Wanita di Ujung Lorong itu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 27 October 2017

Selalu begini, setiap pulang sekolah, aku harus melewati sebuah lorong yang gelap sendirian di ujung jalan Kota Sakurayami. Aku sebenarnya tidak suka lewat lorong tersebut, tapi apa boleh buat, langit sudah memerah dan matahari sedikit lagi akan menghilang, aku harus cepat sampai di rumah, kalau tidak aku bisa kena omel Mama.

“Hati-hati, ya, Shiro!” ucap temanku yang jalannya berbeda denganku sambil memberi lambaian tangan lembut. Aku tersenyum. “Iya.”

“Ugh, gelap sekali,” keluhku ketika aku tepat berdiri di depan mulut lorong tersebut. Aku mencoba untuk memberanikan diri dengan cara menarik napas dalam-dalam dan langsung berlari tak memikirkan apa pun yang terjadi. Isi tasku bercampur jadi satu seperti perutku ketika makan pedas, suaranya tidak keruan sehingga membuat kebisingan tersendiri di lorong ini. Suara tasku memecahkan kesunyian untuk saat ini.

Satu persatu lampu di pinggir lorong mulai menyala, itu membuatku sedikit lega walau hanya satu dua yang hidup terang, dan sisanya hanya menampakkan sinar remang-remang tidak jelas. “Huh, mau bagaimana lagi coba? Lagi pun ini masih belum terlalu gelap, mungkin aku bisa berjalan dengan santai sejenak,” renungku dalam hati sambil memeluk tas tenteng milikku erat-erat.

Aku bersenandung pelan untuk menghibur diriku sendiri, menyanyikan beberapa lagu Jepang atau sekadar mengangguk-anggukan kepalaku seirama dengan lagu yang berputar di otak. Langkahku terhenti ketika aku melihat sesosok bayangan hitam berdiri di ujung lorong. “Mau apa dia?” tanyaku dalam hati. Bayangan tersebut makin jelas di pengelihatanku, memperlihatkan sesosok wanita dengan jubah berwarna hitam sempurna menutup sebagian wajahnya. Mulutnya tertutup oleh masker. Tangannya memperlihatkan sederet luka sayat dan pisau karatan di genggamannya.

“Siapa kau?!” tanyaku sedikit berteriak. “Aku?” ulangnya dengan nada serak yang begitu aneh. “Mau apa kau?! Hei, jawab pertanyaanku!” aku kembali melontarkan pertanyaan yang seharusnya tidak perlu aku tanyakan. “Aku akan menjawab pertanyaanmu setelah kau menjawab pertanyaanku,” ia memberi syarat. “Apakah aku terlihat cantik?”

“Hmn,” aku merenung sejenak dalam pikiranku. “Yah, tentu saja, semua wanita di dunia ini cantik, termasuk kau,” jawabku dengan lantang. Wanita tersebut tertawa pelan, kemudian melepaskan masker yang membalut mulutnya sedari tadi. “Bahkan jika kau melihat diriku seperti ini?” tanyanya lagi.

Oh tidak! Hancur sudah, dia adalah Kuchisake Onna. Legenda hantu wanita Jepang dengan mulut robek yang begitu lebar, dan aku baru saja menjawab pertanyaannya. Sebaiknya aku harus segera pergi dari sini dan menyelamatkan nyawaku sebelum terjadi sesuatu yang mengancam diriku.

Karena tidak kuat melihat wajah wanita ini, aku menutup mulutku sambil menangis. Perlahan tapi pasti, aku melangkahkan kakiku mundur. Betapa terkejutnya aku ketika tubuhku terasa seperti membentur seseorang. Aku langsung berbalik melihat keadaan. Kuchisake Onna! Wanita itu berteleportasi ke belakang tubuhku.

Aku memilih untuk menahan jeritanku. Dan perlahan menjauhi wanita itu. Apapun yang ditanyakan hantu itu, jangan pernah jawab! Tapi … tapi … bagaimana ini? Aku sudah telanjur menjawab pertanyaannya tadi. Oh, Tuhan, tolong ampuni semua dosaku sebelum aku menjemput ajalku sendiri di sini.

“Ayo, Nak, jawab pertanyaanku,” pintanya. Aku membengkokkan tengkukku. “Jujur saja, hantu sepertimu harusnya pergi dari dunia ini dan hiduplah tenang di alam akhirat sana! Siapa yang akan mengatakan kau cantik? Manusia-manusia seperti aku pasti akan berbohong jika bertemu denganmu, mungkin termasuk aku. Tapi, aku akan jujur, KAU JELEK JIKA SEPERTI ITU! PERGI DARI SINI!”

Apa yang sudah aku ucapkan? Bodoh.

“Apa aku terlihat cantik jika seperti ini?” tanya wanita itu lagi. “Aku sudah bilang, kau jelek!” aku menjerit, memasrahkan semua yang aku miliki. Mataku menangkap kalau hantu itu melaju dengan cepat ke arahku dan membuat garis lebar yang sama dengan yang ia miliki di wajahku.

Menangis, hanya itu yang dapat aku lakukan sebelum semuanya berubah menjadi gelap dan dingin.

Cerpen Karangan: Shirogane Kazemi
Blog: wattpad/Shirogane-san
Aku adalah seorang penulis yang senang menulis cerita horor, jika ingin membaca karyaku yang lain, bisa cek di wattpad dengan nama akun Shirogane-san. Terima kasih.

Cerpen Wanita di Ujung Lorong itu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketukan di Dinding Kamar

Oleh:
Mulai hari ini, aku akan berada di luar kota selama tiga hari. Bukan untuk liburan, tetapi semata-mata karena tugas dari kantor. Akhirnya, setelah tiba di kota tujuan, yang langsung

Ketakutan Alicia

Oleh:
Adalah suatu hal yang sering ku rasakan semenjak beberapa minggu lalu, tepat saat keluargaku -terutama Ayah menjual satu set piano dengan harapan dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari lagi. Meski berkali-kali

Anak Misterius di Gerbang Sekolah

Oleh:
Setiap kali aku melihat dia. Dia adalah anak perempuan yang selalu berdiri di gerbang sekolahku. Setiap kali aku melihat orang lewat di hadapannya, tetapi mereka cuek pada anak perempuan

Shadow

Oleh:
Libur panjang telah tiba. Aku membuka jendela kamarku lebar-lebar dan menikmati aroma pagi yang kesegarannya merasuk ke seluruh tubuhku. Aku merebahkan tubuhku ke kasur seraya menikmati cahaya mentari yang

Di Balik Lemari

Oleh:
Aku adalah seorang anak muda endonesyah, selama ini aku tinggal di rumah yang lumayan besar. Aku hanyalah seorang anak tunggal, ibu dan ayahku sering pulang malam karena sibuk dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *