Ajari Aku Cemas Itu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 13 February 2019

Di ruang yang megah; tempat berlangsungnya suatu acara.
Saat itu aku sedang berbincang hangat dengan seorang perempuan, perempuan itu bernama Lina. Aku dan dia baru saja berkenalan di tempat tersebut. Sejak awal perkenalan kami, aku mengira bahwa dia berasal dari daerah Jawa, habis manis senyumnya, ayu pula macam wong jowo. Setelah berkenalan lebih jauh, ternyata dia berasal dari Sumatera Barat.
“Ih aku dari Padang tau, asli minang, engga seperti orang sana ya? hehe” ujarnya.

Awalnya memang tak menyangka, karena selama ini aku banyak memiliki teman yang juga berasal dari tanah Sumbar, jadi setidaknya aku dapat sedikit mencirikan orang yang berasal dari sana. Namun faktanya lain, Hmm, betul juga, hanya melihat saja tidak cukup rupanya, hampir saja aku lupa bahwa sejatinya kita harus selalu tabayyun (mencari kejelasan tentang sesuatu hingga benar adanya), karena apa yang kita lihat dan dengar terkadang tidak cukup untuk membenarkan suatu hal, apalagi jikalau hanya ber’spekulasi’.

Kami masih asyik berbincang, bersamaan dengan itu aku menyadari bahwa ada seorang perempuan yang duduk persis di belakangku. Awalnya memang ada yang duduk di posisi tersebut, tapi sepertinya bukan orang yang sama, aku amat yakin karena dari pakaiannya saja sudah jelas berbeda, yang saat ini duduk di belakangku adalah perempuan syar’i yang anggun dan bercadar.

Dia terlihat diam saja, tak memperlihatkan gerak-gerik apapun. Aku selalu merasa tak enak hati apabila melihat ada seseorang hanya berdiam diri tanpa sesiapapun di dekatnya, seolah tak ada teman untuk berbagi cerita. Jujur aku ingin sekali menyapa, namun seperti biasa, keraguan tak pernah mau kalah dengan kemauan. Ah ya, sungkan, bingung, bagaimana memulainya.

Aku berusaha untuk terus mengamati dengan menoleh ke kanan maupun ke kiri, melakukan suatu hal yang tujuannya hanyalah untuk mendapati dia sedang melakukan apa. Sejak lama aku menaruh rasa kagum dengan remaja perempuan yang memutuskan untuk melindungi wajahnya dengan cadar, aku selalu antusias apabila melihat perempuan bercadar, rasanya ingin mengenal mereka lebih jauh dan melontarkan berbagai pertanyaan, syukur-syukur kalau bisa berteman baik. Ingin sekali diri ini menyapa, tapi malu, khawatir salah bicara.

Setelah berusaha untuk mengumpulkan keberanian, aku pun mantap untuk memulai, baru saja ingin berbalik badan dan menyapa, seketika saja..
“duh, hmm, aduh..” dia bergumam cemas, sangat cemas.
Sontak aku pun khawatir karena mengira bahwa dia sakit, “ada apa ya ukh? kenapa?”
“Di dekat saya ini banyak ikhwan (laki-laki), saya takut, aduh gimana ya..” jawabnya dengan nada yang begitu cemas terdengar olehku.
Seketika aku terdiam, bingung.
“Dia takut akan suatu hal yang biasa aku sepelekan?”

Duduk dengan jarak yang cukup dekat -dengan ikhwan- bagiku bukanlah suatu hal yang harus dipermasalahkan, yang penting tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan aturanNya, begitu pikirku selama ini. Namun bagi dia berbeda, ah ya pasti, jelas berbeda.
Jujur, sebetulnya aku merasa ‘tertampar’.

Aku bingung, harus merespon dengan tindakan seperti apa, dia terlihat begitu khawatir, rasa cemas terlihat dari sorot mata nan indah itu, bagai berada di dekat harimau yang siap menerkam dirinya.
Entah mengapa aku jadi ikut mencemasi hal tersebut, spontan aku pun berkata padanya,
“Sini, agak maju saja ke depan, duduk di sampingku, supaya lebih berjarak dengan ikhwan-ikhwan tersebut.”
Tanpa berbicara sepatah kata pun, dia seolah langsung mengiyakan dan bergeser menuju sampingku, alhasil kami duduk bersebelahan, begitu dekat sampai membuatku kikuk. Tak hanya sebatas itu, tas yang dia miliki diletakan tepat di belakangnya, ya tentu, untuk membatasi antara dia dengan ikhwan-ikhwan yang berada di belakang kami.

“uh, terima kasih ya, aku kaget tadi, sewaktu menoleh ternyata ada beberapa ikhwan.” jelasnya padaku.
“hehe iya, sama-sama, nama kamu siapa?”
“Namaku humaira, kamu?”
“Aku Wulan”
Obrolan kami terus berlanjut, hingga kami pun mulai mengenal satu sama lain, selama itu pula aku banyak mengamati dia, seperti biasa, aku selalu penasaran akan apa saja amalan baik yang dilakukan seseorang, berharap aku dapat melakukannya juga, karena itu aku sangat bahagia apabila memilki teman yang baik serta shalihah, teman yang dapat membawaku ke arah yang baik, bukan malah menjerumuskan ke arah yang buruk.

Dia banyak mendengarkan ayat suci Al-quran melalui aplikasi di handphonenya, dia berkata bahwa itu adalah salah satu hal yang dapat membuatnya merasa tentram, walau tidak bisa beribadah dikarenakan sedang ada udzur. Dia sangat mengoptimalkan fungsi alat elektronik tersebut dalam perkara yang baik. Dia juga mengajakku untuk join ke group yang beanggotakan dia bersama teman-temannya, tentunya group tersebut digunakan sebagai wadah sharing ilmu dan informasi seputar kajian yang baik untuk diikuti.

Alhamdulillaah, tak henti kuucap syukur kepadaNya saat itu, kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, jika mengingat masa lalu, aku seolah ingin menertawakan diriku sendiri, bodohnya mengapa aku baru saja sadar akan suatu hal yang amat menakjubkan seperti ini, berada di lingkungan wanita-wanita shalihah yang begitu rendah hati, tegas dalam bersikap dan menjaga diri, ah malu, aku malu, dengan diri yang ‘mengaku sudah berhijrah’, tapi sikap kepada lawan jenis masih saja belum terbatasi, masih belum sepenuhnya terjaga.
“kemana saja kamu lan selama ini?” tanya hati.
Ah ya, betul juga, kemana ya?
Kemarin aku terlalu dibutakan duniawi, sepertinya.
Setelah merasa cukup untuk flashback tentang masa lalu kelam itu, rasa penasaranku mencuat kembali tentang hal yang baru saja terjadi,

“Humaira, bolehkah aku bertanya?”
“Tentu saja, Wulan mau bertanya apa?”
“Mengapa tadi kamu begitu cemas, mengapa tadi kamu begitu takut?”
“Hmm, begini Wulan, kamu tau tidak bahwa hijab yang kita kenakan saat ini hanyalah salah satu cara dalam menjaga iffah, dan terkadang banyak wanita yang tidak mengambil langkah selanjutnya yaitu dengan menjaga jarak dari laki-laki yang bukan mahram. Aku bukan sok suci, bukan sombong, bukan kelewat kolot dalam menjaga izzah lan. Hanya saja tidak nyaman sekaligus takut jika aku maupun mereka akan melanggar perintahNya. Bukankah saling mencegah itu baik? Kalau memang hanya kita yang sadar bahwa hal tersebut seharusnya dihindari, wajib bagi kita untuk bertindak, syukur-syukur kalau kamu berani negur mereka untuk bisa menjaga jarak dari kita (kaum muslimah). Pandangan laki-laki itu bakal merugikan kita loh, dan tentunya merugikan dia juga.”

Humaira pun melanjutkan,
“Tidaklah tinggi harga diri seorang wanita apabila dirinya mudah di dekati banyak laki-laki, mudah digoda, dan mudah di ajak melakukan hal yang melanggar perintah Allah. Kamu mau menjadi perempuan yang berharga tinggi atau rendah lan?” Pertanyaan itu sontak membuyarkan lamunanku.
Ah, humaira, jikalau saja kamu dapat merasakannya, begitu terenyuh hati ini mendengar penjelasanmu,

“Humaira,”
“Ya?”
“Bantu aku humaira.” ucapku seraya menatapnya.
“Bantu apa ukhti?”
“Bantu aku, ajari aku cemas itu.”
Kami sama-sama terdiam, dari sorot matanya itu aku tau, dia humaira tersenyum, lantas menyentuh lembut tanganku.
“In Syaa Allah, mari kita sama-sama jaga izzah dan iffah ya?” balasnya.

Sungguh, ucapanmu itu, terdengar begitu tulus.
Jazaakillaah khoiron katsiiron

Cerpen Karangan: Wulan Sari Putri Hidayat
Blog / Facebook: Wulan Sari Putri Hidayat

Cerpen Ajari Aku Cemas Itu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Liontin Ibu

Oleh:
Lesung pipi yang meciptakan senyum yang begitu Indah ketika melihatku datang. Matanya yang membulat dan berbinar-binar ketika melihatku berlari ke pelukannya. Tangannya yang lembut ketika mengusap kepalaku. Suaranya begitu

Setitik Harapan Untuk Ibuku

Oleh:
Matahari pagi menyemburat langit bercahaya. Suasana pagi di rumah Anisa sedikit berbeda. Terdengar riuh obrolan ibu-ibu tetangga yang sedang berkumpul di teras rumahnya, sesekali suasana itu berubah menjadi hening

Maaf ini Jalanku Bu

Oleh:
Sepulang kuliah, sore itu seperti biasa aku tak langsung pulang ke rumah dan main ke kos kawanku hisam namanya. Kamar kos berukuran 3×4 berisikan tv dan almari itu selalu

Mualaf

Oleh:
Keherananku seketika memuncak, tak kala truk yang kami tumpangi tak kunjung sampai. Waw,,,,,,,hatiku berteriak (auw…auw…g juga gini kok man). Sejauh ini kah lokasi penempatan kami, ya, kami berenam. Untungnya

Jejak Kaki Bapak

Oleh:
Adzan Shubuh telah berkumandang. Merdu sekali suaranya. Membuat para kaum muslimin menikmati merdunya suara dari Masjid. Ya, Masjid. Masjid adalah tempat beribadah kaum muslim. Termasuk aku. Aku mengikuti langkah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Ajari Aku Cemas Itu”

  1. dinbel says:

    Gooddd, untuk pengarang. sangat menginfirasi ceritanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *