Air Wudlu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 8 November 2017

Aku sudah lama berbaring di kasur reot ini, satu minggu telah berlalu, namun sakitku tidak kunjung membaik, satu demi satu nanah bermunculan di kulit lembutku, dokter, dukun, tabib sudah didatangkan oleh papaku, namun penyakit enggan pergi.

“Kamu emang keras kepala shofi” Temanku Naila Habibi mengingatkanku kemarin.
“Jangan pernah kamu terjun ke lembah itu, tapi kamu ngeyel, rasain sekarang” lanjutnya.

Aku tak percaya soal mistis, apalagi yang bersifat konyol kaya begituan.
“Lembah itu kan indah Nail?”
“Bukan masalah indahnya, tapi hasil buruk yang ditimbulkan dari sana” Temanku meyakinkan lagi.
“Besok aku akan ke rumah kyai Musthofa, coba tak tanya ke beliau perihal penyakitmu Shofi”
“Thank you sobat ”

Dua minggu tak bisa kubiarkan diriku terbaring di sini, muak campur marah mulai merasuk di ubun-ubunku.
“kriiinngg.. kriinng..” ponselku mengagetkanku.
“Shofi.. gimana you punya kabar”
“Dasar kamu Nail, ke mana aja menghilang kok lama banget?”
Ternyata sobatku yang pagi-pagi sudah bikin aku tambah muak.
“Aku mencarikan obat untukmu” ujar Naila
“Ini demi kamu, aku habiskan uang ratusan ribu” lanjutnya.
“Serius?” tanyaku setengah percaya.

“Kemarin aku mencoba datang kepada kyai Musthofa, aku ceritakan perihal sakitmu, beliau menjelaskan panjang lebar, namun…” putus suara sahabatku, aku tambah penasaran dibuatnya.
“Namun apa Naila?”
“Namun beliau tidak mampu mengobati”
“Apaa?”
“Tenang Shofi, kyai Musthofa menyarankan aku ke kyai Shobirin yang rumahnya di klaten sana, insya Alloh beliau mampu katanya”
Aku mulai terdiam mendengarkan penjelasannya, dalam hatiku berpikir, begitu ikhlasnya sahabatku ini mencarikan obat untukku, padahal jarak kota Blitar dan Klaten cukup jauh.

“Saya berangkat bersama kakakku ke Klaten untuk menemui kyai Shobirin”
“Trus, apa obatnya, cepetan ke sini dikau sayang” rengekku.
“Ok, entar siang aku ke rumahmu ndoro”

Aku tidak bisa tidur karena segera ingin mendapatkan ramuan dari temanku, pukul sepuluh telah lewat, sebelas, dua belas.
“Assalam alaikum”
“Wa alaikum salam, masuk Naila” perintah ibuku.

Naila sering datang ke rumahku, dia satu-satunya temanku yang paling dekat dengan keluargaku, hingga ibuku faham suara khas dari sobatku ini.
“Hai Shofi”
“Cepetan, aku sudah tidak sabar ingin meminum obat yang kamu bawa” pintaku.
“Tenang” jawabnya.
“Ini Shofi” Dia menyerahkan sebuah kertas putih bersih, pelan-pelan kubuka kertas itu, lalu kubaca lirih.
“Sakitmu karena kamu telah lalai pada Tuhan, tidak rajin membersihkan diri, jika ingin sembuh, basuhlah dirimu dengan air wudlu”.

Cerpen Karangan: Ghofur
Facebook: Ahmad Hasbulloh

Cerpen Air Wudlu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketentuan Sang Pencipta

Oleh:
“ibu kok nangis !” sapa Rizal yang melihat butiran embun di pipi sang ibunda. “ada apa bu ?” lanjutnya sambil mendekati ibunda yang duduk di dekat telepon. “apa ada

Disana Aku Berada

Oleh:
Ponorogo, 12 Juni 2000 Suara dentuman keras benda itu begitu menggelegar, alunan melodinya sangat dahsyat ternyata itu adalah suara lonceng alat peringatan di setiap melakukan aktifitas agar lebih teratur

Kegelisahanku Malam ini

Oleh:
Terbangun malam ini aku di balik selimutku yang hangat. Terdengar hujan seperti membangunkanku dari tidur, dari luar jendela kamar. Dingin ketika aku mencoba membuka sedikit selimutku itu, dan ingin

Renungan Napas Yang Mereda

Oleh:
Jarum jam dinding yang melaju terdengar jelas di telingaku, detik demi detik berjalan begitu cepat. Lantunan ayat suci Al-Qu’ran yang terdengar dari arah timur sana membuat hati ini semakin

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *