Wanita Berbaju Hitam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 7 March 2016

02.00 siang.
“Bagaimana?” tanya seorang polisi di sebelahku.
Aku menggeleng. “Tidak ada,” jawabku.
“Ah..” katanya pelan.

Polisi itu lantas pergi menjauh meninggalkanku. Langkahnya yang berat bisa ku rasakan dari balik punggungku. Aku menyunggingkan senyum. Mataku belum lepas dari apa yang ku lihat di depanku. Sesosok wanita muda terbaring kaku di atas tanah. Bajunya yang hitam terkoyak dengan kasar. Bibirnya yang pucat seakan memberitahuku bagaimana dia tewas.

‘Tolong aku,’ ujarnya.
‘Perlihatkan padaku,’ jawabku padanya.
Wanita itu tetap diam, matanya perlahan terbuka. Bibirnya yang pucat berbicara lagi.
‘Pria itu, pria itu yang telah membunuhku.’
“Siapa?” tanyaku. Lalu wanita itu menutup matanya. Aku dengan perlahan mendekati tubuh wanita itu.
“Siapa kau?” tanyaku padanya. Tapi wanita itu tetap diam, kaku seperti layaknya mayat.

“Hey Firman!” suara itu membuyarkan semua percakapanku. Kali ini, seorang pria dengan berperawakan tinggi besar menghampiriku. “Bagaimana Firman, apakah kau sudah memiliki petunjuk?” tanyanya dengan suara yang serak.
“Belum detektif,” jawabku cepat.
“Kasus ini sudah kedua kalinya, kau adalah andalan kami. Sudah berapa kasus yang sudah kau pecahkan. Tapi baru dua kasus terakhir ini yang tampaknya sulit bagimu.”
Aku menghela napas. Merasa gagal. Pria itu menepuk bahu kananku.
“Try hard,” ujarnya lagi. Aku tersenyum kecut.
“Beri aku waktu sedikit lagi, setelah itu kau bisa mengangkat tubuhnya.”
“Baiklah,” pria itu lalu pergi.

Ku keluarkan buku catatan kecil dari dalam tasku. Ku torehkan beberapa tulisan di dalamnya. Wanita muda usia sekitar 20 tahunan. Pakaian hitam, terkoyak. Bahu di bagian atasnya ada sedikit robekan. Tidak memakai sepatu, rambut hitam sebahu. Aku terdiam, lalu ku masukkan kembali buku catatanku. Pelan aku mengitari wanita itu, sekiranya mungkin aku dapat menemukan barang bukti. Aku memiringkan kepala, melumat bibirku sendiri. Aku terkejut bukan kepalang, tiba-tiba wanita itu bangun, berdiri dengan kokohnya, dan berlari menembus tubuhku. Sial! Rohnya sudah terlepas. Aku berusaha mengejar roh wanita itu.

“Tunggu!” pekikku sambil berlari mengatur letak tasku yang sedari tadi terbuka setengah.
“Hey!” Tapi wanita itu terus menembus hutan yang berada tak jauh dari lokasi dia diketemukan pagi tadi.
“Hilang sudah,” keluhku.

Aku menghempaskan topi ke samping tubuh. Mengapa aku begitu sulit memecahkan kasus ini. Sudah dua wanita terbunuh di lokasi yang berbeda. Usia mereka rata-rata dua puluhan dan sama-sama berbaju hitam. Rasanya ingin menangis karena aku tidak bisa membantu Kepolisian dalam hal ini. Insting gilaku sebagai seseorang yang memiliki indera keenam seperti tumpul sudah, tidak berguna. Aku memutar tubuh dan kembali ke arah mayat wanita itu. ‘Maafkan aku, aku akan berusaha mencari siapa pembunuhmu.’ kataku dalam hati.

10.30 malam.
Aku terbangun, tubuhku basah oleh keringat. Aku mimpi buruk. Baru kali ini aku terbayang oleh korban-korban pembunuhan dalam dua kasus yang sedang ditangani Kepolisian. Hujan rintik di luar rumah menyadarkanku. Yah.. bulan februari yang sepenuhnya tidak ku sukai, karena airnya akan menghilangkan setiap barang bukti dari kasus-kasus itu. Ku coba untuk tertidur kembali. Ah.. wajah itu, wajah wanita itu. Jika dia hidup mungkin aku akan jatuh cinta padanya. Bentuk wajahnya yang oval, bulu matanya yang lentik. Gosh .. ‘Aku telah jatuh cinta dengan mayat.’ aku terkekeh sendiri. Tidur dan mungkin aku akan melupakannya sedikit demi sedikit.

09.00 pagi.
Aku turun dari mobil. Kaki kananku menginjak lumpur begitu ke luar.
‘Hujan, ya semalam hujan, sial, sepatuku jadi kotor.’ batinku.
“Firman! Hei Firman!” panggil pria itu.
“Ya detektif sebentar,” aku melompat kecil untuk menghindari kubangan air.
“Kemarin apakah kau menemukan ini?” pria itu mengangkat sesuatu benda dalam plastik.
Aku mengamatinya dengan seksama. Selembar surat yang terlipat dengan rapi.
“Boleh ku buka?” tanyaku padanya.
“Sure,” dia menyerahkan sarung tangan karet. Dengan cepat ku kenakan.
Surat berwarna oranye dengan stempel burung gagak di atasnya.

‘Dear Anna, kau adalah wanita yang begitu indah, bisa ku rasakan aroma tubuhmu dari kejauhan, denyut nadimu, detak jantungmu, sungguh membuatku ingin memilikinya. Aku menginginkanmu Anna. Memiliki jiwa dan darahmu.’
“Tulisannya sangat rapi, tapi ku rasa dia kidal,” ujarku. “Bagaimana kau tahu?”
“Lihat,” aku menunjukkan beberapa huruf.
“Huruf A ini berbeda dengan yang berada di kalimat ini. Kidal, suka tergesa-gesa, plin-plan, apalagi dengan seseorang yang sudah sakit kejiwaan seperti ini.” Detektif itu manggut-manggut. “Yah mungkin kau benar,” ujarnya.
“Dengar detektif, kau bisa mulai dengan menyelidiki logo burung ini. Lalu kau selidiki orang terdekat korban dimulai dengan orangtua, pacar, guru, teman, dan yang pasti korban melakukan perlawanan ketika pelaku ingin menyakitinya.” Detektif itu diam.

“Tapi menurutmu, ada motif apa di balik semua ini?” tanyanya.
“Menurutku hanya masalah kejiwaan, dan pelaku sangat terobsesi dengan wanita muda dan berbaju hitam. Wanita kemarin yang ditemukan di pinggir hutan, dia berkata padaku kalau pelakunya adalah laki-laki, dia membuang tubuhnya. Sedangkan korban wanita lainnya yang ditemukan di dalam mobil, dia mengatakan pelakunya memiliki luka di tangan kanan.”
“Sebuah petunjuk ku rasa. Baiklah, aku akan menyelidiki seperti yang kau katakan tadi.” Dia lagi-lagi menepuk bahuku. Aku tersenyum padanya. Detektif itu lalu beranjak pergi, tapi dia sempat menoleh ke arahku lagi.

“Hey Firman, bagaimana rasanya kau bisa berbicara dengan orang mati?”
Aku menggeleng. “Rasanya seperti membelah gunung.”
Detektif itu tertawa. “Baiklah,” gumamnya.

07.00 pagi.
Rompi anti peluru yang ku gunakan selalu membuatku ketar-ketir. Detektif Mursa menyuruhku untuk tetap diam di samping mobil, sedangkan dia dan beberapa polisi mengepung sebuah rumah di perkampungan kumuh. Pagi ini aku dibangunkan oleh dering telepon memberitahukan jika akan melakukan penangkapan pelaku. Satu keluarga melaporkan kehilangan anak gadis mereka, seminggu yang lalu. Kepolisian yakin jika gadis itu belum menjadi korban. Suasana cukup mencekam. Detektif Mursa kembali menemuiku, deru napasnya terdengar.

“Menurutmu bagaimana?” tanyanya dengan hati-hati.
“Aku serahkan semua kepada pihak Kepolisian.”
“Baiklah.”

Tak lama, dia mengomando untuk meringsek masuk ke dalam rumah tersebut. Semenit, dua menit, tiga menit, tidak ada tanda-tanda perlawanan. Namun, di menit keempat, terjadi adu tembak antara polisi dengan pelaku. Aku menutup telinga. Hal yang sangat ku benci! Aku lebih baik melihat hantu ketimbang mendengarkan desing peluru. Sepuluh menit berjalan. Seorang anggota Kepolisian ke luar dari rumah tersebut. “Clear! Medis! Medis! Cepat!” Aku terkesiap. Medis? Siapa yang butuh medis? Tanpa pikir panjang, aku berlari ke dalam rumah. Dan melihat pemandangan yang sangat mengerikan. Pelaku melakukan aksi bunuh diri dengan menembak dirinya sendiri, tak jauh darinya, detektif Mursa terkapar dengan luka di dada kiri.

“Firman..” panggilnya. Aku dengan cepat menghampirinya. Dia menarik baju depanku agar telingaku dapat mendengar perkataannya. “Look.. Kali ini kau berhasil memecahkan kasus ini, pelaku sudah kita lumpuhkan, gadis yang hilang itu disembunyikan di ruang bawah tanah. Ah..,” suaranya tertahan.
“Kau hebat Firman.. Kau hebat..” dia menepuk pipiku.
“Tapi detektif..” Aku terdiam, detektif Mursa perlahan menutup matanya. Tangannya jatuh ke sisi tubuhnya. Aku langsung berdiri, menjauhinya. “Oh Tuhaaan,” aku menutup mulutku, tidak percaya. Detektif Mursa telah tiada, dia telah meninggal.

Aku menangis, menangis di antara dua pilihan, aku berhasil memecahkan kasus ini dan kehilangan guru terbaik. Tak lama, roh detektif Mursa terbangun dari tubuhnya. Aku berjalan makin menjauh. Dia hanya tersenyum padaku dan melangkah ke luar rumah. Aku tidak mengejarnya, karena tahu dia sudah menemukan jalannya. Aku masih tidak percaya dengan kejadian yang baru saja ku alami. Dan berjanji di dalam hati jika ini adalah kasusku yang terakhir. Aku tidak sanggup harus menghadapi kematian demi kematian lagi. Dengan langkah yang berat aku meninggalkan lokasi kejadian. Naik ke dalam mobilku dan melaju kencang. Tapi aku tidak menyadarinya bahwa ada seseorang yang mengikuti. Dan dia adalah roh penjahat itu. Dari kaca spion aku dapat melihat dia menyunggingkan senyum terkejinya.

“Damn..”

Cerpen Karangan: Rana Dakka

Cerpen Wanita Berbaju Hitam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dibalik Tirai Penguasa

Oleh:
“Tom, tunggu saya!” teriak John dengan suara yang lantang “Ayo cepetan! Meetingnya udah mau mulai” balas Thomas Thomas dan John baru saja memakirkan mobilnya di depan lobby kantor dan

Dactylogram

Oleh:
Aku termenung melihat hasil forensik berupa sidik jari yang sedang aku pegang saat ini. Sidik jari ini merupakan sidik jari paling unik menurutku. Kau tahu mengapa aku memegang kertas

Sahabat Masa Lalu Ku (Part 1)

Oleh:
– Aku sangat menyukainya, mengaguminya, bahkan mencintainya. Menyayangi dirinya bukanlah kesalahan besar bukan? Cinta itu buta, dan terkadang sulit untuk meraihnya dengan mudah. Tapi, aku yakin di balik itu

Ghosts in The Sanatorium

Oleh:
Spittle, Jenny, dan Eliza adalah 3 sahabat yang suka menyelidiki hal-hal yang berbau mistis. Tiga sahabat ini dikenal sebagai IMMC yang artinya: Investigator Matters Mystical Club. Mereka sering masuk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

5 responses to “Wanita Berbaju Hitam”

  1. vella says:

    ending.nya kurang greget

  2. rana dakka says:

    Nanti mau dibikin greget kepanjangan lagi hahaha ..

  3. Nanda Insadani says:

    Endingnya “lari” dari ekspektasiku. Padahal ceritanya dah keren. Seru.

  4. rana dakka says:

    Iyaaaa .. Nanti dibuat lagi deh,makasih yaaa

  5. Ran akioshi says:

    Menarik ceritanya detektif yang punya kelebihan husus tapi ditengah cerita gk dicritain gmna dia tau pelakunya apa alasannya endingngya jga terlalu simple sih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *