Akibat Parzinahan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Nasihat, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 13 July 2013

Seperti mentari yang tak kunjung tiba, terhalang gumpalan awan hitam yang membumbung tanpa memberikan celah. Seperti siap tertendang dari Bumi tampa tahu akan singgah di belahan dunia yang mana. Amira hanya terdiam dan tak mampu berkata-kata, kesalahan yang telah ia lakukan dengan kekasihnya Rival selalu terngiang-ngiang di pikirannya, “KOTOR” begitulah yang ia pikirkan pada dirinya sendiri. Seperti daging busuk dengan bau menyengat menempel pada tubuhnya sendiri.
“kenapa aku bisa melakukannya aku BODOH, bagaimana jika aku hamil, mungkin aku akan di bunuh sama bapak” lirihnya dalam hati di tengah tamparan-tamparan penyesalan. “sayang makasi ya yang kemarin, aku akan selalu menyayangimu sampai kapanpun” pesan singkat dari pacarnya Rival sedikit menenangkan dan membangunkannya dari lautan penyesalan.

Amira sebenarnya anak yang baik, dia selalu mengikuti apa kata Bapaknya, namun semuanya terjadi begitu saja tanpa ia pikir panjang. Di sisi lain Amira tidak mau kehilangan Rival jika tidak menuruti apa maunya karena Amira terlalu mencintai Rival.

Rasa takut yang tidak menentu kini ia rasakan, di sisi lain dia takut azab Allah di akhirat dan di sisi lain Amira takut Azab Allah di dunia. “tapi ah tidak ada seorangpun yang tahu dan Rival pasti menikahiku” Amira coba berpikir lurus di tengah rasa was-wasnya yang semakin menjauh dari permukaan.

Suatu ketika terjadi perbincangan dengan ayahnya di meja makan:
“Amira, belakangan ini Bapak kok jarang melihat Rival main ke rumah”
“Dia lagi sibuk Pak”
“Amira kamu harus Fokus kuliah, jangan sampai terbengkalai, Bapak kok sering dengar celetukan gak bener tentang kamu sama Rival”
Perut Anisa serasa di pukul keras mendengar perkataan Bapaknya, ia berpikir sejenak dan menjawab alakadarnya. “engga ko pak biasa aja, malah Amira udah seminggu ini gak ketemu Rival”
“Bapak itu takut tidak bisa mendidik kamu, kamu jangan sampai malu-maluin bapak ya, Bapak akan sangat malu sekali sama Ibu kamu, dia sangat mengkhawatirkan kamu sampai akhir hidupnya”
Amira tidak menjawab, ia tetap dalam diamnya. Kembali rasa bersalah itu datang menghampiri, seperti Harimau yang tengah terbangun dari tidurnya.

Mempunyai teman-teman yang baik di kampusnya semakin membuatnya minder dari peradaban, entah mengapa rasa bersalah itu tumbuh dan tenggelam begitu saja.
“Ra, kapan kamu putus sama Rival” Tanya Citra temannya dengan nada bercanda. Amira yang tengah dirundung masalah merasa sock dan tersinggung “Kamu ko gitu ngomongnya Cit?” ujar Amira sedikit marah. “aku kan Cuma bercanda Ra, kamu ko gitu sih jawabnya”. Amira membalasnya dengan lagi-lagi diam kemudian ia pergi meninggalkan kedua temannya.
“Ra. Amira tinggu” Farah mengejar
“uda deh Farah kalau kalian tidak mau berteman denganku ya sudah, aku memang beda dengan kalian”
“kita sama Ra, Citra hanya bercanda”
“kalian wanita yang taat sedangkan aku tidak, kalian wanita yang soleha sedangkan aku tidak, aku tidak pantas berteman dengan kalian”
“siapa yang menilai taat dan siapa yang menilai soleha itu? walaupun ia citra lebih soleh darimu bukankah kau seharusnya belajar darinya, bukan menjauhinya, Amira tolong kendalikan dirimu Citra tidak berniat buruk kepadamu”
Amira menarik napas panjang dan mengendalikan emosinya, “aku sedang ingin sendiri dulu, kalian baiknya jangan mengganggu aku… aku sedang sedikit sensitif”. Amira lantas pergi meninggalkan teman-temannya.

Kedua temannya memang tidak menyukai kedekatannya dengan Rival, bukan mereka iri tapi mereka hanya menyampaikan surat Al-Israa ayat 32 yang artinya “dan janganlah kamu mendekati perbuatan zina. Sesungguhnya zina itu sesuatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” dan berpacaran adalah salah satu contoh besar mendekati zina. Hal ini diakui Amira dengan nyata ia meresakan sendiri apa yang menjadi peringatan Allah untuk tidak mendekati zina dan akhirnya tenggelam dalam perzinahan. Salah satu sisi Amira menyesali namun disisi lain ia tidak mau kehilangan Rival, mungkin disanalah letak kekurangan imannya, Anisa tidak mampu melawan godaan syetan.

Amira terpana pada laptopnya, ia sudah 2 minggu terlambat datang bulan. hari-harinya yang tidak damai menurunkan kesetabilitasan kesehatannya, kemudian ia membuka-buka buku Farah yang sengaja ia pinjam, dan tibalah pada satu bait:
“islam secara tegas menghukum para pelaku zina sebagaimana Allah jelaskan dalam QS. An Nur (24) : 2
Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berjina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera (cambuk), dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan kehendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman”
Dalam hadis suranah bin jundab yang panjang tentang mimpi Nabi SAW, beliau SAW bersabda:
Kemudian kami berjalan dan sampai pada suatu bangunan serupa tungku api dan disitu kedengaran suara hiruk-pikuk. Lalu kami tengok ke dalam, ternyata di situ ada beberapa laki-laki dan perempuan yang telanjang bulat . Dari bawah mereka datang kobaran api dan apabila kena nyala api itu, mereka memekik. Aku bertanya “Siapakah orang itu” jawabnya, “adapun sejumlah laki-laki dan perempuan yang telanjang bulat yang berada di dalam bangunan serupa tungku api itu adalah para pezina laki-laki dan perempuan (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no:3462 dan Fathul Bari XII : 438 no: 7047)

Amira tidak bisa melanjutkan apa yang ia tengah baca tangannya bergetar dan matanya mulai berair. “apakah teman-temanku akan merajamku? Setidaknya mereka akan menjauhiku, orangtuaku akan membunuhku, tetangga-tetanggaku akan menghujamku”. Amira bergetar ketakutan ia seolah berada di pintu api nerakanya dunia ia tidak dapat membayangkan besok, lusa atau minggu depan kehancuran pada hidupnya, sementara Rival tidak pernah merasakan kegundahan yang dirasakan kekasihnya, di pikirannya ia hanya semakin bangga kepada kekasihnya yang begitu baik memberikan segalanya untuknya. Kegundahan Amira tidak mau Rival pikirkan, saat Amira menceritakan kehamilannya saran untuk menggugurkannya keluar begitu mulus dari mulutnya, namun Amira tidak mau melakukan dosa yang kesekian kalinya, keputusanpun ada di tangan Amira, dan Rival tidak mau memikirkannya.

Amira semakin ngedrop, beban pikirannya merusak hari-hari dan kesehatannya, ia sering pingsan dan kemudian sakit parah, saat itulah semua orang tahu tentang kehamilannya, orangtuanya (ayahnya) hanya bisa menangisi apa yang telah terjadi, ia tidak bisa menuangkan kemarahannya pada anaknya yang terbaring lemah, Rivalpun menjadi sasaran kemarahan ayahnya.

Mau tidak mau Rival harus bertanggung jawab, menikahi Amira dengan keterpaksaan, padahal dari segi finansial ia masih belum mampu, sempat ia berpikir untuk melarikan diri namun karena lokasi rumahnya yang tidak begitu jauh dengan Amira tidak membuatnya mampu lari dari masalah.

Catatan :
Laki-laki cenderung menggunakan otaknya, sementara perempuan cenderung menggunakan hatinya, maka jika terjadi hal seperti diatas perempuanlah yang akan sangat merugi.
Indahkan hidup kita yang kemarin untuk mengindahkan hidup kita hari ini, indahkan hidup kita hari ini untuk mengindahkan hari kita besok, setiap amalan baik atau buruk yang kita jalani berkahnya akan kembali ke diri kita sendiri.
Jika ada salah-salah dalam nenulisan cerpen ini, terlebih ayat Al’Quran yang saya sertakan, mohon diingatkan.

Cerpen Karangan: Neni Indriani
Facebook: Nendia Supriadi

Cerpen Akibat Parzinahan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ada Cinta dalam Al-Qur’an

Oleh:
Disaat matahari belum terlalu tinggi, Clara seorang gadis SMA sedang bersiap – siap untuk pergi ke sekolah untuk menunaikan kewajibannya sebagai pelajar. Aku pergi ke sekolah dengan jalan kaki,

Bukan Aku

Oleh:
Suasana ketegangan, hati yang cemas dan gelisah serta perasaan takut seolah-olah sedang bersatu untuk menghantuinya. Bahkan semua pasang mata yang ada di ruangan itu tertuju pada gadis kecil usia

Aku Kehilangan Radarku

Oleh:
Malam lalu aku tak dapat memejamkan kedua mata sipitku ini. Jarum jam yang menggantung di tembok unguku menunjukan pukul 2 dini hari. “Sial, mau jadi apa aku esok bila

Si Telon

Oleh:
“Itu…” teriak Rusdi sambil menunjukkan ke semak-semak yang ada di depan mereka. “Mana?” Rusdi berjalan membungkukkan badannya. “Itu, aku melihat ekornya!” “Ya, betul itu ekor si telon. Pelan-pelan, jangan

Pacarku Daun Muda (Part 1)

Oleh:
Memangnya salah ya kalau aku mempunyai pacar yang umurnya lebih muda beberapa tahun dari umurku? Bukankah ada pepatah yang mengatakan cinta itu tidak memandang umur, status, keturunan dan yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *