Zombie

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 10 October 2017

Nama saya Willi, anak pertama dari tiga bersaudara. Sekarang saya duduk di bangku kuliah, tahun ini semester empat. Kedua adikku Beny dan Joe masih di sekolah menengah atas kelas sepuluh dan sebelas.

Enam bulan yang lalu kami pindah rumah, karena Ayah saya sudah membeli rumah sendiri. Rumah baru yang kami tinggal sangat luas dan memiliki tiga lantai. Ayah dan Ibu memilih kamar yang berada di lantai dua, sedangkan saya dan kedua adik berada di lantai tiga. Di lantai ketiga memiliki dua kamar. Saya sendiri memilih kamar di sisi kanan, Beny dan Joe memilih kamar di sisi kiri.

Waktu berlalu dengan cepat tidak disangka kami sudah menempati rumah baru selama tiga bulan. Belakangan ini saya merasakan keanehan yang muncul ketika saya beristirahat di kamar saya. Pintu kamar saya selalu diketuk dan saat dibuka tidak ada siapa-siapa. Kejadian ini sering terjadi, tetapi saya cuma berpikir itu ulahnya Joe untuk menjahili saya.

Suatu malam saya bangun karena kebelet buang air kecil, sedangkan toilet berada di lantai paling bawah. Perlahan saya hendak turun tangga dari lantai ke tiga menuju ke lantai dua. Tiba-tiba di belakang saya muncul seorang laki-laki seumuran Ayah saya. Ketika saya menoleh, mulutnya terbuka lebar dan memiliki taring seperti film zombie yang sering saya tonton. Saya berlari dan menjerit meminta tolong tetapi kedua orangtua dan adik-adik saya tidak ada yang bangun. Saya berlari dengan cepat ke kamar Ayah dan Ibu, rupanya kamar itu dikunci. Terpaksa saya mengedor-gedor pintu dan memanggil Ayah dan Ibu tetapi tidak ada jawaban dan kamar tidak terbuka. Zombie itu sudah menyusul saya ke lantai dua dan dia siap-siap mengambil posisi untuk menyerang saya. Dengan cepat dia berlari ke arah saya.

“Happ” suara gigitan ke arah leher bagian kiri saya, dan untung saya masih sempat mengelak gigitan tersebut. Saya panik dan terpojok di sudut ruangan. Saking takutnya saya menangis meminta tolong. Zombie tersebut tampak kegirangan melihat saya terpojok di sudut ruangan dan tidak dapat mengelak dari gigitannya lagi. “Happ” dia menyerang dengan gigitan tapi saya tidak mudah menyerah, di samping saya berdiri ada sebuah sapu dan saya menganjal gagang sapu tersebut ke mulutnya yang lebar itu. Jadi sekarang yang digigit adalah gagang sapu itu.

Dengan cepat saya mendorong Zombie itu ke arah tangga, dan saya menghadiahkan sebuah tendangan keras ke arah dadanya. Dan “bruakk” dia terguling jatuh dari tangga ke bawah. Saya ingin menuju ke bawah untuk melihat apakah Zombie tersebut sudah mati atau belum tetapi, saya urungkan niat saya dan berlari ke atas menuju kamar saya di lantai tiga.

Saat di lantai tiga saya sempat menjerit kedua adik saya untuk bangun dan tidak ada jawaban dari mereka. Sesampai di kamar segera saya kunci pintu kamar dan langsung berbaring di kasur.

Tiba-tiba saya merasakan siraman air ke wajah saya. Dan suara Ayah menjerit “Bangun! bangun! Willi, malam-malam gini malah menjerit meminta tolong” saya terkejut dan membuka mata. Kudapati Ayah, Ibu, Beny dan Joe berada di kamar untuk membangunkan saya. “Kamu mimpi buruk ya Wil?” Tanya Ibu kepadaku. Ayah cuma menggeleng-geleng kesal dan kedua adikku malah tertawa terbahak-bahak melihat saya mimpi buruk.

Ya, saya mimpi buruk di malam itu sampai-sampai saya menjerit meminta tolong. Setelah Beny dan Joe mendengar jeritan mereka segera memanggil Ayah dan Ibu untuk masuk ke kamarku. Mimpi yang paling menakutkan dalam hidupku, semoga tidak ada lagi mimpi semacam ini.

Cerpen Karangan: Romy Hw
Facebook: New Romy Jingga

Cerpen Zombie merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pengulangan

Oleh:
Hujan rintik rintik turun beberapa saat setelah Jenazah Kakakku dimasukkan ke dalam ruang peristirahatannya yang terakhir. Isak tangis yang masih terlihat di beberapa sanak saudaraku termasuk orangtuaku belum terhenti.

Menaklukkan Naga (Part 2)

Oleh:
Vermund memacu kudanya secepat ia bisa. Ia bukan hanya penasaran mengenai apa yang akan disampaikan oleh sahabatnya itu, tapi ia juga rindu pada Laure. Dua tahun sudah mereka tidak

Amplop Ungu Orang Mati

Oleh:
Pino memacu sedan hitamnya menyusuri permukaan aspal yang lurus dan panjang di sisi kota. Tangannya yang panjang dan ramping erat menggenggam roda kemudi sampai buku-buku jarinya berubah putih. Rekannya

Cerita yang Menyeramkan

Oleh:
Setiap orang punya hak untuk percaya bukan? Aku harap kau juga percaya dengan kisah yang akan aku sampaikan ini. Tentu sebelum kisah ini kuceritakan kau harus tahu darimana kisah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *