Mengejar Mimpi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Inspiratif
Lolos moderasi pada: 26 October 2015

Namaku Parlindungan Purba. Aku dipanggil Parlin. Aku lahir di Samosir. Sejak kecil aku ingin menjadi karateka terbaik dan ingin membawa nama Indonesia ke ajang INTERNASIONAL. Sejak umur 6 tahun aku mulai mengenal bagaimana dan apa karate itu dari Ayahku sebagai gurunya. Dia senantiasa mambimbingku. Aku terus berlatih dan berlatih. Pada umurku yang ke-9, usahaku membuahkan hasil. Aku berhasil mendapat juara kelima pada pertandingan antar desa. Meskipun begitu aku tidak putus asa. Aku terus berusaha sampai sekuat tenaga. Ayahku pun terus melatihku.

Hingga pada suatu hari aku mendengar suatu pengumuman bahwa tertera, “Perlombaan Karate Tingkat Provinsi.” aku menyampaikan pengumuman itu dan lalu Ayah memberikan tanggapan yang baik, begitupun dengan teman-temanku. Aku meminta formulir pendaftaran di sekolahku. Lalu aku mengisi data itu dengan lengkap. Pada saat pulang ke rumah aku berjumpa dengan Senior karateku bernama Yudha.

Tanpa ku sangka dia juga ikut dalam pertandingan itu. Setelah dia tahu bahwa aku mengikuti pertandingan itu juga. Dia meremehkan aku dengan mengolok-olokku. Dengan mengatakan kamu tidak pantas mengikuti perlombaan itu karena seperti aku saja yang selalu mendapatkan juara satu. Di setiap perlombaan karate. Aku tidak pernah putus asa dengan perkataannya itu. Melainkan aku semakin bersemangat untuk berlatih bersama Ayahku.

Hari demi hari telah berlalu tanpa ku sadari hari ini adalah hari perlombaan tersebut. Pada pertandingan pertamaku aku merasa gugup tetapi aku berhasil melakukan langkah awal yang baik. Dengan modal kemenangan ini, aku selalu bersemangat. Sehingga pada laga-laga selanjutnya aku bisa memenangkannya. Akhirnya aku sampai juga di final. Setelah aku mendengarkan pengumuman ternyata lawanku adalah Sang senior yang dulu meremehkanku yaitu Yudha. Beberapa hari sebelum hari pertandingan itu aku berlatih dua kali lipat dari sebelumnya.

Pertandingan final pun digelar aku akan melawan seniorku yang menatapku dengan ambisius untuk mengalahkanku. Akhirnya aku memenangkan pertandingan tersebut dengan sekor 6-5. Setelah seniorku itu melihat pertandingan itu sang senior pun meminta maaf kepadaku karena telah meremehkanku. Aku menerima permintaan maaf itu dengan perasaan bangga. Dengan memenangkan pertandingan itu, aku ditunjuk untuk mewakili Indonesia dikanca Internasional yaitu Olimpiade karate sedunia.

Sebelum olimpiade itu aku menginap di Rio De Janeiro, Brazil. Di sana aku bertemu dengan karateka terbaik dari berbagai negara. Aku dilatih oleh pelatih terbaik dari Indonesia. Aku melewati laga tersebut dengan langkah yang mulus. Lalu aku menempuh kesulitan pada laga seni final. Aku masuk ke final. Aku harus melanjutkan karateka terbaik tahun lalu yang berasal dari negara Vatikan. Aku berhasil mengharumkan nama Indonesia di tingkat internasional. Dengan jerih payah yang menghabiskan tenaga. Semua orang menonton bersuka cita karena selama lima tahun terakhir karateka dari Vatikan tersebutlah yang selalu menjadi juara. Mereka ingin karateka terbaik yang baru. Aku mencapai impianku dengan perjuangan yang hebat.

Cerpen Karangan: Kevin Pakpahan
Facebook: Kevin Jeremy Dirgantara Pakpahan

Cerpen Mengejar Mimpi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Indahnya Ramadhan

Oleh:
Ada seorang anak bernama Ma’wa dan Naim, mereka adik dan kakak, mereka sangat rukun. Si kakak bersekolah kelas 5 SD sedangkan si adik kelas 3 SD. Pada suatu hari

Vani dan Bidadari

Oleh:
“Vani, Ayo cepat!” teriak Ibu. “Iya bu,” sahut Vani. Vani pun segera keluar dari kamarnya. “Sudah siap?” tanya Ibu. “Siap b,” jawab Vani sambil mengacungkan jempolnya. “Ayo, kita berangkat”

Ruang Bawah Tanah

Oleh:
Amel dan keluarganya barusan pindah di rumah baru. Rumah barunya lebih besar dan memiliki ruang bawah tanah. “Kak, ke ruang bawah tanah yuk!” ajak Imel, adik Amel. “Ke ruang

Bunda, Aku Tidak Bohong!

Oleh:
Matahari bersinar terik menampakkan wajahnya pada dunia. Angin berhembus menggoyangkan dedaunan, menyejukkan cuaca siang ini. Seorang anak laki-laki berusia delapan tahun berjalan sendirian dengan seragam sekolah yang sedikit basah

Pengabdianku

Oleh:
Aku adalah seorang guru. Keseharianku mengajar di sekolah-sekolah, salah satunya SMP Dirgantara, Jakarta. Untuk menjadi guru memang sulit. Namun itu tidak mematahkan semangatku untuk mengajar anak bangsa. Membuat mereka

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *