Where Are You? (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 11 September 2021

“Carla!, Carla!” teriakku sambil berjalan melihat setiap pojok ruangan. Ruangan yang gelap, itu sudah biasa karena jam sudah menunjukkan dini hari. Dan aku baru kembali setelah pergi ke swalayan. Di rumah ini tidak hanya ada aku, ada Lilista, Windy, Desi dan si Carla itu. Kami adalah murid kelas 12.

Aku lalu membuka pintu kamar milik Carla tapi tidak ada siapapun. Dari dalam kamar hanya AC saja yang masih bergerak. Lilista yang baru selesai belajar lalu menghampiri diriku.
“Kamu cari apa Vivian?” tanya Lilis sambil membuka lampu di setiap ruangan.
“Itu Clara mana?, kucari dari tadi gak ada orangnya” balasku.
Lilis lalu memberi tau ku bahwa Clara sedang berada di luar kota bersama teman-teman sekolahnya untuk mengerjakan tugas sekolah. Setelah mendengar itu, aku cukup tenang mendengarnya.

Windy dan Desi lalu keluar dari kamar dan duduk di sofa.
“Vivian, tolong buatkan popcorn boleh gak?” pinta Windy sambil menekan tombol remote.
“Risau aku bukannya buat sendiri, kau kira aku babu kau apa!?” balasku protes.
“Bilang aja kalo ga mau, susah amat. Desi boleh buatkan gak?” ucapnya memohon kepada Desi.
“Eh Windy, kau kan udah gede, masa harus aku yang buatkan” balas Desi.

Gak ada pilihan lagi, Windy lalu pergi ke dapur dan membuat popcorn sendiri.
“Hoam…” ucapku mulai mengantuk.
“Vivi kau udah ngantuk dah, cepat sekali ada film seru nih malam ini” ucap Desi sembari melihat diriku.
“Kalian saja yang nonton, aku ngantuk banget Lagian besok senin, harus bangun pagi” tambahku dan segera pergi ke kamar.

“Beneran besok Senin!?” tanya Lilis kepada Desi.
“Bentar coba lihat kalender dulu. Oh iya senin nih besok, ulangan lagi!.”
“Yang bener aja, wah harus belajar nih. Duluan yah bay” ucap Lilis meninggalkan ruang nonton. Desi lalu meninggalkan ruang nonton dan berlari ke kamarnya.

“Loh kemana mereka?” ucap Windy kaget melihat tidak ada seseorang pun disana. Windy lalu mengintip kamar Vivian dan ia sudah tidur. Ia lalu berjalan ke kamar lainnya, terlihat Desi dan Lilis sedang fokus belajar.
“Ada apa dengan mereka berdua, besok minggu kenapa mereka belajar? Yaudah deh lagian nonton sendiri juga seru..” ucapnya sendiri sambil menonton dan menikmati popcornnya.

Keesokan harinya…
Jam sudah menunjukkan pukul jam 8, Lilis, Desi, dan diriku sudah siap untuk berangkat ke sekolah.
“Dimana Windy?, apa dia masih tidur” tanya Lilis sambil memakai sepatu.
“Mungkin, bentar aku coba liat” respon Desi.

Di dalam kamar,
Desi mencoba membangunkan Windy yang masih tertidur pulas.
“Windy bangun!, Windy!, Windy ayo cepat bangun jika tidak kau akan telat nanti”.
Desi lalu meninggalkan Windy dan pergi ke ruang nonton lagi dimana tempat itu sangat dekat dengan pintu keluar-masuk. Lilis lalu menuliskan sepercik surat untuk Windy ketika ia sadar. Kami lalu berangkat ke sekolah dan meninggalkan rumah.

“Selamat pagi semuanya, bagaimana kabar kalian semua?” sapa Mrs. Amelia.
“Baik Mrs. Melia” jawab seluruh murid di kelas.
Mrs. Amelia atau yang lebih dikenal dengan nama Melia adalah seorang Ibu dari seorang anak perempuan.
“Seperti yang sudah Mrs katakan 4 hari yang lalu, hari ini ada Ulangan Harian. Kalian ingat?” ucap Mrs. Melia sambil menulis di papan tulis.

Di sebelah bangkuku ada Desi dan di belakang ada Lilis dan Alexi.
“Vivi kamu udah siap buat ulangan?, kok aku gugup banget ya” bisik Desi di sebelah kananku.
“Kalau sudah belajar, aku sih udah siap ya memang sih sedikit gugup” balasku mengambil pulpen.
Mrs. Melia lalu membagikan kertas ulangan kepada masing-masing murid. Setiap murid mendapatkan 5 lembar kertas yang berisi 40 soal.
“Sebelum itu tas dan isi di laci meja kalian dikeluarkan, tas dan lainnya kalian simpan di lemari loker!” pinta Mrs. Melia menunjuk lemari loker di samping papan tulis.
Setiap murid lalu berjalan menyimpan barang-barang mereka di lemari loker.

Tiba-tiba seorang murid berteriak dengan keras dari lorong sekolah. Dari kejauhan terlihat ia sangat ketakutan dan berlari tergesa-gesa seperti ada orang yang mengejarnya. Lalu teman-temannya mencoba menenangkan dirinya, ia berkata bahwa seorang murid perempuan mengejarnya dengan wajah mengalir darah.
“Apa kamu mengenalnya?” tanya temannya itu.
Dia ketakutan dan menjawab secara terbata-bata hingga tidak ada yang mengerti yang ia ucapkan.

Dari kejauhan terlihat 5 siswi yang berlari ketakutan dari lorong sekolah. Masih sama dengan anak perempuan tadi, mereka berlari seperti seseorang mengejarnya. Salah satu dari 5 siswi itu adalah sahabat Desi.
“Monica kenapa kau lari ketakutan gitu?” tanya Desi kepada sahabatnya itu.
Aku dan Lilis lalu mengikuti Desi.
“Itu di lorong sana di toilet ada hantu serem banget” ucap Monica menjelaskan dengan ketakutan.

Sekolah lalu dihebohkan dengan tingkah murid-murid yang melihat sosok hantu dengan darah.
Bel pulang sekolah lalu tiba dan semua murid berlari keluar dari kelas. Beberapa petugas keamanan sekolah lalu mencoba mengecek lorong sekolah menuju toilet. 12 petugas dikerahkan dan hasilnya…
Seorang Mrs bernama Grace lalu berjalan menuju toilet dan melewati lorong itu. Saat ia sampai, dia terkejut melihat petugas keamanan sudah tidak bernyawa dan wajah mereka mengalir darah. Mrs. Grace lalu melaporkan ke seluruh guru yang masih berada di sekolah untuk membantu membawa mayat-mayat mereka ke rumah sakit terdekat.

Oke kita pindah di tempat lain lagi..
Sampai di rumah, Desi lalu membuka pintu yang tidak dikunci.
“Lelah sekali hari ini fiuh…, dimana Windy?” ucap Desi langsung duduk di sofa empuk sambil menyalakan AC. Sedangkan aku dan Lilis mencoba mencari Windy. Lilis membuka pintu kamar dan tidak terlihat ada seorang pun.
“Windy tidak ada di kamar ini ya?” ucap Lilis membongkar kamar milik Windy. Aku lalu mencoba menelepon Windy dan panggilan tidak terjawab. Desi mencoba mengirim pesan dan pesan tersebut tidak dapat terkirim.

Kami semua mulai khawatir dan langsung berlari ke kamar Lilista untuk mencari jejak keberadaan Windy.
“Lah kok GPS nya gak aktif?, bahaya nih orang” ucap Lilis sambil mengutak-atik komputer miliknya.
Diriku sendiri mulai penasaran dan memutuskan untuk segera mencarinya. Selesai berganti pakaian langsung aku pamit dan pergi mencari Windy.
“Astaga si Windy ini memang merepotkan seperti anak umur 3 tahun saja” ucap Lilis berdiri di depan gerbang rumah bersama Desi.

Di perjalanan saya mencoba bertanya kepada orang-orang sekitar.
“Permisi tuan, apakah anda pernah melihat perempuan yang tingginya mirip dengan saya? Kira-kira umur 18 tahun” ucap ku mencoba mendeskripsikan Windy dengan detail dan rinci. Tapi bapak itu menjawab “Aku tidak melihatnya,” dan berjalan pergi.
Masih sama, aku mencoba bertanya sekelompok ibu-ibu yang sedang berbelanja. Ibu-ibu itu membalas pertanyaanku, berkata “Sepertinya saya melihat ada banyak perempuan yang seperti kamu jelaskan nak.”
Aku lalu menunjukkan foto Windy yang tersimpan di ponselku.
“Tidak, saya tidak melihatnya” responnya kembali.
“Baiklah bu, terima kasih” ucapku dan mencoba menanyakan orang lain.

Kali ini aku mencoba bertanya kepada seorang remaja laki-laki, kurasa usianya hampir sama dengan Windy yang tinggi itu.
“Permisi kak, numpang tanya.. Kakak ada lihat perempuan ya setinggi saya dan kira-kira umurnya 18 tahunan?” ucapku ragu.
“Apakah kamu ada fotonya?” balas remaja itu, segera aku lalu kembali memperlihatkan foto Windy.
Remaja itu berkata bahwa tadi ia sempat melewati depan rumahnya sambil mendengarkan lagu.
Saya mencoba bertanya “jalan apa yang ia lalui?.”
Ia lalu menjawab, “waktu itu dia berjalan melewati sebuah jalan kecil. Jika tidak salah jalan itu bernama murbei,” katanya sambil memberikan petunjuk.

Dirinya dengan tulus menemaniku untuk mencari Windy. Di sepanjang jalan itu kami terus berteriak memanggil Windy.
“Windy!, Windy!, Windy!?.” Seperti itulah sampai-sampai kami mulai kelelahan sekali.
Kami duduk di salah satu teras rumah yang kebetulan ada didekat kami.
“Kamu tunggu bentar ya, aku cari air minum dulu!” pintanya. Ia lalu pergi mencari air dan tersisa aku.

Cerpen Karangan: Angel Laurent

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 11 September 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Where Are You? (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Move On

Oleh:
“Serius amat lihat ke bawah. Ada apaan sih di bawah?” Tanya Cerryl kepada Luna yang konsentrasi menatap lapangan basket. “Bukan apa-apa kok.” Balas Luna, matanya tidak lepas dari lapangan

My Online Friend

Oleh:
Hay. Aku ingin cerita. Sesuatu yang, ya aku ingin mengabadikan setiap kisah bersama mereka. Seseorang kau sebut sahabat. Bahkan saat kau merasa sendiri, mereka ada walau hanya via telepon.

Norma Comaccos

Oleh:
Aloha, bertemu lagi denganku, Comaccos. Memangnya, sebelumnya kita pernah bertemu? Hahaha tentu saja tidak! Maukah kalian membaca kisahku? Hmm.. jika tak mau pun, akan kupaksa kalian agar tetap membacanya.

Camp Canola

Oleh:
“Hai Clara! Di sini!” Sapa Vero kepadaku saat aku memasuki kelas. Aku membalasnya dengan senyuman tipis dan lambaian tanganku. Lalu, aku duduk di sampingnya. Di kelasku, kami bebas memilih

Misteri Ruangan Musik

Oleh:
Perkenalkan namaku Syafira anissa rahma, aku masih duduk di bangku 1 smp tapi aku sudah cukup popular di sekolahku. Tringgg… Tring… Suara bell sekolahku berbunyi dengan keras, aku segera

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *