Aku Telah Meraih Surga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 29 April 2014

Aku mengingat-ngingat dimana liontin-liontin koleksi ibu tergantung di rantai lehernya. Dari yang berbentuk tetesan air, bunga, hati sampai bentuk-bentuk abstrak lain. Di liontinnya tak sedikit yang bermata putih bening atau hitam mengkilap. Sekarang, bahkan rantainya tak dapat kulihat.

Aku menghela nafas, benar roda tak selalu di atas, kadang di bawah, dan mungkin di paling bawah.
“assalamualaikum” ujarku memasuki rumahku yang sekarang terlihat kosong
“wa alaikumsalam” jawab ibuku tetap dengan senyumnya, “ayo makan..”
Itulah kalimat yang selalu keluar dari mulutnya. Kalimat yang selalu menyejukkan meski keadaan rumah tidak selalu sejuk.
“iya, sebentar bu, mau ke kamar dulu” jawabku seolah cuek

Aku masuk ke kamarku, kemudian duduk di meja belajarku dan membuka buku bersampul pink berfotokan teman-temanku semasa SMA. Kemudian aku mulai menulis diary yang telah kosong selama tiga hari. Aku mulai meringkas kejadianku selama itu.

Setelah usai meluapkan rasa rindu pada diaryku, aku mulai menatap kalender. Sebentar lagi UAS kuliah, sebentar lagi pula pembayaran uang semesteran kuliahku. Aku mulai penat lagi. “hoh”. Aku mulai melihat seisi kamarku, aku mengelus laptop Compagku, aku tak akan pernah ingin kehilangan benda ini. Lalu aku tersadar botol minyak harum bunga lilyku kosong, aku mulai menghela nafas lagi, “hoh”

Pagi yang cerah, aku selalu merasakan udara pagi segar seperti ini. Aku bangun untuk solat subuh. Ayah dan ibuku sudah bangun sejak awal subuh tadi. Aku mulai membantu pekerjaan rumah seperti biasa. Di sela aku mencuci piring, ibuku bertanya, “aisyah, ibu boleh nda pinjem laptopnya?” tanyanya sambil mengaduk sayur yang dimasaknya.
Aku mengernyitkan dahi, heran. “buat apa ibu laptop?”
“mau ibu gadaikan dulu, uang Ayah dan Ibu habis, di sekolah kan dulu laptopnya, insyaallah dua tiga bulan kok Ai..” ujarnya tetap dengan suara lembut
Aku mulai panas mendengar Ibu berkata seperti itu, aku heran, marah, sedih, bingung. Semuanya bercampur. Aku terdiam berfikir, aku tak pernah melawan wanita perkasa nan lembut di depanku ini. Air sudah terasa meleleh dalam hati.

“eh eh ini lihat, lowongan guru privat..” ujar Ria, salah satu temanku yang ingin sekali bisa bekerja dan kuliah.
Aku meliriknya kertas itu sebentar, otakku tak ingin memikirkan apapun.
“ayo coba, ih lumayan Rp. 25.000/jam. Seminggu cuma tiga kali, enteng buat anak kuliahan.. ayo coba, sms ke nomer berapa?” jawab Fai sama antusiasnya, mereka mulai mencatat nomer LBB tersebut. “kamu juga ya Ai?” pintanya lagi
“kamu ada masalah ya? akhir-akhir ini kamu diem terus” kata Ria menebak, “oh ya Ai, kamu pinter bahasa inggris lho!” tambah Ria lagi
“hoh.. hemm, makasih” jawabku seraya berlalu

“Ibu tahu kan kalau Ai sayang banget sama laptop Ai, kenapa Ibu mau gadaiin?” tanyaku dengan sedikit meninggi, sebenarnya aku merasa sedih mendengar kalimat ini keluar dari bibirku
“iya, ibu tahu, makanya ayah suruh ibu tanya Ai dulu, kan cuma sementara, nantinya insyaallah bisa ditebus Ai” jawab ibu tetap pelan dan lembut
“bisa ditebus, trus dimana sekarang perhiasan Ibu? sudah dua hampir tiga bulan malah nda kelihatan sama Ai, dimana liontin Ibu? kalau ayah nda bisa nebus laptop Ai gimana? Ai biasa pake laptop itu buat semuanya, kalau nda ada laptop trus Ai gimana? Ai nda mau” ujarku lebih tinggi. Diriku sudah dikuasai setan.
“… Ai, kalau memang nda boleh ya udah.. ibu juga sayang sama liontin ibu, tapi semuanya kita kembalikan sama Allah, semuanya pasti ada hikmahnya Ai” ujar ibu seraya menghela nafas
“memang ayah punya hutang berapa sampai kita hidup semerana ini? Ai nda pernah makan di restoran lagi, udah nda pernah nonton sama berenang lagi. Ibu juga sekarang masak kebanyakan tahu tempe sama sayur aja, Ai juga kangen steak, pizza, seafood. Hoh.. bahkan minyak harum Ai sudah habis, nda tau bisa beli lagi atau nda… Sekarang udah beda sama yang dulu” tambahku mulai meluapkan pendaman hati selama tiga bulan terakhir ini
“Ai.. ayah sedang terlilit hutang karena usahanya ada masalah. Ayah nda bisa berhenti di tengah jalan trus ngebatalin semuanya, ayah juga perlu modal buat client lain. Sekarang harta kita sedang dibuat modal lagi. Dan mungkin ini jauh dari perkiraan kita, ini bisnis Ai. Pasti ada resiko di setiap bisnis. Ayah sama Ibu lebih menginginkan doa dari Ai ke Allah. Ai nda boleh mengeluh apapun di hidup ini, ini cuma cobaan Ai.. nda ada bedanya sekarang sama dulu, kita tetap bertiga” kali ini Ibu menjawab dengan menunduk. Mungkin terlalu kasar aku berucap padanya, namun bibirku seolah menarik hati untuk terus keluar berbicara, “tetaplah jadi anak penurut Ai, jangan sampai dirusak hanya karena masalah materi. Izinkan ayah pinjam sebentar, ayah sama ibu minta doanya juga, Ai” ujar ibu sekarang dengan melihat mataku.
Aku menunduk, yah, itu intinya. Setan benar sedang merayakan kemenangannya atas diriku. “Ai tidak membedakan cara ibadah Ai dari dulu sampai sekarang, tidak ada bedanya. Tapi kenapa di dunia sekarang berbeda. Allah sudah tidak mendengar doa Ai lagi, Allah nda sayang lagi sama keluarga Ai, Allah tidak adil”

Lallaalaalaala nananana. Alarm Hpku berdering menunjukkan waktu subuh telah tiba. aku menekan tombol untuk perintah stop. Lalu bantal kutindihkan pada mukaku. Selang beberapa menit, ibu mengetuk pintuku dengan agak keras, “ayo sudah siang, subuhan dulu Ai”

Lelah seharian di kampus. Wajahku menengadah ke atas, mulai memperhatikan langit-langit kamarku. Kemudian melihati dinding-dindingku yang bertempelkan dimana-mana wajah-wajah tokoh kartun Doraemon. Aku mengalihkan pandanganku pada sebuah meja belajar. Seperti lebih tampak rapi pikirku. Beberapa detik kemudian, aku tersadar, laptop dan peralatan laptopnya sudah tidak ada di atas meja lagi. Aku segera berlari keluar kamar dan bertanya pada Ibu, Ibu mulai menjelaskan dimana laptop. Dengan terisak, aku mulai bertanya pada Ayah yang sepertinya sedang serius berfikir,
“Ayah.. itu laptop Ai” protesku dengan tetesan air mata, “itu punya Ai, Ai nda mau, Ai nda ikhlas” marahku
“itu juga punya Ayah, jangan cengeng hanya karena laptop nda ada, Ayah cuma pinjam sebentar” jawab ayah santai dan menusuk hatiku. “Ayah tahu perasaan Ai, tapi Ayah berusaha dan berjanji laptopnya diambil, Ai berdoa dan belajar aja” tambah Ayah setelah beberapa detik hening
“Ayah jahat, ini semua karena Ayah, kita jadi hidup merana seperti ini, Ayah tidak bisa membahagiakan Ai dan Ibu” ujarku keras dan menyakitkan hatinya
Ayah dengan memanglingkan wajah ke mukaku dengan cepat berkata, “lebih banyak mana Ayah meminjam barang Ai dibanding Ai meminta barang-barang pada ayah? jangan berani sama orangtua Ai, Ayah sibuk, jangan buat Ayah marah, Ai belum pernah tahu bagaimana cara mendapatkan uang, bukan hanya menengadahkan tangan pada orang lain” jawab Ayah tetap acuh.
Aku meninggalkan ayah dan berkata dalam hati, “hoh, Ai juga bisa cari uang”

“ketik nama-alamat-kampus-fakultas-jurusan-semester-ipk kirim ke 081 231 330 910” ujar Fai menjelaskan cara melamar pekerjaan menjadi guru les privat.
Dengan diiringi dua sahabatku ini, aku mengetik tombol-tombol pada Hp. Dan kemudian mengirimnya. Send. Delivered.

Rabu 05-12-12 07.21
Diary, “hmm.. hi, how are you today?”
Aku mengingat hari pertama perkenalanku pada anak kecil berusia 5,5 tahun itu, dia adalah muridku. Namanya Katherine. Biasa kupanggil, Kath. Dia sekolah di TK Besar Internasional, dia keturunan Cina asli non muslim. Pertama kali bertemu aku masih mengingat, aku begitu heran melihatnya kegirangan menyambutku untuk mangajarinya membaca. Dengan bahasa Inggris percakapan sehari-hari, kami menjadi terbiasa. Setiap aku datang dan pulang, Kath selalu memelukku. Awalnya geli melihat tingkahnya yang aktif, tidak seperti anak perempuan yang kalem dan pemalu pada umumnya. Kath suka bertanya tentang semua hal. Benar kata ayah mencari uang itu tidak mudah, perlu kerja keras (maafkan Aisyah Ibu, Ayah).

Rumah Kath berjarak cukup jauh dari rumahku sehingga aku perlu mengendarai sepeda motor dalam 1 jam. Kulitku jadi lebih hitam daripada kemarin. Yang didapat hanya 25 ribu per jam, padahal dulu kalau makan di restoran bisa habis ratusan ribu per satu kali makan. Hoh. Btw, nda terasa sudah 1 bulan aku jadi guru les privat. Kath anak pintar. Aku juga tetap mengajarinya pemakaian bahasa Indonesia, setidaknya dia harus menyadari bahwa dia hidup di Indonesia. Kadang aku dan Kath berbisik-bisik saat menggunakan bahasa Indonesia karena Ayahnya sangat disiplin penggunaan bahasa Inggris dalam sehari-hari. Kath tidak hanya diajari olehku, tapi aku juga belajar darinya. Istilah bahasa Inggrisku semakin banyak dan lancar. Mama Kath orang yang baik, kadang kalau Kath masih ingin belajar, aku disuruh mengajar sampai isya tiba sehingga tak jarang aku sholat maghrib di sana. Kath juga mengajariku memiliki adik, aku merasa Kath adalah adikku sendiri. Kami hanya berbeda suku. Mama Kath sama seperti Kath, tipe orang periang yang selalu tertawa dan hangat, sanguinis.

“…, dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia” QS. Ar-Rad : 11

Sabar menghadapi segala macam musibah dan selalu bersyukur bila musibah itu sudah dihindarkan itu hendaknya ada pada seseorang yang beriman dan ia harus selalu memberi penilaian yang baik bahwa semua yang terjadi selalu ada hikmahnya. Dengan sabar akan memancarkan sinar, memelihara muslim dari kebinasaan, dan memberi hidayah yang menjaga putus asa.

Di tengah malam, aku mengingat tulisan yang kudapat dari buku mata kuliah Akhlak Tasawufku. Selesai melaksanakan shalat malam, aku mulai menangisi dosa-dosaku. “Ya Allah.. aku sempat berkata kasar kemarin pada-Mu, ampuni dosa hamba yang lemah ini”. Malam yang dingin seperti menelanjangi tubuhku mengingat dosa.

Benar, dengan ikhlas dan menerima semua yang diberikan oleh Allah SWT mampu melapangkan hatiku. Ini semua membuat hatiku tidak berbeda baik dalam keadaan yang dulu atau sekarang. Aku melirik meja belajarku, menatap kosong masih tanpa laptop. Namun aku tersenyum, aku mengikhlaskan segalanya pada-Nya. Bukankah tak ada sedikitpun hal yang benar-benar kumiliki didunia ini? Semua hal apalagi benda mati seperti laptop benar-benar milik Allah. Hatiku terasa lebih luas. “Tak ada yang perlu kutangisi. Aku benar-benar ketiadaan di dunia ini” ujarku sendiri meniru istilah Pak Dosen Tasawufku.

Fajar dengan lembut menerpa wajahku beserta aroma subuh yang tak tertandingi. Aku memeluk Ibu saat di tengah menggoreng tempenya. Dengan malu aku mulai merindukan pipi harum Ibu, tanpa suara aku mulai merangkulnya dan menciumnya. Dalam hati aku menertawakan diriku sendiri karena begitu cengengnya dalam menghadapi masalah materi hingga melupakan pipi Ibu yang hampir tiap pagi kusentuh dengan lembut. Ayah dengan diam-diam melihatku bersama Ibu di balik koran yang sedang dibacanya, kemudian dengan kikuk tersenyum padaku setelah ketahuan aku juga memperhatikan tingkahnya. Dengan mengerahkan keberanian, aku mengatakan, “maafkan Ai Ayah, Ibu, Ai sadar sekarang. Terimakasih selama ini telah mengajari Ai hidup”. Dengan cepat mereka mengembangkan senyumnya. Mungkin, meskipun aku tidak meminta maaf kepada mereka, mereka akan memaafkan kesalahanku. Itulah cinta kedua orangtua pada anaknya. Masih adakah yang perlu aku ingkari nikmat Allah yang diberikan padaku hingga detik ini?. “sukron Allah”. Aku berada di taman surga.

Kath memakan mie instan mentah. Agak lama dia mengamati bungkusnya, kemudian aku bertanya, “what are you doing, Sweet?”
“hmm.. always in food pack, I read it, ha-la-l, what the meaning?”
“hoh.. (dengan sedikit ragu dan heran, aku mencoba mengingat ingin memberikan jawaban terjelas untuk anak seusianya) “halal is not use all of from pigs and dogs, hehe” ujarku cengengesan
“ohh.. why? my mom don’t forbid about it. Why there are different?”
“hmm.. halal is special for Islam religion” dengan sangat ragu aku menjawab singkat, apa Kath mengerti tentang agama?, “so, let’s study now, hehe” tambahku mengalihkan pembicaraan
“i’m still not understand about it, about religion. What that is religion? agama.. agama Kath Kristen, mbak Aisyah apa? why it different, too?”
Aku ingin menyudahi pembicaraan ini, aku takut semakin memperpanjang masalah. “hehe, Miss is muslim, Islam. We aren’t different, we are same human, more same female Sweet, okay” ujarku dengan senyum lebar
“hoh.. so you wear a cloth hmm.. twist in your head, your neck? hmm.. it’s like my suster.. she is religious sister” tanyanya lagi. Benar, mata anak kecil selalu polos, bersih, terlalu bimbang menghadapi perbedaan di dunia ini.

Kath selalu ingin tahu, dia mengamati hal di sekelilingnya, aku akan menjelaskan apa yang akan ditanyanya, “yes, it is veil jilbab atau kerudung, you are right is like your cloth suster but those are something different. For muslim, veil for cover up menutupi for my hair and neck. So i seen elegant and respectful sopan, Kath, if you grow still of age, you know why me use it and other people use different”
“hoh.. (desis Kath meniru gayaku, dengan kerlingan mata ke atas) i want to try use it, use veil is elegant, hehe” katanya dengan tatapan mengharap pada kerudungku. Tak disangka, Kath mulai menarik taplak meja dan melilitkannya pada lehernya. Aku panik namun pura-pura tertawa seraya menjelaskan bukan menggunakan kain itu, alih-alih agar tidak kelihatan oleh mamanya. Kath yang polos tetap menyombongkan gigi-giginya.

Terik matahari seperti membakar kulitku, aku jadi mengingat api di neraka nanti, tak sedikitpun aku menginginkan itu. Naudzubillah. Setelah membungkus tanganku, aku mulai menaiki Vario hitamku menuju rumah Kath. Aku kembali mengingat pembicaraan kami 2 hari yang lalu, aku tersenyum.

Sebelum makan malam perayaan ulang tahun Kath dimulai, Aku izin untuk shalat terlebih dulu di kamar pembantunya yang juga Islam. Kath sering bolak balik dapur dan melihatku saat shalat. Tiba-tiba seusai salam, suara Kath terdengar dari belakangku,
“what are you doing, Sis?” untuk pertama kalinya Kath memanggilku ‘Sis’ dan menanyakan apa yang kulakukan seusai shalat. Ini akan menjadi panjang, pikirku. “hoh.. i’m scared, hehe. I praying, Sis ”
“hehe, that is do only for muslims, too?” tanyanya ingin tahu
“he em.. happy birthday for 6, my sweet’s sis?”

Lagu selamat ulang tahun menggema di ruang makan Kath yang mewah. Semua masakan kesukaan Kath ada di depan mata. Kath tampak bahagia menikmati masakan pembantunya. Orangtua Kath memang orang baik, mereka juga mempersilahkan pembantu-pembantunya duduk untuk makan dan bernyanyi bersama. Tak lupa, Nenek dan Kakek juga keluarga dekatnya ikut makan bersama di jamuan malam ini. Kath berkali-kali memuji dan bercerita orang-orang di sini. Di sela menikmati dessert, Kath yang berada di depanku turun mendekati tempat dudukku dan mulai memegang kerudungku seraya berkata, “when I can pray like you? Do you want to learn me how to pray like you?” ujarnya memohon. Kami semua terpaku, diam. Aku bingung entah harus bagaimana. Aku benar-benar tak mengira Kath berkata seperti itu. Pipi dan kupingku terasa panas.
“stop it Kath, you pray with mom and dad in church, is same too” ujar Ayahnya sedikit dengan nada tinggi. Mamanya dan keluarga lain terlihat tegang melihat suasana ini.
Aku tersenyum menatap Kath, dia benar-benar adikku.
“i want dad, is very calm..” jawab Kath polos, belum mengerti.
Aku menatap Ayahnya dan cepat menunduk, aku tahu sebentar lagi aku akan dipecat.

Cerpen Karangan: Siti
Blog: http://sarintil.blogspot.com/

Cerpen Aku Telah Meraih Surga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Miliaran Kerikil

Oleh:
Untuk semua yang datang membawa kepedihan. Saat kreatifitas tidak disalurkan bisa tumpul, saat kemampuan tidak dipakai bisa hilang, tapi saat cinta tidak pernah diberi? Apa sebenarnya hakikat dari cinta?

Aku Menginginkan Duniamu

Oleh:
Hai, namaku Adam. Aku sama seperti kalian yang bersekolah untuk menuntut ilmu. Aku tidak pernah mengetahui sisa umurku di dunia yang didiagnosis oleh dokter. Karena ibu melarangku untuk mengetahui

Terima Kasih, Ibu

Oleh:
Ibu, setiap pagi dengan senyum mengembang kau menuntun sepeda tuamu menawarkan pisang ke rumah-rumah penduduk. Keringat letih membasahi tubuhmu tetapi tidak terkalahkan oleh semangatmu untuk mencari nafkah. Dengan menuntun

Senja Sore di Masjid Biru

Oleh:
Sebut saja namaku Alissha, aku adalah gadis muslim yang berumur 18 tahun. Aku seorang gadis berdarah campuran, ayahku adalah seorang Pakistan dan menikah dengan ibuku yang berkewarganegaraan Inggris. Aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *