Albayanati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 11 April 2022

Beruntung, Aji belum memesan tiket untuk pergi ke luar kota. Dia harus menerima kenyataan bahwa kuliah semester enam ini akan dilaksanakan sepenuhnya daring. Bahkan dia sempat melihat di media sosial, beberapa temannya yang terlanjur menyewa kost mau tidak mau harus kembali mengemasi barang-barangnya untuk kembali kampung.

Bencana virus markonah yang sudah menahun ini membuat Aji bosan. Apalagi sekarang virusnya semakin bermunculan dengan varian baru. Sudah seperti es krim saja yang muncul dengan beragam varian. Ya kalau es krim enak, lah ini virus!. Aji benar-benar tidak tahu apalagi yang harus dilakukannya untuk mengisi waktu luangnya saat ini. Kuliah masih libur, kerjaan tidak ada, kalau mau jalan-jalan pun ke mana? Biasanya Aji mengisi waktu luangnya bersama kumpulan remaja masjid As-Shofa. Mereka yang dekat dengan Aji sebut saja Kholil dan Ravi.

Kini, Aji serasa terkekang di rumah. Sang Ayah melarang keras kepergiannya ke masjid meski tujuannya mulia. Beliau bilang, kalau mau ibadah gak harus ke masjid. Sementara ini di rumah masih bisa. Aji mau tidak mau harus mematuhi sang Ayah demi kesehatannhya, kesehatan keluarga, dan kemaslahatan bersama. Karena pelarangan dari sang Ayah, Kholil yang sering datang ke rumah Aji dan mengajaknya ke masjid harus ditolak mentah-mentah oleh Aji bahkan dia pernah bersembunyi di kamar saat Kholil memanggilnya untuk pergi sholat berjamaah.

Aji masa bodo kalau ada yang bilang dia kafir. Yang kafir itu yang tidak sholat. Bukan yang tidak sholat jamaah. Daripada pikirannya terus melayang-layang kepada sikap Kholil dan segala dugaan yang belum jelas, Aji lantas pergi ke dapur untuk mencuci piring dan semua pakaian kotornya yang menumpuk. Sambil mengerjakan pekerjaan wajib ibu rumah tangga atau yang biasa dikenal dengan “nginem”, Aji menyalakan ponselnya dan memutar suatu video ceramah agama dari internet.

Di sisi lain, Kholil dan para remaja masjid sedang berkumpul di masjid sembari menunggu adzan berkumandang. Kholil terduduk manyun di teras masjid sambil mengharapkan kehadiran seorang Aji. Dia begitu karena Aji dirasa menjadi pelopor dalam segala kegiatan di masjid tersebut, yang mana itu juga berguna untuk menghidupkan kembali masjid. Ravi yang baru saja mengambil wudhu lantas menepuk bahu Kholil agar dia segera beralih dari lamunannya yang tidak jelas.

“Apa yang kamu lamunkan, sobat? Melamunkan ukhti cantik kah?” kata Ravi sambil sedikit tertawa.
“Gak lah, sobat! Aku lagi mikirin Aji yang gak kunjung datang ke masjid.” Kholil menjawab.
“Sudahlah, masing-masing orang punya cara menghadapi pandemi setan ini. Kamu harus menghargai keputusannya. Sholat, yuk!” ujar Ravi sambil mengajak Kholil masuk ke masjid.

Setelah sholat selesai, para remaja masjid berkumpul di ruangan kecil seluas satu kali dua setengah meter di samping ruang takmir. Kholil melangkah perlahan ke ruangan itu sembari merapikan rambutnya yang tertindih peci. Dia mendengar teman-teman sedang membicarakan Aji. Di ruangan itu terlihat Ravi, Yanu, Hedar dan Aril. Terlihat percakapan diantara mereka cukup serius.

“Aji kemana ya kok gak pernah kesini lagi?” Yanu bertanya.
“Apa sudah keluar dari remaja masjid As-Shafa?” celetuk Aril.
“Gak, dia dilarang Ayahnya buat ke masjid untuk sementara.” kata Kholil yang baru saja datang.
“Wah, orangtua aneh! Anaknya berbuat baik kok gak boleh…” ucap Hedar dengan sedikit ngegas sambil melanjutkan gaming-nya.
“Berbuat baik kan gak harus ke masjid…” Ravi menambahkan.
“Aji sekarang nolep, sobat. Dia kayaknya kecanduan pekob deh! Dia soalnya waktu aku temui gerak-geriknya kayak aneh gitu!” celetuk Kholil. “Ah, kau yang benar, Lil?” Ravi bertanya kepada Kholil.
“Ya, kan kayak begitu ciri-ciri pecandu konten dewasa!” Kholil berucap lagi.
“Boleh jadi Aji adalah penikmat, ya.” sahut Hedar pertanda setuju kepada ucapan Kholil.

Kholil yang mulutnya gatal lantas mengatakan hal-hal yang tidak benar tentang Aji. Dia bilang bahwa Aji sekarang menjadi anak yang “nolep” dan kecanduan konten p*rno. Para teman ada yang menganggap ucapan Kholil benar dan ada yang tidak. Namun Ravi yang kritis tidak lekas percaya ucapan Kholil. Dia hanya menanggapi perkataan Kholil dengan raut muka datar.

Hari-hari berlalu. Bulan tidak terasa sudah berganti. Aji masih saja dikekang dalam keadaan ini. Bahkan untuk berolahraga saja Aji hanya berlari-lari kecil di depan halaman rumahnya. Tidak seperti dulu yang mana dia selalu pergi ke taman kota bersama teman kampusnya yang satu kota dengannya. Aji sering mendengar kabar tentang korban yang berjatuhan. Bahkan Sang Ayah sering memutakhirkan berita terbaru yang mengabarkan bahwa rumah sakit setempat penuh. Kesehatan masih berpihak pada Aji dan keluarga. Sang Ayah tak henti-hentinya memperingatkan semua anggota keluarga beliau agar tidak usah sering-sering keluar rumah bila tidak mendesak.

Aji selalu mengingat apa yang diucapkan para ustad di setiap ceramah yang dia dengarkan. Bahwa manusia harus senantiasa mempersiapkan kehidupan di akhirat. Waktu luang “di rumah saja” ini dimanfaatkannya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas ibadahnya. Dia kerap menambah hafalan surah baru, doa harian, juga belajar lebih banyak ilmu agama dari buku maupun internet. Saat Aji akan menonton ceramah di internet, Aji mendapat satu pesan masuk dari Ravi.

Pertanyaan Ravi agak tidak mengenakkan suasana hati Aji. Dia bertanya kepada Aji: “Ji, kamu kecanduan konten p*rno kah?” dan Ravi kembali mengirimkan pesan: “Kalau iya, gapapa. Aku bisa bantu dan merahasiakannya”. Aji lantas membanting ponselnya ke ranjang empuknya. Mulutnya lantas beristighfar dan bergegas pergi mengambil air wudhu agar emosinya menjadi reda.

Setelah berwudhu, Aji kemudian menanyakan kepada Ravi. Mengapa dirinya bisa bertanya seperti itu? Boleh jadi ini karena dirinya yang semakin hari semakin jarang terlihat keluar rumah. “Oke, oke mari kita tuntaskan kesalahpahaman ini…”, kata Aji sambil merekamnya lantas mengirimkan pesan suaranya kepada Ravi. Aji menjelaskan semuanya secara baik-baik dan tanpa ada sedikit emosi.

Namun emosi Aji sedikit terpicu setelah tahu kalimat Ravi yang menerangkan bahwa Kholil yang bilang kalau Aji jarang keluar rumah karena kecanduan p*rno. Fakta yang tidak benar. Iblis apa yang sudah merasuki jiwa seorang Kholil Hidayat lantas membisikkan kejahatan ke dalam pikrannya? Aji tetap berusaha sabar dan tidak melampiaskan kemarahannya kepada seorang Ravi Ahmadi.

Oke! Aji akan menghadapi Kholil secara dewasa. Mengingat usianya yang sudah lebih dari seperlima abad mengharuskan dia bersikap demikian. Kholil setiap hari pasti lewat depan rumahnya saat hendak ke masjid. Saat dia lewat, Aji akan mencegatnya dan mengajaknya bicara baik-baik.

Esok senja, Kholil terlihat melintas di depan rumah Aji. Dia bisa melihat langkah kawannya yang bersarung itu dari balik jendela. Dipanggillah Kholil, dan senyumnya cukup berkembang di wajahnya yang agak burik akibat terlalu sering berpetualang di bawah sinar matahari.

Aji menjelaskan pada Kholil, bahwa sikapnya yang aneh dulu setiap mereka bertemu adalah karena Aji sungkan bila harus menolak ajakan Kholil untuk ke masjid. Namun dia harus tetap menolak demi mematuhi perintah sang Ayah. Aji juga bilang bahwa selama dia di rumah ini dia hanyalah mendekatkan diri kepada Sang Kuasa, bukan berdiam diri di rumah lantas mendekati lingkaran setan. Aji melakukan itu juga demi kemajuan masjid. Dia berlatih hafalan doa sesudah sholat, memperindah irama adzannya, bahkan berlatih menjadi khotib dengan cara berceramah di depan cermin.

“Untuk apa aku melakukan kemaksiatan jika itu membuatku semakin tidak tenang menjalani hidup, Kholil? Kamu perlu tahu itu.” kata seorang Aji Mahakam kepada Kholil.
“Maafkan kebodohanku, Ji. Aku sudah salah menilaimu.” Kholil tertunduk lesu.
“Itulah, Lil. Perlunya data yang cukup untuk menilai seseorang. Biar gak cuman berkata berdasarkan “katanya”. Kita juga perlu tahu “nyatanya”. Tapi soal ke masjid, maaf, aku belum bisa ke sana sekarang.” Aji memohon maaf kesekian kalinya kepada Kholil.
“Halah, santai aja sobat! Yang penting itu sholat tepat waktu, ya kan?” celetuk Kholil.
“Na’am, ustadz!” dengan riang Aji menjawab.

Cerpen Karangan: M. Falih Winardi
Blog / Facebook: Falih Winardi
Follow my ig: falihfale

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 11 April 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Albayanati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bintangku, Mark

Oleh:
Bintang-bintang yang ada pada malam hari selalu mengingatkanku padanya. Karena aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan sama seperti aku melihat bintang di langit. Entah mengapa aku merasa seperti dia

Friendzone

Oleh:
Sahabat, orang bilang sahabat itu adalah segala sesuatu yang dilakukan bersama-sama dengan teman disetiap momen. Mau susah, senang, suka maupun duka dilalui bersama dengan saling menopang satu sama lain.

Diamku

Oleh:
“kyaaaaaaaaaaaaa” teriak sita sahabat baikku “astagfirullah” kagetku “Apa-apaan sih kamu, teriak-teriak gaje” “coba lihat di sana” “iya aku lihat kok, memangnya ada apa?” “itu kan cowok yang kamu suka,

Di Antara Bunga dan Lebah

Oleh:
Panas matahari begitu menyengat kulitku yang sudah terlanjur menggosong. Oh, tidak! Lagi-lagi aku lupa mengoleskan lotion ke permukaan kulit tanganku tadi pagi. Yah, kalau sebelum pergi sekolah itu, selalu

Nyaman Hilang, Kiamat Datang

Oleh:
Pasangan adalah suatu makhluk dari jenis spesies tertentu yang bisa memberikan kenyamanan pada kita. Diusahakan bahwa pasangan tersebut harus berasal dari spesies yang sama dengan kita. Ingat, jenis spesiesnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *