungkin!”

Tidak mungkin! Bagaimana bisa pianoku hilang begitu saja? Bagaimana dengan ketenaranku? Aku tidak bisa apa-apa tanpa piano itu. Tolong siapa saja, temukan dan kembalikan!

11 Desember 2025
Namaku Nada, seorang pianis terhebat di kota ini. Semua orang mengenalku, namaku sudah tidak asing lagi bagi orang-orang di kota ini. Semua media membicarakanku selama 2 minggu terakhir. Yeah, aku disanjungi banyak orang. Hah, memang menyenangkan menjadi orang terkenal. Wartawan selalu mengejarku ke mana pun aku pergi, paparazzi selalu diam-diam memotretku. Yah, walaupun aku merasa agak risih tetapi ya beginilah resiko orang terkenal.

Aku sangat lelah, aku memutuskan untuk beristirahat. Saat aku ingin membaringkan tubuhku, aku mendengar sesuatu. Ini, seperti sebuah instrumen, seseorang sedang memainkan piano. Tidak salah lagi, ini instrumen Fur Elise! Siapa yang sedang memainkan piano? Sepertinya sumber suara ini berasal dari ruang latihanku. Aku berjalan dengan perlahan, sembari tetap mendengarkan alunan nada itu dengan seksama. Tepat saat aku berada di depan ruang latihanku, aku melihat lewat celah pintu. Siapa itu? Seperti seorang perempuan yang seumur denganku. Tetapi, dandanannya sangat kuno. Siapakah dia?

“Kembalikan piano milikku,”
Apa? Apa maksudnya? Jelas-jelas ini piano milikku.
“Kembalikan piano milikku, kembalikan tuts milikku!”
A..apa? Ti..tidak mungkin, siapa kau?!

Aku lebih baik mati. Pianoku sudah hilang, tanpa piano itu aku tidak bisa apa-apa. Bahkan ketika aku diminta menunjukkan permainan piano milikku, tak disangka permainanku sangat buruk, lebih buruk dibandingkan anak kecil yang memainkannya. Aku dicemooh, aku dicela banyak orang, reputasiku sudah jatuh. Saat ini orang-orang sudah tidak menganggapku, ketenaranku pun perlahan-lahan meredup. Aku sangat stres sekarang! Ya, lebih baik aku mati. Aku Chloe, bersumpah akan menghantui siapa saja yang mencuri piano milikku, menggunakan piano milikku, menyentuh tuts piano milikku, menggunakan bagian dari piano milikku, siapa pun dan di mana pun, akan ku hantui sampai ia benar-benar enggan untuk tetap hidup. Aku bersumpah!

Argh!
Tes..tes..tes

“Kau.. Siapa kau?!”
“Aku Chloe, seorang pianis yang pernah berjaya di tahun 1875. Apa kau mengenalku?”
“Ti..tidak. Siapa kau sebenarnya, hah? Dan kenapa kau ada di sini? Bukankah kau sudah mati?!”
“Aku datang karena kau menggunakan tuts piano milikku. Dahulu, aku memiliki piano pemberian kakekku, tetapi kemudian hilang. Dan aku tahu, tuts piano itu adalah bagian dari piano pemberian kakekku. Aku sudah bersumpah akan menghantui siapa pun yang menggunakan bagian atau bahkan piano milikku. Dan aku akan menghantuimu. Bersiaplah, Nada.”

Puff!
A..apa? Kenapa dia tiba-tiba menghilang? Apa yang harus aku lakukan? Ibu, Ayah, siapa pun tolong aku!!

Aku sudah tidak mampu lagi, aku sudah tidak sanggup lagi. Dia terus menghantuiku di mana pun, aku pun sering dianggap gila oleh orang-orang di sekelilingku. Aku sudah tidak sanggup lagi, lebih baik aku mati!! Selamat tinggal, Ibu, Ayah, teman-temanku, aku lelah diganggu oleh hantu itu. Selanjutnya dan seterusnya, aku hanya tinggal nama. Dan untukmu Chloe, kau sudah menang. Ya, kau mengalahkanku. Aku akan menemanimu, sekarang.

Argh!!

Tes..tes..tes

Jangan pernah kau menyentuh piano itu, bukan, tuts itu. Jika kau menyentuhnya, bersiaplah, mereka akan mendatangimu dan menghantuimu, sampai mereka berhasil mengalahkanmu dan kau menemani mereka. Mereka sedang mencari korban sekaligus teman untuk mereka. Iya mereka, Chloe dan Nada. Dan mungkin, kau selanjutnya.

Cerpen Karangan: Sabila Nadhirah K Nadhirah K

Cerpen Tuts Tua merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Truth Behind The Wall

Oleh:
Seminggu yang lalu “Rena! Di sini!” Aku berbalik ke arah suara itu. Hari ini, aku berjanji untuk menemui sahabat lamaku, Varrel, di kafe miliknya. Begitu aku melihatnya, aku segera

Tumbal

Oleh:
Pada suatu hari di tengah siang yang panas, aku sedang menempuh perjalanan ke dareah terpencil di pedesaan memakai mobil dengan pakaian yang sangat bagus. Di tengah perjalanan ke desa

Cermin Berdarah

Oleh:
Perkenalkan namaku Diana… Sudah seminggu aku tinggal di rumah yang baru dengan keluargaku… pagi itu mamaku selalu mengingatkanku agar aku jangan pernah masuk ke dalam kamar kosong itu… konon

Misteri Kebun Bunga Nenek

Oleh:
Saat itu, aku sedang pergi ke rumah nenekku. “aku sudah tidak sabar!” aku sangat merindukan nenek. Apa yang membuatku nyaman berada disana? Jawabannya, karena disana terhampar kebun bunga yang

Siapa Yang Mengetuk Pintu Kamarku?

Oleh:
Aku siswa sekolah menengah pertama di daerah jakarta, rumah ku di tanggerang aku selalu terlambat jika ke sekolah, karena supir pribadi ku yang lelet. hari ini hari senin. “Huhh,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Tuts Tua”

  1. arsa says:

    Itu beneran tahun 2025?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *