Ubume

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 20 August 2015

“Anak manis, ayo makan ini,”
“Wah, gula-gula, terima kasih,” anak itu menerimanya dengan senang hati dan memakannya dengan tersenyum.
“Bagaimana? Enak?”
“Un, oish, hwa,” anak itu langsung terkejut dan menjatuhkan gula-gula di tangannya begitu melihat sosok di depannya.
“Anakku, mau ke mana kamu? jangan lari!”
“Hu, hu, Ibuuu.. hwa,”

Lepas pukul tujuh waktu Himeji. Anak ini berlarian meminta tolong. Berlindung dari sosok berkimono putih yang dari tadi mengejarnya. Sosok itu memanggilnya, anakku. Padahal setahu anak itu, dia tidak pernah memiliki ibu yang bersosok seperti itu.
“Ibu!! tolong akuu!!” teriaknya terakhir kali.

Himeji, barat daya perfektur Hyogo, Kansai. SD Kuroyama kelas 6.

“Nee1, sudah dengar belum, katanya ubume muncul lagi.”
“Eh, benarkah?”
“Iya, katanya sudah beberapa anak kecil yang diserang. Kebanyakan dari mereka langsung sakit.”
“Iya-iya, aku juga mendengarnya. Makanya aku tidak boleh main sampai larut, pasti jam 5 sudah disuruh pulang.”
“Iya, aku juga dilarang bermain-main di sekitar istana. Ibu bilang, ubumenya ada di sana. Orang-orang bilang, dia kehilangan anaknya, makanya dia kembali lagi untuk mencari anaknya, bla, bla”

Mereka membicarakannnya lagi. Akhir-akhir ini memang sering muncul kejadian-kejadian aneh yang berhubungan dengan ubume -wanita yang meninggal saat hamil dan melahirkan di dalam kuburan. Orang-orang bilang, dia selalu datang untuk membesarkan anaknya dengan membawa gula-gula. Tapi aku tidak tahu apa yang mengasyikkan dari pembicaraan itu. Mereka membicarakannya seolah-olah, melihat mahluk seperti itu adalah hal yang menyenangkan. Setidaknya itu yang dipikirkan teman-teman sekelasku.

“Nee-nee, Kuroda kun, ikut kan? Besok malam?” Dia Mei chan, teman satu kelas yang duduk di depanku.
“Eh? Aku? Ke mana?”
“Kita mau adu nyali di Istana, pasti menyenangkan kalau Kuroda kun ikut.”
“Gomen, aku tidak bisa ikut.”
“Eeh? Kenapa?”
“Jangan-jangan kau takut ya, Kuroda?” yang ini Taki dia saudara tiriku. Menurutku dia agak menyebalkan, tapi kadang-kadang dia baik padaku. Kadang-kadang.

Aku diam. Toh, kupikir tidak ada gunanya juga aku menjelaskannya pada mereka.
“Ayolah, Kuroda, jangan jadi pengecut.”
“Aku bukan pengecut!” Aku menatap Taki kesal.
“Kalau tidak pengecut, berarti kau ikut.”

Begitulah. Aku dikalahkan oleh Taki. Dan sekarang aku harus menemani Mei chan yang terlihat sangat antusais dan Taki yang, lagi-lagi, menyebalkan. Himeji, barat daya perfektur Hyogo, Kansai, Istana Himeji. Di tengah-tengah kota ini, ada bangunan kuno megah yang mulai dibangun sejak tahun 1601. Orang-orang menyebutnya Istana Himeji. Orang-orang juga bilang, akhir-akhir ini Ubume sering muncul di sekitar istana. Dan berkat isu itu, aku harus terdampar di sini bersama Taki dan Mei chan.

Malam ini, kami memutuskan untuk menyusup ke menara utama, mengambil jalur menanjak yang terdapat di sebelah utara Sannomaru. Sebelum sampai ke menara utama, kami harus melewati beberapa pintu gerbang. Diantaranya, setelah berjalan lurus, kami harus melewati pintu gerbang Mugi, kemudian pintu gerbang I, Ro dan Ha. Pintu-pintu gerbang ini diberi nama berdasarkan susunan huruf Hiragana, “i-ro-ha”.

Aku pikir, kamu pasti sudah bisa membayangkan bagaimana keadaan di ruangan ini. seperti bangunan-bangunan kuno pada umumnya, di sini juga gelap dan dingin. Pintu gerbang yang dibuat sangat sempit dan hanya bisa dilewati oleh satu orang saja, sukses menciptakan jarak antara aku dengan Taki dan Mei chan. Entah sejak kapan, aku tidak menyadarinya. Tahu-tahu, aku sudah ada di lorong ini sendirian. Aku baru saja melewati gerbang ro, dan kukira, Taki dan Mei chan ada di depanku. Tapi mereka tidak ada!

“Mei chan, Taki, di mana kalian?”

Aku mengamati sekeliling. Lorong ini terlihat lebih menyeramkan dari pada yang tadi. Bentuknya yang serupa labirin yang berbelok-belok secara tajam dan berpilin, melebar di satu tempat dan menyempit di tampat yang lain, membuat mataku sakit. Perasaanku mulai tidak enak.

“Mei chan?” aku melihat bayangan di antara belokan-belokan itu. “Taki?” Aku mencoba mendekati bayangan itu. “Mei chan? Taki?”
“Ba!!”
“Hwa!!” aku kaget dan terjatuh. Taki tiba-tiba muncul dengan kedua tangannya diangkat ke atas dan memasang wajah seram. Di belakangnya, Mei chan berdiri sambil memasang wajah bersalah.
“Hahaha, takut ya, takut, ya? Hahaha,”

Aku baru saja mau berdiri dan memprotes tindakan Taki. Tapi bayangan lain datang mendekati Taki. Sosok perempuan mengenakan kimono putih, berambut panjang dengan tangan yang menjulur ke bawah. Sosok itu semakin mendekat. Aku yang ketakutan reflek memukulnya sambil berteriak “PERGI!” Kemudian secepat mungkin berlari meninggalkan tempat ini.

“Au!” Tanpa tahu bahwa Taki terpental kebelakang karena pukulan itu. “Apa-apaan sih, dia?”
“Taki kun? Kamu tidak apa-apa?” Mei mendekati Taki dan membantunya berdiri.
Sementara aku terus saja berlari, mencoba keluar dari bangunan ini.
“Ketemu, ku temukan kau, ku temukaaan,” teriak sosok itu, suaranya menggema di sepanjang lorong.

Senja sudah mengalir saat aku melewati sungai Senba. Di sepanjang jalan ini, anak-anak sudah banyak yang dimarahi ibunya, disuruh pulang. Aku menghentikan langkah, memerhatikan dua sosok Ibu dan anak yang sedang bertengkar tidak jauh dari arahku. Aku cuma tersenyum melihatnya. Tahu bahwa tidak akan ada orang yang melakukan hal itu padaku. Aku memilih turun dan duduk di tepi sungai.

“Nee, kimi..”
Aku menoleh, “Hem?” seorang perempuan paruh baya sedang berdiri di belakangku.
“Kenapa kamu masih ada di sini?” Perempuan itu mendekatiku. “Kamu tidak pulang?”
Aku cuma menggeleng.
“Boleh aku duduk di sebelah mu?”
Aku cuma mengangguk.
“Kenapa kamu tidak pulang?” Perempuan itu mengulangi pertanyaannya.

Aku mengamati orang itu. Pandangan matanya hangat. Pandangan yang belum pernah aku temukan di antara orang-orang di sekitarku. Pandangan mata yang sama dengan milik Ibuku, bukan ibu Taki.

“Ibu tidak mengijinkanku pulang karena aku sudah memukul Taki.” Akhirnya aku menjawab juga pertanyaannya. Dan karena dia terlihat bingung, aku segera menjelaskannya.
“Saudara tiriku.”
Dia mengangguk-angguk. Ku pikir dia sudah paham. “Bibi, temani, ya.” Katanya sambil tersenyum dengan mata terpejam. Entah kenapa aku merasa senang melihat senyum Bibi itu, kemudian tanpa sadar aku mengangguk begitu saja “Un.”

Sejak hari itu, aku sering bermain ke sungai senba. Dan aku sering bertemu Bibi di sana. Aku senang, Bibi tidak menganggapku aneh. Setelah mendengarkan cerita panjang lebarku, dia mengelus-elus kepalaku dan memberiku kalung berbentuk heksagram. Bibi bilang, kalung itu akan melindungiku dari mahluk-mahluk aneh yang sering aku lihat. Juga melindungiku dari ubume yang aku tak tahu kenapa, dia tak mau berhenti mengejarku.

Pagi ini berjalan seperti pagi-pagi biasanya. Ibu menyiapkan bekal untuk Taki dan tidak untukku. Ayah hanya diam melihatku dimarahi Ibu karena aku tidak sengaja berteriak saat sedang sarapan. Saat itu aku melihat kappa yang turun dari tangga. Membuatku harus berhenti memasukkan roti ke dalam mulut dan pergi duluan ke sekolah. Aku bertemu Mei chan di jalan. Aku mencoba menyapanya.

“Mei chan,”
Mei chan berhenti. Perlahan-lahan sekali dia menoleh ke arahku yang berjalan di belakangnya. Kemudian dia berhenti dan memerhatikanku. Aku mendekatinya.
“Ohay,”
“Jangan dekati aku! Aku tidak mau berteman dengan Kuroda kun lagi!” katanya sambil memejamkan mata seolah-olah dia melihatku sebagai seorang monster. Kemudian dia berlari menjauh.

“Mei chan,” Aku hanya bisa menatapnya.

Aku tidak tahu kenapa Mei chan menjauhiku. Mungkin Mei chan sudah tahu bagaimana aku yang sebenarnya. Yah, kebanyakan orang-orang hanya mendekatiku karena mereka belum tahu diriku yang sebenarnya. Dan kupikir aku sudah mempersiapkan diriku untuk menghadapi hal seperti ini. Tapi tetap saja rasanya ingin menangis.

“Tidak apa-apa Kuroda, semuanya akan baik-baik saja. Tidak apa-apa.” Aku mencoba meyakinkan diriku dan kembali melangkah sambil menggenggam kalung heksagram pemberian Bibi.

Aku sudah sampai di sekolah. Dan sekarang aku mendapatkan tatapan aneh dari teman-teman. Setiap anak yang menyadari kedatanganku, langsung menoleh dan memberiku tatapan prihatin. Aku menunduk, mencoba tidak menghiraukan pandangan mereka. Sampai di depan pintu kelas, dan aku harus berhenti demi mendengar percakapan teman-teman.

“Benarkah? Kuroda kun teman sekelas kita?”
“Un. Kakakku bilang, dia adalah anak yang dicari Ubume itu.”
“Darimana kakakmu tahu?”
“Kakakku kan peramal. Dia tahu segalanya. Makanya Ibuku jadi melarangku mendekatinya.”
Aku semakin menundukkan kepala mendengar percakapan itu. Aku tahu Ubume itu mengejarku. Dan jika perkataan teman-teman tadi benar, mungkin aku tahu apa yang membuat Mei chan menjauhiku.
“Tapi anak itu dari dulu memang aneh, kan?”

Aku mengepalkan tangan, lalu memutuskan untuk masuk, sebelum mendengar lebih banyak lagi hal-hal yang tidak ingin aku dengar. Teman-teman yang tadi asyik berkerubung dengan serentak melihat ke arahku.

“Sssttt, itu dia orangnya datang..”

Mereka berbisik-bisik seolah aku tidak bisa mendengarnya. Yah, kalau bisa aku memang berharap supaya aku tidak mendengarnya. Sambil masih menunduk aku duduk. Aku merasa ada seseorang yang sedang memerhatikanku. Baiklah, mungkin semua orang di kelas ini memang sedang memerhatikanku. Tapi yang ini rasanya berbeda. Aku mengangkat kepalaku dan menemukan Mei chan sedang memandangku. Aku tersenyum ke arahnya. Tapi kemudian dia salah tingkah dan berbalik secepat mungkin tanpa membalasnya.

“Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja,” Aku bergumam sendiri, sambil menggenggam lagi kalung pemberian bibi. “Aku akan baik-baik saja,”

Hari ini aku memutuskan untuk tidak menemui Bibi dulu. Makanya aku berlari pulang secepatnya. Aku tidak mau bertemu mahluk itu lagi. Tidak mau! Tapi sayang, keinginan itu tidak berlaku bagi mahluk itu. Dia tetap muncul dan tetap mengikutiku.

“Kuroda, Kuroda,” juga masih terus memanggil namaku. Aku mengencangkan lariku. “Sebentar lagi, sebentar lagi aku sampai rumah, sebentar lagi,” Pintu rumah sudah ada di depan mata. Aku melihat Ibu, sepertinya Ibu juga baru saja pulang. Aku melewati Ibu begitu saja. Secepat mungkin membuka sepatu dan menuju ke kamar.

Sayang sekali, di kamarku pun aku tidak bisa menemukan kedamaian. Mahluk-mahluk aneh satu-persatu mengunjungi kamarku. Aku melihat anak kecil berusia sekitar 6 tahun, bermata merah dan berambut cepak muncul dari arah jendela. Kalau aku tidak salah orang-orang menyebutnya yashiki warashi.

“Kuroda nii, ayo main sama-sama, Kuroda nii,”
“Hu..hu, hwaaaa,” aku berlari lalu masuk ke dalam lemariku.
“Duk-duk-duk” Mahluk itu menggedor-gedor lemari. “Kuroda nii,”

Aku meringkuk sendirian di dalam lemari ini. Memeluk lutut sambil gemetaran dan berharap mahluk itu segera pergi. Tapi harapanku tidak terkabul. Mahluk-mahluk itu malah semakin bertambah. Sekarang ada Aburakago, sosok anak kecil yang mengitari lampu untuk mendapatkan minyak. Juga Ame-furi-kozo, sosok anak kecil yang membawa lampu kertas dan memakai payung kuno yang terbuat dari jerami. Padahal menurut orang-orang, sosok itu hanya muncul ketika hari hujan. Hampir semua mahluk yang mendatangi kamarku berwujud anak-anak. Kalau mereka datang untuk bermain denganku, apa itu berarti aku memang anak dari sesosok ubume? Jujur saja aku takut memikirkan hal itu. Aku mendekap lututku lebih erat, dan tubuhku semakin gemetar.

“Cring.” Sesuatu jatuh dari sakuku. Itu adalah kalung memberian bibi.
“Bibi. Bibi.. aku harus ke tempat Bibi!” aku keluar dari lemariku. Berlari sekuat tenaga menuju sungai Senba.

“Kuroda kun, jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Bibi akan selalu melindungi Kuroda Kun.” Itu yang selalu bibi katakan padaku.
“Bibi, tolong aku!” Teriakku sepanjang jalan. sekarang yang mengejarku bukan lagi sosok anak-anak kecil. Tapi Ubume. Ya, wanita berkimono putih itu terlihat senang dan sangat bernapsu untuk menangkapku.
“Pergi! Pergi! Jangan ikuti aku! PERGI!!” Aku berlari. Sosok berkimono putih itu masih tidak mau berhenti mengejarku.

“Kuroda, Kuroda,”
“Jangan! Pergi! Jangan! Hwa..” Aku terjatuh. Jatuh ke tempat yang gelap.
“Kuroda kun! Kuroda kun!”
“Hah,” Aku terjingkat, reflek langsung berdiri.
“Bibi?” Aku mengamati sosok yang ada di depanku.
“Bibi tolong aku! Ubume, Ubume, mengejarku, dia, dia,” aku mengguncang-guncang tubuh Bibi dengan napas tersengal-sengal.
“Kuroda kun! Tenanglah!” Bibi menyentak tubuhku cukup keras. Aku tersadar, kemudian memandangi Bibi yang memandangiku dengan wajah cemas.
“Bibi, aku takut.. aku takut,” Akhirnya aku menangis.
“Tidak apa-apa, ada Bibi di sini. Tidak apa-apa, Kuroda kun,” Bibi memelukku dan mengelus-elus kepalaku.

Entah kenapa aku merasa nyaman diperlakukan Bibi seperti itu. Pelukan Bibi hangat. Seluruh rasa takutku tiba-tiba hilang entah ke mana.

“Terima kasih, Bibi,” aku membalas pelukan Bibi.
“Ibu, kakak itu aneh, deh..”
“Ssttt! jangan dekat-dekat dengannya, Yuuki!”
“Tapi dia bicara sendirian,”

Cerpen Karangan: Seka Ageha
Facebook: watashi no sekai

Cerpen Ubume merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tumbal

Oleh:
Aku seorang pelajar SMA, aku mengambil jurusan IPS karena aku memang suka ilmu sosial aku juga suka ilmu psikologi. Aku adalah anak dari keluarga yang berbahagia. Sore itu aku

Tersesat Di Kehidupan Lain

Oleh:
“Meskipun kau tidak bisa melihatnya, tapi bukan berarti mereka tidak bisa melihatmu, mungkin setiap saat mereka mengawasimu.” Masalah, hidup memang tak pernah lepas dari yang namanya masalah. Mencoba terlepas

Luku Berdarah

Oleh:
Awal mula terungkapnya cerita ini dari anak bernama Nila yang lagi liburan di desa tempat tinggal pamannya bersama kedua temannya yaitu Ani dan Niya. Keduanya mempunyai kelebihan melihat makhluk

Sang Lengan Panjang

Oleh:
Panggil gua Rian. Malam ini hujan turun cukup lebat, gua, Diki dan Yayan berlari kecil ke saung dekat sawah rumah pak RT, kami berkumpul di saung ini untuk berbincang

Akhir Liburan

Oleh:
Gita berhenti sejenak saat mendengar suara aneh di kamar tante Dian, “Suara apa itu” gita mengintip di sela pintu kamar tante Dian, tapi dia tidak melihat apa apa “Aneh”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

0 responses to “Ubume”

  1. Vany says:

    Cerpennya seru tapi ceritanya kok gantung yah. Ditunggu kelanjutannya

  2. Feyza Meutia says:

    Keren ceritanya aku suka

  3. Sora Chan says:

    Keren keren..

    Tapi senpai, menurutku ada yang salah. Ya, ini sih menurutku, mungkin aku juga baca di website2 lain.

    harusnya Zashiki Warashi (kurasa).

  4. Ahmus says:

    Ceritanya seru…
    Tp, endingnya itu bgaimana ?? Apa Bibi itu adalah Ubume..

  5. nuriana says:

    Seru! cerpennya bagus dan menarik. Sukses buat penulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *