Anak Sulung Ibu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga, Cerpen Motivasi
Lolos moderasi pada: 11 January 2018

“Bareng yan?” tawar Amar, temanku ini sangat bersemangat dengan acara ngejus (minum jus rame-rame) lepas sekolah nanti.
“gak Mar! Maaf aku harus nunggu cacakku, dia ada extra siang ini”

“Biasanya kakakmu juga pulang bareng teman-temanya yan” Kali ini temanku Anjas yang bersua, dia menepuk pundakku seakan tak rela jika aku tak ikut kumpul bareng mereka.
“Kami mau bareng ke tempat ibu” ujarku memaksa keduanya untuk berhenti berharap jika mendengar aku membicarakan ibuku.
“Baiklah tapi lain kali ikut lho!” ucap Amar segera berlalu bersama Anjas.

Sebenarnya sayang ngelewatin acara ngejus yang rutin kami adakan tiap akhir pekan seperti sekarang ini, walaupun hanya dengan agenda minum jus buah, ngobrol ngalor ngidul gak jelas ataupun sekedar pakai Wi-Fi gratis ada kepuasan tersendiri saat ngumpul bareng. kalau istilah kerennya sih “gak ada loe gak rame” aku mengutipnya dari sebuah iklan layanan masyarakat yang tadi pagi kubaca di jalan.

Jam 13. 00 usai Dzuhur aku langsung bergegas menuju aula tempat extra cacakku.
“Belum Pulang Dian?” sapa Mbak Sabil teman cacakku.
“Nungguin cacak, Mbak sabil!”
“Oh Azlan ya! Sebaiknya kamu cepet ke Aula ini gilirannya praktek” Kata Mbak sabil, segera aku berjalan cepat.

Cacak panggilan buat kakakku tradisi keluarga kami memang seperti itu entah sejak kapan panggilan unik itu dimulai aku lupa bertanya pada Bapakku, saat beberapa teman menanyakan kenapa panggilannya seperti itu. Cacak Azlan adalah kakak pertamaku ya karena aku hanya mempunyai satu kakak hanya beda dua tahun, semua perangai kakakku bertolak belakang denganku misalnya jika kakaku sangat antusias berlari mengejar bola bersama teman-temannya, aku lebih senang berkutat dengan tuts tuts keyboard laptop untuk sekedar menulis cerpen berharap menjadi penulis dengan buku-buku best seller bertuliskan “oleh Dian Handika”.

“Dian itu kakakmu” kali ini Mas Fajar yang menyapaku, dia menunjukkan bahwa cak Azlan akan segera naik podium untuk melantunkan beberapa ayat suci Al-Qur’an, ini merupakan tahap seleksi akhir untuk tampil di acara maulid Nabi besok.
“Bismillahirohmanirohiim” lafadz Basmalah yang dilantunkan cacak sungguh membuat hati tentram, dari luar ruangan aku bisa mendengarnya pak harun melarang yang bukan anggota untuk masuk katanya hanya mengganggu saja, beruntung ada salah satu jendela yang pecah walaupun kecil tapi cukup untuk mendengar riuh apapun dalam ruangan.

“iqro”
Cak Azlan sungguh dapat membaca suroh itu dengan sangat indah, aku yakin suara cacak mampu mengetuk semua hati yang terkunci tertutup rapat akan kehadiran Gusti ALLAH sang pencipta, tak hanya mengetuk tapi tak segan lantunannya akan mendobrak paksa hati yang benar-benar menolak akan kuasa sang Gusti ALLAH. setidaknya itu yang aku rasakkan, hati ini seperti diguyur air suci kemudian air tersebut mengalir bercampur darah yang beredar keseluruh tubuh lewat pembuluh balik, sasaranya pun bertambah sampai syaraf yang bertugas sebagai juru bicara hati dia tahu kemauan Sang hati damai seluruh raga klimaksnya mataku terasa basah terlihat sembap di cermin. tak hanya aku kuperhatikan semua anggota dalam ruangan itu pun terlihat mengusap mata mereka dengan tisu.

“Sampean hebat Cak!” kataku saat cak Azlan keluar ruangan.
“Jangan berlebihan yan” itulah cacakku selalu rendah hati, mungkin kalau ibu tetep mau tinggal dengan kami pasti ibu akan sangat bangga dengan cacak, impiannya punya Anak seorang hafidz Qur’an mulai terwujud cacak sudah hafal 25 juz sampai saat ini, tak seperti aku yang boro-boro hafal 1 juz mungkin hanya beberapa yang kuhafal. kebiasaan malasku selalu memenangkan diriku.

“surohnya tentang hari kiamat kan cak?”
“Itu sampean tahu, sudah baca ya?”
“iya” jawabku pandanganku ke arah Mas fajar dia yang tadi memberitahuku.

“Besok kamu harus tampilkan yang terbaik Zlan” Pak harun menghampiri kami.
“iya pak”
“Lho ini adikmu Zlan”
“iya pak Saya Dian, kelas X-3”

“Jadi ke tempat ibu?”
“Tentulah Cak, cepat sampean ambil si On-on!” On-on adalah sebutan yang kami berikan untuk sepeda jengki tua milik Bapak yang selalu kami bawa ke sekolah, sepeda itu tua dan jelek tapi masih sangat kuat dan bapoh untuk pulang pergi kami, ya maklum juga karena kata Bapak sepeda itu hadir saat Bapak usia 15 tahun hadiah dari kakek dan berlanjut pada era kami
Jarak tempat ibu hanya sekitar 2 kilometer dari sekolah cukuplah cacak yang mengayuh si On-on.

“Cak! Aku ntar mau cerita ke ibu kalau sampean besok tampil di sekolah.
“Apa-apa cerita ke ibu”
“Lha biar ibu bangga to cak biar ibu tambah seneng”.

“Ya terserah sampean, eh gimana naskah novel yang tempo hari sampean kirim?”
“Dikembalikan kok Cak! Masih perlu banyak revisi lagi” ucapku pelan, aku ingat saat naskah novelku kembali bersama selembar surat dari penerbit yang aku tuju, surat itu bernada baik, kebapakan-namun sangat terang-terangan! Dia bilang dia melihat dari alamat pengiriman bahwa aku masih sekolah, dan kalau aku mau menerima nasehat, dia menyarankan agar aku mengerahkan seluruh energiku untuk belajar dan menunggu hingga aku lulus sebelum mulai menulis. Dia melampirkan opini dia tentang bukuku.

“Plot cerita sangat tidak masuk akal. Karakterisasi tokoh sangat dilebih-lebihkan. Percakapannya tidak alamiah. Ada beberapa humor tapi tidak berselera tinggi. Tolong katakan padanya untuk terus berusaha. Pada waktunya nanti, dia mungkin akan menghasilkan buku yang sesungguhnya.”
Singkatnya tulisan itu sedikit berhasil membuatku meledak, aku dikuasai amarah kala itu sempat kupensiunkan alat menulisku, kutolak keras keinginanku menulis, kubuang naskah-naskah novel yang tersisa, tak ada harapan

“aku tak akan bisa”
“Sampean salah yan, kalau pikirannya seperti itu.” Kata cacak menghentikan laju si On-on
“Terus, aku harus gimana cak? sungguh menyakitkan mereka (penerbit) mengumbar kesalahanku, kenapa harus seperti itu?”

“Coba sekarang aku tanya, sampean kalau lihat kesalahan orang lain gimana? mudah kan?”
“Memang melihat kesalahan serta berkomentar untuk orang lain sangat mudah, Lha terus?” aku menggantung kalimat itu.
“Melihat kesalahan orang lain lebih mudah kan? Ya karena itulah kita juga membutuhkan orang lain untuk melihat kesalahan kita, dalam kasusnya sampean, mereka sudah benar itu yang mereka dapatkan dari karyamu coba dikirim ke lain penerbit tanpa pembenahan to, pasti kurang lebih akan seperti itu komentarnya” ucap cacakku sangat bijak. sukses membuatku bangkit.

“Jangan menyerah Yan, sampean harus nikmati proses itu. untuk raih puncak ya kamu harus mau ndaki tebing-tebing dulu iya to, lihat siapa itu pengarang novel harry potter?”
“J.K rawling cak!”
“ya itu, dia juga kan dapat banyak penolakkan dari para penerbit, tapi karena dia tak menyerah dan mau belajar dari kegagalannya terbukti to dia sekarang jadi apa, keinginan saja ndak cukup yan apa yang sampean cita-citakan harus sampean perjuangkan dengan usaha dan kerja keras.”

“Sama minta ke Gusti ALLAH Ya Cak.” Ucapku tertawa kecil tetap pada posisi membonceng.
“Tentu doa juga perlu,” kata cak azlan. Untuk kesekian kali aku bilang ibu pasti bangga dengan Cak azlan. Padahal jika kuamati cacak tak begitu tertarik akan dunia yang berusaha kutekuni dunia yang mengandalkan imajinasi sebagai amunisi utamanya sedangkan cacak lebih pada argumen-argumen nyata yang sesuai dengan Hadist-hadist yang dia baca. “Tapi mungkin dia menguntit aktivitasku.” seperti yang selalu ibu perintahkan padanya waktu kecil. Memata-mataiku.

“ibu aku kangen” gumamku pelan.
“Kangen ibu ta Yan?”
“Ya cak!” jawabku pelan.
“Sebentar lagi kita sampai.”

“Seandainya aku bisa sekuat cacak menahan Kangen sama ibu. aku ndak akan selalu menangis saat berkunjung ke tempat ibu”
“Yo ndak seperti itu juga Yan.”
“Jadi cacak ndak Kangen ya sama ibu” aku mengeraskan suaraku.
“Kangen ndak selalu harus diucapkan yan.” Kata Cak Azlan pelan.

“Bagaimana ibu bisa tahu kalau kita Kangen saat cacak ndak pernah bilang Kangen sama ibu?”
“ibu pasti akan tahu, sampean jangan lupa ada ikatan batin antara aku, sampean, ibu dan Bapak. Itulah keluarga”
“Ikatan Batin” gumamku. Kalau diingat dari kecil ibu itu sangat dekat dengan cacak ya karena cacak dulu memenuhi semua harapan ibu. Lha kalau aku dulu cuma anak yang nakal, susah nurut Orangtua maunya pergi main saja, mungkin itu yang sekarang membuat langkahku sering jatuh gak semulus langkah cacak yang selalu ibu restui.

“Sampai yan!” Kata Cak Azlan. Aku segera turun dari si On-on biasanya langkahku gontai tapi kali ini entah kenapa aku berjalan penuh kemantapan pasti karena Donasi semangat dari cacsk sepanjang hari ini, besar sekali pengaruhnya. Aku segera duduk dekat Cacak. Segera kukeluarkan buku bacaan tahlil yang selalu aku bawa untuk persiapan seperti ini, Ziaroh ke Makam ibu. kami mulai berdoa.

Ibu beliau pergi dari kami saat aku masih kelas 5 SD. Aku tak mengerti saat itu kenapa ibu begitu tega pergi tanpa kalimat penjelas, itulah penyebab sering kali aku berfikir buruk tentang ibu. Tapi ya kembali hal-hal buruk seperti itu akan segera dihapus paksa oleh Cak Azlan, aneh Cacak lebih bisa membuatku tenang ketimbang Bapak.

“Sampean tadi katanya mau bilang ibu” Kata Cak Azlan mengingatkanku usai berdoa.
“Haha aku sudah bilang tadi usai baca doa, bilangnya juga dalam hati to cak”
“Terus ibu jawabnya apa?”
“Mau tahu?” Aku segera bangkit berjalan cepat meninggalkan makam ibu menuju si On-on yang masih terparkir di bawah pohon mangga.

“Dian” Panggil cacak keras.

“ibu Esok cacak akan tampil di acara maulid sekolah, andai saja ibu bisa lihat dan dengar langsung saat cacak melantunkan suroh ibu pasti akan nangis, ibu pasti bangga dengannya. Dulu ibu pernah nanya kepadaku tentang mau jadi apa sampean yan? Waktu itu aku belum sempat jawab sampai penyakit biadab itu menyeret paksa ibu untuk ninggalin kami, aku pun masih belum menjawabnya. tapi sekarang aku tahu buk untuk pertama kali dalam hidupku aku tahu mau jadi apa aku, aku ingin jadi pribadi hebat seperti anak sulung ibu”

Cerpen Karangan: Dian Handika
Facebook: Dian Handika

Cerpen Anak Sulung Ibu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kata Sayang di Dinding

Oleh:
Prang! Prang! Prang! Bia kembali menerbangkan gelas ke kanan dan ke kiri dinding hingga pecah. Gadis tak waras itu selalu melakukan hal tersebut ketika tengah mengamuk. Gadis yang baru

Masalah Sharmay

Oleh:
Matanya menjelajahi seisi rumah itu. Asri banget, pikir gadis yang tengah menunggu si empunya rumah. Ini pertama kali bagi Sharmay -anak kampung baru merantau ke kota- menduduki sofa empuk

Dia Masih Ada di Dunia Ini

Oleh:
Setiap hari Putri dan Wita bertengkar, tetapi Rina tidak suka bertengkar. Ibunya sangatlah sedih karena mereka sering sekali bertengkar. Dan pada suatu pagi, Putri dan Wita bertengkar soal es

Kesempurnaan Hati

Oleh:
Di sebuah perjalanan pulang, fikri ingin menyempatkan diri terlebih daluhu pergi ke sebuah masjid, terlihat dengan jelas di balik kaca mobilnya sebuah masjid yang sangat megah, arsitektur yang sangat

Kado Terakhir Ibuku

Oleh:
Namaku Aini, aku terlahir dalam keluarga miskin, aku adalah anak pertama Dari 3 saudara. Aku Sudah ditinggalkan Ayahku sejak aku berusia 2 tahun, tetapi aku tidak merasa kesepian karena

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *