Usianya Tak Semuda Wajahnya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 8 January 2016

Namaku Sheila seorang asisten rumah tangga, meski umurku baru 18 tahun mau tak mau aku harus menjadi seorang asisten atau biasa disebut pembantu. Hari ini seperti biasa aku pergi ke tempat kerjaku di daerah yang cukup terpencil dari keramaian kota. Sebenarnya aku sangat muak bekerja di tempat itu, tempat yang menurutku sangat misterius, namun mau tak mau aku harus menjalaninya. Apalah daya, aku hanya lulusan SMP dan sulit bagiku untuk mendapat pekerjaan. Sesampainya di sana aku langsung mengerjakan pekerjaan yang memang harus aku kerjakan, sampai sore hari pun datang.

“Sheila, kamu sudah mau pulang?” tanya Bu Liza kepadaku.
“iya Bu, pekerjaan saya juga sudah selesai,” jawabku enteng.
“apa tidak sebaiknya kamu tidur di rumahku? lebih irit ongkos dan kamu jadi gak sering terlambat, gimana?” tawar Bu Liza, setelah ku pikirkan lagi, aku pun mengiyakan perkataan Bu Liza, lagian dia itu orang baik dan aku tak patut untuk mencurigainya.
“baiklah Bu mulai besok saya akan pindah ke sini,” tegasku.
“ya sudah kapan saja tak jadi masalah,” ucapnya dengan senyuman manisnya.

Keesokan harinya aku pergi ke rumah Bu Liza dengan membawa pakaianku dan mulai hari ini aku tinggal di rumah megah ini. Beberapa hari berlalu setelah aku menempati tempat ini terkadang aku merasakan sesuatu yang aneh. Setiap malam aku melihat seorang wanita cantik dan anggun mengenakan gaun cokelat yang sangat indah, lalu mendengar senandung di luar rumah yang gelap karena hanya diterangi oleh satu lampu. Itu pun hanya di teras. Untuk malam ini aku sangat sulit untuk tertidur karena penasaran dengan wanita cantik itu. Saat aku melihat ke arah kamar Bu Liza, tampak dirinya sedang ke luar dari kamar dengan mengenakan baju tidurnya dan di tangannya ia memegang gaun cokelat itu.

“apa yang hendak ia lakukan, jadi dia yang selama ini sering berjalan-jalan dengan mengenakan gaun itu, tapi dia akan pergi ke mana?” pikirku, tanpa pikir panjang aku mengikutinya, ternyata ia pergi ke kuburan tua yang ada di dekat rumahnya. Ia bersenandung senandung kecil dan saat ku perhatikan kini Bu Liza sedang, “OH YA AMPUN!!” pekikku tanpa sadar saat melihat Bu Liza bertelanj*ng dan mengganti pakaian di dekat kuburan orang China.

Dan anehnya lagi mengapa ia mengganti pakaian di kuburan. Oh mungkinkah ini ritual pesugihan? karena selama ini ia selalu menggajiku dengan baik padahal yang aku ketahui ia tidak pernah pergi ke mana-mana, atau uang pensiun? tidak usianya masih muda untuk mendapatkan pensiunan, atau benar dia melakukan pesugihan, lalu jika benar siapa yang ia jadikan tumbal? apakah aku salah satunya? oh semua pertanyaan konyol terlontar dari mulutku. Kini ku perhatikan lagi ke arah Bu Liza, hah betapa terkejutnya aku melihat Bu Liza dapat terbang, aku sangat takut untuk melihat semua itu lalu ku putuskan untuk pulang ke rumah Bu Liza.

Keesokan harinya aku memberanikan diri datang ke kamar Bu Liza untuk mengundurkan diri, aku mengetuk pintu kamarnya dan tak lama kemudian ia pun ke luar dari kamarnya.
“ehh Sheila ada apa?” tanya Bu Liza.
“a..a.. anu Bu…” aku sangat gugup mengatakan semua itu.
“anu apa Sheila?” tanya Bu Liza.
“anu Bu saya mau berhenti kerja,” akhirnya kata-kata itu ke luar dari mulutku.
“kenapa? apa karena kejadian semalam?” tanya Bu Liza yang membuatku terkejut.
“dari mana Ibu tahu?” tanyaku heran.
“biar ku jelaskan, sekarang masuklah ke kamarku,” ucap Bu Liza, aku memberanikan diri masuk ke kamarnya, lalu kami pun duduk di kasur Bu Liza.

“menurutmu berapa usiaku sekarang?” tanya Bu Liza.
“sekitar 30 tahunan Bu, kenapa Ibu bertanya seperti itu,” jawabku gugup.
“kau salah kini aku berusia 105 tahun,” ucapnya.
“ma.. mana mungkin?!” tanyaku tak percaya.
“kau ingin tahu rahasia awet mudaku? dan kekayaan ini? ini semua akibat ritual di kuburan sana dan rahasia awet mudaku adalah memakan daging mentah milik wanita muda dan meminum darah segarnya, kau tahu? kau lah salah satu Tumbalnya hihihi….”
“TIDAKKKKK…..”

Oh, kini tangannya telah mencengkeram erat leherku dan napasku mulai menipis. Dan, ahh!! aku sudah tak bernyawa lagi. Aku menjadi tumbal Liza Meliza.

Cerpen Karangan: Desi Rahmawati
Facebook: Dessy Michelle Jiroux

Cerpen Usianya Tak Semuda Wajahnya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cermin Pembawa Petaka

Oleh:
Malam itu Sisi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dan ketika itu ada nenek tua yang menyeberang jalan. Mobil yang Sisi gunakan menyerempet nenek itu dan mobilnya pun berhenti. Sssttt..

Teman Hantuku

Oleh:
Aku mempunyai penyakit Leukimia. Setiap hari aku harus tiduran di rumah sakit. Aku selalu meminta ibuku untuk membuka jendela kamarku untuk melihat taman rumah sakit… Pada suatu hari aku

My Melody (Part 2)

Oleh:
“Hei, apa yang kau lakukan di depan kelas kami?” kata salah satu dari mereka. “Oh.” kata Hyoku yang secara refleks menoleh ke arah belakangnya. Hyoku langsung melepaskan tangan kirinya

Good Night, Miranda

Oleh:
Aku memulai hari ini dengan awal yang tak biasa. Terjatuh dari tempat tidur, terpeleset di kamar mandi, menumpahkan segelas susu di lantai dan ban sepedaku kempis. Coba tebak? Ya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

0 responses to “Usianya Tak Semuda Wajahnya”

  1. Raihanur says:

    Hii mengerikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *