Aku Ingin Emak Masuk Surga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 14 November 2017

Hiks… hiks…
Kulihat emak terisak di tepi ranjang di kamarnya, Aku tidak tahu apa gerangan yang membuatnya menangis sore ini. Kubiarkan dan Aku berlalu masuk ke kamarku, tentunya sambil berpikir “apa yang terjadi dengan emak?”.

“Kan sudah kusuruh bertahun-tahun yang lalu, tapi kau tak pernah mau mendengarkan!. Lalu sekarang ke mana akan kucari uang sebanyak itu?”.
Sambil duduk dan meremas-remas kepalanya, kulihat Ayah sangat marah malam itu. Di bawah pencahayaan remang ruang tamu rumah kami, wajahnya terlihat menakutkan. Emosinya memuncak. Wajahnya memerah padam. Aku tergugu di balik pintu kamarku, tak sadar telah kugigit jemariku.

Emak terisak lagi, badannya yang kian hari semakin kurus begitu menyedihkan. Aku semakin bingung, entah apa yang sedang terjadi beberapa hari belakangan. Emak dan Bapak nampak sedih.

Dengan langkah yang diseret kudekati mereka. Pandanganku penuh tanda tanya. Semakin mendekati Emak, semakin kuat aura sedih menelusuk jauh ke relung hatiku. Buliran air mata satu persatu jatuh membasahi pipi. Aku menangis.

“Maaakkk… napa?”
Hanya itu kata yang keluar dari mulutku. Emak menatapku dengan pandangan sayu dan kembali menunduk. Isaknya semakin menjadi-jadi setelah melihatku. Aku tak mengerti. Kemudian Ayah berlalu tanpa sepatah kata pun. Emak kemudian merangkulku begitu kuat.

“Ratri sayang Emak kan?” Perlahan Emak bersuara.
Aku mengangguk.

Aku gadis kecil 14 tahun, namaku Ratri Kesuma. Aku sudah tak bersekolah. Entah kenapa semua orang sulit berbicara padaku, mungkin karena kata-kata yang keluar dari mulutku terbata-bata. Sejak kecil Aku mengalami hambatan berkomunikasi. Aku tidak bisu tapi perkataanku sulit dimengerti oleh orang lain. Hanya Emak dan Bapak yang tau apa yang Aku katakan.

Sejak setahun yang lalu Aku syok dan tidak mau sekolah lagi. Semua teman selalu mengolok-olok dan memandangku rendah. Mereka sering menirukan gaya bicaraku. Ejekan mereka begitu menyakitkan. Aku juga sulit untuk memahami pelajaran sekolah. Walau sudah belajar keras tetap saja aku tidak mengerti. Hingga di umurku yang sudah 14 tahun Aku masih duduk di kelas lima SD. Ya, Aku sering tinggal kelas. Tapi Aku tau bahwa Aku sangat menyayangi Emak, sayang Bapak.

Satu tahun terakhir, Aku tak tau kenapa Emak terlihat begitu kurus dan pucat. Sepertinya Emak tidak sehat. Emak jarang sekali bercerita padaku. Hingga akhirnya kemarin secara tidak sengaja kulihat Emak di kamar. Dari jauh kulihat Emak berbaring sambil memoleskan sesuatu ke arah dadanya. Aku tidak berani mendekat ke arah kamar Emak.

Hari ini tante Murni datang ke rumah. Dia membawakan martabak manis kesukaan Emak. Tante Murni datang dengan suaminya dan kedua anaknya. Dia adalah satu-satunya saudara Emak. Orangtua mereka sudah lama meninggal.

“Ratri… ke sini nak… duduk sini dekat tante…”
Aku heran kenapa semua orang sedih. Begitu juga dengan tante Murni. Tante Murni cukup membuatku tentram, jilbanya lebar dan wajahnya menyenangkan.

“Ratri… doakan Ibu ya nak. Semoga sehat dan masuk surga… ”
Tante mengelus rambutku perlahan. Emak dan Bapak tersenyum.
“Mang Mak napa nte?” Sulit sekali menyampaikan apa yang ingin kutanyakan. Pada hal begitu banyak pertanyaan di benakku. Aku heran melihat kondisi di sekelilingku, semua sedih. Kenapa?.
“Emak esok ke rumah sakit mau operasi. Doakan semoga Emak lekas sehat ya…”. Senyum tante cukup melegakanku dan membuatku sedikit tenang. Aku hanya bisa mengangguk-angguk.
“Nte… sss urga ndahh kan? imana yar Mak sssuk na nte?” Pertanyaan nyeleneh yang terpaksa kukeluarkan.
Tante Murni tersenyum. “Emak bisa masuk surga jika memiliki anak perempuan yang sholehah. Ratri jadilah anak yang sholehah ya. Dan doa-doa Ratri buat Emak akan diterima Allah, nah doakan agar Emak masuk surga…”

Aku bengong.
“Nte… nak holeh… ntu…”
Aku tak bisa melanjutkan pertanyaan. Susah. Ternyata tante murni mengetahui maksudku bahwa aku ingin tau anak yang sholehah itu seperti apa.
“Anak perempuan yang sholehah itu menutup auratnya, memakai jilbab lebar seperti tante Murni…” dengan tersenyum tante Murni memperlihatkan jilbabnya.
“Anak perempuan yang sholehah itu menjaga sholat lima waktu, rajin membaca Qur’an dan berbakti kepada kedua orangtuanya. Anak yang sholehah selalu mendoakan orangtuanya…”
Aku mengangguk tanda mengerti. Paman, Emak dan Bapak tersenyum mendengar percakapan kami.

Besoknya pagi-pagi sekali Aku segera disuruh mandi sama Bapak, disuruh pake baju yang rapi. Katanya hari ini kami akan ke rumah sakit, juga dengan tante Murni satu-satunya keluarga yang kami punya. Aku memakai baju terbaikku. Aku ingat kata tante Murni semalam, bahwa aku harus mendoakan Emak supaya sehat.

Hari ini Emak operasi. Emak kulihat keluar dari kamar rawat, semakin pucat dan lebih kurus.
Seharian kami di rumah sakit. Tante, Bapak dan Paman sangat cemas. Tentunya mencemaskan Emak. Kata tante Emak akan dioperasi di bagian dadanya. Aku tidak begitu mengerti. Wajah mereka semua terlihat kusut dan mata agak cekung, begitu lelah.

Ini adalah hari ke enam sepulang dari rumah sakit. Emak telah selesai dioperasi. Emak tiba-tiba memanggilku untuk ke kamarnya. Di kamar itu kami hanya berdua. Bapak ada urusan keluar, tante Murni dari tadi pagi pulang sebentar ke rumahnya dan nanti malam balik lagi ke sini. Sepulang dari rumah sakit Aku jarang bicara sama Emak. Aku sangat sedih melihat Emak terbaring tak berdaya. Aku sayang Emak. Kupeluk emak dan kucium pipinya.

“Makkk… Tri yang Mmakk… Tri doa ya, Makk ssuk urga…” Terbata-bata kusampaikan kalimat itu. Entah kenapa akhir-akhir ini Aku selalu menangis bila di dekat Emak. Kesedihan mendalam yang kurasakan bila ada didekatnya.
“Sayang… Emak juga sayang sama kamu. Sayaaang… sekali…” Emak menyeka air matanya yang terus mengalir sejak tadi.
“Ratri anak Mak satu-satunya, jaga diri baik-baik ya sayang. Baik-baik sama Bapak, baik-baik sama tante Murni… Mak senang sekarang Ratri sudah bisa mandiri. Ratri sudah semakin pintar…”
Suara mak terdengar begitu pelan. Aku tau Emak senang melihat perkembanganku. Beberapa bulan terakhir aku tidak terlalu merepotkan Emak lagi. Aku sudah pandai mandi dan pake baju sendiri, begitu juga makan sendiri. Bahkan aku sudah bisa bantu Emak cuci piring dan menyapu rumah. Emak senang.
Kupeluk Emak, Aku menangis tersedu dan Emak pun terisak-isak. Entah apa yang membuat kami begitu bersedih.

“Ratri sayang… yuk pulang yuk… ”
Kurasakan dekapan tante Murni begitu hangat. Bapak sudah melangkah duluan. Langkah Bapak begitu berat. Aku tau bapak merasa kehilangan yang sama dan mungkin melebihi rasa kehilanganku.
“Maakk… Tri ulang ya… ”
Air mataku selalu saja mengalir. Kuusap gundukan tanah kuning itu. Aku tau bahwa Emak tak kan pernah kembali menemui kami. Menemui Aku, Bapak dan tante Murni. Aku tau bahwa Emak telah pergi dan Emak akan masuk surga. Aku akan mendoakannya, Aku akan menjadi anak sholehah itu.
“Mmakk… angan angis ya… Tri sslalu doain Mmakk… ya Allah… sssukkan Mmak ke urga ya Allah… ”
Rasanya tak ingin ku berajak dari tempat itu. Aku ingin temani Emak.

Kini umurku sudah 23 tahun. Aku tumbuh menjadi gadis yang dewasa. Sejak kepergian Emak, Aku terus dimotivasi tante Murni untuk lebih mandiri dan juga sholehah. Kini Aku sudah tidak terlalu terbata-bata lagi dalam berbicara. Tante Murni melatihku setiap hari agar sering berbicara. Dulu waktu Emak pergi, Aku hanya bisa mencuci piring dan menyapu. Tapi kini Aku sudah pintar memasak. Aku selalu bantu tante Murni di warung nasinya.

“Tante… makasih ya atas semua”
Malam itu kupeluk tante Murni. Aku sangat menyayanginya. Sejak kepergian Emak beliaulah Emak ku yang kedua. Kini baru kumengerti apa yang membuat nyawa Emak melayang. Emak dulu mengidap kanker payudara stadium empat. Kemarahan Bapak waktu itu karena Emak tidak mau berobat kedokter, padahal sudah lama Bapak menyuruhnya. Emak khawatir pengobatannya akan banyak menghabiskan biaya. Emak memilih obat tradisional saja, mengingat pendapatan Bapak yang juga seadanya.

Pada akhirnya kanker itu menggerogoti semua hingga ke paru-paru dan harus dioperasi. Operasi itu sukses tapi nyawa Emak tetap melayang beberapa hari setelahnya. Aku tau Tuhan sayang sama Emak, Bapak dan Aku. Emak meninggalkanku disaat Aku sudah mulai mandiri.

“Tante… jilbabku cocokkan sama bajunya… ”
Aku berdiri dekat tante Murni. Kami ingin ke kondangan warga kampung.
“Hmmmm… cocok sekali sayang. Kamu terlihat cantik Ratri… ” lagi-lagi kulihat senyum tante Murni yang begitu meyakinkan.

Kepergian Emak merobahku 180 derajat. Aku benar-benar ingin Emak masuk surga. Kata tante Emak akan masuk surga dengan memiliki anak perempuan yang sholehah dan aku ingin Emak masuk surga. Kini aku memakai jilbab lebar seperti halnya tante Murni, Aku sudah mulai bisa mengaji. Habis maghrib kami selalu tilawah bersama. Tante mengajarkan banyak hal, Aku selalu mengikuti pengajian satu kali dalam seminggu. Hampir setiap malam di sepertiga malam di dalam tahajudku Aku selalu berdoa.
“Ya Allah, lindungilah Emak. Terimalah segala amal ibadahnya di dunia, jauhkan Emak dari siksa kubur dan masukkan lah ia ke Jannahmu. Pertemukan kelak Emak denganku ya Rabb…”

Aku yakin Emak di sana senang melihat perkembanganku yang sudah sangat jauh. Kesabaran tante begitu berarti. Bapak juga semakin sayang padaku. Kini Bapak memberiku adek kecil berusia dua tahun. Bapak sudah menikah lagi 3 tahun setelah kepergian Emak. Aku mengizinkannya karena Aku ingin Bapak juga bahagia.

“Emak… anakmu kini sudah dewasa. Anakmu ingin menjadi anak perempuan yang shalehah. Anakmu ingin engkau masuk surga Emak… kita ketemu di sana nanti ya…” lirihku dalam hati. Air mataku mengalir melihat foto Emak. Tante memelukku, ternyata sedari tadi dia memperhatikanku.

“Yuk kita ke kondangan…”

Cerpen Karangan: Maiyade Laila Yane
Facebook: Maiyade Laila Yane

Cerpen Aku Ingin Emak Masuk Surga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kenangan

Oleh:
Rasa rindu menyelimuti hatiku yang sepi saat ini. Duduk di tempat pertama kita bertemu. Duduk dimana saat-saat kita tertawa, berlarian, bahkan menangis dan bertengkar. Mengenang sesuatu yang manis bercampur

Jetitan Hati Seorang Gadis SMA

Oleh:
Kesepian yang membeku. Aku termenung seorang diri menyesali semua yang t’lah menimpaku hingga membuatku seperti ini. Kejadian tadi siang di sekolah membuatku tak bisa berhenti menangis sampai saat ini.

Gadis Pemandang Langit (Part 2)

Oleh:
3 bulan kemudian. “Bun, sepertinya Ayah sudah tak sanggup lagi untuk hidup, lihatlah.. Ayah sudah tak diterima lagi untuk kerja di perusahaan-perusahaan, mereka menolak Ayah, lalu bagaimana dengan Diky

Best Friend More Than Love

Oleh:
Aurelia Putri Nabila. Gadis itu mengulurkan tangannya ke depan. Menangkup buliran air hujan yang turun dari atap gedung sekolahnya. Mundur selangkah, ia melihat jam yang melingkari pergelangan tangan kirinya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *