Walaupun 1000 Tahun, Tak Masalah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 5 May 2016

Ini merupakan kisah seorang wanita. Wanita yang dengan begitu setianya terus menunggu, walaupun dia tahu telah tiba saatnya untuk berhenti. Terus menunggu, hingga janji yang dia terima dapat terlaksana. Hanya duduk setiap hari di bangku taman yang tidak jauh dari persimpangan dekat rumahku. Kau tahu? Lily adalah satu-satunya hantu yang membuatku penasaran. Dia berbeda dari kebanyakan hantu yang hampir semuanya mengganggu. Dia tidak menakutkan sama sekali atau membuatku menghindar seperti biasanya. Ku pikir, pindah ke rumah di kota yang gosipnya penuh dengan hantu itu menyebalkan. Harus diganggu setiap hari, tak punya waktu sendiri, bahkan mandi pun aku sering diawasi–kadang-kadang. Tapi tidak dengan Lily. Dia bisa dibilang membuatku nyaman atau mungkin merasa empati.

Hari itu kamis, sore yang cerah untuk berjalan-jalan di kota baru. Sampai aku melihatnya dan tanpa ragu menyapanya.
“Hai!” sapaku. Tak ada respon, aku pun mengulangnya. “Namaku Lacie. Lacie Chase. Aku baru pindah ke daerah sini.”
Dia berbalik dan menatapku, “Pergilah, Anda tahu siapa aku kan?!”
“Tentu saja aku tahu,” anggukku dengan mantap. “Kau adalah hantu yang duduk di bangku taman, memakai gaun berwarna krem, sepatu putih yang tidak kelihatan putih dengan gaya kuno dan ucapan yang lumayan sopan dibanding hantu lainnya.” Jelasku yang memang selalu berkata seperti itu terhadap semua spesies hantu.

“Ya, dan apa Anda tidak takut, nona?” tanyanya.
“Dulu iya, tapi sekarang sudah tidak. Bisa dibilang sekarang aku membenci hantu.”
“Dan kalau Anda membenci hantu, kenapa Anda datang ke sini, mengajakku berbicara dan menggangguku?” sahutnya.
“Mungkin karena kau terlihat kesepian.” Jawabku yang membuatnya terdiam cukup lama.

“Hahaha.. Ya, anda benar aku kesepian. Sudah berapa lama duduk di sini pun aku tidak tahu.” Katanya dengan tawa pilu. “Kalau begitu hibur dirimu, jangan hanya berdiam diri tanpa melakukan apa-apa. Pulang saja ke langit, tempat di mana kau bisa bahagia.” Ucapku.
“Seandainya bisa sudah aku lakukan sejak dulu, sayang. Tapi aku harus menunggu. Di sini, tempat kita bertemu. Jika dia kembali dan mendapati diriku tidak ada, dia pasti akan kacau, jadi aku menunggu. Dalam kesepian, dalam ketidakpastian. Tetapi hatiku masih memiliki harapan dan kepercayaan.”
“Apa yang membuatmu menunggu? Siapa, janji apa yang dia berikan?”

Dan di sini cerita mereka dimulai. Lily Arkenstow hanya berasal dari keluarga yang biasa, bukan yang terhebat, namun bukan juga yang terendah. Dan di sana, jauh di seberang hutan sebuah rumah kecil nan nyaman yang ditinggali oleh keluarga sederhana dan Edward Weston tentu saja. Di abad itu perang dunia ke-II merupakan yang terkelam. Setiap lelaki yang telah berumur 19 tahun diharuskan untuk mengikuti wajib militer. Mereka dilatih menjadi tentara, memakai senjata, dan dilatih untuk membunuh serta setia kepada negara. Begitu pula dengan Edward, dia harus mematuhi peraturan itu sama seperti yang lainnya, walau terasa berat tetap harus dia lakukan. Inilah hidup, bahkan cinta mereka pun harus dikorbankan.

Lima hari yang lalu, mereka Edward dan Lily baru saja mengucapkan janji suci dalam gereja sederhana bersama pendeta dan keluarga yang menjadi saksi. Bahkan seminggu pun tidak cukup bagi mereka untuk bahagia bersama, Edward telah mendapat surat dari pemerintah yang mengharuskannya wajib militer dan berperang bersama tentara yang lain untuk membela negara. Hanya lima hari, dan Lily harus menunggu selama 5 tahun lamanya sampai Edward benar-benar kembali. Karena itu ada janji agar tetap saling mencintai sejauh apa pun jarak mereka, janji untuk tetap menunggu, di bangku taman itu hingga tiba waktunya bagi Edward untuk pulang. Walaupun tak ada yang bisa menjamin seberapa banyak yang akan selamat dalam perang, tetapi Edward berjanji untuk pulang.

Jadi, Lily menunggu. Sendirian, yang dengan tekun setiap paginya dia pergi ke taman hanya untuk menunggu sang kekasih, meskipun dia tahu belum saatnya untuk pulang. Tapi menunggu lebih awal baginya lebih baik, siapa tahu Edward pulang lebih cepat dari yang dia perkirakan. Saat tak ada kepastian lagi Lily tetap menunggu, bahkan telah 27 tahun lamanya. Kegiatan yang dia lakukan masih sama setiap hari. Sampai tiba ajal menjemputnya. Tapi tidak masalah, itu bahkan lebih baik, karena dia tidak usah pulang ke rumah. Dia bisa terus tinggal di taman itu. Tidak perlu khawatir lagi, takut kalau Edward mendapatinya tidak ada di sana. Kecintaannya itu membuat dirinya buta, hingga lupa akan segalanya.

“Tapi kau harus tahu kalau dia itu sudah meninggal,” kataku.
“Ya, sayang. Sudah terlalu lama dia pergi menuju perang yang telah usai, tapi tak kunjung jua dia pulang. Aku sadari itu, tapi hatiku yang diberinya janji tidak ingin menerima kematian.” Kata Lily.
“Kau harus bisa menerima kenyataan. Bertahun-tahun kau hidup seperti ini, menderita dan kesepian. Belajarlah untuk merelakan,” sahutku.
“Oh sayang, begitu berat rasanya merelakan. Hatiku ini masih ingin menunggu, harapan dan kepercayaanku tak ingin ku singkirkan. Janjinya adalah impianku. Aku hanya ingin dia pulang, membelai rambutku seperti yang sering dia lakukan dulu. Melakukan hal yang belum sempat kami lakukan, dan setelah itu aku akan dengan rela pulang ke Kekasihku yang lain. Inilah hidupku, aku akan terus menunggu.”

Aku jatuh cinta pada orang yang telah lama pergi. Seseorang yang hanya meninggalkan bayang-bayang dan tak bisa ku miliki. Aku jatuh cinta hingga membuatku jatuh. Cinta yang begitu abadi hingga menorehkan luka mendalam. Cinta menyakitiku dan di saat yang sama menguatkanku. Cinta mampu membuatku menunggu lama, terus menunggu. Walaupun 1000 tahun, tak masalah.

The End

Cerpen Karangan: DRE
Facebook: Dewi Rizky Elysha

Cerpen Walaupun 1000 Tahun, Tak Masalah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maaf Aku Harus Balas Dendam

Oleh:
Gang sempit yang becek menjadi saksi bisu kejar-kejaran antara sekelompok pemuda dengan sekelompok preman. Bunyi picrat-picrat air yang menggenang menjadi irama adu cepat kejar-kejaran. Satu di antara sekitar belasan

Goyah

Oleh:
Sakittt! Itulah rasa yang menghiasi jiwaku saat ini. “Aku tahu ini berat, sangat berat malah, namun kita juga tidak bisa egois karena cinta, mungkin aku harus pergi saat ini

Petualangan di Shiltz (Part 3) Blue Eye Dungeon

Oleh:
“Markas Lucifer adalah tempat paling berbahaya dari semua tempat yang ada di Shiltz ini” ucap Lufa dengan nada mengancam. “Maksudmu paling berbahaya?” Tanya Shun “Tempat itu adalah tempat penuh

Rumah Nenek

Oleh:
Hari ini, Shasya menginap di rumah neneknya. Ia menginap bersama ayah dan ibunya. Malam ini, shasya tidur di kamar neneknya seorang diri. Shasya sebenarnya tidak menyukai kamar neneknya, dikarenakan,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *