You Must Dead

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 30 April 2016

Aku sendirian di rumah, kedua orangtuaku pergi ke luar kota karena ada urusan pekerjaan. Aku tidak ikut karena malas. Aku mengambil sebungkus cemilan lalu membawanya ke ruang tengah untuk menemaniku menonton TV, lalu mengambil remot di atas meja lalu menyalakan TV.

Klik!
Klik!
Klik!
Zrrtt!

Aku mematikan TV karena tidak ada film yang seru. Ah bagaimana ini, aku bosan sekali. Namun sebuah ide melintas di kepalaku, aku segera mengambil HP-ku lalu mengetik sebuah nomor.

Tuutt!
Tuutt!
Tuutt!

“Halo?” Kata seseorang di seberang sana.
“Halo, Sa, ini aku Tiffany. Kamu ada acara gak liburan ini?” Tanyaku kepada Vanessa.
“Hmm, gak ada sih. Emangnya kenapa?”
“Aku bosen sendirian di rumah, orangtua lagi pergi ke luar kota. Kamu bisa gak nginep di sini?” Tanyaku.
“Bisa kok, ya udah aku beres-beres dulu. Setengah jam lagi aku ke sana.” Kata Vanessa.
“Kalau bisa coba ajak Jennifer sama Stefani, biar tambah seru, jangan lupa bawa banyak cemilan juga ya hehe.” Kataku.
“Sip, aku telepon mereka dulu ya. Bye Tif.”

Lalu Vanessa mematikan sambungan teleponnya, sambil menunggu Vanessa, Jennifer, dan Stefani aku kembali menyalakan TV. Aku memencet remot TV berkali-kali untuk menemukan film yang bagus, lalu aku berhenti pada sebuah channel bertuliskan ‘Haunted Channel’. Haunted Channel? Aku tidak pernah melihat channel ini sebelumnya, saat membuka channel itu aku melihat iklan film horror berjudul ‘You Must Dead’ pada pukul 11 malam nanti. Mungkin nanti malam aku, Vanessa, Jennifer, dan Stefani akan menonton film ini. Aku beranjak dari sofa untuk membuang bungkus plastik cemilanku yang sudah habis. Ting! tong! Ah, sepertinya mereka sudah datang. Aku berjalan menuju pintu utama untuk membukakan pintu, Vanessa membawa tas ranselnya beserta dua plastik penuh cemilan.

“Haii.” Sapa Vanessa, Jennifer, dan Stefani.
“Hai, ayo masuk.” Ajakku.

Aku menutup pintu dan tidak lupa menguncinya setelah mereka semua masuk, aku mengajak mereka makan malam. Tidak lama setelah kami selesai makan, hujan lebat turun. Yah sungguh suasana yang menyeramkan, ditambah hari ini adalah malam Jum’at. “Kita di kamarku aja yah, di luar serem habisnya.” Kataku. Mereka semua mengangguk, lalu kami menuju kamarku. Vanessa menyalakan TV, Jennifer membaca novel horror yang dibawanya sedangkan Stefani sibuk dengan komiknya.

“Tif, ini gak ada film seru apa? Masa isinya berita semua, bosen kali.” Tanya Vanessa.
“Tahu tuh, tapi tadi aku lihat sih nanti malam ada film horror jam 11. Mau nonton nanti?” Tanyaku sambil mengeluarkan semua cemilan yang dibawa Vanessa.
“Boleh tuh, lah tapi cemilannya jangan diberantakin juga kali Tif.” Kata Vanessa.
“Bagi satu lah, Sa.” Kataku sambil mengambil sebungkus cemilan lalu membuat tanda ‘peace’ dengan kedua jariku.

Sambil menunggu pukul 11 malam, kami semua berbagi cerita horror. Hujan di luar belum berhenti, malah semakin besar. “Eh, udah jam 11 nih, jadi nonton gak?” Tanya Sasa.
Ya, Sasa sebenarnya adalah panggilanku, Jennifer, dan Stefani kepada Vanessa.
“Ayo deh.” Kata mereka.

Aku menyalakan TV untuk mencari channel ‘Haunted Channel’ setelah aku menemukannya, film tersebut baru saja akan dimulai. Kami mulai menonton film itu. Di film tersebut diceritakan seorang anak perempuan berusia sekitar 13-14 tahun sendirian di rumahnya, orangtuanya harus pergi dinas selama beberapa bulan, pembantunya harus pulang ke kampung halamannya karena ibunya sakit. Dia sendirian di rumah itu, ditemani langit gelap dan angin kencang. Lalu dia mengajak teman-temannya datang ke rumahnya untuk menginap dan menemaninya sampai liburan sekolah selesai, ah ya, nama perempuan itu Tiara, nama teman-teman perempuan itu adalah Jessica, Silvia, dan Viona.

Ting! tong!
Ting! tong!
Ting! tong!

Tiara berjalan ke depan untuk melihat siapa yang datang, ya mengira itu adalah teman-temannya. Tapi bukan, itu bukan teman-temannya. Dia mengintip dari jendela di sebelah pintu, dia melihat makhluk paling mengerikan yang pernah ia lihat. Wajah makhluk itu tidak terlihat, tertutup oleh jubah yang ia pakai. Jubah berwarna hitam, menjuntai ke lantai, dihiasi cairan-cairan berwarna merah seperti darah. Makhluk itu membawa senjata, pisau, mungkin? Tiara tidak dapat melihatnya dengan jelas karena pengcahayaan yang kurang. Tiara menutup mulutnya dengan kedua tangannya agar dia tidak berteriak, makhluk itu benar-benar mengerikan.

Tok! tok! tok!
Tok! tok! tok!

Tiara terdiam, dia tidak dapat bergerak dari tempatnya, lalu melihat lagi ke jendela. Itu adalah teman-temannya, bukan makhluk mengerikan dengan jubah hitam yang menjutai. Tiara langsung membukakan pintu rumahnya untuk ketiga temannya, lalu langsung menutupnya kembali. Teman-teman Tiara kebingungan melihat tingkah Tiara yang aneh.

“Kamu kenapa sih, Tiara?” Tanya Viona.
“Aku akan menceritakannya nanti, kalian masih dulu saja ke kamarku.” Ajak Tiara.

Lalu Tiara menceritakan makhluk yang ia lihat tadi kepada teman-temannya, lalu tiba-tiba saja lampu mati. Mereka berteriak karena kaget, lalu saat Tiara menyalakan senter yang terletak tidak jauh dari tempatnya itu, makhluk mengerikan yang tadi ia ceritakan sudah berada di belakang mereka semua. Dan mereka semua pingsan, saat mereka terbangun, mereka sudah berada di sebuah ruangan mengerikan. Mereka semua diikat, makhluk itu menghampiri mereka. mengangkat pisaunya tinggi-tinggi, menusuk kepala salah satu dari mereka, Viona. Yang lainnya hanya bisa menjerit ketakutan, ketakutan melihat temannya diperlakukan seperti itu dan ketakutan kalau mereka akan diperlakukan seperti itu juga. Makhluk itu menunggu Viona mati, setelah memastikan dia telah mati dia langsung mengitari mereka. Menusuk salah satu dari mereka lagi secara acak, kali ini Jessica. Tiara dan Silvia menangis, berteriak, meronta-ronta agar tubuhnya bisa lepas dan kabur dari tempat menyeramkan itu.

Brrtt!!
Tv mati seketika!
Brrttt!

Lalu menyala lagi, dengan adegan yang berbeda, lebih menyeramkan. Mereka telah menjadi mayat, dengan keadaan yang mengenaskan, darah berceceran di mana-mana. Tiba-tiba makhluk itu muncul di depan TV, wajahnya menyeramkan, darah bercucuran dari kepalanya, dan dia seperti menusuk layar TV lalu membuat Jenni, Sasa, Fani, dan aku kaget.

Zzzrrttt!!

“AAAaaaaa!!” Teriakku, Jennifer, Vanessa, dan Stefani bersamaan.
Listrik tiba-tiba mati, sungguh aku sangat kaget. Apalagi film itu sedang tegang-tegangnya. “Gelap banget, gimana nih?” Tanya Fani. Aku menyalakan flashlight dari hp-ku, lalu berjalan ke laci mejaku untuk mencari lilin dan korek api, lalu menyalakannya.

“Serem ah, masa tiba-tiba mati lampu gini. Udah di luar hujan, dingin, serem lagi.” Kata Sasa.
“Tahu nih, kamu belum bayar listrik ya, Tif?” Tanya Jennifer.
“Enak aja, udah tahu, aku juga gak tahu nih kenapa. Kita tidur aja deh, besok baru pesta bantal sekalian nonton film itu lagi.” Kataku. Jennifer, Sasa, dan Fani mengangguk bersamaan, aku membuka gordenku agar cahaya bulan dapat masuk. Lalu berbaring di sebelah Vanessa, aku dan Vanessa tidur bersama sedangkan Jennifer dan Fani tidur di kasurku yang lain. Aku segera menutup mataku lalu mulai memasuki alam mimpi. “Tif.. Tif bangun..” seseorang menggoyangkan tubuhku.

Aku membuka mataku lalu melihat ke sekelilingku, ternyata lampu masih belum menyala. Aku melihat Jennifer berada di hadapanku. “Kenapa sih? Masih ngantuk nih..” kataku sambil menguap.
“Aku mau ke toilet, tapi serem, Stefani sama Sasa gak mau bangun dari tadi. Temenin aku yah..” katanya. Aku hanya mengangguk lalu bangkit dari ranjangku untuk menemani Jennifer, aku melihat jam di hp-ku. Masih jam 2. Kami berdua berjalan menuju kamar mandi dengan flashlight di HP-ku. “Tungguin ya Tif.” Kata Jennifer. Aku hanya mengangguk.

Beberapa menit kemudian, Jennifer ke luar dari dalam toilet. Tetapi ada yang berbeda dari Jennifer, dia menjadi lebih diam. Bahkan tidak berbicara apa-apa setelah ke luar dari kamar mandi, wajahnya juga terlihat sangat dingin. “Hei, Jen, kau kenapa?” Tanyaku. Dia tidak menjawabku, aku bahkan sudah menggoyang-goyangkan tubuhnya. Dia masih tetap diam, tidak bergerak sedikit pun sambil menundukkan wajahnya. “Kalau kau masih tidak bergerak juga, aku tinggal ya.” Kataku. Setelah aku berbicara itu dia tetap diam, lalu aku pun memutuskan untuk meninggalkannya saja. Aku segera berjalan ke kamar dengan bantuan flashlight dari HP-ku.

Kreeeeek!!

Aku mendengar sebuah suara dari dapur, aku menghentikan langkahku. Suara apa itu? Tidak mungkin kan kalau itu kucing. Aku membalikkan langkahku, berjalan menuju dapur untuk memeriksa suara tadi. Dapurku lumayan terang karena jendela di dapur ini menghadap tepat ke arah bulan, aku mematikan flashlight di hp-ku. Aku memeriksa semua tempat, tidak ada barang yang terjatuh atau berantakan. Tapi lemari makanan terbuka, aku ingat betul aku sudah menutupnya tadi. ‘Ah mungkin angin,’ batinku. Aku menutup lemari itu dan kembali menyalakan flashlight-ku, lalu berjalan menuju kamar.

“Hei, kau kenapa diam saja tadi? Aneh, lalu setelah itu kau malah meninggalkanku sendirian.” Tanyaku kepada Jennifer saat sudah sampai di kamar.
“Justru kau yang aneh, saat aku ke luar dari kamar mandi aku sudah memanggilmu berkali-kali tapi kau hanya menatap pintu kamar mandi dengan tatapan seram. Lalu setelah aku sampai di depan pintu kamar, aku mendengar kau berbicara sendiri di depan kamar mandi.” Jelas Jennifer.
Karena suara Jenni yang mungkin cukup keras, Sasa, dan Fani terbangun. “Berisik sekali sih? Aku masih ngantuk tahu…” kata Sasa. Lalu setelah itu lampu menyala, ah baguslah. Lalu kami berempat duduk di kasur tipis yang berada di lantai, lalu bersiap untuk bercerita.

“Jadi begini, tadi Jenni membangunkanku untuk menemaninya ke kamar mandi, jadi aku temani. Dan saat dia ke luar dari kamar mandi, wajahnya dingin, pucat, and menyeramkan. Aku memanggilnya berkali-kali tapi Jenni mengabaikanku dan hanya menatap ke depan dengan pandangan yang menyeramkan, lalu dia meninggalkanku sendirian di sana. Saat aku ingin kembali ke kamar, aku mendengar suara dari dapur dan ternyata lemari makanan terbuka padahal tadi aku ingat aku sudah menutupnya, dan bahkan aku tidak membukanya sama sekali dari pagi.” Jelasku lagi, lalu Jenni melanjutkan.

“Tapi tadi saat aku ke luar dari kamar mandi, Tif hanya bengong dengan tatapan yang… errr, menyeramkan. Aku sudah memanggilnya berkali-kali tapi dia tetap mengabaikanku, karena aku ketakutan jadi aku berlari ke kamar sendirian dan sebelum masuk aku mendengar Tif berbicara sendiri.” tambah Jenni.
“Eh, kalian nyadar gak sih, sejak kita nonton film tadi, keadaan di sini jadi aneh.” Kata Sasa. Kami semua terdiam. Benar juga sih, saat kami sedang menonton film itu tiba-tiba lampu mati, lalu Jenni melihatku bengong, dan aku mendengar suara aneh dari dapur padahal tidak ada apa-apa di situ.

Stefani mengangguk, “Iya juga, ya. Lagi pula aku juga belum pernah denger ada channel itu.”
“Gimana kalau kita coba telepon stasiun televisi?” Usul Sasa. Stasiun televisi? Untuk apa? Sebelum aku bertanya, Sasa sudah melanjutkan kata-katanya. “Kita cek, ada gak channel itu.”
“Aku yang telepon.” Aku langsung mengambil handphone-ku dan menekan nomor stasiun televisi.

Tuuut!
Tuuut!
Tuuut!

“Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?”
“Saya mau tanya, apa stasiun pernah menayangkan channel ‘Haunted Channel’?”
“Haunted Channel? Channel apa itu? Setahu kami, kami tidak pernah menayangkan channel itu. Tapi sebentar, saya akan menanyakannya kepada pegawai lain.”
“Ah, baiklah.” Lalu hening, sepertinya dia sedang menanyai beberapa pegawai lain. Tapi, dia bilang Stasiun Televisi tidak pernah menayangkan channel itu. Tidak mungkin ‘kan channel itu bisa tiba-tiba muncul sendiri di TV?

“Tif.” Stefani menepuk pundakku.
“Eh, ya?”
“Gimana?” Sasa menatap wajahku dengan serius.
“Dia bilang mereka tidak pernah menayangkan channel itu, tapi dia bilang dia akan menanyakan beberapa pegawai yang masih ada di sana dulu.” Aku menatap handphone-ku, menunggu orang yang mengangkat teleponku tadi kembali berbicara.

“Halo? Apa kau masih di situ?”
“Ah iya, bagaimana?”
“Semua pegawai yang masih lembur di sini bilang mereka tidak pernah menayangkan channel itu, mereka bahkan bilang mereka tidak pernah mendengar channel yang kau bilang tadi. Aku juga sudah mencarinya di buku daftar, dan aku tidak menemukan nama channel itu.” Kenapa channel itu tidak ada di daftar mereka? Kenapa channel itu bisa muncul dengan sendirinya di televisiku? Kenapa sejak aku dan teman-temanku menonton film tadi, kami merasa sedang diteror? Ada apa dengan channel dan film tadi?

“Permisi? Kau masih di situ?” Suara orang itu menyadarkanku dari lamunanku.
“Memangnya ada apa, kau menanyakan channel itu?”
“Tadi sore, aku dan teman-temanku menonton film yang berjudul ‘You Must Dead’ dari channel itu. Dan sejak kami menonton film itu, sekarang kami merasa sedang diteror. Kami merasa seperti ada makhluk yang sedang mengawasi kami.” Aku menjelaskannya dengan tubuh bergetar. Aku ketakutan. Bagaimana kalau kami semua bernasib sama dengan para tokoh di film tadi?

“Mungkin kami melakukan kesalahan tadi, tapi tidak ada orang yang menelepon dan menanyakan channel ini dari tadi selain kau. Oh, dan jika kau dan teman-temanmu itu merasa sedang diawasi, lebih baik kalian melaporkannya kepada polisi.”
“Polisi? Aku yakin mereka tidak akan percaya, dan apakah kau sudah mengecek ulang buku daftar channelmu itu?”
“Sudah tiga kali, dan aku rasa aku harus mengakhiri panggilanmu sekarang. Kerjaanku di sini masih sangat banyak, bisa-bisa aku tidak pulang sampai besok kalau aku terus meladenimu. Selamat malam.”

Dia mengakhiri teleponnya sebelum aku menjawab apa-apa. “Hei, apa katanya, Tif?” Jenni bertanya. Aku diam, lidahku terasa kaku. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku bisa setakut ini hanya karena satu channel bodoh, aku… aku hanya takut aku akan mati seperti tokoh di film tadi.

“Ada apa denganmu? Kenapa wajahmu pucat sekali? Dan, kenapa tubuhmu bergetar?” Kali ini Sasa yang bertanya.
“Me-mereka bilang mereka tidak pernah menayangkan channel itu, mereka bilang hanya aku yang menelepon mereka dan bertanya tentang channel itu. Aku.. aku.. aku takut…” Sekarang mataku mulai berkaca-kaca, oh ada apa denganku astaga…
Fani menatapku dengan bingung. “Takut? Takut kenapa?”

“Kalian tahu kan, sejak kita menonton film itu kita merasa seperti sedang diawasi, seperti ada seseorang yang sedang memperhatikan kita, kita merasa ada sesuatu yang menyeramkan yang sedang mengganggu kita. Aku takut kalau kita akan bernasib sama seperti para tokoh di film tadi, tanda-tanda yang kita alami ini hampir mirip dengan mereka. Aku belum mau mati!!” Aku berteriak frustasi. Mereka semua terdiam. Berpikir. Lalu wajah mereka memucat.

“Be-benar juga. Apa yang kita lakukan sekarang? Menelepon polisi? Lalu menyuruh mereka datang ke sini?” Jenni bertanya dengan panik. Sasa menggeleng lemah, “Apa alasan yang harus kita buat agar para polisi mau datang ke sini? Berkata kalau kita diawasi oleh hantu? Mereka justru akan menertawakan kita dan mengatakan kita gila.”

PRAAANGGG!!

“Suara apa itu?” Tanya Stefani.
“Sepertinya suara itu berasal dari dapur, kita harus memeriksanya.” Aku bangkit dari dudukku.

Jenni, Sasa, dan Fani menatapku seolah berkata ‘apa kau yakin?’ dan aku hanya mengangguk pasti. Aku membuka pintu, mengintip ke luar, dan berjalan perlahan ke arah dapur. Mereka mengikutiku dari belakang sambil memegang pundakku, aku tahu mereka ketakutan, dan aku juga. Tubuhku tegang seketika, begitu juga teman-temanku. Kau tahu apa yang sedang kita saksikan sekarang? Makhluk dengan wajah mengerikan, memakai jubah merah kehitaman, membawa sebuah golok. Oh Tuhan, tolong selamatkan aku dan teman-temanku.

Makhluk itu menyeringai, dia berjalan mendekat ke arahku dan teman-temanku. Entah kenapa tiba-tiba tubuhku bisa digerakkan, aku langsung menarik tangan teman-temanku sebelum makhluk mengerikan itu bertambah dekat. Teman-temanku hanya menatapku kosong, tubuh mereka seperti patung, berat sekali, aku tidak kuat lagi menarik mereka. Tiba-tiba makhluk itu sudah berada di belakang Sasa, dia mengangkat goloknya tepat ke atas kepala Sasa.

“Aaaa!!!” Kami semua berteriak.
Splaaaashhh!!

Kepala Sasa menggelinding ke arah kakiku, aku membesarkan mataku, tanpa aba-aba aku langsung berlari ke arah pintu ke luar, meninggalkan Fani dan Jenni yang masih berdiri kaku melihat tubuh Sasa yang sudah berlumuran darah. Pintu ke luar tidak bisa dibuka, pintunya macet. Dan sekarang aku terdiam melihat teman-temanku yang dibunuh satu per satu oleh makhluk itu, makhluk itu berjalan dengan santai ke arah Fani. Dia memotong lengan Fani dengan goloknya itu, lengan Fani terpental ke wajah Jenni. Jenni langsung pingsan seketika, aku ingin berlari ke sana dan menarik Jenni ke sini. Namun aku terlalu takut, katakan aku tidak setia kawan, tapi sekarang kakiku benar-benar tidak bisa digerakkan.

Makhluk itu kembali memotong tubuh Fani, makhluk itu memutilasi Fani, dan aku menyaksikannya. Tubuhku lemas, perutku mual, rasanya aku ingin muntah sekarang juga. Kini makhluk itu berjalan ke arah Jenni, darah Fani menetes dari goloknya. Dia kembali memutilasi Jenni seperti Fani, setelah selesai makhluk itu menatapku, menyeringai seram. Aku belum mau mati! Aku harus bisa ke luar dari sini! Aku memaksa pintu ke luar agar terbuka, butuh beberapa detik untuk membuat pintu itu terbuka. Aku segera berlari keluar dengan keringat yang membanjiri wajahku, aku berlari menjauh dari rumah.

“TOLOOONGG!!”

Aku melihat makhluk itu, makhluk menyeramkan itu, monster itu berjalan ke arahku, menunjukkan senyuman mengerikannya kepadaku, meledekku dengan senyumannya itu seolah aku sudah kalah. Tubuhku sudah benar-benar lemas, aku tidak bisa bergerak lagi, tubuhku terkapar di jalan. Aku melihat monster itu sudah berdiri tepat di atasku, memainkan goloknya. Sebelum akhirnya aku kehilangan kesadaranku, semuanya gelap, dan aku tidak tahu lagi apa yang terjadi.

Cerpen Karangan: Angelica
Hai! Buat kalian yang punya wattpad follow akunku ya http://w.tt/1RJzokA Ada beberapa cerita lain yang ku buat di sana. Thanks for reading this story!

Cerpen You Must Dead merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rumah Tua Si Gadis Ayu

Oleh:
Awan berarak menutupi bulan, membendung cahaya menembus permukaan, terlihat bangunan tua belanda memancarkan aura seram penuh kegelapan. Membuat siapapun melihatnya merasa takut. Hembusan angin menerpa pepohonan di pekarangan rumah

Anabel (Part 1)

Oleh:
Suara tangisan seorang wanita mengganggu indra pendengaranku dan sukses membangunkanku, merinding yah itulah yang kurasakan sekarang. Tengah malam jam 11:30 dan terdengar suara tangisan wanita bukannya ini familiar? seperti

Diary Berdarah

Oleh:
Bel istirahat tanda anak-anak boleh pulang, berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar kelas. Tetapi ada 1 anak yang tertinggal di kelas namanya Desy, karena dia harus mengerjakan remidi yang diberikan gurunya.

Misteri Rumah Kosong

Oleh:
Awalnya aku tidak percaya dengan hal ini, namun setelah diselidiki, akhirnya aku menemukan jawaban kenapa aku harus percaya. Aku hanyalah seorang pelajar di salah satu SMA Swasta Saya tinggal

LARI!

Oleh:
Lari! Lari! Lari! Hanya itu yang ada di pikiranku saat ini, ketakutanku ini semakin menjadi-jadi…. — Pagi itu adalah pagi yang cerah. Di tengah libur panjang ini, pada hari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *