Aku Membutuhkan Sayapku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 24 November 2017

Selepas shalat shubuh, kubangunkan kedua anakku. Mendekati dan mencium keningnya adalah cara terbaik seorang ibu membangunkan anaknya.

“Kak, bangun kak, anak sholihahnya mama..” bisikku lembut tepat di telinganya.
“Mama hari ini bekerja yah?” tanyanya sembari mengusap-usap kedua matanya.
“Mama sudah shalat? Kenapa mama ninggalin ndria?”, muka cemberutnya dihadapkan ke wajahku yang masih memakai mukena. Tanda kalau dia ingin berjama’ah denganku.
Kutaruh tangannya diatas telapak tanganku. Kemudian matanya kutatap tajam,
“Maafkan mama yah kak, mama janji tidak akan ninggalin kamu lagi yah, sekarang diantar mama wudhu dan shalat yah”. Kupegang kedua tangannya agar bisa berdiri tegap.

Setelah mengantarkan putri pertamaku untuk mengambil air wudhu, kusiapkan mukena berwarna pink untuknya. Kumaklumi jika Indria sampai melihatkan wajah muramnya di hadapanku. Karena aku dan papanya selalu mengajak Indria bangun pagi dan shalat shubuh berjama’ah di musholla kecil rumah kita. Meskipun Indria masih sering memainkan mukena dan sajadahku, tetapi aku bangga melihat dia sudah bersemangat ikut berjama’ah dengan kami. Ketika Indria mulai mengangkat kedua tangannya dan membaca takbir, aku bernafas lega. Setidaknya papanya sudah meninggalkan buah hati yang sholihah untuk tabungan akhiratnya.

Tugas pertamaku dimulai dari mengurus Indria, kemudian adik laki-lakinya. Jagoanku yang satu ini bernama Raka. Melahirkan Indria dan adiknya adalah salah satu nikmat Tuhan yang tak dapat kudustakan. Mereka adalah titipin Tuhan yang harus kujaga sebaik dan sebahagia mungkin. Setelah lahirnya Indria, 3 tahun kemudian aku melahirkan Raka. Jadi umur mereka tidak terpaut jauh.

Raka adalah anak yang genius, namun sangat berbeda dengan Indria. Kemandiriannya jauh dibawah Indria ketika masih sama umurnya dengan Raka saat ini. Raka tergolong anak yang manja, papanya dulu selalu menuruti segala kemauannya. Sampai-sampai rasa sabarku kerap diuji oleh kegeniusan Raka setelah papanya tiada.

Indria dan Raka adalah dua anak yang memiliki kecerdasan berbeda, sekalipun mereka terlahir dari perut ibu yang sama. Selalu aku ajarkan kepada mereka, bahwa mereka adalah saudara adik-kakak, agar mereka saling menyayangi dan mengasihi. Kututurkan lembut pada Raka bahwa Indria adalah kakak perempuannya, dan begitu pula kepada Indria bahwa Raka adalah adik laki-lakinya.

Setelah berhasil membangunkan kedua buah hatiku, aku beranjak mengambil ponsel dekat tv sambil menyusui adiknya Raka. Ya, aku mempunyai tiga buah hati yang masih balita, usia mereka hanya berselisih 3 tahun sejajar semua. Mampu dibayangkan berapa keringat yang harus menetes demi mengurus ketiga buah hati kecilku, sesekali aku harus mondar mandir mengambil sapu demi kebersihan rumah.

Pagi ini kugerakkan jari-jariku memencet tombol-tombol di ponsel, kutaruh di dekat telinga. Nada sambung lagu ada apa dengan cinta itu nyaris ku hafal setiap waktu. Tidak biasanya pembantu rumah tanggaku datang melebihi jam 07.00 WIB.

“Assalamualaikum, Mbak Surti…”, ponsel semakin ku dekatkan ke telinga.
“Waalaikumussalam Bu Fira”, jawabnya dengan nada agak lemas dan tak bersemangat.
“Mbak, hari ini datang ke rumah kah?, mobil jemputanku sudah mau berangkat loh mbak!” Tanyaku sambil membetulkan gendongan bayi.
“Badanku menggigil bu, sepulang kemarin sore badan kehujanan. Sampai pagi ini belum bisa beranjak dari tempat tidur bu”, suaranya semakin meyakinkan bahwa dia tak dapat membantu mengurus rumah dan ketiga buah hatiku hari ini.
“Ya, sudah mbak Surti hari ini istirahat saja di rumah. Pulihkan kembali kesehatan mbak yah!” perkataanku mungkin mampu memberi energi positif ke dalam tubuhnya.

Menaruh ponsel dan memutar fikiranku. Memikirkan alasan apa yang harus kusampaikan pada atasanku. Sadar bahwa aku hanya pegawai swasta yang ikut aturan atasan orang Cina. Memastikan alasan kuat untuk tidak bekerja hari ini demi mengurus ketiga buah hatiku. Otakku memutar keras, mencoba mencari solusi agar diberi peluang untuk tetap masuk bekerja. Tapi hati dan fikiran menolak, anak-anak jauh lebih penting dari segalanya.

Kuputuskan untuk merebahkan diri di rumah. Kulihat adik Raka sudah tertidur pulas setelah kuberi ASI. Memulai pagi dengan menyiapkan sarapan anak-anak sendiri, memasukkan buku-buku Indria ke dalam tasnya. Menyetrika seragam Raka untuk ke sekolah. Raka kini sudah masuk TK A. Aku menyekolahkannya di TK Islam dekat rumah, aku berfikir agar mbak Surti bisa menggendong adiknya dan menuntun Raka ke sekolah. Sedih ketika melihat anak harus berangkat sekolah bersama pembantu rumah tangga. Tapi, aku tak punya pilihan lain selain bekerja keras demi senyum mereka.

Dulu setiap pagi suami selalu membantu menyapu halaman seusai shalat shubuh, menjemur pakaian yang sudah kucuci setelah anak-anak tertidur di malam hari. Namun, sekarang hanya bisa menegarkan diri untuk tetap menjalankan tugas sehari-hari meskipun seorang diri. Kerinduan itu menjadi-jadi tatkala aku melihat foto pernikahan kami yang terpajang di ruang keluarga. Tiba-tiba lelah ini beralasan untuk meneteskan ratusan air mata di pipi. Kemudian memunculkan sebuah angan untuk menjalani hidup berdua kembali agar lelah ini berimbang di kedua sisi.

Tersadar bahwa sayapku telah patah pada sisi kiri. Suami adalah sayap kiriku, sayap yang mampu membuatku terbang kembali. Bagaimana mungkin aku bisa menerbangkan satu sayap sendiri, itu adalah sebuah mustahil untuk kupahami. Mencoba memahami ruang hati yang begitu hampa, hampa tanpa kehadiran dirinya.

Mengambil sehelai tissue dan kugosokkan ke kedua mataku, tanda bahwa hatiku lelah untuk menyembunyikan sebuah rasa. Aku ingin ada yang mengisi kekosongan ini. Mengisi suasana rumah dengan celotehan kata papa di telinga. Tapi entahlah kenapa aku harus berfikir apa yang seharusnya tidak aku fikirkan saat ini.

Kusudahi kesedihan hari ini dengan mengantar Raka ke sekolah. Karena sang kakak, Indria sudah berangkat sekolah bersama teman dekatnya, yang berangkatnya kutitipkan orangtua temannya. Karena mbak Surti tidak masuk hari ini, hampir kerepotan aku mengurus anak-anak untuk berangkat ke sekolah. Kudekap tasnya, dan kupegang erat tangan Raka serta mengayunkan langkah kaki bersama. Memulai pembicaraan sambil mengajarkan interaksi sosial pada jagoan kecilku.

“Dek, lihat burung itu…”, sambil ku tunjuk burung terbang di atas rumah para tetangga.
Mata Raka langsung terperanjat ke tempat aku tunjuk, sambil berkata padaku “Bagus ma, bulung itu kenapa bisa telbang yah ma?”. Maklum lidahnya Raka masih terbolak balik untuk huruf R.
“Hayoo coba tebak dek, kenapa burung bisa terbang?”. Jawaban yang tidak diinginkan Raka dalam hati.
“Kenapa yah ma?’ tanyanya terulang lagi sambil mengernyitkan keningnya.
“Karena burung punya sayap dek, kalau adek punya sayap tidak?” tanyaku sambil melontarkan senyum untuknya.
“Gak punya ma, kalau adek punya sayap adek pasti sudah terbang kayak spiderman.” Bayangannya menembus dunia fantasi yang dilihatnya di tv.
“hehehe… dek, setelah liat burung terbang adek harus tahu siapa yang menciptakannya, coba mama tanya siapa yang menciptakan burung terbang?”
“Kata bu gulu sih ma, semua itu ciptaan Allah”, sambil matanya tak berpindah menikmati burung terbang itu.
“Betul sekali dek, ku usap-usap rambutnya. Anak mama pintar sekali, kalau sekolah setiap hari pasti tambah pintar dek”. Raka memainkan tangan adiknya yang mungil itu.
“Mama, kalau sayapnya bulung ada belapa ma?” sambil menunjuk dan menggerakkan jari-jarinya.
“Satu, dua.. dua yah ma”. Dua jari dipegangnya.
“Iya dek, sayapnya burung ada dua. Anak mama semakin pintar yah sekarang, jagoan mama deh pokoknya”.
“Mama, kalau sayapnya satu bisa telbang gak yah ma?”, pertanyaan anak-anak yang sudah sesuai perkembangan daya nalarnya.
“Gak bisa dek, kalau sayapnya satu nanti gak bisa seimbang. Nanti pasti burungnya jatuh, lama-lama burungnya bisa mati dek kalau sayapnya tinggal satu”.
“Ohh iya tah ma, nanti adek mau tanya sama bu gulu”, ternyata dia masih harus meyakinkan kata-kataku untuk disetujui bu gurunya. Ya, begitulah anak-anak kalau sudah sayang bu guru di sekolahnya.

Interaksi kami tentang burung dan sayap harus diakhiri di depan gerbang sekolah Raka. Gerbang yang bercat biru dan terdapat gambar matahari tersenyum itu mampu mengalihkan perhatian putraku. Raka duduk tepat di kursi biru, warna kesukaannya. Sekilas aku membalikkan mata dari kursi biru ke arah jendela kelas. Aku dan Raka melihat seorang bocah sedang mencium tangan ayahnya. Tanda restu seorang anak ketika ayahnya hendak berangkat bekerja. Hatiku bagaikan putik bunga yang jatuh dari kelopaknya, aku tak mampu meneruskan pemandangan itu untuk anak kesayanganku Raka.

Mencoba mengalihkan pandangannya, kukeluarkan permen warna-warni dari tasnya yang kubeli di toko depan sekolah bersamanya. Karena jam menunjukkan pukul 08.00 WIB, seluruh guru mengecek kehadiran para muridnya dan mempersilahkan para orangtua untuk menjaga serta mengawasi putra-putrinya di luar kelas. Segera kukatakan pada Raka bahwa aku akan kembali duduk di sampingnya, setelah Raka selesai belajarnya.
“Dek, mama di luar kelas dulu yah… mama akan melihat adek belajar dari jendela. Raka kan anak mama paling genius, mandiri”. Mata senyumnyaku lihat, sambil kubenarkan topi seragamnya yang agak miring karena kerap dibuat mainan ke kanan dan ke kiri.
“Anak mama belajar yang rajin yah”, beranjak dari tempat duduk Raka menuju teras depan kelas. Mencari jendela yang dekat tempat duduk Raka agar bisa mengawasinya, meyakinkan perkataanku bahwa mamanya tak meninggalkannya.

Memandangi Raka dari jendela, yang terbuat dari besi dibentuk lubang-lubang hampir mirip seperti lingkaran-lingkaran terpasang di kelas itu. Aku memandanginya dari jauh, dengan penuh cinta. Do’a terlantun dari bibirku agar kelak Raka bisa tumbuh layaknya sang papa. Lelaki yang bertanggung jawab, cerdas dan menghargai seorang wanita terutama ibunya. Fikiran melayang jauh, membayangkan masa depan cerah Indria dan Raka serta adik yang masih di gendonganku ini agar bisa menghibur hatiku. Tapi apakah aku akan berbahagia dengan menjadi seorang single parent, dan ketiga buah hatiku. Hampir rasa kebahagiaan dan kesedihan menghampiri hatiku, berperang saling ingin memenangkan diri.

Terlintas sekilas betapa indahnya jika mempunyai suami kembali dan menata keluarga kecil dengan rasa cinta berdua. Tapi apakah aku bisa menemukan lelaki yang hampir sama dengan papa Raka, lelaki yang sudah menjaga hatiku bertahun-tahun tetapi harus terpisah karena takdir Tuhan. Aku mencoba menghilangkan fikiran itu berkali-kali, tetapi sesekali ide itu muncul beralasan untuk suatu kebahagiaan yang sempurna. Kebahagiaan yang selayaknya dimiliki sebuah rumah tangga, yang harus ada dua sisi yang saling melengkapi satu sama lain.

Teringat pertanyaan Raka mengenai sayap burung yang hanya satu, dan aku menjawab tidak bisa terbang dan lama-lama akan mati. Itu hanya analogi seekor burung, tapi bagaimana dengan kehidupanku, dengan hatiku yang harus memendam asa dan rasa seorang diri tanpa hadirnya suami di sisi. Akankah aku harus mengembalikan dua sayapku, bagiku sayap kanan adalah anak-anakku dan sayap kiri adalah seorang suami yang mendampingiku. Dua sayap yang harus ada di belakangku senantiasa menopangku untuk terbang kesana-kemari dan mereka selalu mengikuti. Jika salah satu sayapku patah atau terluka, aku akan merasakan luka dalamnya. Dan jika sayapnya patah, usai sudah kehidupanku saat itu juga.

Teett… suara bel sekolah TK islam itu membuyarkan lamunanku, bergegas kuambil bekal makanan putraku di parkiran motor. Berharap agar Raka tidak menunggu lama, melangkahkan kakiku lebih cepat dan segera menghampirinya. Tepat di hadapannya, Raka memegang perutku seraya berkata,

“Aku kira mama pulang, kok adek cari gak ada ma?”, meneguk air putih yang kubawakan untuknya.
“Sudah berdo’a belum sama bu guru dek?”, kataku dengan memegangi botol minnionnya.
“Sudah ma, kan sebelum cuci tangan halus beldo’a dulu kata bu gulu”, bangga karena selalu menuruti apa kata bu gurunya. Dan aku turut bangga dengan segala progesifitas perkembangannya.

Syukur tiada henti terucap dalam hati, sudah diberi anak yang pantas kuberi apresiasi. Anak itu banyak memberi pengetahuan bagi kita, tanpa mereka meminta dari kita. Anak hanya mengikuti kata hati dan tujuan kita, tidak ada anak nakal karena yang ada hanya anak yang belum diberi arahan untuk baik. Sejatinya anak adalah peniru ulung, mereka tidak melihat apa yang baik dan buruk. Baginya apa yang dilihatnya adalah apa yang harus dicontohnya.

Cerpen Karangan: Nina Mahsuna, S.Pd.
Facebook: Niena Mahsuna
Nama: Nina Mahsuna, S.Pd.
TTL: Gresik, 10 Maret 1996
domisili: Perumahan Kepuh Permai Waru Sidoarjo
Hobi: Menulis, menyanyi
Profesi: Admin di PT. Kamilaprinting
pengalaman kerja: menjadi guru TK selama 3 tahun
pengalaman organisasi: sekretaris bidang organisasi Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sidoarjo

Cerpen Aku Membutuhkan Sayapku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


1 Promise

Oleh:
“Felly! Lo nggak pulang?!,” tanya Riska yang tengah asik mengemasi barang-barangnya dari lemari asrama putri. “Liburan ini, gue akan pulang telat.” “Kenapa bisa begitu?! Ada urusan sama produser?!,” tanya

Dady The Best

Oleh:
Namaku Sanji, aku anak tertua dan termuda ayahku, sebut saja anak semata wayang. Aku tinggal bersama ayah, ayah yang sedari kecil merawatku sampai aku sebesar ini. Sekarang aku duduk

Rindu Pelangi

Oleh:
Sore ini tampaknya kota Jogja kurang bersahabat dengan banyak orang. Di luar tampak suasana kota yang mendung berselimutkan rintik-rintik hujan yang turun. Tapi tidak untukku, aku terlebih menyukai keadaan

Selamat Ulang Tahun Ayah

Oleh:
Namaku Rania Kamelia Putri. Aku tinggal bersama Ayah dan Kakakku, Rini Adelia Putri. Ibuku telah pergi meninggalkan dunia ini karena melahirkan adikku. Adikku pun ikut bersama Ibu meninggalkan dunia.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *