Yang Terakhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 12 February 2016

Malam ini aku terbangun dengan mata terbelalak, aku mendengar suara itu lagi. Suara ketukan dari lemari pakaianku, awalnya aku mengira itu suara tikus yang bersembunyi di balik pakaianku, tapi saat aku memeriksa pakaianku tak ada yang robek atau bekas gigitan tikus. Malam selanjutnya aku kembali mendengar suara itu lagi tapi kali ini lebih keras dari malam malam sebelumnya, aku ketakutan. Aku tak berani membuka lemari pakaianku, nyaliku terlalu ciut. Ku pejamkan mata ini dengar sedikit dipaksa, walau masih belum mau tertidur tapi masih ku paksakan, tapi suara itu terus mengusikku, ku tutup telingaku dengan bantal, suara itu kini terdengar samar sehingga aku dapat tertidur sampai pagi.

Malam ini sangat melelahkan, karena hari ini aku mengikuti ekstra basket karena akan ada perlombaan antar sekolah di kota lahat. Kakiku terasa mau copot. Heehh, ku rebahkan badanku di kasurku yang empuk. “Sania, cepat turun kita makan.” teriak mana. Saat ku lirik jam, ternyata memang sudah waktunya makan malam.
“Iya Ma, Sania turun.” timpalku lesu. Saat turun aku melihat mama dan papa yang sudah duduk di meja makan, aku pun ikut duduk untuk menikmati makan malam.

“Ma, kok tiap malam lemariku kayak ada yang ngetuk-ngetuk,”
“Mungkin itu perasaan kamu saja,”
“Enggak Ma, suaranya itu selalu terdengar tiap malam,”
“Sudah jangan dipikirkan, lanjutkan saja makannya,”
“Ya Ma.” Mama tak percaya apa yang aku katakan, padahal suara itu sangat keras, masa mama tak mendengar.

Malam ini sangat mencekam, aku tak dapat tidur walau pun mata ini ku paksa dipejamkan, terdengar suara petir dari luar dan disusul dengan guyuran air hujan yang deras. Tiba-tiba lampu mati yang membuat suasana makin menyeramkan. Perlahan ku pejamkan mata ini dengan perasaan yang was-was, aku pun terlelap. Aku terbangun. Saat ku lirik jam masih pukul tiga pagi, tapi aku merasakan sesuatu yang aneh, seperti ada orang yang tidur di sampingku. Saat ku toleh ternyata tak ada orang, aku merasa lega.

“Tok, tok, tok,”

Suara itu terdengar lagi saat setelah satu minggu menghilang, tapi sekarang semakin keras, seperti beduk subuh di pagi hari. Aku berdoa semampuku dan suara itu menghilang. Tapi aku melihat lemariku sedikit terbuka seperti ada orang yang mengintip di sana. Ku perhatikan pintu lemari pakaianku itu yang kini perlahan lahan terbuka. Aku tak mampu melihat jelas wajah yang bersembunyi di balik lemariku itu, hingga aku nyalakan lampu kamarku yang membuat semua terlihat terang, saat ku kembali melirik lemariku sosok itu hilang dan bahkan pintu itu tertutup rapat. Aku lega karena aku salah lihat. Ku matikan lampu kamarku untuk kembali tidur, aku melirik lagi lemariku utuk memastikan tak ada apa-apa di sana, dan memang benar lemari itu masih tertutup. Tapi apa itu, siapa yang berdiri di samping lemariku.

Saat ku perjelas. Yang benar saja, sosok wanita tua tengah berdiri di sana, dengan rambut terurai berjalan terseok-seok menghampiriku, aku ketakutan setengah mati, aku terdiam kaku melihat makhluk tersebut makin dekat denganku. Kini wanita itu mengangkat tangannya yang ternyata memegang pisau yang ia arahkan kepadaku. Belum sempat ia menghunusku aku berlari ke sudut ruangan. Aku tak mampu melakukan apa pun, aku tak mampu berteriak sepertinya mulutku telah dijahit. Aku harus ke luar dari sini, itulah yang aku pikirkan. Tapi pintu tak bisa dibuka.

Saat aku menoleh wanita itu kini ada di hadapanku. Wajahnya terlihat jelas: hancur dan penuh luka bakar, anyir dan bau busuk menusuk hidungku, serasa ingin muntah karena bau itu sangat menyengat. Aku melihat tangannya berayun dengan cepat, menusukkan pisau itu tepat di dadaku. Darah mengalir dari jantungku yang bocor. Aku merasakan perih dan ngilu di dadaku. Nenek tua itu mencabut pisaunya kembali dan menusuk dadaku untuk yang kedua kali rasa ngilu itu kini semakin bertambah, dia menghujam ke dadaku untuk ke sekian kalinya, hingga aku merasa tak kuat dan tak sanggup lagi menahannya. Di ujung kematianku nenek itu berbisik.

“Kau yang terakhir.”

Cerpen Karangan: Fitri Mawaddah
Facebook: Fhitrie Shambora
Nama: Fitri Mawaddah
Kelas: Xi Ipa 2 SMA N 1 Muara Pinang
Alamat: Muara Pinang
Ide Cerita: Inspirasi Kawan
Sahabat 5 cm

Cerpen Yang Terakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Suara Aneh di Rumah Kosong

Oleh:
Cerita ini aku dapet dari tetangga-tetangga yang biasa ngegosip. Gini ceritanya. Aku punya tetangga, dia itu tukang bakso keliling. Saat itu bulan puasa, jadi dia pergi jualan kelilingnya jam

The My House

Oleh:
Namaku Albert, aku berumur 16 tahun, Aku seorang indigo, aku mempunyai Indra ke enam dari lahir. Rumahku terletak di puncak gunung di dekat hutan, rumahku besar seperti Villa tua.

Pisau Berkarat

Oleh:
Darah bercerceran di mana-mana, barang-barang, buku, baju, celana, meja, kursi, semuanya berantakan, berhamburan. Di luar hujan deras, angin menerbangkan segala benda, sesekali semburat petir meludahi wajah langit, bias cahayanya

Mobil Pemberian Ayah

Oleh:
Aku bernama Donny. Aku adalah salah satu mahasiswa jurusan Pertambangan di ITB. Bagiku, hidup di Bandung itu adalah sesuatu yang mengasyikan. Disini, aku bisa mendapatkan segala fasilitas dengan mudah,

Perempuan Kehujanan

Oleh:
Pada hari itu aku bertemu dengannya. Aku ingat, waktu itu pukul 11:00 malam saat aku tak sengaja bertemu dengannya di depan toko buku tua yang sudah tutup. Hujan yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *