Aku Ingin Ke Cordoba

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 12 May 2017

Cordoba kota yang terletak di sebelah selatan Spanyol ini kaya akan peninggalan tentang sejarah. Kota ini termasuk kota tertua di Andalusia. Kota ini pernah menjadi saksi pergantian kekuasaan Romawi selama ribuan tahun, dari peradaban islam dan akhirnya dibawah naungan katholik.

Bermimpi dulu gak papa kan? Hehe. Batinku setelah menulis harapanku di diary biru yang selalu kubawa ke manapun aku melangkah. Cordoba. Kota yang ingin sekali aku otak-atik cerita keislamannya. “loh kok belum tidur, Rof?” Tanya teman sekamarku, maklum aku adalah anak rantau dari pulau sebrang barat jawa. Di kota rantau aku merajut ilmu di dua tempat, pesantren dan madrasah. Yeah, keduanya berbasis agama. Nyantri. “Rof, lagi apa sih. Kok belum tidur?” Tanya Dila yang tadi belom sempat ku jawab. “hehe. Emb lagi ngapa-ngapain kok, Dil. Aku cuma habis nulis harapan aku aja. Siapa tahu ada malaikat yang mengamininya.” Jawabku yakin.
“Owalah, ya wes aku istirahat sek yo” Pamit Dila seyara menutup sebagian tubuhnya dengan kain jaritnya.
“Iya, mimpi indah ya. Siapa tau aja si dia hadir dalam mimpimu malam ini Dil. hehe” ledekku membalas kalimat pamitnya tadi. Tak terdengar jawaban dari dila, mungkin dia sudah terlarut dalam mimpi malamnya.

Kulihat jam dinding sudah menunjukan pukul 23.25. Lelah. Mungkin sudah waktunya kuistirahatkan sejenak pikiran dan tubuhku. Giliranku menarik selimut biru polosku yang aku bawa dari rumah. Dengan alas seadanya, alias tak ada ranjang, bahkan hanya dengan kasur lantai kami bisa merebahkan keluh kesah tubuh dengan nyaman mengobati lelahnya seharian beraktivitas. Memang pesantren tidak menyediakan ranjang untuk para santri tidur. Karena supaya kita lebih prihatin. Di sini tak hanya belajar ngaji, kitab gundul tetapi juga belajar arti persahabatan, kekeluargaan, keprihatinan, dan tentunya semua hal yang akan kita alami besok ketika sudah terjun ke dunia masyarakat, lingkungan.

“Dek, bangun. Sholat tahajud riyen nggih.” Suara lembut terdengar memecahkan mimpi-mimpiku, mungkin ini saatnya untuk berdoa kepada Allah supaya apa yang aku tulis di lembar harapanku tadi malam dan apa yang aku impikan tercapai. Amin
“Alhamdulillahilladzi ahyana ba’dama amatana wailaihin nushur” kupanjatkan dalam hati, bersyukur hari ini Allah telah menghidupkanku kembali setelah mematikanku dalam beberapa waktu.

Dingin, dingin sekali. Kubasuhkan air mengalir dari mulut kran. Mulai dari pergelanan tangan, berkumur-kumur, kemudian yang kuniatkan saat membsuh wajah. Aku niat berwudhu untuk menghilangkan hadast kecil fardu karena allah ta’ala. Hingga kedua kaki dengan merata.
Ruangan berukuran 8 m x 9 m sudah ramai dikunjungi oleh para santri putri. Kulihat masih tersisa untukku, pojok kanan. Kuhempaskan sajadah oleh-oleh nenek dari makkah. “Allahu akbar” diangkatnya kedua tangan sambil meletakkan niat dalam hat, lillahi ta’ala.
“Ya, Allah ampunilah dosaku, orangtuaku. Ampunilah mereka yang hamba sayangi dan yang menyayangi hamba. Ya Allah yang maha mendengar hamba berharap bisa mengelupas peradaban islam di salah satu daerah Eropa, Cordoba. Amin, kabulkanlah ya rab, sesungguhnya engkau Maha Pengampun lagi Maha Mendengar” doaku dalam sujud terakhir. Kata ayahku sujud terakhir adalah waktu mustajab untuk berdoa, karena waktu itu ketika kita akan berpisah denganNya.

8 tahun kemudian
“Dilla?, Benarkah?” Tanyaku sedikit pangling melihat wajahnya. Delapan tahun lamanya tak berjumpa. Penapilannya berubah Dila yang lusuh menjagi lebih anggun dengan busana pink yang ia kenakan. Apalagi corak hijabnya bunga-bunga sangat cocok dengan busana polosnya. Dila yang tak mengenal penampilan, sekarang menjadi wanita muslimah yang elegan dengan setiap busana yang ia kenakan.
“Farah, apa kabarnya?” Balik Dila setelah mendengar suara ku memanggil namanya seketika itu juga aku terbengong melihatnya.
“I am ok. How about your life, Dil?. You different. You be better from some years ago.”
“I am fine. Ah bisa aja kamu.” Jawab Dilla tersipu malu saat aku bertanya tentang perubahannya.
“By the way, kamu mau ke mana Dil” tanyaku padanya karena kita sama-sama menunggu bus di halte.
“Aku mau sowan ke ndalem Far. Kamu sendiri mau ke mana?”
“Kalau begitu kisa barengan aja. Aku juga mau ke sana kok.” Ajakku dengan bahagia. “untung aku sowannya hari ini. Kan bisa barengan sama kamu. Sahabatku yang sekian lamanya tak ada di hadapanku.” Beruntungnya aku.
“Ih, kumat ni alaynya” kita pun tertawa bersama.
“eh, eh busnya sudah datang tuh” kulihat bus berwarna orange yang melintas dari arah barat. Pelan, pelan, pelan dan akhirnya berhenti di depan halte tempat kami menunggunya.

“Selama ini kamu ke mana aja Far, gimana kota yang katamu menyimpan seribu sejarah. Sudahkah kau injakkan kakimu ke sana?” Tanya Dila selapas kita menemukan tempat duduk, bangku no 24 dan 25 agak belakang. Memang.
“Emb, gimanaya?”
“kok malah balik tanya” sahut Dila sambil menyubit kedua pipiku, gemes. Maklum dari pertama dia mengenalku mencubit pipiku adalah kegiatan dia yang tak pernah absen.
“Alhmdulillah, Allah menjawab semua doaku pada tahun ini. Setelah keluar dari pesantren dan ijazh sudah dalam genggamanku. Aku berfikir untuk mmembantu orangtuaku saja. Aku tak akan melanjutkan pendidikanku ke jenjang kuliah. Tapi ibuku memaksaku untuk tetap sekolah, sekolah dan sekolah. Beliau bilang, ibu dan bapak masih sanggup nduk biayai kamu sekolah. Serius amat …”
“Kan aku pendengar yang baik..” Jawab Dila “.. Lanjutin ceritanya..” Mintanya lagi.
“Sampai mana tadi, oh ya, keesokan harinya aku pergi ke salah satu Universitas Negeri, alhamdulillah aku diterima di Fakultas Komunikasi. Intinya setelah itu aku kuliah sambil bekerja di salah satu stasiun radio ya itung-itung buat ngisi waktu luang dan tambahan hidup. hehe”
“Lalu bagaimana dengan kota itu? Kamu sudah ke sana?”
“.. Oh iya aku lupa. Aku akan pamitan dan minta restu pak kyai. bahwa aku sudah mendapat beasiswa S2 di Cordoba. I will going to Cordoba in this week.” Jawabku bahagia bahkan Dilla lebih bahagia mendengar beritaku ini. Dia memeluk erat tak terasa air mata kita terurai mengalir bersama. Bagaimana tidak cita-cita yang selalu aku tulis di lembar kertas kucel beberapa tahun yang lalu akhirnya terjuwud. Allah membalas doaku meskipun dalam jangka waktu yang sangat lama. Thank you God.

Cerpen Karangan: Nur Istiqomah
Blog / Facebook: Nuristiqomah28.blogospot / Nur Istiqomah

Cerpen Aku Ingin Ke Cordoba merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jilbab Baruku

Oleh:
Kisahku berawal beberapa tahun yang lalu. “Aku yang dulu bukanlah yang sekarang”, begitu lirik sebuah lagu. Aku yang dulu memang hanyalah seorang gadis tanpa penutup kepala yang selalu memanfaatkan

Menemukan Tuhan

Oleh:
“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik hingga mereka ber iman (masuk Islam). Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun ia menarik hatimu…” (QS: al-Baqarah:221). Burung

Mengubur Mimpi

Oleh:
“Alhamdulillah Ujian Nasional selesai,” aku tersenyum puas. Mata ini mulai berani menatap matahari kembali dengan sunggingan senyum kepuasan. Aku merasa belajarku tidak sia-sia karena soal-soal ujian nasional dapat diselesaikan

Rahasia Sebuah Peristiwa

Oleh:
Sungawi sangat sedih, meratapi nasibnya menjadi orang miskin. Sungawi ingin sekali bekerja di salah satu pabrik atau perusahaan, namun ia hanya bisa berangan-angan karena ia hanya tamat SMP. Prestasi

Islamphobia dan Toleransi Beragama

Oleh:
Setiap umat muslim pasti mengetahui bahwa agama Islam mengajarkan kebaikan. Kebaikan tidak hanya di haruskan dalam interaksi sesama muslim bahkan lebih dari itu. Umat muslim harus menghargai non muslim

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *