Where Are You? (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 11 September 2021

Lalu terdengar suara teriakan histeris perempuan. Ternyata itu seorang guru sama seperti miss Amelia. Dari tampangnya sepertinya miss Grace. Seluruh guru lalu bertanya apa yang terjadi, dan sebagian murid duduk di lapangan.

“Ada hantu di lorong sana” jelasnya dengan jantung yang berdetak kencang.
“Hantu apanya?” tambah Miss Florence mencoba menenangkan pikirannya.
Miss Grace lalu menjelaskan bahwa ada hantu yang dahinya sobek penuh darah mengalir.

Dari pembicaraannya sepertinya ada kasus yang sama lagi. Di hari kemarin juga terdapat hal yang sama. Mister lalu berkata bahwa hasil autopsi kemarin juga mengatakan bahwa goresan pada petugas keamanan tersebut disebabkan dengan serpihan kaca.

2 hari berikutnya, rumor tentang hantu perempuan bermunculan. Banyak komentar yang masuk di website sekolah. Ada yang bilang kalau sekolah ini bekas rumah sakit jiwa.
“Hadeh ada-ada aja nih orang komen kayak gini” protes Monica yang duduk disebelah Desi sahabatnya itu.
“By the way katanya anak-anak yang nugas di luar kota bakal pulang kemarin?” tanya Lilis sambil bersenderan di dinding.
“Ooh itu katanya hari ini mereka bakal pulang, anak itu salah info. Siapa dah namanya?” ucapku sambil mengutak-atik HP.
“Caroline?” potong Monica.

Bus sekolah lalu sampai beberapa murid berlarian memeluk teman-temannya.
“Yuk kita liat si Clara!” ajak ku berlari mendekati bus sekolah.
Tiba-tiba terlihat seorang bapak-bapak ya sekitaran 40 tahunan mungkin. Ia menangis menintikan air mata.
“Kalian kenal orang itu?” tanya Monica melihat bapak-bapak itu.

“Teng teng teng!!” bunyi lonceng pulang sekolah.
“Kami pulang duluan ya Mon” ucap Desi meninggalkan Monica dan mengajak kami segera pulang untuk makan siang.
Di pertengahan kami menghampiri sebuah gerobak bakso.
“Eh salah satu dari kalian lihat Clara gak?” tanyaku sambil menyeruput mie.
“Nggak fokus tadi liat keramaian” jawab Windy singkat.

Selesai makan siang, kami lalu melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Sampai di rumah masing-masing dari kami berjalan masuk ke kamar dan mulai membaringkan tubuh yang sudah lelah.
“Capek banget” ucapku yang berada satu kamar dengan Windy.

Back to school, masih di keramaian disana ada Monica. Seorang bapak yang sempat dilihat kami itu lalu menghampiri dirinya.
“Nak kamu temannya Clara ya?” ucap bapak itu mendekati Monica.
“Oh ya benar, bapak siapa ya?” tanya Monica menutup ponselnya.
“Saya pamannya” balas paman itu sambil mengusap air mata.
Bapak itu bertanya “apakah kamu tau tempat Clara tinggal?. Saya pamannya.” jelasnya.
Monica lalu memberikan alamat rumah tempat dimana Clara tinggal dan beserta kami.

3 hari kemudian tepatnya di hari sabtu, Paman tersebut lalu datang.
“Permisi saya pamannya Clara, saya ingin mengatakan sesuatu” sapanya.
Diriku laku mempersilahkan dirinya untuk masuk terlebih dahulu. Lilis lalu membuatkan teh hangat dan yang lainnya berkumpul. Ia memperkenalkan dirinya dan begitu juga kami. Ia mulai membicarakan tentang Clara yang yatim piatu. Yap sejak kecil Clara diasuh oleh paman bibi dan tantenya serta neneknya yang sekarang sudah tiada. Paman itu lalu menceritakan yang terjadi pada Clara.

Paman Timothy berkata bahwa Clara sudah mati gara-gara terjatuh dari tebing yang tinggi dan tubuhnya hancur lebur, jelas paman Timothy. Tentu saja diriku tak menerima apa yang dikatakan paman itu. Kami yang mendengarnya sampai meneteskan air mata ke pipi kami.
Desi lalu mengangkat suaranya, “tidak mungkin paman Timothy, Clara itu sama teman-temannya lagi belajar di luar kota!” bentak Desi dengan luapan tak kuasa menahan diri.

Paman Timothy lalu menelepon ke saudara Clara untuk memberikan kabar tersebut yang bernama Andrea.
“hallo paman?”
“ya Andrea, saya mau memberi tau tentang kabar kakakmu”
“kapan kakak kembali ke rumah, aku ingin makan masakannya” keluh adiknya
Paman lalu menceritakan semuanya dan setelah itu meminta izin pulang ke rumah.

Lelap dalam kesunyian kami semua melihat foto kenangan Clara di sebuah bingkai foto yang terpajang.
“Aku tak percaya usianya yang masih mudah sudah dipanggil” ucapku mengusap air mata.
“Iya, sangat sedih ya kehilangan dia” ucap Lilis mencoba menahan air mata.
Desi yang menangis tersedu-sedu membuat kami semua ikut sedih atas kematian Clara.

Sampai tengah malam, mereka masih menangis sedih. Diriku lalu memasak sup yang sering dibuat Clara ketika malam hari.
“Kalian makanlah dahulu!” ucapku mencoba mengajak mereka. Mereka lalu berjalan ke dapur dan segera mengambil kursi. Seperti biasa sebelum kami makan kami berdoa dan mulai makan.

Desi lalu memuji diriku bahwa makanannya sangat enak seperti resep Clara.
“Vivian apa kau ingin menjadi seorang koki juga, kau pandai masak” tambah Lilis.
“Aku punya tujuan sendiri, mari makan. Besok pagi kita ke gereja untuk memberikan kabar kepada tantenya”.

Tantenya adalah seorang pendeta di sebuah gereja. Biarawati tidak menikah karena telah mengucapkan atau mendeklarasikan 3 kaul yakni kaul kemurnian, kaul ketaatan, dan kaul kemiskinan dalam suatu komunitas religius.

Pagi-pagi kami semua sudah bangun dan bersiap-siap untuk segera pergi ke gereja. Ia lebih dikenal dengan nama santa Lala. Kami mengikuti misa terlebih dahulu dan setelah selesai, diriku mencoba bertanya kepada dirinya. “Permisi santa Lala, saya ingin memberitahu bahwa Clara sudah dipanggil Tuhan” ucapku grogi.
“Hah!?” balasnya kaget dan segera menutup Alkitab yaitu kitab suci agama Kristiani.
Lilis dan Windy juga memberikan semua barang milik Clara untuk diberikan kepada keluarga besarnya. Santa Lala hanya menerima sambil menahan tangisannya. Kami lalu segera meminta izin untuk pulang ke rumah untuk beberes.

Disaat itupun di website sekolah juga diributkan oleh kasus tentang hantu perempuan waktu itu.
“Dalang dibalik semuanya adalah Valencia, seorang murid yang sempat ditahan selama 8 bulan akibat kejahilannya.
Dan kabar buruknya lagi adalah dirinya yang mendorong Clara jatuh ke tebing. Disaat itu ia merasa seseorang mengganggunya dan mulai menjadi hantu yang mereka kenal sekarang. Kami membalas dendam tersebut dengan melaporkan dirinya untuk ditahan sesuai dengan caranya memperlakukan Clara yang tidak bersalah tersebut.

Sekolah sempat ribut tetapi guru tetap menyudahi agar tidak ada lagi hal yang sama terulang. Valencia juga sudah dikeluarkan dari sekolah dan pemerintah di kota tersebut mulai menetapkan peraturan baru yaitu siapa saja yang membunuh akan dilakukan hukuman seumur hidup.

1 tahun kemudian kami lulus dari Sekolah Menengah Atas dan mulai melangkah ke dunia kerja. Aku yang sudah menjadi seorang aktris perfilman. Lilis yang sudah menjadi seorang desainer muda di usianya. Windy si tukang ngemil dulu juga sekarang tampak langsing dan makin tinggi. Ia juga memulai karier di sebuah restoran bintang 5. Dan yang terakhir adalah Desi seorang gadis yang mungil ini karena tingkah lakunya memilih untuk menjadi seorang penata rias di sebuah kota nan jauh.

Entahlah bagaimana nasib mereka setelah lama kami bersama sekarang harus berpisah ke dunia kerja. Diriku memiliki banyak teman sebaya seperti diriku. Salah satunya adalah Monica, masih ingatkan wanita satu ini. Monica dan aku bekerja sebagai aktris, kami sama-sama berkolaborasi di film pertama kami.

The end

Cerpen Karangan: Angel Laurent

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 11 September 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Where Are You? (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cool + Jutek = Istimewa

Oleh:
“waaaaaw, kereeeen. Hmmmmph, akhirnya aku pake seragam putih abu-abu.” Kata Angle dengan bangga. “biassa aja kalee.” Kata Chintya dan Anggun bebarengan. “hehehe, yaudah yuk masuk.” Ketiga remaja itupun memasuki

Kuburan Keramat

Oleh:
Pada malam jum’at, di desaku sedang mengadakan acara pasar malam. Rencananya Aku, Reza, Beni, Andi akan mengunjungi ke sana. Setelah sholat isya’, temanku langsung berkumpul ke rumahku. “Eh, berangkat

Hanya ini Yang Ku Punya

Oleh:
Di dalam Qs Al Hujarat, 11 disebutkan bahwa memperolok olok orang lain termasuk perbuatan zalim, seharusnya mereka tahu, tapi sayang mereka yang sekolah di sini tidak pernah mau tahu,

Cinta dan Benci

Oleh:
Malam hari yang sepi tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahku. aku melihat jam, pas pukul 20.00. bapak dan ibu juga belum datang, mereka masih kerja di toko. Pulangnya kan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *