Mimpi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Inspiratif, Cerpen Mengharukan, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 29 March 2017

Hujan membungkus desa. Awan gelap menggumpal-gumpal, petir sekali dua menyambar. Dingin. Kurapatkan selimut menutupi tubuh sembari menatap hujan lewat jendela.

Deras. Hujan membasahi teras depan, pohon-pohon, jalan depan, bunga-bunga, toko-toko, belum lagi sekolah yang esok paginya akan becek, licin, yang jika tidak hati-hati bisa terpeleset. Minggu sore yang dihiasi rintihan hujan.

Mataku redup menatap ke luar, sedari tadi aku menangis. Dan mungkin air mataku telah habis kutumpahkan, hanya sendu yang tersisa.

Tadi habis ashar. Aku dan orangtuaku membicarakan tentang melanjutkan kuliah. Kami bukan orang yang mampu. Bukan orang yang bisa membayar uang kuliah yang bisa mencapai puluhan juta. Ayahku hanya seorang sopir, dan ibuku penjual kue. Apalah dayaku yang tidak bisa melanjutkan kuliah. Hanya menangis menatap hujan.

Desa kami terpencil, terluar dan tertinggal. Bukan mudah mencari ilmu yang banyak di sini. Kami para siswa yang miskin buku dan pengetahuan. Harga buku mahal sekali, dan di desa kecil kami tidak ada toko buku, paling hanya kamus yang dijual. Itu saja. Tidak ada novel, komik, majalah, buku pengetahuan yang lebih mendalam, buku lulus UN, tidak ada. Di sekolah, Fasilitas buku kami belum lengkap. Buku-buku yang ada bisa terhitung lama, dan banyak yang berdebu. Ruang perpus yang tidak leluasa. Bagaimana kami memperoleh ilmu yang lebih?

Lalu jika ingin kuliah harus membayar mahal sekali. Atau jalur kuliah lain dengan mengemban gelar ‘anak berprestasi’. Bisa apa aku? Siswi sederhana yang miskin ilmu. Jangankan hal yang lebih sulit dari itu, mendapatkan nilai un standar saja hanya angan-angan.

Aku hanya bisa berdoa, dan berusaha. Dan itu adalah hal terbaiknya, dalam langit-langit doa, aku punya harapan. Aku punya mimpi yang selalu kuucapkan sehabis sholat. Setidaknya aku percaya mukjizat, keajaiban, yang datangnya dari ALLAH. Usaha selalu berbanding lurus dengan hasil, aku percaya itu. Selama aku berusaha, selama aku giat, ada jalan. Aku harus bisa. Just do it.

Senin pagi yang becek. Mendung masih tergantung di langit, sisa-sisa hujan kemarin sore. Namun sekolah kami tetap melaksanakan upacara bendera. Tidak ada hari Senin tanpa upacara, itulah sekilas motonya.
Maka mulai hari ini, saat sang bendera merah putih berkibar gagah di langit. Aku memulai habit baruku. Mulai merangkai mimpi kecilku, memompa semangat dalam hati, berusaha sekuat tenaga, aku harus mencari pelangi setelah gelapnya mendung. Aku harus bisa! Aku harus kuliah, mendapatkan pendidikan yang lebih baik, meraih janji kehidupan yang bermutu.
Setelah ini aku berusaha sekuat tenaga, belajar lebih giat. Tak kulewatkan satu mata pelajaran pun, jika aku tak mengerti bertanya pada guru, meminjam buku dari berbagai sumber, mencari informasi dari internet, belajar sampai larut, dan bangun lebih awal untuk belajar.

Tak peduli jenuh yang kurasakan saat belajar, meskipun kantuk yang menyergapku ketika larut dan subuh. Aku percaya pada mimpiku. Mustahil? Ah mereka yang mengatakan itu takan pernah mengerti rasanya berusaha. Aku selalu ingat pesan moral yang satu ini “Bermimpilah setinggi langit maka saat kau jatuh, kau akan jatuh di antara bintang-bintang”. Aku menanamkan pesan ini dalam sekali, jauh di dasar hatiku. Aku merangkai mimpi, dan berusaha semampuku.

Aku menangis, namun tetap membaca. Hatiku berat dan jenuh belajar, aku tetap berfikir. Tak ada waktu yang kusia-siakan bahkan saat membantu ibuku menjual kue, aku mengerjakan soal-soal. Aku berusaha.

Dan tibalah saat pengumuman kelulusan. Aku gugup, gemetar, mual, entahlah. Ini saat yang mendebarkan dalam hidupku. Saat-saat menentukan. Apakah aku lulus atau tidak, apakah nilaiku memenuhi beasiswa atau tidak, aku tidak tahu.
Aku telah berusaha semampuku, dan aku pasrahkan semua hasil usaha itu. Dan jika ternyata tidak sesuai harapan, ini mungkin bukan jalanku. Aku harus mengubur mimpi itu, dan mencari jalan lain. Merangkai masa depan yang berbeda.
Aku menatap lurus ke depan.

“…Rima Asya dinyatakan…”
Detik-detik yang lama sekali. Aku pasrah pada hasilnya. Apapun itu.
“… Tidak lulus!!”
Cairan bening itu menggenang, dan mengalir deras di pipi. Aku terisak. Suaraku parau di tengah teman-teman yang mulai memelukku prihatin. Inikah bintang? Meskipun aku ikhlas, pasrah dengan keadaan, tetap saja terluka.
Aku ikhlas..
Namun air mataku tak berhenti mengalir.
Aku kuat..
Namu hatiku terasa sakit sekali.
Aku pasrah..
Namun rasa kecewa itu ada.

Nama teman-teman lain masih disebutkan. Menggema tidak jelas di pendengaranku, lidahku Kelu tak sanggup memberi selamat, atau menguatkan yang lain. Aku tak sanggup tersenyum saat ini. Sakit.

Dan saat penutupan, ketika kepala sekolah menyampaikan pidatonya. Dia tersenyum padaku. Aku hanya menatap sendu. Wajahku tak jelas dengan tangis yang sedari tadi mengalir.
“… Adapun yang ingin bapak sampaikan adalah, tetaplah berkepribadian yang baik, berusaha sekuat tenaga, …
Dan bapak bangga sekali tahun ini, salah satu siswa kita meraih nilai yang sangat baik saat ujian nasional, nilai yang sangat memuaskan, sangat membanggakan.. Dan saking bangganya bapak, serta guru-guru, kami memutuskan menjahili siswa tersebut. Dia adalah Rima Asya dinyatakan lulus dengan nilai rata-rata 9.0!!”

Riuh menggema satu sekolahan, tepuk tangan ramai bak dengungan lebah, namaku dielu-elu kan. Aku yang antara sadar dan tidak hanya menatap bingung. Tidak percaya.

“Selamat yah ri!” Kata mereka. Aku di peluk, air mata ku mengalir. Dan aku sadar ini semua berkat karunia ALLAH semata. Aku bersujud di tanah. Astaga, ini lelucon yang mengharukan dalam hidupku.

Terima kasih kepala sekolah.
Terima kasih guru-guru.
Dan terima kasih sahabat-sahabatku tercinta.

Kami semua tenggelam dalam euforia kelulusan.
Semarak sepanjang jalan, meramaikan. Dan tentu saja aku bahagia menyerahkan tiket beasiswa pada orangtuaku.
Anak perempuannya ini, berhasil bersinar di antara bintang-bintang.

Cerpen Karangan: Sri Yanti

Cerpen Mimpi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cincin Kawin Ibu

Oleh:
Suara mesin jahit ibu sudah mulai terdengar, pertanda subuh sudah datang. Seperti biasa ibu meneriakiku untuk bangun dan salat subuh. “Bangun, Le. Sudah subuh,” Ibu yang sudah bangun lebih

Bintang Kekasih

Oleh:
Begitu banyak bintang dilangit. Tapi mengapa kita tak bisa memiliki satu bintangpun diantara persekian triliun bintang itu? -Inez Tentang Fadil Sudah selarut ini aku belum tidur. Tak seperti biasanya

Ibu

Oleh:
Tak ada lelahnya perempuan itu menahan kantuknya. Ingin rasanya dia memejamkan matanya dan tidur selama beberapa menit. Tapi orang-orang yang ditunggunya tak kunjung datang. Dia tak tahu jam berapa

Rintihan Lidah

Oleh:
Semua orang memilikiku. Manusia dan hewanpun memilikinya. Bahkan, tanamanpun sama. Hanya saja berbeda nama. Ada dua cara untuk menggunakanku. Cara pertama, aku selalu di pakai orang untuk mengecap sesuatu.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *